
Hari berlalu begitu cepat, tiga hari lagi adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh sepasang kekasih yang akan terikat dengan ikatan pernikahan.
Segala persiapan sudah disiapkan dengan matang, tanpa kurang sedikit pun. Aditya ingin semuanya sempurna dihari pernikahannya itu bersama sang pujaan hati.
Hari ini, Aditya dan Ruhy memutuskan untuk mengambil baju pernikahan mereka disebuah butik ternama.
Sesampainya di butik, mereka disambut baik oleh pemilik butiknya.
"Wah, calon pengantinnya sudah datang. Silahkan masuk, saya akan bawakan gaun sama jasnya." Ucap pemilik butik.
"Iya, Terimakasih." Ucap Aditya dengan tersenyum.
Pemilik butik melangkahkan kaki ke dalam ruangannya, dan tak beberapa lama, dia keluar dengan pegawainya membawa sebuah gaun putih yang indah menawan, terkesan mewah tetapi tetap elegan dan membawa jas putih senada dengan gaunnya.
"Wah, indah sekali gaunnya." Ucap Ruhy.
"Apakah kamu suka, Sayang?" Tanya Aditya.
"Sangat suka." Ucap Ruhy yang tidak mengalihkan pandangannya dari gaun pengantinnya.
"Ini, model pengantinnya khusus saya buat untuk kalian. Sesuai dengan permintaan calon pengantin wanitanya. Apakah kamu suka dengan gaunnya?" Tanya pemilik butik.
"Iya, saya suka. Elegan tapi masih terlihat mewah." Ucap Ruhy.
"Syukurlah kalau suka, ini gaun sama jasnya saya buat khusus buat kalian." Ucap pemilik butik.
"Terimakasih banyak." Ucap Aditya.
"Iya, sama-sama. Semoga lancar iya pernikahannya dan semoga langgeng sama maut memisahkan." Ucap pemilik butik.
"Amin." Ucap Aditya dan Ruhy bebarengan.
"Aunty jangan lupa datang iya ke acara pernikahan kami." Ucap Aditya.
"Pasti."
"Kalau begitu kami pamit dulu, nanti saya transfer." Ucap Aditya.
"Iya, baiklah."
Aditya dan Ruhy melangkahkan kaki meninggalkan butik sambil membawa pakaian pernikahan mereka.
Aditya mengajak Ruhy jalan-jalan di taman.
"Kak, nanti kalau kita sudah menikah kita tinggal dimana?" Tanya Ruhy sambil menyenderkan kepalanya dibahu Aditya yang sedang duduk dibangku taman.
"Kakak sudah menyiapkan rumah untuk kita, Sayang." Ucap Aditya.
"Tapi, Kak. Kasihan Juno kalau harus sendirian dirumah. Orang tua Ruhy kan nggak pernah dirumah."
"Tapi, Sayang. Kakak pengin kita mandiri, berdua kalau sudah menikah. Nanti Juno juga bakal ngerti kok."
"Iya, sudah Kak. Aku ikut omongan Kakak aja."
"Nah gitu dong, istri yang baik." Ucap Aditya sambil tersenyum mengelus puncak rambut Ruhy.
"Calon, Kak."
"Iya, calon istri."
**********
Tidak terasa hari ini adalah hari dimana status Aditya dan Ruhy akan berganti menjadi suami istri.
Ruhy sedang duduk didepan meja riasnya sambil terus menatap dirinya dicermin.
Ruhy tampak sangat cantik menggunakan gaun pengantin berwarna putih dengan riasan wajah yang terkesan natural.
Ceklek..
Mama Ruhy memasuki kamarnya.
"Sayang." Ucap Mama Ruhy sambil memegang kedua bahu Ruhy.
"Iya, Ma."
"Kamu sangat cantik, Sayang."
"Makasih, Ma. Tapi Ruhy sangat gugup, Ma."
"Kamu tenang iya, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Dulu Mama juga begitu, sangat gugup sekali saat mau menikah dengan Papa kamu." Ucap Mama Ruhy.
Ceklek.
"Wah, calon mantu cantiknya. Mama sampai pangling." Ucap Mama Aditya dan Ruhy hanya tersenyum.
"Ayo kita keluar, yang lain sudah menunggu." Ucap Mama Aditya dan mendapat anggukan dari Ruhy.
Mama Ruhy dan Mama Aditya membawa Ruhy keluar untuk disandingkan dengan calon mempelai pria.
Ketiga wanita itu menjadi pusat perhatian.
Aditya tidak melepaskan pandangannya kepada sang kekasih, sampai lupa caranya mengedipkan mata.
