
Hari ini Daniel mendesak gue untuk mencoba gaun pernikahan, satu bulan lagi kami akan menikah tapi dia sudah mengurus semuanya semenjak mas Lay kembali.
Namun, semakin cepat gue menikah dengan Daniel. Itu tandanya balas dendam gue terhadap mas Lay selesai, tapi....apa ini benar? Hati gue terluka dengan dendam ini.
Walaupun mas Lay membuang gue di Paris, tapi gue masih mencintainya walaupun sakit yang berpadu.
"Bun,hallo bundaaa"
Dara mengibaskan tangannya membuyarkan lamunan gue.
"Iya sayang, ke...kenapa?"
Tanya gue yang gelagapan.
"Lah,bunda yang kenapa? kok ngelamun?"
Gue menggelengkan kepala."Nggak apa-apa nak"
Dara duduk di sofa."Bun,yakin mau nikah sama om Daniel?"
"Kamu kok nanya gitu,yakin la.h"
"Bun..."
"Iya?"
Dara menatap gue lekat,entah apa yang ada difikiran anak gadis ini.
"Bunda udah nggak sayang sama ayah? ayah udah ada di sini bun,kalian bisa rujuk lagi kan?"
Tanya Dara.
"Bunda nikah sama om jadi bunda nggak mungkin masih sayang sama ayah kamu,iya kan Ray?"
Pertanyaan Dara dijawab oleh Daniel yang tiba-tiba datang, entah sejak kapan dia ada di sini menguping pembicaraan kami.
Gue hanya tersenyum,pernikahan ini untuk balas dendam dan menghargai daniel yang sudah membantu gue ketika terpuruk kembali di Jakarta.Sebisa mungkin gue mencoba mencintai Daniel,walau mas Lay menyakiti gue habis-habisan tapi hati bodoh gue selalu mencintai mas Lay.
"Dara, walaupun ayah kalian ada di sini.Bunda tetap akan menikah dengan om,jadi ayah kalian adalah Daniel bukan Layandra ya"
Jelas Daniel.
Dara nyengir."Ya ya ya gimana om aja,happy wedding deh buat kalian Dara gerah pengen minum"
Dara keluar sambil mengibaskan tangannya karena memang tempat ini panas.
"Sayang,gimana gaunnya? cocok?"
Tanya Daniel sambil meraih tangan gue.
"Bagus,aku suka kok niel"
Daniel mengelus rambut gue pelan."Panggil aku mas daniel,aku ingin menjadi yang spesial Ray"
Gue hanya terdiam, yang spesial hanyalah mas Lay di hati gue. Sejak dulu Daniel nggak pernah ada di dalam hati gue bahkan dia memberikan perhatian yang lebih, tapi kali ini gue harus menurunkan ego untuknya.
"Iya mas Daniel"
Daniel tersenyum dan mengecup punggung tangan gue.
Selesai memilih gaun pernikahan gue diantar Daniel pulang,nggak disangka Dara,Dira dan mas Lay ada di rumah.Hal ini membuat gue canggung,terutama ada Daniel di sini.
"Kompak banget om?"
Tanya Daniel sambil melangkahkan kaki ke arah mereka.
"Iya dong kan ayah sama anak"
Celetuk mas Lay yang sibuk memainkan game di gadgetnya.
"Ayah bisa maen nggak ? bantuin Dara ih"
Dara tampak kesal pada Ayahnya.
"Bisa dong sayang, ML mah gampang"
Bela Ayahnya.
"Ah ayah,gampang apa menang 1 kali kalah 10 kali"
Celetuk Dira.
Gue menghampiri mereka dan meraih ponsel Dira.
"Kalian nggak ngampus?"
"Aduh bun,ganggu aja deh."
"Dira,bunda nggak liat kalian ngampus loh?"
"Dara kan nemenin bunda"
Bela Dara.
"Dira entar siang bun,ponselnya dong bun"
Rengek Dira.
"Om Daniel boleh ikut maen?"
"Boleh Niel"
Ajak mas Lay.
Gue menggeleng-gelengkan kepala,punya anak gadis satu bukannya bantuin bundanya masak malah sama aja kayak anak cowok.
Gue melengos pergi menuju dapur,ujung-ujungnya main game pasti lapar mereka.
Grepp...
Sebuah tangan melingkar dipinggang gue.
"Mas kangen sayang"
Bisiknya.
Gue terkejut,mas lay berani-beraninya memeluk gue kayak gini.
"Lepasin mas,nanti dilihat Daniel"
"Enggak!"
"Mas..."
Cupp...
Mas Lay membalikkan tubuh gue dan mencium bibir gue tanpa basa-basi,gue membulatkan mata dan nggak membuka mulut gue.
Namun mas Lay menggigit bibir gue, sehingga mulut gue terbuka dan dia mulai mengabsen satu persatu yang ada di dalamnya.
