Dira & Dara

Dira & Dara
Kisah lama?!# Dira pov



Senang dan sialnya gue pagi ini, bangun tidur tiba-tiba ada di rumah janda, so gue senang sih itu janda emang cantik banget mulus gila. Bodynya goal banget, ***** gue nganga liat bokong sama dadanya.


Di suruh mandi langsung sarapan,tanya-tanya soal kehidupan gue. Sok akrab sih,tapi gue suka kalau bening kayak gitu dan yang jadi masalah ketika dia mengatakan bahwa namanya adalah Libra. Gue seketika lari dan pergi dari hadapan dia, mungkin si Dara bego-bego aja ditanya soal nama orang tua dan tek-tek bengek.


Yang dia nggak tau kalau Libra adalah mantan istri ayah,itu kata bunda.Alasan mengapa gue lari dan benci dengan nama itu,karena apa yang diceritakan oleh bunda jika ayah disakiti sama libra gue bener-bener nggak bisa berhubungan baik dengan masa lalu ayah.


Dan ketika sampe rumah,kekesalan gue makin menjadi ketika om Daniel ada di rumah.Gue bener-bener nggak suka dengan kehadirannya, mungkin bunda atau Dara taunya gue marah sama om Daniel karena dia nggak bisa bujuk ayah untuk pulang ke Jakarta, bukan! sumpah bukan itu alasannya.


Tapi di hari kelulusan gue dan Dara sewaktu di SMA,om Daniel datang bersama bunda sebagai wali kita dan meluk bunda di toilet sekolah.


"Aku yang akan menjaga mereka,Ray"


Ucapan yang masih terngiang itu masih ada di dalam kepala gue,gue nggak sengaja menguping karena waktu itu gue mau memberitau kalau gue jadi juara umum di sekolah.


Yang gue nggak faham adalah,kenapa om Daniel ngomong kayak gitu sedangkan Bunda masih berstatus istri ayah.


Dari sana gue berpikir,


Apa hubungan bunda dan om Daniel sebenarnya...


Dan mungkinkah ini ada hubungannya dengan ketidak pulangan ayah ke jakarta?!


Om Daniel mengetuk pintu yang saat itu nggak gue tutup.


"Dira, om boleh masuk?"


Ucapnya seraya menghampiri gue yang lagi duduk asik di sofa sambil menghirup rokok.


Om Daniel pun ikut duduk di samping gue."Apa kabar Dir?"


Gue hanya diam dan terus memainkan asap rokok yang menjadi satu-satunya sahabat penat gue.


"Kamu...masih marah sama om?"


Tanyanya lagi.


Gue menghela nafas dan mematikan rokok,menyandarkan kepala pada sofa empuk dan menerawang jauh ke luar jendela,menatap langit.


"Om minta maaf kalau di hari perpisahan sekolah kalian,om nggak bisa nepatin janji."


Sambungnya lagi.


Sebenarnya gue pengen tanya alasan dia meluk bunda dan ngomong mau jagain gue dan Dara. Dan apa alasan dia sering mengunjungi kami ketimbang ayah kandung yang katanya di Prancis tapi nggak pernah ada keinginan untuk balik.


"Om...."


Ucap gue akhirnya.


"Iya Dir,kenapa?"


Om Daniel tampak antusias mendengar gue menyebutnya om, mungkin karena semenjak gue lulus SMA gue nggak pernah menyapa dia.


"Gue mau nanya sesuatu."


"Apa itu Dir?"


Gue berfikir sejenak, apa kali ini waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu? tapi kalau dibiarin lama,gue bakal terus menerus tanda tanya kayak gini.


"Om,waktu kelulusan..."


"Kak Diraaaaaaa...."


Ucapan gue kepotong sama suara cempreng adek gue, Dara.


Gue mengurungkan niat,gue nggak bisa ngomong hal ini di depan Dara karena dia nggak pernah tau soal ini.


"Eh kalian duduk bareng,cieeee udah baikan ya?"


Tanya Dara yang duduk di tengah antara gue dan om Daniel.


"Baikan? emang siapa yang berantem? kita baik-baik aja kan Dir?"


Tanya om Daniel sambil menepuk paha gue.


Gue hanya mengeluarkan sedikit senyuman, mungkin belum waktunya gue bicara soal ini.


.


.


.


.


Pukul 11 malam gue udah asik memainkan botol minuman kesayangan gue,kali ini adek gue nggak ikut katanya masih kangen sama om Daniel. Cih,tu anak ngebet banget sama om Daniel pake acara naksir segala. Nggak sadar diri banget sih, gue menggeleng-gelengkan kepala ketika mengingat si Dara curhat kalau dia suka sama om Daniel, nggak sadar kalau kita saudaraan terlebih om Daniel udah tua.


Gue membuka tutup botol dan menuangkannya ke dalam gelas.


"Mas,biasa ya."


Ucap seorang pria di samping gue.


