
Sejak tadi gue hanya diam di depan ruang IGD, menahan rasa takut. Gue terlalu takut kehilangan Dara apalagi saat ini terdengar kalau Dara kritis.
"Dara, dimana Dara?"
Teriak seorang cowok yang celingak-celinguk mencari keberadaan Dara.
Gue menatapnya, tepat! Dia Roni, cowok playboy pilihan Dara. Tapi kenapa dia tampak luka dikepalanya, apa jangan-jangan Dara dan Roni memang kecelakaan bersama.
Gue bangkit dan meraih kerah bajunya,"eh brengsek apa yang udah lo lakuin sama adek gue? Sampe dia kritis hah?"
Teriak gue.
Roni melepaskan cengkraman tangan gue dan menatap tajam," salah adek lo sendiri yang labil."
Gue mengepalkan kedua tangan dan siap meninju wajahnya untuk yang kedua kalinya.
"Eh, kasih tau ya sama dia kalau mau mati jangan ajak-ajak gue. Gue masih mau hidup." ucapnya lagi
B
U
K
Gue spontan meninju wajahnya yang membuat gue gatal sejak tadi, ucapannya membuat gue menyesal melepaskan Dara dan membiarkan dia pergi sama cowok brengsek ini.
"Eh kampret ngapain lo mukul gue?"
Teriak Roni.
Gue menarik nafas dan membuangnya kasar,"karena lo cowok ******** yang udah nipu Dara, maenin perasaan dia dan sengaja bikin dia mati."
"Yang mau mati ya dia, salah dia narik-narik stir mobil."
Gue kembali menarik nafas, mengumpulkan ucapan dia yang semakin menjengkelkan. Lo udah benar-benar berurusan sama Dira kawan.
"Dara narik stir pasti ada alasannya."
Ucap gue.
Roni berdecak," dia nggak sopan buka ponsel gue, pacaran juga belum berani amat lancang."
"Ya terus? Dara tau lo udah punya pacar? Jadi pengakuan lo apa hah? Lo sengaja biar Dara berpihak sama lo supaya dia benci sama gue dan kenyataan dia tau kalau lo udah punya cewek! Gitu?"
Gue menaikkan nada bicara.
Roni terlihat diam, dia merubah ekspresinya saat ini.
"Cowok ******** kayak lo nggak pantes buat Dara, bung."
Gue mengelus pipi Roni.
"Adek lo yang kecentilan, baru dirayu dikit udah mau-mau aja. Jadi salah siapa?"
Gue menarik nafas untuk yang ketiga kalinya dan mengusap pundak roni.
Buk
Buk
Buk
Buk
Buk
Satu pukulan ini, adalah detik perjuangan Dara untuk tetap hidup. Dek bertahanlah, jangan ninggalin gue. Seenggaknya lo harus denger pengakuan rasa sayang gue selama ini.
"Eh mas, mas jangan berkelahi di sini mas." Ucap seorang wanita.
"Iya mas, ini rumah sakit." Timpal seorang pria.
Gue hanya menatap Roni yang saat ini mengusap-usap pipinya dengan posisi yang masih duduk di bawah lantai.
"Security tolong, ini ada yang berkelahi." Ucap wanita itu lagi
Gue membenarkan jaket denim yang saat ini gue pakai, menatap Roni lekat dan bersumpah dia akan secepatnya membayar kelakuannya saat ini.
"Mas ada apa?" Tanya seorang pria yang berpakaian security.
"Nggak apa-apa pak, itu orang gila, bapak bawa ke ruangan khusus ya."
Ucap gue sambil menepuk pelan bahu security dan melangkahkan kaki untuk masuk ke ruangan IGD.
Gue mencari ranjang yang ditempati Dara, namun nihil gue nggak menemukannya. Namun, gue bisa menemukan ranjang bunda yang saat ini terlihat tertidur.
"Yah, Dara kemana?"
Tanya gue pada Ayah yang saat ini menggenggam erat tangan bunda.
"Dara dibawa ke ruang operasi Dir."
"Operasi?"
Ayah menganggukkan kepalanya,"benturan keras dikepalanya membuat dia harus segera mungkin dioperasi Dir."
Gue lemas, separah itu kecelakaan yang menimpa Dara sampai dia harus dioperasi. Roni bilang Dara menarik stir, mungkin dia meminta Roni menghentikan mobil namun si brengsek itu nggak mau, alhasil mereka kecelakaan.
Gue bangkit dan keluar dari ruangan IGD, menuju gereja yang ada di samping rumah sakit. Berjalan menatap yesus dan menahan air mata yang saat ini ingin keluar.
Gue ambruk dan nggak kuat menahan berat badan gue, air mata ini pun sukses mengaliri kedua pipi gue.
"Dara, adik kak Dira yang udah bahagai di surgaNya Tuhan. Kak Dira minta tolong, selamatkanlah Dara yang sangat kakak cintai. Selamatkanlah Dara yang selalu kak Dira jaga, bantulah Dara untuk kembali berkumpul bersama kami hiks Dara---- bidadari cantik, bidadari yang nggak pernah kak Dira lihat hiks hiks jika kak Dira nggak bisa bersama Dara sebagai adik kakak, maka bantulah kak Dira untuk bersama Dara sebagai kekasih hiks."
Ucap gue dengan tangisan yang semakin menjadi.
Kak Dira..
D
E
G
Gue terhentak, suara siapa itu? Suara yang berbisik di telinga gue secara jelas. Gue celingak-celinguk mencari sumber suara namun di sini benar-benar nggak orang lain, selain gue.
"Dara, kakak tau kamu mengetahui semuanya. Kamu tau kan dek, kakak sangat mencintai Dara seandainya kakak bisa memutar waktu, kakak menginginkan ada dua Dara di samping kakak, sebagai adik dan sebagai pendamping kak Dira hiks hiks Dara-----"
Ucap gue lagi.
Tuhan, tolong selamatkanlah Dara untukku. Jika engkau menghendaki Dara adikku untuk bersamamu, maka kehendakilah Dara yang saat ini kucintai untuk bersamaku walaupun hanya sebentar, setidaknya dia tau bahwa aku sangat menyayanginya.
Dara adikku, bantulah kakak untuk bisa bersama Dara.
Kebayang nggak sih adiknya Dira ada di gereja itu wkwkwkwk