
Hari demi hari disekolah, Ian semakin menjauh dari Ruhy, entah apa yang dia pikirkan. Ruhy pun sudah menceritakan pada Juno soal teman-teman sekelas yang sudah mengetahui perbuatan Ian ke Ruhy. Dan Juno pun nggak tinggal diam, dia pun mencari siapa yang merekamnya, sampai sekarang.
Pelajaran pun dimulai seperti biasa,
Tok.. Tok.. Tok..
"Permisi, Bu..." Ucap seseorang yang berdiri didepan kelas.
"Iya, ada apa?" Tanya Bu Rima yaitu guru yang sedang mengajar.
"Panggilan buat Ruhy, ditunggu Bu Hanin dikantor, sekarang." Ucap orang itu.
"Baiklah, Ruhy silahkan." Ucap Bu Rima
"Iya, Bu. Saya permisi." Ucap Ruhy sambil melangkah meninggalkan kelas.
Sesampainya dikantor.
"Permisi.." Ucap Ruhy sambil memasuki ruangan Bu Hanin.
"Eh kok ada Kak Aditya disini." Batin Ruhy
"Ruhy, sini duduk." Ucap Bu Hanin dan mendapat anggukan dari Ruhy
"Langsung ke intinya saja, Bu Hanin ingin kalian ikut Olimpiade Ekonomi. Karena disini saya yang ditugaskan Pak Kepala Sekolah buat memilih calon pesertanya." Ucap Bu Hanin
"Loh, Bu. Tapi saya kan dari kelas IPA." Ucap Aditya.
"Iya, Bu Hanin tau. Tapi nilai Ekonomi kamu terbilang sangat tinggi dibanding anak IPS dikelas XI ini." Ucap Bu Hanin
"Iya, baiklah Bu. Saya akan berusaha ikut Olimpiade ini." Ucap Aditya dengan senyum lebar
"Pasti aku akan semangat banget nih, apalagi partnernya Ruhy." Batin Aditya.
"Kamu gimana, Ruhy? Bersedia nggak?" Tanya Bu Hanin
"Ayo Ruhy, bilang iya." Batin Aditya
"Eemm, iya Bu. Saya bersedia." Ucap Ruhy
"Yey.." Aditya pun girang mendengar ucapan Ruhy, tanpa sadar dia sudah berdiri hingga melompat-lompat seperti anak kecil dan mendapat tatapan yang mudah duartikan dari Bu Hanin dan Ruhy.
"Eh, maaf Bu." Ucap Aditya yang tersadar atas tindakannya dan kembali duduk.
Sedangkan Ruhy hanya menahan tawa melihat tingkah Aditya.
"Aditya, senang sih boleh. Tapi harus jaga image dong. Nggak malu apa sama Ruhy." Ucap Bu Hanin
"Maaf, Bu. Saya terlalu senang." Ucap Aditya sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Iya, sudah. Kalian bisa ambil buku-buku di Perpustakaan mulai dari sekarang. Soalnya, Olimpiadenya dilaksanakan seminggu lagi." Ucap Bu Hanin
"Baik, Bu." Ucap Ruhy dan Aditya bebarengan.
Ruhy dan Aditya pun meninggalkan ruangan Bu Hanin dan bergegas pergi ke Perpustakaan untuk mencari buku. Sepanjang perjalanan menuju Perpusatakan hanya ada keheningan diantara Aditya dan Ruhy, bahkan sampai di Perpustakaan pun mereka masih terdiam.
"Kok jadi canggung gini iya." Batin Aditya.
"Ruhy.." Panggil Aditya yang memecah keheningan
"Iya, ada apa Kak?" Tanya Ruhy.
"Cari bukunya jangan banyak-banyak, nanti kamu capek." Ucap Aditya yang melihat Ruhy membawa 5 buku paket yang cukup besar.
"Nggak lah, Kak."
"Tapi Kakak nggak mau lihat Ruhy kecapekan."
"Iya, Kak. Makasih atas perhatiannya. Tapi Ruhy nggak apa-apa kok Kak."
"Beneran, apa mau aku bawain bukunya?"
"Nggak usah Kak. Ruhy bisa sendiri. Kakak kan juga bawa bukunya Kakak sendiri."
"Buat Ruhy, jangankan 10 buku. 100 buku pun Kakak kuat kok."
"Jangan gombal di Perpustakaan, Kak."
"Jadi kalau diluar Perpustakaan, boleh nih?" Goda Aditya
"Apaan sih, Kak." Ucap Ruhy dengan gugup.
"Iya, sudah. Biar 3 buku kamu Kakak yang bawa. Kamu bawa 2 aja biar ringan."
"Nggak usah, Kak."
