
Sekarang, Ruhy dan Aditya berada di Perusahaan milik Aditya. Sedangkan Tyara ikut bersama Neneknya yaitu Mamanya Aditya.
Ruhy berada dipangkuan Aditya yang sedang fokus dengan laptop didepannya.
"Sayang, kamu kenapa? Tumben banget ngajak aku kesini?" Tanya Ruhy kepada Aditya, karena nggak biasanya Aditya membawa Ruhy untuk menemaninya berkerja.
"Nggak tau, pengin aja ditemenin sama kamu seharian." Ucap Aditya dengan manjanya.
"Kamu hari ini aneh banget." Ucap Ruhy yang heran dengan tingkah Aditya.
"Sayang, aku mau tiduran iya?" Tanya Ruhy.
Memang di ruangan Aditya terdapat ruangan khusus yang disediakan kamar dan berbagai peralatan pribadi milik Aditya dan Ruhy disana.
"Iya, Sayang. Yang penting kamu nggak boleh keluar dari ruangan ini." Ucap Aditya dengan mengelus rambut indah Ruhy.
"Iya, Sayang." Ucap Ruhy dengan beranjak dari pangkuan Aditya.
Ruhy merebahkan tubuhnya ke kasur yang ada disana.
Sedangkan Aditya masih fokus dengan pekerjaannya.
Tiba-tiba, seseorang mengetok pintu ruangannya Aditya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk" Ucap Aditya dengan sikap yang dingin.
Karena semenjak menikah dengan Ruhy, Aditya menjadi lebih dingin, ketus dan bersikap datar kepada orang lain yang bukan keluarganya.
Seorang wanita memasuki ruangan Aditya dengan berjalan lenggak-lenggok seperti model.
"Aditya, Sayang." Ucap wanita itu yang tidak lain adalah Sarah. Sarah memanggil Aditya dengan nada yang menggoda. Namun, Aditya masih dengan sikap acuh tak acuhnya.
"Jangan panggil nama gue dengan mulut kotor lo itu." Ucap Aditya dengan datar dan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
"Cuih, LO NGGAK USAH SOK KEGANTENGAN. GUE AKAN SURUH PAPA GUE BUAT CABUT KONTRAKNYA SAMA LO." Ucap Sarah dengan amarahnya.
"Suruh aja, disini yang bakal rugi bukan Perusahaan gue. Tapi Perusahaan Bokap lo karena sudah mencabut kontraknya dengan sepihak. Lakuin aja kalau lo mau lihat Perusahaan Bokap lo bangkrut." Ucap Aditya tanpa menghiraukan kehadiran Sarah dan masih tetap fokus dengan laptopnya.
Tiba-tiba, Ruhy keluar dari kamar.
"Oh, ada tamu yang nggak diundang? Pantesan buat keributan, ganggu orang lagi tidur aja." Cibir Ruhy pada Sarah.
"Ada lo disini? Lo ngapain disini?" Tanya Sarah.
"Harusnya gue yang nanya, kenapa lo disini?" Ucap Ruhy dengan nada yang kurang bersahabat.
"Gue mau lihat calon suami gue kerja, kenapa? Masalah buat lo?" Ucap Sarah dengan sombong.
"Baru calon suami kan? Lo masih punya otak nggak? Gue ini ISTRINYA Aditya. Dan Aditya pasti nggak bakal mau sama perempuan kayak lo. Lo itu hanya debu yang mengotori rumah tangga gue sama Aditya. Apa lo nggak laku? Sampai lo mau rebut SUAMI gue?" Ucap Ruhy dengan penuh penekanan karena dia berusaha meredam amarahnya.
"Gue.."
"Mendingan lo PERGI sekarang, atau gue buat Perusahaan lo bangkrut malam ini juga." Ucap Aditya yang angkat bicara.
Memang Aditya adalah anak dari Pengusaha Terkaya di Negaranya. Bukan hanya anak dari Pengusaha saja, Aditya juga terkenal sebagai CEO muda yang sukses di Negaranya itu.
Setelah mendengar ucapan Aditya, Sarah pun pergi dari ruangannya Aditya.
"Sayang, sini peluk." Rengek Aditya.
Ruhy berjalan memeluk Aditya.
Tiba-tiba, ketukan pintu dari seseorang menghentikan aktivitas mereka.
Tok.. Tok.. Tok..
Terlihat seorang laki-laki berjas memasuki ruangan Aditya.
