
Seminggu sudah berlalu, Ruhy dan Aditya tidak pergi ke sekolah karena Aditya tidak ingin meninggalkan Ruhy walaupun semenit saja. Tapi Aditya sudah memberitahu semuanya yang terjadi pada Juno dan juga Ruhy aman bersamanya, namun Aditya meminta agar Juno untuk semestara waktu tidak menemui Ruhy dan Juno pun menurut pada Aditya.
"Kak, sudah seminggu Kakak nggak masuk sekolah. Nanti kalau ketinggalan pelajaran gimana?" Tanya Ruhy yang keadaannya sudah membaik.
"Nggak bakal, Kakak sudah minta file setiap mata pelajaran dari masing-masing guru. Dan Kakak juga udah minta file nya untuk kamu juga, Kakak juga sudah mengirim filenya ke kamu lewat email."
"Benarkah, Kak?"
."Iya, benar."
"Makasih, Kak. Ruhy selalu merepotkan Kakak." Ucap Ruhy sambil memeluk Aditya.
"Iya, sama-sama. Kakak nggak merasa kamu repotkan kok. Kakak akan bahagia kalau melihat kamu bahagia." Ucap Aditya sambil mengelus rambut Ruhy.
**********
Keesokan harinya, Ruhy sudah bersiap menggunakan seragam sekolah yang diantar oleh Bi Nina ke Apartnya Aditya.
"Loh, kamu kok sudah siap? Kamu mau pergi ke sekolah? Tanya Aditya yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya, Kak. Ruhy bosan disini terus."
"Tapi lebab di kening kananmu masih terlihat."
"Nggak apa-apa, Kak. Nanti aku tutupi pakai rambut aja."
"Emang kamu sudah sembuh total?"
"Sudah, Kak. Kakak nggak usah khawatir."
"Oke kalau gitu, Kakak mau siap-siap dulu."
"Iya, Kak. Sekalian aku siapin roti buat sarapan."
"Eh nggak usah, nanti biar Kakak aja yang nyiapin."
"Nggak apa-apa, Kak. Selagi menunggu Kakak siap-siap."
"Iya sudah kalau gitu."
"Istri idamanku, Ruhy tersayang." Batin Aditya.
Setelah Aditya selesai bersiap-siap mereka pun sarapan bersama.
Setelah itu, mereka berangkat menggunakan mobil Aditya. Sesampainya disekolah, semua mata tertuju pada Ruhy dan Aditya. Hal itu membuat Ruhy sedikit risih, sedangkan Aditya malah menggandeng tangannya dan mengantarnya ke kelas.
Sesampainya didepan kelas Ruhy.
"Kakak kekelas dulu, iya." Ucap Aditya
"Iya, Makasih Kak." Ucap Ruhy
"Bye." Aditya pun melangkah pergi setelah mengangguk pada Ruhy.
Ruhy memasuki kelasnya dan Greb...
Seorang laki-laki memeluk tubuh Ruhy.
"Kak, Juno kangen banget sama Kakak." Rintih Juno
"Kakak juga, Jun." Ucap Ruhy yang membalas pelukan Juno.
1 menit...
"Sudah jangan kayak gini, malu Jun."Bisik Ruhy dan melepas pelukannya.
"Huh.. iya Kak."
"Ruhy.." Teriak Tania yang berlari memeluk Ruhy.
"Ruhy, lo kemana aja. Gue kangen banget sama lo." Ucap Tania sambil menitihkan air mata.
"Gue juga kangen, sudah jangan nangis." Ucap Ruhy melepas pelukan dan menghapus air mata Tania.
"Ruhy, lo kemana aja? Kok selama seminggu nggak ada kabar?" Tanya Ahmad
"Iya, bikin khawatir aja." Ucap Disa.
"Iya, Hy. Lo kemana aja." Ucap Elisa
"Makasih kalian care sama gue, gue menghilang seminggu karna ada kejadian tak terduga." Ucal Ruhy sambil menyingkap rambutnya dan al hasil lebab dikeningnya terlihat jelas.
Juno yang melihatnya sudah geram dan mengepalkan dengan erat tangannya. Sedangkan Tania, dia masih tidak bisa berkata apa-apa melihat sahabatnya terluka.
"Kening lo kenapa?" Tanya Ahmad dengan nada yang khawatir.
"Kenapa, Hy?" Tanya Bella.
"Kalian nggak perlu tau." Ucap Ruhy dengan ketus membuat teman-temannya terdiam.