"Nggak boleh ada penolakan." Ucap Aditya dengan tegas
"Iya, sudah ini." Ucap Ruhy sambil memberikan 3 bukunya pada Aditya.
"Anak pintar." Ucap Aditya dengan tersenyum.
Sepanjang perjalanan menuju kelas Ruhy.
"Oya, Ruhy. Gimana kalau kita belajar bersama?"
"Oke, nanti Kakak datang kerumah Ruhy."
"Okay, Ruhy tunggu."
Sesampainya dikelas depan kelas Ruhy.
"Sini, Kak. Biar Ruhy aja yang bawa masuk sendiri buku-bukunya." Ucap Ruhy
"Nggak boleh, nanti kamu capek."
"Tapi, Kak. Ini sudah ganti jam pelajarannya Pak Feri." Bisik Ruhy.
"Nggak apa-apa lah."
Tiba-tiba Aditya mendorong pintu kelas Ruhy hingga terbuka.
"Permisi, Pak." Ucap Aditya
"Ada apa?" Tanya Pak Feri dengan ketus.
"Saya mau antar Ruhy sama bantuin bawa buku-bukunya."
"Ruhy kan bisa sendiri." Ucap Pak Feri
"Kasihan Pak, nanti kecapekan." Ucap Aditya dengan tersenyum.
"Cieee.. Ciee.. Ciee..." Itulah sorak-sorak siswa dikelas
"Ada yang patah tapi bukan ranting." Ledek Disa sambil melirik kearah Ian yang sedang duduk diam tanpa ekspresi.
"Ada yang retak tapi bukan kaca." Sahut Elisa
"Ehem.. Ciee.." Ucap seluruh siswa dikelas kecuali Ian.
"Sudah, diam." Ucap Pak Feri dengan tegas membuat semua siswa diam seketika.
"Baiklah, bawa buku-buku Ruhy itu ke mejanya. Setelah itu, kamu kembali kekelas" Ucap Pak Feri.
"Baik, Pak."
Aditya pun meletakkan buku-buku Ruhy diatas mejanya dan melangkah pergi meninggalkan kelas Ruhy.
**********
Setelah pulang sekolah, seperti biasa Ruhy melakukan ritualnya. Setelah selesai, Ruhy memilih untuk membaca-baca materi Olimpiade sampai waktu makan malam tiba.
Ruhy pun melangkahkan kaki menuju meja makan.
"Jun, Kakak kangen banget bisa makan malam sama Mama dan Papa. Kapan iya kita bisa kayak dulu?" Tanya Ruhy yang berkaca-kaca.
"Sudahlah Kak. Nggak usah dipikirkan, kita kan sudah sering akan malam cuma berdua kadang bertiga sama Bi Nina." Ucap Juno.
"Iya, Jun tapi kan Kakak juga pengun kita bisa kumpul-kumpul bersama. Lah ini, Mama sama Papa pulang saat kita sudah tidur, dan berangkat lagi sebelum kita bangun."
"Sudah Kak, jangan dibahas. Juno sudah panas dengarnya. Lebih baik kita makan malam aja."
"Kakak, jadi nggak mood makan."
"Kakak, harus makan. Nanti kalau sakit gimana?"
"Kakak nggak mood makan Juno."
"Kalau sama ini, masih gak mood makan?" Ucap Aditya yang tiba-tiba datang di meja makan sambil menyodorkan minuman Chocolate kesukaan Ruhy.
"Eh, Dit. Kok lo tiba-tiba muncul sih." Tanya Juno
"Sorry, tadi gue langsung masuk aja. Gue tadi ketemu Bi Nina di depan, katanya kalian dimeja makan. Jadi gue langsung masuk tanpa permisi." Ucap Aditya
"Owh gitu."
"Jadi masih nggak mood makan?" Tanya Aditya
"Nggak mau makan, tapi mau minum Chocolate nya aja." Ucap Ruhy
"Nggak boleh. Kakak harus makan, baru boleh minum itu." Ucap Juno dengan tegas.
"Apaan sih, Jun."
"Iya sudah, kalau Kakak suapin gimana?" Tanya Aditya.
"Aku bukan anak kecil, Kak." Rengek Ruhy
"Tuh kan, kayak anak kecil." Ledek Aditya
"Ih, malah nambah gak mood makan gara-gara Kak Aditya." Ucap Ruhy dengan cemberut.
"Jangan cemberut gitu dong. Nanti cantiknya hilang." Ucap Aditya
"Biarin aja, Kakak sih buat Ruhy jengkel." Ucap Ruhy
"Maafin Kakak, iya. Pokoknya Kakak suapin kamu. Nggak boleh ada penolakan." Ucap Aditya.
"Ehem...