
Beberapa kali gue mengulang kalimat demi kalimat yang dengan jelas masih bertuliskan surat perceraian.
Surat perceraian atas nama Layandra Wijaya dan Rayna Ananda membuat gue menganga nggak percaya.
Gue memijit kening beberapa kali,selama ini bunda merahasiakan ini semu dari gue dan Dara,seolah ayah benar-benar ada di Prancis.
Gue tertawa."Bodoh ! umur berapa sih lo Dira sampe nggak curiga sama sekali."
Gue melipat kertas dan menyimpan kembali di atas kursi,memutar balik mobil kembali ke club malam.Fakta jika ayah dan bunda bercerai harus gue selidiki juga,oh jadi ini alasan om Daniel mendekati bunda.Pertanyaannya,kenapa om Daniel berani mendekati bunda padahal bunda mantan istri ayah yang notabennya adalah saudara dia sendiri.
Kisah hidup gue memang begitu runyam,apa sebaiknya gue membenci kedua orang tua gue mulai detik ini.
Gue memarkirkan mobil,setelah 15 menit diperjalanan.Namun sebuah tangan menahan gue tiba-tiba,gue pun mengalihkan pandangan ke arah samping.
"Dek?"
Ucap seorang pria.
Gue membulatkan mata,pria yang saat ini memegang tangan gue adalah ayah.Mata kami pun bertemu,ayah menatap gue lekat seolah sedang mempertanyakan sesuatu.
"Iya?"
Tanya gue balik.
"Kamu...yang tadi tabrakan sama saya kan di dalam?"
Oh rupanya ayah sempat melihat gue,gue fikir dia sama sekali nggak tau kalau gue yang bertabrakan dengannya.
Gue menganggukan kepala dan bibir ayah pun melebar menampilkan lesung pipinya.
"Syukurlah,ngomong-ngomong liat kertas saya yang jatuh nggak? tadi saya cari nggak ada."
Jelas Ayah.
Gue berpura-pura memikirkan sesuatu,kertas perceraian itu ada di dalam mobil dan nggak mungkin gue kembalikan secepat itu.
"Kayaknya nggak om."
Ayah merubah ekspresi di wajahnya,terlihat kecewa namun maaf gue nggak bisa mengembalikannya saat ini.
"Padahal itu adalah kertas penting."
Ucap Ayah pelan.
"Kalau mau cari,saya bantu om"
Ucap gue menawarkan diri.
Ayah menatap sambil berfikir."Kalau nggak keberatan boleh dek."
"Yaudah ayo masuk om."
Gue masuk lebih dulu dan dibuntuti oleh ayah,berpura-pura mencari kertas itu di sudut-sudut ruangan.
"Belum ketemu ya dek?"
Tanya Ayah yang mulai kelelahan.
Gue menggelengkan kepala.
"Yaudah dek kita minum dulu."
Ajak ayah.
Gue pun menuruti perintahnya,kami duduk bersebelahan sambil menikmati jus masing-masing.
"Om,kertas itu sangat penting?"
Tanya gue memberanikan diri.
Ayah menganggukan kepalanya."Sangat penting,tapi sebentar lagi udah nggak penting"
"Maksudnya?"
Gue mengerutkan kening, bingung.
"Ya karena saya akan secepatnya,merubah kertas itu menjadi rujuk."
Gue menahan rasa terkejut dalam hati gue,sebisa mungkin gue bersikap biasa saja.
"Om cerai sama istrinya terus mau rujuk lagi?"
"Iya,saya masih mencintai istri saya dan sampai sekarang istri saya nggak pernah memperlihatkan wajah anak kembar saya,mungkin seumuran dek sama kamu"
Jadi selama ini bunda nggak pernah memperlihatkan wajah gue dan Dara,pantes saja ayah sama sekali nggak mengenali kalau gue adalah anaknya.
"Oyah istri om--maksudnya mantan istri om namanya siapa? siapa tau kenal"
"Namanya Rayna dek."
CUKUP!
Cukup kejutan ini menjawab pertanyaan gue selama ini.
"Anak kembar saya bernama Dira dan Dara,kamu kenal dek?"
Tanya Ayah.
Pertanyaan yang seharusnya gue jawab,iya yah ini Dira mendadak harus gue jawab dengan gelengan kepala.
"Oh nggak kenal ya,oh yah nama kamu siapa dek? saya jadi banyak cerita nih sama kamu,jadi nggak enak saya"
"nggak apa-apa kok om santai aja,nama saya Adit om."
"Saya Lay dit,kamu kuliah atau udah kerja?"
"Kuliah om."
"Dimana?"
"Dikampus om suh...."
Keceplosan !
Hampir !
"Di universitas SH om."
Ayah pun tersenyum."Oh itu kampusnya temen om"
Iya gue tau itu punya ayahnya om suho dan GUE DIRA ANAK LO, PUAS!
Sebenarnya gue geram lama-lama berpura-pura nggak tau apa-apa,tapi gue harus mengorek-ngorek informasi dari ayah soal hubungannya dengan bunda.Kenapa bisa cerai dan kenapa mau rujuk lagi,semoga penyamaran gue nggak ketauan sampai gue mengumpulkan jawabannya.
"Dit, kamu tinggal dimana?"
Tanya ayah lagi sambil meraih gelas miliknya.
"Di....deket-deket sini kok om,saya baru pindah jadi belum tau nama alamatnya apa hehe."
Ayah pun mengangguk."Wajar sih,om juga baru pindah dit.Ini juga lagi nyari alamat Rayna,doain om ya dek."
Ayah menepuk pelan punggung gue,jadi ayah dan bunda belum bertemu sampai detik ini? hebat!
Baiklah,kita mulai permainan ini ayah."Om boleh minta nomor handphone nggak nih?"
Ayah tampak berfikir lalu meraih ponselnya."Boleh,ini saya kasih karena kamu mahasiswa di kampus teman om ya hehe"
"Eh si om gitu banget."
"Canda dit..."
Gue mencatat nomor handphone ayah,baiklah kita mainkan rencana ini.Sejauh mana kalian akan membohongi gue dan Dara dan apakah kalian bisa rujuk dengan semua rahasia yang belum gue kuak.
Kita lihat saja !
T
B
C
vote, komen dan like nya sayang...