
Pukul 10 malam gue bersama adik tercinta pergi ke club malam,dengan santainya gue berjalan pelan sambil memasuki club namun si Dara berlari jingkrak-jingkrak seolah mendapatkan hadiah.
"Gue kangennnnn banget kak"
Ucap Dara sambil mengibaskan rambutnya.
Gue berjalan melewatinya sambil menjitak kening Dara."Lebay!"
"Haseummmm sakit onta"
Ringis Dara.
Gue hanya tersenyum dan duduk di kursi yang biasa gue tempati lalu memesan segelas jus jeruk.
"Ke sini juga dit?"
Tanya seseorang dari arah samping.
Gue pun menatap ke arahnya,ayah.Sejak kejadian tadi gue nggak tau keadaan hati ayah saat ini kayak gimana,yang pasti gue memang bersalah mempertemukan mereka dengan kejadian yang sangat di luar dugaan.
"Eh om,kirain siapa"
Ucap gue sambil cengengesan.
Ayah menatap ke arah gue."Makasih dit udah kasih tau om alamat rumah Rayna"
Gue pun mengangguk sambil tersenyum."Iya om"
"Haus gue kak"
Ucap Dara yang langsung menyambar minuman gue.
"Ya iya lo Joget gimana nggak haus"
Ucap gue.
Ayah menatap Dara,memperhatikan setiap inci wajah anaknya ini.
"Udah ya kak gue ke tengah lagi"
Teriak Dara yang langsung pergi kembali berjoget.
"Itu siapa Dit?"
Tanya ayah
"Itu...."
"Gadis itu kayaknya bukan orang baik-baik,dia ada di apartemen saya tadi pagi berani banget"
Ayah memotong ucapan gue.
Gue hanya menelan ludah,bingung.
"Waktu malam kemarin saya mabuk kayaknya dia yang anter saya ke apartemen,tapi saya bingung kunci apartemen ada di tangan Rayna gimana bisa saya masuk"
Sambung Ayah dengan raut wajah kebingungan.
Gue hanya terdiam,nggak ada kalimat yang harus gue ucapkan untuk menjadi alasan.
"Kamu hati-hati sama dia Dit,untung saya masih bisa kendaliin diri saya"
Sambung ayah lagi
Gue hanya mengangguk dan tersenyum,kesan negatif sudah ayah lihat dari Dara gara-gara diapartemen tadi pagi,ini memang kesalahan tekhnis.
"Dit,ngomong-ngomong kamu kok tau wajah mantan istri saya? setau saya kamu belum liat foto mantan istri saya"
D
E
G
Tenggorokan gue terasa tercekat,apa yang harus gue katakan pada Ayah.Otak gue tiba-tiba tumpul,sulit untuk berfikir karena pertanyaan ini adalah suatu kecerobohan gue.
"Jangan-jangan kamu Dira ya anak saya?"
Gue membulatkan mata."Bukan! saya Adit om"
Ayah tertawa sambil menepuk-nepuk bahu gue."Santai aja anak muda,iya kamu Adit saya becanda doang"
"Saya liat wallpaper ponsel om jadi saya tau"
Jawab gue dengan mata menatap ponsel Ayah yang sedang menyala dan menampilkan wajah bunda.
BAGUS DIRA!cerdas !
Ayah pun tersenyum dan meraih ponselnya."Bodoh! saya bodoh menyia-nyiakan dia"
Gue menepuk-nepuk pundak Ayah pelan."Sabar om"
Ayah pun mengangukan kepalanya."Iya dit,kamu bantu saya cari Dira dan Dara ya.Saya yakin mereka masih hidup"
"Iya om..."
Seandainya gue punya keberanian dan nggak punya ambisi untuk mencari masalah yang sebenarnya,gue siap di hukum oleh Ayah saat ini juga karena berpura-pura nggak mengenalnya.Ambisi untuk mencari tau masalah mereka mungkin akan ada perdebatan diantara Ayah dan bunda setiap kali gue mempertemukan mereka atau mereka nggak sengaja bertemu.