Gue menoleh ke arah samping,wow bokong seksi menggesek paha gue.Gue menelan ludah, bisa-bisa terjadi bencana kalau ini bokong terus menggesekkan paha gue.


"Mas,tambah satu botol dong nggak enak cuman segelas."


Ucap cewek seksi itu


"Iya sayang mas tambah."


Gila!


Di samping gue ada pasangan mesum nih, gue fikir di samping gue cuman cowok yang minta satu gelas bir tapi ternyata ada bokong seksi yang nutupin muka cowok itu dan sukses membuat adek gue'keras.


"Mas aku ke toilet dulu ya."


Ucap si bokong seksi.


Hanya tinggal gue dan cowok itu,kalau cowok mah nggak mau lah gue tatap. Masih normal brad,gue bukan pisang lawan pisang.


"Belum berangkat lagi ke Paris bos?"


Tanya barista yang menyodorkan gelas.


Kalau bukan karena kata'Paris gue nggak mau natap samping tapi karena kata itu yang membuat gue jadi penasaran siapa dia.


Namun silau...


Cowok ini tersorot lampu bar yang berpindah ke sana kemari,anjrit ngapain juga gue penasaran! yang di paris kan bukan hanya ayah.


Gue memukul kepala sendiri,bodoh!


1 jam berlalu,gue sama sekali nggak meneguk alkohol yang sejak tadi gue keluarkan.Yang ada di dalam otak gue adalah pertanyaan soal Bunda dan Om Daniel,selama ini gue selalu menghalau dan mencoba melupakan apa yang udah terjadi.Tapi semakin gue tahan,semakin menguatkan gue untuk mencari kebenarannya.


"Kamu kok belum pulang Dir?"


Tanya seorang pria yang menepuk pundak gue.


Om Daniel!


Gue terkejut dong,darimana om Daniel tau kalau gue di sini


"Dara,dia yang kasih tau"


Sambungnya.


Jago bener si om,perasaan belum tanya siapa yang kasih tau.


"Si dodol nggak bisa jaga rahasia"


Ucap gue sambil meraih gelas namun om Daniel menahannya.


"Jangan minum ini lagi Dir!"


Perintahnya


Gue hanya tersenyum dan melepaskan tangan om Daniel.


"Kenapa om? om pasti pernah muda kan?"


Tanya gue dengan senyum kecut.


Om Daniel mengangguk."Tentu,siapa yang nggak pernah muda Dir ? om pernah gini pernah gitu,om pengalaman tapi om nggak mau semuanya terjadi sama kamu"


"Walah om,tenang aja Dira juga udah tua pasti taubat kaya om."


Om Daniel menarik gelas gue dan meminumnya.


"Kamu pikir om udah nggak suka? om bukan nggak suka,tapi menghindari"


Jelasnya


Percakapan yang menurut gue nggak berfaedah,seorang Dira nggak akan luluh dengan omongan berpuitis kaya gini.Gue hanya ingin kepastian dari ayah dan bunda terutama lo Daniel.


"Langsung aja deh om,om mau apa ke sini?"


Tanya gue to the point.


Om Daniel menghela nafas perlahan,"Dara udah cerita semuanya soal kalian yang suka clubbing dan mabok".


"Terus..."


Ucap gue santai


"Ya om sih bakal jaga rahasia ini dari bunda,tapi gimana kalau suatu saat bunda kalian tau? Rayna itu orangnya om tau persis gimana Dir."


Jelas om Daniel.


"Wow..."


Ucap gue sambil menatap om Daniel lekat.


"Sedekat itu kah antara bunda dan om Daniel sampai om tau sifat bunda gimana? oyah Dira mau tanya,om rajin banget nengokin kita kenapa om? harusnya Ayah yang balik ke sini liat kita,tapi Dira heran justru om Daniel yang memerankan tokoh utama di sini".


Sambung gue.


Om Daniel menatap gue tajam."Om ini saudara ayah kalian!apa nggak boleh om perhatian sama kalian di saat Lay dan Rayna..."


Om Daniel terbawa emosi sampai suaranya meninggi tapi entah kenapa dia menggantungkan ucapannya.


"Lay dan Rayna kenapa?"


Tanya gue.


"Disaat bunda dan ayah kalian berjauhan kaya gini,om diberi amanat sama ayah kalian untuk melindungi kalian di sini"


Jelasnya.


Gue tertawa dan bertepuk tangan."Diberi amanat? kalau gitu kenapa om peluk bunda pas perpisahan waktu itu? Dan om bilang,aku yang akan menjaga mereka"


Tiba-tiba ekspresi om Daniel pun berubah,mungkin dia bingung kenapa gue tau hal ini.


"Kamu tau soal itu?"


Tanya om Daniel


"Udah lama"


Jawab gue singkat


Om Daniel mengeluarkan nafas dan memegang pundah gue.


"Akan om ceritakan kisah lama antara om,ayah dan bunda kamu"


Ucapnya.


Gue menatap om Daniel dan menunggu apa yang akan dia ceritakan di masa lalu.


.....


.....


T B C