
Setelah sarapan mereka berwisata ke Braja Sandhi.
Disana mereka berjalan menaiki tangga yang diberi karpet berwarna merah. Mereka harus berjalan menyusurinya untuk sampai ditengah Braja Sandhi untuk melihat keindahan Kota Denpasar.
"Aduh, pusing." Ucap Ruhy yang sudah menaiki setengah tangga.
"Aku kan sudah bilang, Kak. Kakak jangan naik keatas, nanti Kakak kenapa-napa. Tapi Kakak keras kepala sih." Ucap Juno
"Juno, daripada kamu ngomel mendingan kamu gendong Kakak." Ucap Ruhy
"Apa? Gendong?" Pekik Juno.
"Nggak mau gendong, Kakak?" Ucap Ruhy denfan menyilangkan kedua tangannya.
"Huff, iya sudah deh." Ucap Juno yang ingin berjongkok namun..
"Biar gue aja yang gendong Ruhy." Ucap Aditya yang menahan Juno berjongkok
"Eh nggak usah Kak, biar Juno aja." Ucap Ruhy
"Juno capek, Kak. Biar Aditya aja iya." Rengek Juno
"Juno ingin Kakak sama Adit bisa dekat." Batin Juno.
"Eh nggak usah deh. Ruhy jalan aja." Ucap Ruhy
"Aaa.." Teriak Ruhy yang tiba-tiba tubuhnya diangkat oleh Aditya.
"Kak turunin Ruhy, malu dilihat orang." Ucap Ruhy
"Nggak apa-apa, daripada kamu capek dan sakit malah Kakak nanti yang frustasi mikirin kamu." Ucap Aditya yang membuat Ruhy tersenyum.
"Gue bahagia kalau lo juga bahagia, Hy." Batin Triano
"Owh, So Sweet." Ucap Tania dan Nika bebarengan.
"Iya, nih sweet banget." Ucap Triano yang sebisa mungkin untuk tersenyum.
Sesampainya diatas, mereka semua melihat keindahan Kota Denpasar. 1 jam mereka disana, akhirnya mereka pun turun untuk melihat miniatur-miniatur yang ada dilantai bawah Braja Sandhi.
Tidak lupa mereka pun keluar dari Braja Sandhi untuk melihat candi-candi kecil yang ada disana.
Pukul 13:00 mereka memutuskan untuk makan siang dan pergi ke Pantai Sanur untuk merasakan suara-suara ombak.
"Nyaman iya, Kak. Dengar suara ombaknya." Ucap Ruhy yang duduk diatas bebatuan dengan menyenderkan kepalanya dibahu Aditya.
"Iya, nyaman banget." Ucap Aditya yang melihat wajah cantik Ruhy.
"Ih, Kakak kok malah lihat Ruhy sih." Ucap Ruhy yang tersadar kalau sedari tadi Aditya menatapnya dan seketika Ruhy mengangkat kepalanya dan menatap Aditya.
"Habisnya, wajah kamu nggak bisa kalau nggak dilihat. Mubazir tau." Ucap Aditya dengan mencubit pipi Ruhy.
"Aw.. Kak. Emang wajah Ruhy itu makanan iya, kok mubazir." Ucap Ruhy dengan cemberut.
"Tuh, bibir cemberut aja." Goda Aditya
"Biarin."
"Iya, wajah cantik kalau nggak dilihat mubazir." Ucap Aditya yang membuat Ruhy tersenyum.
"Ih, Kakak gombal banget."
"Beneran kok nggak gombal."
"Iya, deh." Ucap Ruhy dengan tertawa.
"Gemas banget kalau ketawa. Pengin rasanya melihat Ruhy selalu tertawa bersamaku." Batin Aditya.
Disisi lain Triano lebih memilih bersama Nika berdua dibawah pohon yang ada disana.
"Tumben lo nggak bareng sama Ruhy." Ucap Nika
"Gue nggak mau merusak kebahagiaannya." Ucap Triano dengan muka datar.
"Tumben juga lo lesu gini. Senyum dong jangan ditekuk aja tuh muka." Ucap Nika dengan tertawa.
"Iya, nih gue senyum." Ucap Triano dengan tersenyum tipis.
"Gue sudah mulai nyaman dekat sama lo, Ka." Batin Triano.
Sedangkan Juno dan Tania memilih berjalan berdua menyusuri Pantai Sanur.
"Sejuk banget suasananya. Nggak pengin balik ke Kota kalau kayak gini." Ucap Tania dengan tersenyum
"Iya, kita harus baliklah. Masa iya kita disini terus." Ucap Juno
"Penginnya gitu." Ucap Tania dengan cengengesan.
