
Gue menyudahi aktivitas mandi dan dengan sigap memakai kaos putih polos dengan celana pendek selutut,cuaca tiba-tiba dingin seakan menusuk ke dalam tulang.
Dara adik gue yang setia menunggu abangnya cerita soal tangan gue yang cedera ternyata mulai ngorok di atas sofa.
Gue mendekatinya,menatap setiap inci wajah cantik yang selama ini bersatatus sebagai adik gue.Dara yang bawel dan selalu membuntuti kemana kaki gue melangkah,seorang adik yang gue harapkan menjadi'orang lain agar status kita lebih dari seorang adik dan kakak.Bego! apa yang sebenarnya ada dalam fikiran gue ?! Dara hanya akan menjadi adik gue yang bawel dan sedikit menyebalkan.
Gue mengelus rambut pirangnya,seandainya jika Tuhan mengijinkan bunda hanya melahirkan satu anak yaitu gue.Mungkin Dara nggak akan merasakan kesepian tanpa kehadiran seorang ayah,bukan tanpa kehadiran.Tapi seorang ayah yang terus ada dalam hati kami,namun tidak pernah ada dalam pelukan kami.
"Dek,kak Dira sengaja bikin Agus dihakimi anak-anak soalnya kakak tau dia udah rencanain sesuatu sama gengnya.Kak Dira cedera karena kelakuan kakak sendiri dek, tapi kamu nggak usah khawatir dek kakak kuat.Kak Dira bakalan jadi orang terdepan untuk kamu,jangan punya pacar dulu ya dek..."
Cup~
Gue mencium keningnya lembut dan memindahkan Dara ke atas kasur.
-
Waktu menunjukkan pukul 10 malam,ternyata cuaca dingin yang gue rasakan tadi tanda-tanda akan datangnya hujan.
Gue menyumpel telinga dengan headset dan memutar lagu kenangan saat masih duduk di bangku SMA.Menatap ke arah Dara yang masih terlelap tidur, fikiran gue tentang masa itu hadir kembali.Masa dimana gue menjadi siswa terpopuler di sekolah,Dara yang selalu marah karena kakaknya selalu dapat surat cinta dan cokelat dari siswi yang menyukai gue.
Suratnya disobek dan cokelatnya dia makan katanya sih kakak jangan makan nanti kena pelet loh, Dara yakin ini ada peletnya.
Gue hanya tertawa mendengar ucapan dia dan tanpa gue sadari perasaan aneh sering muncul ketika Dara mulai jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.Iya,dia jatuh cinta pada teman sebangku gue si Agus ! kenapa bisa Agus?
Gue nggak pernah mau membahas soal ini,alasan kenapa gue pacaran sama adeknya Agus karena gue nggak mau Dara pacaran sama Agus.Gue rela lakuin apa aja untuk Dara tapi nggak termasuk Agus karena gue tau busuknya Agus kayak gimana,hampir dia menjerat gue dengan obat-obatan terlarang.
Bukan karena adiknya hamil,alasan yang lebih kuat adalah gue sengaja menjauh karena Agus positif mengkonsumsi obat itu.
"Hmmmm..."
Dara menggeliat membuat lamunan gue buyar seketika.
Gue mengelus rambutnya supaya dia tidur lagi dan berhasil,nggak ada tanda-tanda dia sadar.
Suara hujan di luar sana semakin keras,gue mencabut headset dan melangkahkan kami menuju jendela yang belum tertutup gordeng.
Namun aktifitas gue harus terhenti,mendengar samar-samar cekcok seorang pria dan wanita di rumah sebelah.Oke,abaikan! itu bukan urusan gue.
Tapi,
D
E
G
Yang gue tau rumah sebelah udah satu minggu ini kosong, suara cekcok mereka semakin lama makin keras membuat gue penasaran dan mengusap kaca jendela menatap ke arah depan.
Benar...
Seorang pria cekcok dengan istrinya di sana,karena kaca jendela yang agak dekat membuat gue dengan jelasnya menatap dan mendengar apa yang mereka permasalahkan.
Tapi ada yang ganjal...
Mereka mempermasalahkan tentang anak,apa mereka yang gue temui tadi sore di rumah sakit?
"Bisa nggak kamu sabar?! nanti juga Tuhan kasih kita anak!!!"
Suara melengking pria itu membuat suasana semakin tegang,gue hanya duduk memangku tangan menatap drama yang mungkin nggak akan ada habisnya.
"Kapan mas?! JANGAN MENTANG-MENTANG KAMU UDAH PUNYA ANAK DARI RAYNA JADI KAMU HANYA BILANG SABAR AJA!!!"
D
E
G
RAYNA?!
Mendengar wanita itu menyebut nama Rayna sontak membuat gue berdiri,jantung gue mulai nggak karuan ! apa yang gue denger itu benar-benar nama bunda? atau rayna yang lain.
"Kamu nggak pernah ngertiin aku mas hiks hiks hiks,setiap kamu ngigau nama Rayna yang sering kamu ucapkan! aku kurang apa mas APA?!"
L
A
K
Gue membalikkan badan ketika wanita itu ditampar oleh suaminya,sejak tadi gue menyaksikan pertengkaran mereka.Pria itu nggak bisa gue liat dibalik jendela ini karena berada di sebelah kanan,hanya wanita itu yang udah berurai air mata.
Gue dengan sigap menutup gordeng dan menyumpel kembali telinga dengan headset,mungkin rayna yang disebut-sebut bukan bunda.
Keesokan paginya gue siap-siap ke kampus dan liat si Dara teler di meja makan,ini anak nggak puas apa semalam tidur ngorok gitu.
"Teler mulu,ngampus woy!"
Gue memukul punggungnya pelan.
"Ihh kak Dira,gue ngantuk banget sumpah nggak bohong."
"Lah, semalem lo ngorok Dara gimana bisa ngantuk."
Dara menguap dan berusaha bangun namun kepalanya seakan malas untuk bangkit."Jam 2 malam gue bangun,ampe subuh nggak bisa tidur itu tetangga berisik banget sampe telinga gue rombeng."
Jadi Dara juga tau dan lagi suami istri itu masih cekcok.Apa nggak ada solusi terbaik dari masalah mereka,berapa jam tuh ngomel-ngomel ganggu orang tidur.
"Rayna, rayna, rayna itu mulu yang disebut-sebut.Bukannya Rayna nama bunda kan? gue jadi nggak fokus tidur kan denger nama Rayna"
Sambung Dara.
Jadi mereka masih membahas Rayna?! siapa sih mereka?!
Gue berdiri dan mengambil sepotong roti,setelah itu berlari kecil meninggalkan Dara.
"Mau kemana lo kak?!"
"kampus"
"Lo ninggaluin gue?! bagus ya"
Teriak Dara
"MANDI SONO..."
Balas gue tanpa berbalik badan.
Gue keluar dari rumah dan menatap rumah sebelah yang saat ini masih sepi,malam ganggu orang tidur jam segini kayaknya waktu mereka untuk istirahat.Pasangan yang sangat aneh,gue celingak-celinguk menatap pintu dan jendela seakan nggak ada tanda-tanda kehidupan.
"Lagi apa dek?"
"Ya?"
Gue terkejut mendengar suara di belakang gue,suara soerang pria yang baru gue kenal.Tanpa basa-basi gue membalikkan badan dan berniat menyapa, namun seketika gue terdiam kaku.Rasanya lemas,seakan waktu terhenti dijam dan menit ini.Mimpi ?gue lagi mimpi?
Ayah ?!
.
.
.
.
.
T
B
C