"Jangan dilihatin terus, nanti lupa dialog baru tau rasa." Goda Papa Aditya dengan berbisik ditelinga Aditya dan membuat Aditya tersadar akan tingkahnya itu.
Ruhy duduk disebelah Aditya yang akan mengucapkan ijab kabul.
"Baiklah, apakah mempelai pria sudah siap?" Tanya penghulu.
"Sangat siap." Ucap Aditya dengan mantap dan tegas.
"Baiklah mari kita mulai, silahkan Pak." Ucap penghulu mempersilahkan Papa Ruhy untuk memulai ijabnya.
"BISMILLAH, SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN ADITYA DIMAS PRATAMA BIN CHARLES PRATAMA DENGAN ANAK SAYA RUHY REGINA BINTI HERMAN DENGAN MAS KAWIN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DAN KALUNG BERLIAN 20 KARAT DIBAYAR TUNAI." Ucap Papa Ruhy dengan tegas, lantang dan lancar.
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA RUHY REGINA BINTI HERMAN DENGAN MAS KAWIN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DAN KALUNG BERLIAN 20 KARAT DIBAYAR TUNAI." Ucap Aditya yang tidak kalah lantang, tegas dan lancarnya.
"Bagaimana para saksi? SAH?" Tanya penghulu.
"SAAAH.." Ucap serentak para saksi.
Penghulu pun membacakan doa untuk mempelai.
"Selamat kalian susah sah menjadi suami istri." Ucap penghulu dan mendapat senyuman dari Aditya dan Ruhy.
Ruhy dan Aditya bertukar cincin. Setelah itu, Ruhy mencium punggung tangan Aditya dan Aditya mencium kening Ruhy dengan romantis.
Acaranya berjalan dengan lancar dan khidmat. Acaranya sangat mewah, karena pernikahan ini adalah pernikahan dari anak seseorang yang masuk dalam kategori keluarga kaya di Dunia. Jadi, tidak heran jika acaranya sangat meriah, mewah dan megah.
Sekarang waktunya untuk memberikan ucapan selamat kepada mempelai.
"Kak, selamat iya." Ucap Juno sambil memeluk Ruhy.
"Iya, makasih. Semoga kalian cepat menyusul." Ucap Ruhy sambil melepas pelukan Juno.
"Doain aja, Kak." Ucap Juno sambil melirik kearah Tania.
"Selamat, Sayangku." Ucap Tania sambil memeluk Ruhy.
"Makasih." Ucap Ruhy sambil melepas pelukan Tania.
"Semoga langgeng sampai maut memisahkan kalian." Doa Tania.
"Amin." Ucap Aditya dan Ruhy bebarengan.
"Gue percaya sama lo, Dit. Jangan lo rusak kepercayaan gue yang sudah mengizinkan lo menikah dengan Kakak tersayang gue. Jaga dia baik-baik, jangan sampai dia menangis kecuali menangis kebahagiaan. Jangan sakiti dia, jangan.." Ucap Juno yang terpotong karena jari telunjuk Aditya menghentikan omongannya.
"Iya, Jun. Lo nggak perlu khawatir. Gue akan memperlakukan Ruhy sebaik mungkin. Karena gue sayang dan cinta sama dia." Ucap Aditya dengan merangkul Ruhy. Sedangkan Ruhy hanya tersenyum malu.
"Iya, tapi kan gue hanya.. "Ucap Juno
"Sudah, Jun. Ayo kita turun. Yang lain juga pengin salaman sama mempelai." Ucap Tania yang memotong omongan Juno dan menggandeng tangan Juno untuk menjauh dari Aditya dan Ruhy.
Semua orang sudah mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Saatnya untuk melempar bunga yang dilakukan oleh mempelai.
Semua orang yang jomblo atau belum menikah disuruh untuk berkumpul dan inilah saatnya Aditya dan Ruhy melempar bunga.
1
2
3
Bunga terlempar kearah... Juno.
"Ternyata bunga sang pengantin jatuh ke tangan adiknya sendiri. Buat siapa bunga itu iya?" Ucap sang pembawa acara.
Juno yang mendapat bunga tersebut langsung berlutut dihadapan Tania, dan memberikan bunga itu kepada Tania.
Dengan malu-malu, Tania mengambil bunga itu dari tangan Juno.
Tepuk tangan dan sorak kegembiraan menggema di acara itu. Air mata juga banyak yang menetes karena pernikahan Aditya dan Ruhy serta aksi Juno dan Tania.
........................... TAMAT ............................