Dira & Dara

Dira & Dara
Menculik om Daniel #Dira pov



Gue pulang ke apartemen Ayah dan mendapati Ayah sedang menatap layar laptop, gue duduk di sampingnya dan ikut menatap layar laptop.


"Ini apa yah?"


Ayah melirik gue sekilas dan kembali menatap layar laptop,"ini data Hans Rinandy sekretaris Daniel dan bukti kecurangan Daniel terhadap proyek ayah."


Ayah memindahkan ke halaman lain,"oyah Dira, Ayah udah denger rekaman Anna dan semuanya benar! Dari awal Anna datang ke Zyx memang tanpa interview atau test, ide yang dia berikan pada Ayah memang benar milik Daniel."


"Jadi semua bukti udah Ayah dapetin?"


Ayah menggelengkan kepalanya," ayah mau denger omongan langsung dari Daniel, alasan dia melakukan hal itu dan apa yang ayahnya bilang sampai dia nggak mau berada di bawah ayah." Jelas Ayah


"Malam ini Ren mau culik dia, temenin ayah ya."sambung Ayah


Gue mengangguk,"oke yah."


Malam ini semoga semua bukti terkumpul dan masalah ini selesai, bunda dan Ayah rujuk. Gue dan Dara bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.


Waktu bergulir sangat cepat, malam ini tepat pukul 12 gue dan Ayah datang ke tempat bang Ren. Rupanya om Daniel sedang berteriak meminta tolong, dasar bodoh minta tolong di tempat ini ya dianggap setan.


Gue dan Ayah memakai penutup wajah ala penculik dan Ayah mengelilingi om Daniel.


"Gimana rasanya diculik, Pak Daniel?!" Tanya ayah.


"*******! Siapa lo? Berani-beraninya nyulik gue?" Teriak om Daniel.


Ayah bertepuk tangan sambil tertawa,"siapa yang nggak berani? Gue bisa buang lo sekalipun."


"Lepasin gue! Mau lo apa?" Teriak om Daniel lagi.


Ayah berjongkok dan menatap Om Daniel,"mau gue? Curi zyx group dari lo haha."


"*******!!!! Zyx group punya Layndra bukan punya gue."


Ayah berdiri dan mengelilingi om Daniel kembali,"Layandra?! Siapa dia? Setau gue zyx group punya Daniel wijaya."


Om Daniel berdecak,"ck! Gue cuma merebut, tapi sepenuhnya itu punya Layandra dan kakeknya, kris."


"Ohh jadi gue harus curi zyx group ke Layandra?" Tanya Ayah.


"Iya curi aja semuanya, abisin semuanya biar dendam gue selesai."


Ayah terdiam dan menarik napas perlahan, kemudian menatap om Daniel kembali.


"Dendam? Lo siapanya Layandara?"


"Gue keponakannya yang selalu direndahka n, gue dianggap tolol sama ayah sendiri dan semua usaha gue nggak pernah diapresiasi. Lay emang nggak salah, yang salah Ayah gue, selalu membeda-bedakan gue sama Lay sampe akhirnya gue frustasi dan nekat merebut semuanya." Jelas Om Daniel


Ayah terdiam dan mencerna penjelasan dari om Daniel.


"Tapi gue pinta lo jangan ambil dulu zyx, gue mau nikah sama mantan istri Lay." sambung om Daniel.


"Mantan istri?"


Ayah terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan mata yang memancar tajam menatap om Daniel.


"Kenapa lo benci sama keluarga sendiri? Selain alasan lo yang selalu di bawah?"


Tanya ayah lagi.


Om Daniel mendengus,"gue bosen ngalah, om Lay selalu bertingkah seenaknya terhadap gue, lo tau? Dari dulu gue selalu ngalah, bahkan Rayna istrinya harus gue ikhlasin nikah sama dia itu sebabnya, ayah bilang gue tolol. Om Lay terlalu jenius untuk gue kalahkan dan dengan kecuranganlah, dia bisa hancur." Jelas om Daniel


Ayah menghela napas perlahan, gue faham jika saat ini emosi ayah memuncak dan ingin memukul om Daniel sekaligus. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat, menurut gue om Daniel nggak layak dihajar melainkan dihukum.


"Lepasin dia, informasi untuk nyuri zyx group udah lengkap. Makasih Daniel, semoga kita bisa bekerja sama." Ucap Ayah


Gue terbelalak, ayah membebaskan om Daniel?! Apa nggak salah?!


"Kalau lo butuh bantuan hubungi gue, kita ancurin layandra bersama." Ucap om Daniel


Ayah mengangguk pelan,"oke! Anterin dia sampe rumahnya." Titah Ayah pada anak buah bang Ren.


Mereka pun melepaskan om Daniel dan mengantarkannya pulang.


Ayah membuka penutup wajah dan meneguk air mineral.


"Bang, kok dilepasin?" Tanya bang Ren


"Biarin dia menghirup udara bebas sebelum gue jeblosin ke penjara." Ucap Ayah


Gue membuka penutup wajah dan menyimpannya di kursi.


"Eh Dira, lama nggak ketemu nih."


"Iya bang, sibuk nih."


"Kok nggak ngomong kalau kamu anak bang Lay, kan gue jadi nggak enak nerima duit."


"Santai aja bang,ayah juga nggak bakal marah ya kan yah?"


Ayah mengangguk pelan,"asal diskonan aja."


Gue dan bang Ren tertawa setelah ketegangan berlalu.


"Eh bang, tapi gimana buat bukti ke polisi?"


Tanya bang Ren pada Ayah.


"Gue udah rekam semuanya d sini." Ucap Ayah sambil menunjuk jaketnya yang terdapat kamera kecil.


"Wahhhh jenius memang ayah kamu Dir, pantesan si Daniel heboh haha."


Gue tertawa kecil, iya gue akui Ayah memang cerdas dan misterius. Segala sesuatu selalu ia dapatkan tanpa harus membuang tenaga.