Different Love Story

Different Love Story
Rencana Triano dan Ruhy



Ruhy pun pulang bersama Juno. Setelah mendapat izin dari guru.


"Kak, Juno antar Kakak ke kamar." Ucap Juno


"Nggak usah, kaki Kakak sudah mendingan."


"Pokoknya nggak boleh menolak."


"Iya deh."


Sesampainya di kamar Ruhy, Juno pun kembali ke kamarnya untuk membersihkan badannya. Sedangkan Ruhy pun sama, membersihkan badannya. Setelah beberapa saat, Ruhy sudah selesai membersihkan badannya. Tiba-tiba ponsel Ruhy berdering.


Ruhy \= "Hallo siapa ini?"


Triano \= "Ini nomor baru gue, Triano."


Ruhy \= "Wah Triano? Akhirnya lo telfon gue juga. Sudah lama nih, lo nggak telfon gue. Dan gue juga butuh bantuan lo nih."


Triano \= "Tau gue, kita kan sehati. Makanya gue telfon lo."


Ruhy \= "Apaan sih nggak jelas."


Triano \= "Nggak jelas juga ganteng kok gue."


Ruhy \= "Iya deh, percaya."


Triano \= "Kalau gitu kita ketemu di Rainbow Cafe aja nanti malam jam 7, gimana?"


Ruhy \= "Oke, boleh juga. Iya sudah gue istirahat dulu."


Triano \= "Okay, bye My Dear."


Ruhy \= "Apaan sih."


Ruhy pun menutup telfonnya dan duduk diatas ranjang sembari membaca novel. Tak terasa kantuk pun datang.


Jam 17:00 Ruhy pun bangun dari tidurnya, dia bergegas mandi dan bersiap-siap. Setelah selesai, dia turun dan mendapati Juno diruang tamu.


"Kakak mau pergi sebentar." Ucap Ruhy


"Kakak mau kemana? kaki kakak kan masih sakit."


"Suah mendingan kok, Kakak ada urusan bentar mau ketemu Si Manja."


"Triano?" Tebak Juno


"Iya, Kakak sudah ada janji sama dia. Bentar aja kok."


"Iya sudah, Juno percaya kok sama Si Manja nya Kakak." Ledek Juno dan mereka pun tertawa.


"Oke, Kakak pergi dulu. Bye." Ucap Ruhy sambil melambaikan tangannya dan melangkah pergi.


Di Rainbow Cafe, Ruhy datang lebih dulu dibandingkan Triano. Jadi, Ruhy memesan makanan dan minuman untuknya sekaligus untuk Triano.


"Ruhy.." Teriak Triano sambik berlari menuju tempat Ruhy. Semua mata tertuju padanya. Seketika itu, Triano memeluk Ruhy.


"Aduh ini anak, enggak tau apa ini itu tempat umum."


"Maad, soalnya gue kangen banget sama lo." Ucap Triano sambil melepas pelukannya.


"Wih, lo sudah pesan makanan nih." Lanjut Triano


"Iya sudah lah, lo lama banget sih."


"Maaf deh maaf, tadi ada urusan."


"Okelah, ayo kita makan. Nanti keburu dingin."


"Suapin dong, Ruhy." Rengek Triano seperti anak kecil.


"Malu tau, punya tangan juga kan lo."


"Ih, gue nggak mau makan kalau nggak lo suapin." Ucap Triano dengan cemberut.


"Oke deh, gue suapin. Tapi nggak gratis."


"Tau gue, lo pasti mau novel kan?"


"Hahahaha, itu lo tau."


"Oke, berapa pun yang lo minta. Gue beliin."


"Bener iya."


"Iya, tapi suapin dong. Gue sudah laper nih."


"Iya, gue suapin."


"Dasar manja. Sifatnya nggak berubah." Batin Ruhy.


Ruhy pun menyuapi Triano dengan telaten. Semua mata yang ada di Cafe tertuju pada dua sejoli ini. Setelah selesai mereka pun berbincang-bincang.


"Em, Triano gue mau bicara."


"Bicara aja Ruhy, mau bicara aja kok minta izin."


"Gue butuh bantuan lo soal Resto."


"Owh, tau gue soal itu."


"Hah, kok lo tau sih. Bukannya gue nggak pernah cerita sama loe iya."


"Maaf gue dulu pernah buka buku Diary lo."


"Apa? lo buka buku Diary gue?"


"Maaf Ruhy, gue waktu itu nggak sengaja."


