Dira & Dara

Dira & Dara
Masa lalu Dara #Dira pov



Gue menghabiskan dua jam berdoa di gereja, walau mata sembab gue kembali masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang IGD.


Namun saat ini gue nggak menemukan keberadaan bunda dan ayah, bahkan gue nggak menemukan om Daniel sejak tadi.


Gue melangkahkan kaki bertanya pada suster,"maaf sus pasien atas nama Dara dimana ya?"


Suster itu tampak menatap sebuah dokumen dan membacanya,sedetik kemudian menatap gue.


"Nona Dara selesai operasi sudah dipindah ke ruangan VIP 3 di lantai 3 pak." Ucapnya


Gue mengangguk dan melangkahkan kaki menaiki lift, operasi sudah selesai itu berarti Dara selamat. Senyuman pun mengembang dari bibir gue, tunggu gue Dara.


Ruang VIP 3 sudah terlihat, gue antusias untuk segera membuka pintu namun sebuah suara menahan tubuh gue untuk melangkah.


"Saya ibunya Dara bu."


Ucap seorang wanita dari dalam ruangan.


"Iya dok." Ucap bunda


"Saat ini, kita tunggu perkembangan dari Dara. Operasi memang berhasil tapi kita lihat kapan Dara akan sadar."


Ucap wanita yang mengaku ibunya Dara.


"D-dok, sebelumnya saya mau minta maaf karena nggak bisa mengurus Dara dengan baik, tapi jujur saya sangat menyayangi Dara."


"Enggak bu, justru saya yang berterimakasih karena ibu udah mengurus Dara sampai sebesar ini, saya dulu takut kalau Dara nggak hidup dengan baik, makanya saya mempercayakan pada pak Lay."


Dokter itu menatap ayah yang saat ini menggenggam erat tangan Dara.


"Maaf sebelumnya, dulu saya bukan nggak sanggup membayar biaya persalinan. Tapi saya nggak sanggup mengurus seorang anak tanpa ayah----" Ucapnya sambil menggantungkan pembicaraan.


Ayah dan bunda tampak membelalakan mata, begitu pula dengan gue yang saat ini mengintip di balik pintu.


"Tanpa ayah?"


Tanya bunda.


Wanita itu pun menganggukan kepalanya,"iya bu, saya dulu adalah dokter magang di sebuah rumah sakit di Paris, tapi saya jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan senior saya sampai akhirnya saya mengandung Dara, saya kala itu masih muda dan benar-benar nggak tau cara menyelesaikannya, maka dari itu ketika saya mendengar Pak Lay kehilangan anak perempuannya, saya langsung berpura-pura meminta bantuan."jelasnya


Mereka terdiam, nggak ada sepatah kata pun yang bunda atau ayah katakan.


"Maafkan saya yang sudah merepotkan kalian, saya memang ibu yang jahat."


Bunda menggenggam tangan wanita itu, mencoba menenangkan rasa bersalahnya.


"Saya sudah menikah saat ini, namun Tuhan menguji saya dengan kemandulan suami saya. Bertahun-tahun saya mencari keberadaan Dara, namun nggak bisa ketemu. Saya benar-benar bingung, karena saya nggak menyimpan nomor Pak Lay."


Jelasnya.


Ayah menghela nafas perlahan,"saya akan menjaga Dara dok, saya akan merahasiakan ini darinya."


Wanita itu merubah ekspresinya yang terlihat sedikit agak kecewa mendengar Ayah akan menjaga Dara, mungkin dalam hatinya dia menginginkan Dara kembali ke dalam pelukannya. Namun apa daya, Dara sudah terlanjur menjadi bagian dari keluarga kami.


"Saya permisi dulu ya pak, nanti bisa hubungi saya kalau ada apa-apa."


Ucap wanita itu sambil berpamitan.


Gue dengan sigap memundurkan langkah dan berpura-pura baru tiba di depan pintu, tersenyum manis pada ibunya Dara dan masuk ke dalam ruangan.


"Gimana Dara yah, bun?"


Tanya gue dan langsung duduk di sofa.


"Operasinya berhasil, kita tunggu Dara berapa lama akan sadar."


Gue menganggukan kepala, saat ini gue masih berpura-pura nggak tau kalau Dara bukan adik kandung gue di hadapan Ayah dan bunda.


"Oyah Dira, kamu liat om Daniel?"


Tanya bunda.


Gue menggelengkan kepala,"Dira nggak urus bun."


"Diraaaa, dia itu calon ayah kamu."


"Baru calon kan bun? Lagian udah ada Ayah kandung kan di sini? Ngapain cari calon ayah lagi? Kalian tampak cocok satu sama lain."


Jelas gue.


Bunda terlihat kesal saat ini, bagaimana pun gue nggak akan pernah menganggap om Daniel adalah bagian dari hidup gue. Dia adalah orang terjahat yang udah menghancurkan semuanya, kali ini om Daniel boleh bernafas lega.


Tapi nanti setelah Dara siuman dan sembuh, gue akan beri om Daniel sebuah hadiah yang nggak akan pernah dia lupakan seumur hidup.