"Dit,malam ini bisa saya nginep di rumah kamu? ada siapa aja di rumah kamu?"
Tanya Ayah
Gue membelalak."Ru-rumah?"
Astaga !
Ayah menghela nafasnya perlahan sambil memainkan gelas yang berisi bir ditangannya.
"Rumah ya om?"
Gue menggaruk kepala,bingung.
Rumah mana yang bisa gue jadikan tempat menginap? bahkan jika di rumah tante Yola pun Ayah pasti melihat foto yang tempang di sana.
"Hmmm om..."
"Iya dit?"
"Bukannya Adit nggak mau bawa om tapi,adit kost-kostan di sini berdua sama temen ya ngirit uang lah om"
Ayah menganggukan kepalanya."Oh gitu dit,yaudah nggak apa-apa paling om ke apartmen aja kebetulan cewek yang tadi itu ninggalin kuncinya"
"Sorry ya om,Adit jadi nggak enak nih"
Ayah tertawa kecil."Santai aja,om faham kok dit"
Selagi gue dan Ayah mengobrol,tiba-tiba semua orang berkerumun dan tampak ricuh.
"Gua udah bilang nggak mau!"
Teriak seorang cewek
"Heh jalang ! jangan sok suci lo!"
Teriakan seorang pria pun membuat gue merasa risih dan membalikkan badan.
Dara?!
Saat ini orang-orang berkerumun menatap Dara dan seorang pria,ada apa?!
"Gue bukan jalang!"
Teriak Dara.
"Mana ada maling NGAKU?!"
P
L
A
K
Dara menampar pria itu,namun pria itu nggak tinggal diam dia mengangkat tangannya dan berniat menampar Dara kembali,namun gue dengan sigap berlari ke arahnya dan menahan tangan pria itu.
"Dia bukan jalang"
Ucap gue sambil menurunkan tangannya.
Pria itu mendelikkan matanya ke arah gue."Siapa lo?! jangan ikut campur!"
Gue tersenyum kecut ke arahnya."Lo nanya siapa gue? gue balik tanya,siapa lo berani ngomong dia jalang? setau gue dia nggak pernah bergaul sama cowok pecandu ****"
Pria itu pun terlihat geram,tampak mengepalkan kedua tangannya.
"Siapa dia ?"
Tanya gue pada Dara yang saat ini menundukkan kepalanya.
Dara pun menggelengkan kepalanya."Nggak tau"
"Cewek ini sama sekali nggak kenal sama lo,jadi gimana? lo ditolak brad"
"Anj*** lo!!!!"
B
U
K
Pria itu memukul pipi kanan gue,sakit lumayan.Oh mau bermain-main dengan Dira ya? baiklah,ayo kita mainkan.
"Se*** lo !!!!"
Umpat dia sambil berniat memukul gue kembali,namun berhasil gue tahan.
"Kita sama kawan,orang yang datang ke tempat ini pasti se*** kan?"
Ejek gue.
Pria ini semakin geram dan melepaskan tangannya,menatap gue tajam.Malam ini gue nggak mau membuang tenaga,karena ayah ada di sini jadi gue nggak mau sok jagoan menghajar pria ini,bagaimanapun kesan baik harus gue perlihatkan di depan Ayah,tapi nanti lihat sewaktu-waktu kita ketemu lagi LO ABIS KAWAN.
Tapi apa yang harus gue lakukan? saat ini otak gue tumpul.Ayo berfikir Diraaaaa,gue memejamkan mata dan tiba-tiba suara sirine polisi pun terdengar membuat gue sigap meraih tangan Dara.Semua orang yang berada di dalam tampak ricuh dan ada yang berlari secepat kilat.
"Kita lari dek"
Ucap gue pada Dara
Namun ayah menahan tangan gue."Jangan lari ini cuman sirine dari ponsel om"
Gue pun tersenyum,ternyata kecerdasan yang gue punya adalah turunan dari Ayah.
T
B
C