Ruhy duduk dibangku nya sesekali dia melirik kearah bangku Ian dan ternyata dia tidak ada.
"Mungkin dia sudah tak punya muka buat bertemu gue lagi." Batin Ruhy.
"Hm."
"Lo cari Ian?"
"Nggak."
"Nggak usah bohong, Hy. Gue tau lo dari dulu. Soal Ian, kata Bu Hanin dia pindah."
"Hah dia pindah? Bagus deh." Batin Ruhy.
"Owh gitu." Ucap Ruhy
"Lo nggak apa-apa ?"
"Iya nggak lah, malah iya Tan gue bahagia Si Playboy itu sudah nggak ada disinu." Ucap Ruhy dengan tersenyum.
"Bagus deh kalau lo sudah melupakan Ian dan gue senang lihat lo bahagia." Batin Tania.
"Iya, Hy." Ucap Tania dengan tersenyum.
**********
Sepulang sekolah Ruhy memutuskan untuk pergi ke RNT Resto setelah meminta izin pada Juno dan Aditya. Namun, mereka masih belum tau bahwa itu adalah Resto milik Ruhy, Nika dan Triano.
"RUHY.." Teriak Nika sambil melambaikan tangan.
"Kebiasaan." Batin Ruhy
"Eh lo ada disini?" Tanya Ruhy
"Iya, baru aja sampai disini."
"Iya, sudah kita ke ruanganku aja biar bisa rebahan."
"Ayo."
"Owh iya, dimana Triano?" Tanya Ruhy
"Ke dapur ambil minuman sama cemilan katanya. Kan dia tau kalau gue sama lo mau kesini."
"Owh iya sudah deh. Yuk kita rebahan." Ucap Ruhy dengan kegirangan.
Ruhy dan Nika sedang tiduran diatas ranjang ruangannya di Resto. Setelah 10 menit muncullah Triano bersama 3 pelayan yang memegang makanan, minuman serta cemilan. Setelah meletakkannya di meja, pelayan itu pun pergi.
"Triano, Nika gue mau curhat ke kalian." Ucap Ruhy
"Kalau mau curhat iya curhat aja. Biasanya juga nggak usah ngomong." Ucap Nika sambil memakan cemil
"Diam lo, kayaknya curhatan Ruhy yang satu ini sangat serius." Ucap Triano.
"Iya, gue diam." Ucap Nika
Akhirnya Ruhy menceritakan semua yang terjadi padanya, mulai dari dia menaruh rasa ke Ian, tentang balapan Ruhy namun dia tidak memberitahu soal Panti Asuhan, sampai pelampiasan Ruhy ke Ian.
"Apa? Lo kok nggak mencegah Ruhy balapan sih." Bentak Nika.
"Gue sudah mencegah Ruhy balapan, tapi gue nggak bisa lihat Ruhy marah apalagi sedih gitu." Ucap Triano yang tertunduk lemas.
"Sudah-sudah, gue kok yang menyuruh Triano nggak mencegah gue ikut balapan dan gue juga yang menyuruh dia nggak ikut campur soal balapan gue." Jelas Ruhy
"Tapi, Hy. Lo kan nggak pernah balapan sebelumnya." Ucap Nika khawatir
"Lo aja yang nggak lihat cara balapan Ruhy, Ruhy cuma kalah diawal-awal aja, setelahnya nggak ada yang bisa menang dari dia. Gue aja heran sama dia." Ucap Triano dan mendapat tatapan tajam dari Nika.
"Diam lo." Ucap Nika
"Gue nggak apa-apa kok, lo tenang aja." Ucap Ruhy
"Dan sekarang dimana playboy itu yang sudah buat lo kayak gini." Ucap Nika yang menahan amarah
"Seandainya lo suka sama gue kayak losuka sama Ian. Gue pasti bahagia dunia akhirat, Hy." Batin Triano.
"Nggak usah dipikirin. Dia sudah pergi entah kemana." Ucap Ruhy.
"Benarkah?"
"Iya."
"Oya, nanti malam ada balapan kan?" Tanya Ruhy pada Triano
"Ada ditempat biasa." Ucap Triano tanpa ragu.
"Woi lo gimana sih, masa Ruhy mau balapan malah lo dukung." Bentak Nika
"Gue nggak bisa menolak permintaan Ruhy." Ucap Triano dengan lemas.
"Iya, seenggaknya lo..." Ucap Nika yang dipotong oleh Ruhy.
"Sudah-sudah, memang gue yang pengin balapan kok. Lo tenang aja." Ucap Ruhy
"Tapi...