
.
.
.
.
.
***
"Kak Diraaaaaa."
Dara berlari menghampiri gue yang terus meringis kesakitan.
"Sakit dek..."
Ucap gue pelan.
"Agus! kalau maen ya maen ngapain lemparin bola segala ke tangan kakak gue? lo sengaja curang kan?!"
Teriak Dara sambil menatap wajah Agus.
"Iya Agus biasa aja dong kalau maen,nggak usah pake urat!"
Teriak teman-teman lainnya,Agus melongo menatap gue mungkin dia merasa salah atau puas liat gue kayak gini.
"Tanggung jawab dong lo gus,bawa Dira ke rumah sakit ! kampret lo."
Mereka terus menghakimi Agus,gue hanya menatap wajahnya santai.
Jadi sekarang siapa yang licik?! seorang Dira nggak akan pernah tercurangi,walaupun gue harus merasakan sakit yang luar biasa demi harga diri, gue nggak akan pernah bisa diruntuhkan orang lain.
"Kak kita ke rumah sakit"
Ajak Dara yang membopong tubuh gue.
Sedangakan si Agus masih dihakimi mahasiswa lainnya tanpa perlawanan. Dan gue menatap kembali Agus dengan senyum kemenangan.
Kami pun masuk ke dalam mobil dan merubah posisi,kini giliran Dara yang nyetir mobil.
"Kak, lo kenapa sih? tiba-tiba ambruk gitu? emang lemparan bola si Agus keras banget?"
Tanya Dara yang merasa aneh.
"Kepo ah."
"Yey, adeknya khawatir malah dibilang kepo kakak macam apa lo."
"haha"
Gue hanya tertawa melihat adek gue yang memanyunkan bibirnya.
"Sableng lo."
"Apa sih beb,emosi aja kamu."
"beb beb beb apaan lo."
Dara memukul tangan gue.
"aw aw sakit dek."
"bodo ah...."
Gue terus menertawakan Dara sampai kita tiba di depan rumah sakit,sebenarnya gue nggak mau ke rumah sakit tapi karena cederanya sakit banget jadi terpaksa gue datang ke sini.
"Misi mbak,saya mau ke dokter saraf"
Ucap Dara pada mbak-mbak yang duduk di pendaftaran.
Sedangkan gue duduk di kursi tunggu
"Boleh,ada KTPnya mbak?"
"Oh sebentar ya mbak"
Dara menghampiri gue."Kak KTP dong"
"Buat apa?"
"Buat data lah"
"Bilang aja Dira ganteng,22 tahun dia pasti tau kok"
Dara melotot membuat gue mengangguk."Iya-iya tunggu"
Gue merogoh dompet di dalam kantong celana dan mengeluarkan KTP,Dara kembali ke tempat pendaftaran dan gue masih menunggu.Gue bersiul sambil mengarahkan pandangan ke sembarang tempat,cantik juga ya suster di sini kayaknya ada audisi khusus.
"Sabar sayang,nanti juga kita punya anak kok"
"Tapi mas kapan hiks.... hiks"
"iya-iya sabar."
Percakapan suami istri di samping gue kembali mengingatkan masalah yang saat ini sedang gue selidiki,kembali gue mengingat ayah yang entah bagaimana keadaannya.Gue harap secepatnya kita bertemu,gue benar-benar merindukan dia.Karena ketika kami berusia 5 tahun ayah pamit pergi ke suatu tempat dan sampai saat ini belum kembali,untuk itu gue dan Dara selalu mempertanyakan akan keberadaannya.
Mendengar wanita ini menangis,gue jadi inget bunda.Selama ini gue nggak pernah tau apa bunda sering menangis kayak gini,mengingat gue dan Dara yang nggak pernah tinggal di rumah.
Gue pun merasa ternsentuh dan berniat menatap ke samping untuk sekedar memberi kode semangat.
"Kak Diraaaaa"
Namun Dara meneriakkan nama gue dan memberikan kode 'ayo masuk ke ruangan dokter.
Gue pun berdiri dan menghampiri Dara untuk masuk ke dalam ruangan dokter.
"Jadi apa keluahannya dek?"
Tanya dokter
"Saya jatuh dok dari lantai 2 terus pergelangan saya sakit"
Ucap gue sambil memperlihatkan tangan kanan pada dokter.
"Jatuh ya? kamu bukan jatuh kali,tapi loncat ya?"
Ucap dokter sambil meraba pergelangan tangan gue.