"Pak, maaf mengganggu. Diluar ada yang ingin bertemu dengan Bapak." Ucap Fito sang Sekretaris Aditya.
Memang Aditya tidak ingin mempunyai Sekretaris perempuan, selain menjaga perasaan istrinya, Aditya juga lebih nyaman jika dua bekerja dengan seorang laki-laki. Menurutnya lebih bisa diajak untuk berpikir dan mengeluarkan pikiran atau ide tanpa ada rasa canggung.
"Bawa dia masuk." Ucap Aditya dengan ciri khasnya di kantor.
"Baiklah, Pak." Ucap Fito yang kemudian melangkahkan kaki memanggil seseorang yang ingin bertemu dengan Aditya.
"Hm."
Terkadang Ruhy bingung dengan sikap Aditya. Kalau di Kantor, dia lebih terkesan tegas, dingin, ketus, dan berwibawa. Tapi jika dirumah, dia seperti anak kecil yang sedikit-sedikit merengek, selalu minta dipeluk, lemah lembut dan suka bermanja-manja kepada Ruhy.
Masuklah seorang laki-laki di ruangan Aditya. Sedangkan Ruhy duduk di Sofa berdampingan dengan Aditya. Aditya sengaja menyiapkannya khusus untuk Ruhy.
"Anda siapa? Dan perlu apa Anda kesini?" Tanya Aditya yang nggak mau basa-basi dan langsung ke poinnya saja.
"Perkenalkan saya Rio, saya kesini ingin menyampaikan pesan dari teman saya untuk Pak Aditya." Ucap Rio dengan sopan.
"Siapa temanmu?"
"Dia ingin, kalau anda bertanya seperti itu. Sayang harus menjawab kalau teman saya ini adalah seseorang dari masa lalu yang kelam dari istri anda." Ucap Rio.
"Ian?" Tebak Aditya.
"Iya, Pak. Saya kesini mau menyampaikan sesuatu tentang dia."
"Nggak usah, kami nggak ingin tau tentang orang itu. Mau dia masih hidup maupun sudah mati sekalipun saya nggak peduli. Buat saya, masa lalu itu harus dibuang jauh-jauh."Ucap Aditya dengan datar.
"Tapi, izinkan saya untuk menyampaikan amanat darinya." Ucap Rio.
"Oke, saya beri waktu lima menit buat kamu berbicara." Ucap Aditya.
"Saya diamanatkan untuk membawa istri Anda menemui Ian. Sekarang dia ingin bertemu dengan istri anda untuk meminta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu."
"Saya sudah memaafkan dia. Tapi saya nggak mau bertemu lagi dengannya." Ucap Ruhy yang tidak kalah datar dengan Aditya.
"Anda dengarkan? Istri saya nggak mau menemui laki-laki brengsek itu." Ucap Aditya.
"Baiklah, saya nggak memaksa. Tapi saran saya, tolong pikirkan sekali lagi untuk menemuinya. Kalau begitu saya permisi." Ucap Rio dengan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Aditya.
"Apa maksud dia bicara kayak tadi?" Tanya Ruhy sambil menyenderkan kepalanya dibahu Aditya.
"Kalau kamu pengin menemui Ian, aku akan siap sedia buat anter kamu. Kayaknya dia benar-benar pengin minta maaf dan menyesali perbuatannya." Ucap Aditya dengan mengelus rambut Ruhy untuk memberinya dukungan.
"Nggak ah, aku nggak mau menemui orang itu lagi."
"Iya, sudah kalau itu sudah menjadi keputusanmu."
**********
Seharian Ruhy menemani Aditya di Kantor. Dan sekarang mereka sudah di rumah. Sedangkan Tyara sudah tertidur pulas di kamarnya.
Ruhy dan Aditya juga tertidur lelap diatas ranjang karena hri semakin larut. Mereka berdua sudah berada dialam mimpi.
Tanpa sadar, sudah ada seseorang laki-laki yang masuk kedalam kamar mereka. Entah bagaimana laki-laki bisa memanjat dan menaiki lantai dua kamar Ruhy dan Aditya padahal banyak satpam yang berjaga di sekeliling rumah Ruhy dan Aditya.
Laki-laki itu, membius Ruhy hingga pingsan dan membawanya pergi dari rumahnya sendiri dengan dibantu seorang laki-laki yang telah menunggu dibawah.
Kedua laki-laki itu membawa Ruhy ke suatu tempat yang akan membawanya kepada seseorang.