"Ini nggak bener mas".Batin gue
Mas Lay mengeratkan pelukannya sambil terus mencium bibir gue,nggak terasa gue mulai mengikuti alurnya namun sedetik kemudian mata gue beralih pada pintu dapur.
"Daniel?!".Batin gue
Gue mendorong tubuh mas Lay karena Daniel menyaksikan adegan yang nggak seharusnya.
"Kenapa sayang?"
Tanya mas Lay dengan polosnya.
"Mas Daniel ada apa?"
Gue nggak menggubris,melangkahkan kaki melewati mas Lay dan menghampiri Daniel.
Mas Lay menatap ke arah kami dengan melebarkan senyuman.
"Daniel, sorry Niel gue mau minum sih"
Ucap mas Lay sambil mengambil gelas.
Daniel tampak menghela nafas dan menatap lekat,kayaknya di marah gara-gara adegan barusan.Mas Lay bodoh,apa yang dia rencanakan lagi.
Daniel mengusap bibir gue pelan."Basah Ray"
"Basah ya? ya maklum lah Niel namanya ciuman pasti basah"
Mas Lay melengos pergi sambil memakan buah apel yang dia ambil dari dalam kulkas.
MAS LAY!!!
"Mas Daniel..."
"Suuttt aku nggak apa-apa kok,bukan kamu yang mau kan sayang?"
Gue menggelengkan kepala."Bukan mas"
Daniel memeluk gue erat dengan tangan yang mengelus rambut gue dan sesekali mencium kening gue lembut.
Maafin om kamu Niel.
Selesai masak gue berniat mengajak Daniel untuk makan bersama,namun samar-samar terdengar suara 2 orang pria di dalam kamar tamu yang biasa Daniel tempati ketika menginap.
Gue mendekatkan telinga dan menguping siapa yang ada di dalam,pintu memang nggak tertutup rapat dan dapat gue lihat di sana ada mas Lay yang sedang berdiri sambil menghirup rokok,sedangkan Daniel duduk di atas sofa.
"Sejak om pulang,Daniel rasa kita agak canggung"
Ucap Daniel.
Mas lay tersenyum."Perasaan lo aja,gue sih biasa aja"
"Oke mungkin Daniel yang canggung karena mau nikahin Rayna."
Mas Lay duduk di samping Daniel."Lo nggak mau nyerah Niel? yang kedua kalinya lo ngejar Rayna, tapi bedanya kali ini udah ada Dira dan Dara"
"Ck, Daniel cuman butuh Rayna kalau om mau ambil aja benih yang om tanam dirahim Rayna."
Perkataan Daniel membuat gue tersentak,bersamaan dengan ekspresi mas Lay yang terkejut.
"Maksud lo apa? lo mau nikahin Rayna tanpa membawa Dira dan Dara?"
Nada bicara mas Lay mulai naik.
Daniel pun menganggukan kepalanya."Iya, Daniel cuman butuh Rayna untuk kedua anak om bawa aja itu tanggung jawab penuh bapaknya"
Mas Lay terlihat geram,nggak disangka Daniel selicik ini.Apa dia benar-benar mengatakan hal ini ? atau hanya ingin menyulut api saja,selama ini Daniel selalu bersikap baik pada anak-anak atau itu hanya kepura-puraan saja?
"Daniel hanya akan mengurus benih yang Daniel tanam di dalam rahim Rayna nantinya,untuk urusan Dira sama Dara itu sih terserah om"
Sambung Daniel.
Mas Lay tertawa kecil sambil mematikan rokoknya."Ya jelas itu anak gue,tapi---gue fikir selama ini yang tersakiti sama sikap gue ketika di Paris adalah Rayna,liat gelagat lo yang kayak gini gue rasa lo yang paling tersakiti.Bahkan lo canggung sama gue,jauh sama Daniel yang dulu"
"Iya Daniel emang tersakiti,lebih dari sakitnya Rayna"
APA?! TERSAKITI BAGAIMANA?!
Gue semakin memfokuskan telinga supaya nggak ada satu pun momen pembicaraan yang terlewat.
"Sakit yang Daniel rasain ini,menjatuhkan harga dini Daniel sebagai keluarga Wijaya"
Jelas Daniel
"Keluarga Wijaya apa maksud lo,kenapa bawa-bawa Wijaya?"
Daniel berdiri dan menepuk pundak mas lay."Tapi sekarang Daniel udah sembuh dan Rayna yang menyembuhkannya"
Ucap Daniel sambil melangkahkan kakinya keluar, gue dengan sigap berlari dan bersembunyi di bawah tangga.
Daniel ada apa? Wijaya? kenapa bawa-bawa nama keluarga? dia bahkan nggak mau membawa Dira dan Dara sesudah menikah nanti, pikiran gue jadi kacau. Apa semua ini adalah rencana Daniel?
T
B
C