Dira & Dara

Dira & Dara
Petunjuk #Dira pov



Percakapan tadi malam antara gue dan Ayah semakin memperkuat jika om Daniel adalah penyebab keluarga gue berantakan, hari ini gue akan melakukan sesuatu membuat semua orang tau jika Bos besar Daniel Wijaya adalah orang terjahat.


Gue berjalan sambil menyumpel telinga dengan ponsel yang gue genggam, suara tante Anna menjadi cerita terfavorit saat ini. Berkali-kali gue memutar suara ini agar gue bisa menceritakan semuanya pada Ayah dan bunda tanpa ada yang terlewat.


Saat ini gue berada di gedung Zyx group, perusahaan milik om Daniel.Ck bukan milik om Daniel, melainkan milik Ayah.


Gue tersenyum licik dan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam gedung, pagi ini tepat pukul 8 semua karyawan udah menempati ruang kerja mereka.


B


R


U


K


Tubuh gue tertabrak seseorang, mengakibatkan ponsel yang gue genggam terbentur keras ke bawah lantai.


"Maaf, maaf saya nggak sengaja maaf saya kesiangan." Ucap seorang pria sambil berlari secepat kilat.


Gue mendengus dan mengambil ponsel kembali,"ah sial! pecah."


Layar ponsel gue saat ini pecah bahkan nggak bisa dinyalakan, gue berdecak kesal dan memundurkan langkah meninggalkan gedung ini. Untuk yang kedua kalinya gue gagal memojokkan om Daniel, sial.


Gue memutuskan untuk pergi membeli ponsel baru, untung saja rekaman itu gue simpan di dalam kartu memori. Namun sial, gue udah nggak sabar membongkar kebusukan om Daniel. Tunggu dan lihat, apa yang akan Dira lakukan sebagai pembalasan bagi orang yang mengusik keluarga gue.


Gue menyalakkan kembali rekaman itu dan mendengarkannya kembali, memasuki mobil dan pulang.


Di rumah gue mendapati Dara yang sedang membaca sesuatu, pasti novel first love lagi dia. Gue berjalan menghampirinya dan duduk di samping Dara.


"Rumah kok sepi?"


Tanya gue pada Dara.


Namun adek gue nggak menggubris, matanya sibuk membaca buku itu.


Gue menatap wajah Dara yang kadang senyum dan kadang membulatkan mata, sebenarnya apa yang dia baca.


"Dek lo baca apa?"


Tanya gue lagi.


Namun Dara masih nggak menjawab pertanyaan dari gue.


P


L


E


T


K


"A a a w sakit!"


Ringisnya.


"Rasain jitakan gue, lagian lo ditanya pura-pura budek."


Dara melotot,"lo nanya apa? gue lagi fokus baca ini."


"Baca apa sih? gue tanya rumah kok sepi? Bunda kemana?"


Dara merebahkan punggungnya," sama om Daniel nggak tau kemana."


Om Danil membawa bunda, kalau hari ini gue membuat kejutan di kantor berarti akan sia-sia saja.


"Terus itu baca apa?"


Dara menutup buku itu,"ini diarynya bunda, tadi bunda suruh beresin buku-buku bekas SMA kita digudang eh taunya ada buku ini."


Gue menatap buku berwarna biru yang bergambar love, diary bunda? Masih sempat zaman sekarang bunda nulis diary? zaman sekarang curhat disosmed kebanyakan.


"Ini cerita bunda ketika usia 19 tahun, sumpah ya kak ternyata Ayah ngeselin banget dulunya."


Jelas Dara.


Gue menatap buku itu dan meraihnya,"coba gue pengen baca."


Gue membuka buku itu, di halaman pertama bunda menulis My om. Kemudian beralih pada halaman kedua bertuliskan Awal yang baik di Club malam, lalu di sana bunda menuliskan sebuah cerita. Gue membacanya dengan seksama, tulisan bunda yang sangat apik seperti sebuah novel.


"Kak ternyata sebelum bunda mengandung kita, bunda sempat keguguran dan itu membuat gue nangis bacanya."


Ucap Dara.


Gue terdiam dan berhenti sejenak,"keguguran?"


Dara mengangguk pelan,"baca aja dan lo bakalan tau kisah bunda, ayah dan om Daniel di sana."


Ucap Dara.


Gue berpikir, buku diary ini bunda tulis untuk apa? apa buku ini bisa menunjukkan sesuatu yang akan menjadi bukti? Bahkan Dara bilang kalau di sini cerita ayah, bunda dan om Daniel.


T


B


C