"Karena gue penasaran Ruhy, lo anggep gue sebagai apa." Batin Triano


"Gue sudah cari info soal itu. Ternyata tempat itu sudah nggak dipakai lagi dan tempat itu dijual."


"Bagus dong. Ayo kita temui pemiliknya."


"Gue sudah ketemu sama pemiliknya. Dan ini tanda terima beserta bukti bahwa itu sudah milik lo." Ucap Triano sambil menyerahkan sesuatu pada Ruhy


"Apa ini?"


"Gue udah beli itu buat lo.


"Hah." Ruhy pun kaget


"Gue sudah punya uangnya kok, sudah lebih dari cukup malah." Lanjut Ruhy


"Nggak pa-pa itu hadiah dari gue buat lo."


"Tapi kan.."


"Nggak usah tapi-tapian. Kita kembangin Resto ini sama-sama okay."


"Okay lah, Makasih banyak iya Manjaku." Ucap Ruhy sambil memeluk Triano


"Sama-sama Dear."


"Besok kita lihat tempatnya." Ucap Triano sambil melepas pelukan Ruhy dan mendapat anggukan dari Ruhy.


Triano pun mengantar Ruhy pulang kerumahnya.


"Nggak mampir dulu?" Tanya Ruhy


"Nggak deh sudah malem, salam buat Si Manusia Es."


"Berani lo mengejek adik gue." Ucap Ruhy sambil memberikan tatapan mematikan pada Triano.


"Maaf maaf. Habisnya Juno cuek sih. Iya sudah jangan ngambek iya. Gue pulang dulu, bye Dear."


"Bye Manja.." Ucap Ruhy sambil melambaikan tangannya.


"Suka banget gue, dapat julukan Si Manja dari Ruhy."Batin Triano.


Ruhy pun masuk kerumah dan menuju ke kamarnya. Betapa kagetnya dia melihat Juno yang tertidur diatas ranjangnya.


"Bangunin nggak iya?" Gumam Ruhy


"Tapi kasihan Juno, kayaknya kecapekan deh. Iya sudah, nggak usah dibangunin" Lanjut Ruhy


**********


Matahari bersinar begitu terangnya, sinar matahari menembus jendela kamar Ruhy.


"Kak, bangun. Sudah pagi nih." Ucap Juno


"Heemm 5 menit lagi."


"Kak bangun dong. nanti telat."


"Iya iya, Kakak bangun nih."


"Owh iya kemarin dapat salam tuh dari Si Manja." Lanjut Ruhy


"Iya sudah. Sana Kakak mandi dulu. Juno mau kekamar."


"Eh, Juno kok kamu kemarin tidur dikamar Kakak sih?"


"Pengin aja Kak,"


"Owh oke, Kakak mandi dulu." Ucap Ruhy yang beranjak dari ranjangnya.


Seperti biasa Ruhy melakukan ritual paginya.


Dan berangkat ke sekolah diantar Supir.


"Ruhy.." Panggil seseorang yang Ruhy tau itu siapa.


"Ada apa?" Tanya Ruhy yang menoleh ke belakang mencari sumber suara.


"Ada waktu nggak, gue mau bicara." Ucap Ian dengan nada datarnya.


"Duh kalau ketemu masih cuek aja, coba kalau di chat romantisnya kebangetan." Batin Ruhy


"Ada, nanti istirahat."


"Oke, istirahat nanti gue tunggu ditaman." Ucap Ian dengan datar nya dan melangkah pergi.


"Ngapain sih Kak, kok mau aja diajak bicara sama dia?" Tanya Juno penasaran


"Iya nggak apa-apa. Sesama teman kan."


"Awas aja kalau dia berani sakitin Kakak. Juno penggal itu kepalanya."


"Ih takut.." Ucap Ruhy dengan suara yang dibuat-buat dan melangkah pergi sambil tertawa


"Kakak, kok Juno ditinggal sih."


"Ayo cepet manja."


"Iya."


Pelajaran pun dimulai dengan tenang dan lancar. Sesekali murid dikelas bergurau dengan guru yang mengajar. Namun, tidak melebihi batas yang telah ditentukan saat proses belajar mengajar.


Ruhy yang dari tadi fokus belajar, tidak tau bahwa ada seseorang yang memperhatikan dirinya dibalik pintu masuk kelas. Senyum pun mengembang dibibirnya melihat Ruhy yang sangat fokus dengan pelajaran.


Tak beberapa lama, bel istirahat pun berbunyi..


"Ikut gue."