Dira & Dara

Dira & Dara
Permainan di mulai #Lay pov



Hari demi hari Dara semakin membaik, jahilnya si Dira malah mengakui kalau mereka berpacaran. Gue setuju-setuju aja, lagi pula jika Dara menjadi menantu gue dan Rayna. Dara nggak akan benar-benar pergi dari hidup kita.


Dara udah keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah Yura, kami belum bisa melepas Dara untuk tinggal bersama Yura tapi kami harus mencoba ikhlas.


Terutama Dira yang nggak mau lepas dari Dara, dia bahkan menyuruh Dara menginap di rumah Rayna. Tapi Dara sudah mulai menyayangi Yura sebagai ibunya dan mungkin itu sedikit membuat Rayna cemburu.


Gue, Rayna dan Dira akhirnya pulang dan mendapati Daniel sedang duduk di kursi depan.


"Sayang kamu akhirnya pulang juga."


Ucap Daniel sambil menghampiri Rayna.


Gue dan Dira berjalan memasuki rumah, namun tangan Daniel menahan bahu gue.


"Sebaiknya om jangan terlalu sering keluar masuk rumah Rayna, bentar lagi pintu rumah ini bakal ditutup rapat untuk om Lay." Ucapnya


Gue menurunkan tangan Daniel dan tersenyum kecil,"tenang aja Niel, lo mau tutup rapat pintu rumah Rayna tapi hati Rayna masih tertutup rapat buat lo."


Daniel menatap gue tajam, mungkin dalam hatinya dia menyadari bahwa Rayna nggak pernah mencintai dia walaupun dulu dia memberikan banyak bantuan.


"Ck, jangan ngawur om! Hati Rayna milik Rayna dan nggak bisa diatur sama om."


Gue menarik nafas perlahan dan menatap Rayna yang hanya terdiam, tersenyum menatap setiap inci wajahnya.


"Bahkan dalam keadaan sakit hati pun Rayna hanya membenci gue di dalam mulut aja Niel."


Jawab gue santai.


Daniel terlihat kesal dan raut wajahnya memerah, terlihat dia melonggarkan dasinya.


Sedangkan gue menanggapi ini dengan biasa saja, karena gue tau Daniel adalah otak dibalik kehancuran perusahaan gue. Namun gue belum tau pasti apa motif dan rencana yang sebenarnya.


"Sayang kita masuk."


Ajak Daniel pada Rayna.


Rayna diam, dia malah menahan tangan Daniel.


"Aku cape, sebaiknya kalian pulang aja." Ucapnya


"Mas Daniel, please." Pinta Rayna


Daniel menyerah dan merubah ekspresinya, sedangkan gue hanya tersenyum. Saat ini kita sedang bersedih melepas Dara, batin Rayna pasti nggak akan sepenuhnya bahagia. Sedangkan pernikahannya dengan Daniel nggak didasari rasa cinta, namun hanya kasihan. Gue faham akan hal itu, Rayna hanya mencintai gue sampai kapanpun.


Gue memundurkan langkah dan menepuk pundak Dira yang saat ini memainkan ponselnya di atas kursi sambil menyumpel telinga.


"Ayah pulang dulu, jaga bunda ya."


Dira mengangguk sambil mengacungkan jempolnya, sedangkan gue masuk ke dalam mobil dan pergi menuju apartemen.


Saat ini rencana gue adalah mencari Anna, kemana wanita bodoh itu?! Perceraian harus terjadi sebelum Rayna menikah dengan Daniel, setelah itu gue harus menyusun rencana untuk menggagalkan pernikahan mereka.


Tiga puluh menit gue sampai di apartemen, memarkirkan mobil dengan aman dan masuk ke dalam kamar.


Duduk di atas sofa dan meraih ponsel di dalam saku celana, Hans.


Nama yang selalu gue curigai, sekretaris Daniel yang penuh teka-teki. Dulu ketika dia bekerja di Zyx group, sikapnya selalu menentang gue. Rencana yang gue susun dengan baik, selalu dia beri tanggapan buruk. Alhasil gue memberikan kesempatan untuk dia menambahkan susunan rencana proyek baru, namun entah kenapa itu membuat semua orang setuju.


Gue mengalihkan nomor kontak pada Ryan Tao manager di perusahaan kakek yang sangat kakek percaya.


"Hallo, Tao."


"Iya pak Lay, ada apa?"


"Ada tugas sedikit."


"Baik."


"Cari tau tentang Hans, sekretaris Daniel."


"Baik Pak, saya laksanakan."


Bip


Lay nggak akan pernah kalah, satu aset hilang namun aset yang lain tetap berkembang. Daniel terlalu bodoh, apa dia nggak sadar kalau Zyx group di Singapur berkembang pesat?!


Sebenarnya apa rencana lo Niel? Kalau mau menghancurkan, kenapa nggak dihancurkan semuanya?!