"Iya, kali lo mau tidur di Pantai."
"Owh ngomong dong dari tadi." Ucap Juno
"Jun."
"Iya ada apa, Tan?"
"Gue senang banget, lo nggak cuek lagi sama gue." Ucap Tania dengan menatap Juno.
Deg.. Deg.. Deg..
"Kenapa ini? Jantung gue mau copot rasanya." Batin Juno
"I..iya, Tan." Ucap Juno dengan terbata-bata.
"Santai aja kali kita kan lagi di Pantai, jangan gugup gitu." Ucap Tania dengan cengengesan.
"Iya, Tan."
"Menarik." Batin Juno.
Hari sudah menjelang malam, mereka memutuskan untuk kembali ke villa.
Sesampainya di villa mereka mandi dan bersiap-siap untuk makan malam bersama di villa.
Setelah makan malam, mereka menghabiskan waktu dengan menonton film horor bersama di ruang keluarga.
Mereka duduk di sofa yang berbeda-beda. Aditya bersama Ruhy, Juno dengan Tania dan Nika bersama Triano.
"Hy, besok di villa aja iya." Ucap Nika, namun dia tetap fokus ke film.
"Iya, boleh. Gue capek banget mau istirahat di villa." Ucap Ruhy.
"Iya, boleh itu. Besok kita perawatan di pinggir kolam." Ucap Tania.
"Lah kita gimana?" Tanya Triano
"Ikutlah." Ucap para cewek bebarengan.
"Iya, kali kita ikut perawatan." Ucap Triano
"Nggak apa-apa, biar tambah ganteng." Ucap Nika
"Ciee.. Cie..." Sorak Tania dan Ruhy.
"Apaan sih, kalian. Nggak jelas banget." Ucap Nika
"Ehem.. cintanya sudah bersemi itu" Ledek Ruhy
"Diamlah, Kak. Lagi seru nih filmnya." Ucap Juno yang sedari tadi fokus ke Filmnya
"Sejak kapan, adikku suka film?" Tanya Ruhy dengan keheranan.
"Sejak tadi." Ucap Juno
"Iya, deh. Terserah."
Film nya sangat seru, teriak-teriak para cewek pun menggema saat ada hantu yang keluar di film nya. Tanpa sadar mereka semua memeluk para cowok yang ada didekatnya. Owh So Sweet.
**********
Seminggu sudah mereka semua di Bali. Akhirnya dengan berat hati mereka harus kembali ke Kota mereka.
Mereka menaiki pesawat pribadi milik keluarga Aditya, sesampainya di Kota, mereka telah di jemput supir pribadi Juno dan Ruhy menggunakan salah satu mobil orang tua Juno dan Ruhy yang lumayan besar.
Juno dan Ruhy mengantar semuanya sampai kerumah dengan selamat. Sesampainya dirumah, Juno dan Ruhy langsung ke kamar mereka untuk membersihkan tubuh mereka dan istirahat.
Disisi lain, Aditya bertemu dengan orang tuanya untuk makan malam.
"Sayang, Mama sama Papa udah daftarin kamu di Universitas X." Ucap Mama Aditya
"Benarkah, Ma?" Tanya Aditya yang heran
Universitas X merupakan Universitas yang sudah terkenal diseluruh Kota. Termasuk Universitas terbaik di Indonesia.
"Iya, Dit. Karna nilai kamu sangat bagus jadi nggak sulit, Mama sama Papa daftarin kamu ke Universitas itu." Ucap Papa Aditya
"Makasih iya, Ma Pa." Ucap Aditya dengan girang.
"Iya, sama-sama Sayang." Ucap Mama Aditya
"Ayo dilanjut makannya." Ucap Papa Aditya dan mendapat anggukan dari Aditya.
Setelah makan malam, Aditya langsung pergi kekamarnya. Disana dia lompat-lompat nggak jelas seperti anak kecil.
"Yey, akhirnya aku bisa masuk ke Universitas yang selama ini aku impikan. Uh senangnya." Gumam Aditya
"Eh, kebahagiaanku harus aku bagi dengan My Princess." Gumam Aditya
Akhirnya Aditya menelfon Ruhy tapi tidak mendapat jawaban dari Ruhy. Beberapa kali dia menelfon Ruhy tapi tidak diangkat olehnya.
"Em, mungkin dia sudah tidur. Lebih baik aku tidur juga deh." Gumam Aditya.