Gue menggaruk kepala sambil senyum malu,bisa aja nih dokter.Kok tau ya kalau gue loncat,intinya gue loncat tapi lose control dan tangan gue ketindih badan sendiri.
"Sakit nggak?"
"A aw aw dok sakit dok"
Dokter memijit pergelangan tangan gue dan rasanya ngilu.
"Oke kita rongent aja ya dek"
"Boleh dok"
Dara mendahului ucapan gue,dih semangat banget ini anak.Padahal di kasih anti nyeri aja,kalau kayak gini gue makin bimbang mikirin tangan gue ini.
Gue dan Dara udah sampai di rumah,syukurlah hasil rongent tangan gue baik-baik aja.Hanya terkilir dan sakitnya bisa hilang dengan minum anti nyeri,tapi walaupun hanya terkilir ada tindakan medis dari perawat supaya sakitnya berkurang.
"Kenapa tangan kamu diperban Dira?"
Tanya bunda yang terlihat khawatir.
"Tau nih,pake acara jatoh segala"
Dara menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Jatoh? dimana?"
"Enggak bun,eh sembarangan aja lo dek! kan lo tau sendiri gue dilempar bola basket sama si agus".
Ucap gue sambil mengedipkan mata.
Tapi si Dara malah geleng-geleng kepala."Tau ah Dara cape,gerah mah mandi"
Dara melangkah pergi menuju kamarnya tinggal tersisa gue dan bunda.
"Yang bener kamu jatoh atau dilempar bola?"
Bunda mulai mengintrogasi gue.
"Kena bola bun,abis itu jatoh udah ah bunda tenang aja cuma cedera doang"
Gue mencoba menenangkan bunda.
"Oyah bun om Daniel nggak ada luka yang serius kan?"
Sambung gue
Bunda menggelengkan kepalanya."Enggak ada Dir,cuma lecet biasa"
"Syukur deh..."
"Tapi kamu kenapa pergi dari rumah om daniel?"
Tanya bunda lagi.
"Bunda,Dira nggak tau kalau itu rumah om Daniel.Abisnya sepi,nggak ada siapa-siapa coba kalau bunda diposisi Dira pasti takut kan bun?"
Sorry bunda Dira harus bohong,nggak ada alasan lain lagi bun.
"Iya sih Dir,kata om daniel dia bawa kamu dalam keadaan kamunya lagi tidur"
"Nah itu dia,kalau Dira nggak tidur pasti nggak bakalan pergi kan bun?"
"Iya sih."
Selamat ! otak lo emang encer Dir, jenius,cekatan tapi ini dosa lo udah bohong sama bunda beberapa kali,apalagi kelakuan gue yang sering clubbing dan asik sama dunia malam.
"Bun,dira ke kamar dulu ya."
Pamit gue.
"Iya sayang..."
Gue melangkahkan kaki menuju kamar dan merebahkan tubuh gue di atas kasur.Menerawang jauh langit-langit rumah,menantikan kepastian antara bunda,ayah dan om Daniel.
"Kak Diraaa..."
Suara Dara terdengar mendekat ke arah kamar gue.
Dia masuk dan tidur di samping gue,cepet banget dia mandinya ? jangan-jangan di lap doang.
"Lo bohong ya sama gue?"
Tanya Dara.
"Bohong apa?"
Tanya gue balik
"Itu masalah tangan lo kak,katanya lo jatoh tapi kok pas banget sama kejadin tadi?"
Gue tersenyum sambil terus menatap langit-langit rumah."Lo beneran mau tau dek?"
Dara merubah posisi tidurnya menghadap ke arah gue."Iya dong kak masa adeknya nggak dikasih tau."
Gue pun merubah posisi tidur dan menatap Dara."Malam ketika lo lagi demam,gue clubbing sendirian"
"Terus?"
"Gue mojok sama cewek di bar."
"Terus?"
Dara semakin penasaran dengan ucapan gue yang sengaja di potong-potong.
"Terus gue ketauan pacarnya."
"Kok bisa?!"
"Bisa lah,orang pacarnya yang punya bar itu hahaa."
Ucap gue sambil tertawa.
"Sinting lo kak !!!"
"Mana ada sih cewek yang mau nolak Dira,tampan,keren beuhhh".
Ucap gue dengan bangganya
"Jijik gue kak! uweee"
P
L
A
K
"A aw sakit ih..."
"lo mau tau kelanjutannya nggak?"
"Mau dong..."
"Tunggu ya! gue mandi dulu."
Ucap gue sambil bangun dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
"Anjrittt lo kak ."
T
B
C