
Malam pun menjelang, Ruhy, Triano dan Nika sudah berada ditempat balapan. Nika yang selalu memohon pada Ruhy untuk tidak ikut balapan pun tidak bisa menghentikan langkah Ruhy untuk mengikuti balapan. Triano hanya diam, karna dia tau pasti dia tidak bisa mencegah Ruhy untuk ikut balapan.
Akhirnya balapan dimulai, dengan kekhawatiran yang dirasa Triano dan Nika tak sadar jika sekujur tubuhnya gemetar, padahal Triano sudah sering melihat Ruhy balapan, tapi..
"Kok gue khawatir banget sama Ruhy, sampai gemetar nggak jelas. Dan gue kok punya firasat.. Ah semoga aja nggak terjadi." Batin Triano
"Duh, kok gue gemeteran iya lihat Ruhy balapan." Ucap Nika
"Sama gue juga, nggak kayak biasanya." Ucap Triano
Ruhy balapan karena dia ingin melampiaskan kesenangannya, tanpa balapan pun Ruhy sudah sering memberi uang ke Panti walaupun jumlahnya nggak sebanyak uang yang dia kasih waktu menang balapan.
Ruhy menjadi yang terdepan dari semua pembalap tapi..
BRAK..
Ruhy terjatuh karena dia tiba-tiba pingsan.
"RUHY.." Teriak Triano dan Nika yang berlari menghampiri Ruhy yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ayo kita bawa ke Rumah Sakit." Ucap Triano
"Ayo, biar gue yang bawa motornya, lo pakai mobil gue aja." Ucap Nika
"Oke," Ucap Triano yang melangkah pergi dengan menggendong Ruhy.
Diperjalanan.
"Ruhy bangun, gue mohon Ruhy. Gue sedih lihat kondisi lo kayak gini." Ucap Triano dengan meneteskan air mata.
"Gue nggak akan maafin diri gue sendiri kalau lo sampai kenapa-napa." Lanjutnya.
Di Rumah Sakit..
"Gimana keadaan, Ruhy?" Tanya Nika yang baru datang.
"Nggak tau gue. Dokter belum keluar." Ucap Triano dengan lesu.
"Segitu sedihnya lo sama Ruhy?" Batin Nika
"Oya, sorry tadi gue kasih tau Juno soal ini." Ucap Nika
"Iya, nggak apa-spa. Gue sudah siap menanggung risikonya." Ucap Triano.
5 menit kemudian.
"Nika, Ano gimana keadaan Kakak gue?" Tanya Juno yang panik. Juno memang memanggil Triano dengan sebutan Ano.
"Dokter belum keluar, lo tenang iya." Ucap Nika
"Gimana gue bisa tenang?" Bentak Juno
"Maaf, Jun semua ini salah gue. Gue sudah membiarkan Ruhy balapan." Ucap Triano
"Apa? Balapan?.." Ucap Juno yang kaget.
Ceklek..
"Dok, gimana keadaan Kakak saya?" Tanya Juno pada Dokter yang baru keluar ruangan.
"Dia kelelahan dan efek dari suatu peristiwa yang dia alami hingga dia stress, dan akibat dari kesenangannya yang berlebihan membuatnya tidak terkendali hingga pingsan." Ucap Dokter
"Tapi Ruhy nggak apa-apa kan Dok?" Tanya Nika
"Dia hanya butuh istirahat, dia juga sudah sadar. Tapi saya mohon jangan buat dia tambah stress." Ucap Dokter.
"Baik, Dok." Ucap Juno
"Apa kami semua boleh masuk, Dok?" Tanya Triano
"Boleh, tapi jangan buat dia kepikiran akan hal-hal yang membuat dia sedih dan stress. Kalau gitu saya permisi," Ucap Dokter
"Iya, baik Dok. Terimakasih." Ucap Nika dan mendapat anggukan dari Dokter yang melangkah pergi.
"Lo utang penjelasan sama gue." Ucap Juno yang menahan amarah sebelum memasuki ruangan Ruhy dan Triano pun hanya mengangguk lesu.
"Kakak.." Ucap Juno yang langsung memeluk Ruhy
"Kakak nggak apa-apa, kan?" Tanya Juno sambil melepas pelukan.
"Kakak nggak apa-apa kok, kamu tenang aja." Ucap Ruhy
"Ruhy maafin gue iya." Ucap Triano dengan tertunduk.
"Tapi kan, Kak. Dia sudah membiarkan Kakak balapan." Ucap Juno dengan nada tinggi.
"Jadi, kamu tau kalau Kakak balapan?" Tanya Ruhy.
"Iya, aku dikasih tau sama Nika dan Ano. Tapi aku masih ingin mendengar penjelasan dari Ano." Ucap Juno
"Nggak usah, biar Kakak aja yang jelasin. Nanti kamu marah-marah lagi sama Triano." Ucap Ruhy
"Nggak Kak. Kakak nggak boleh banyak pikiran." Ucap Juno
"Kakak yang pengin kamu tau dari Kakak." Ucap Ruhy
"Baiklah."
Ruhy pun menceritakan semuanya dari awal perubahan sikapnya. Ruhy sudah tau bahwa Juno dan Aditya pun sudah tau penyebab perubahan sikapnya. Ruhy menceeitakan semuanya secara detail. Juno, Nika dan Triano hanya terdiam mendengar cerita Ruhy.
"Maaf, Ano. Tadi gue marah sama lo." Ucap Juno dengan menepuk bahu Triano.
"Nggak apa-ala kok, wajar kalau lo marah." Ucap Triano dengan tersenyum.
"Juno, Kakak pengin makan martabak manis isi coklat." Rengek Ruhy mencairkan suasana.
"Iya, sudah Juno beliin sekarang." Ucap Juno
"Tapi inikan sudah larut malem." Ucap Nika
"Demi Kakak gue, gue akan cari martabaknya sampai ketemu." Ucap Juno yang melangkah pergi.
Nika, Triano dan Ruhy yang melihatnya pun hanya tersenyum.
45 menit kemudian.
Ceklek..
"Kak, nih martabaknya." Ucap Juno
"Makasih adikku. Nika, Triano ayo kita makan sama-sama." Ucap Ruhy dengan tersenyum.
"Ayo." Ucap mereka.
Mereka semua makan bersama sambil bersenda gurau.
Setelah selesai, Nika pun pulang diantar Triano dan Juno duduk disofa diruang rawat Ruhy. 30 menit berlalu Triano kembali ke rumah sakit membawa pakaian Ruhy dan Juno dari rumah Ruhy yang sudah disiapkan Bi Nina.
Jam 01.00 dini hari, mereka baru tertidur di sofa.
**********
Keesokan harinya, Aditya datang dengan kepanikannya. Dia membuka pintu dan melihat Triano dan Juno yang masih tertidur. Dia sangat heran siapa laki-laki yang tertidur di sofa itu. Sedangkan Ruhy masih tidur diatas ranjang Rumah Sakit. Aditya pun menghampiri Ruhy.
"Ruhy, kamu kenapa sampai kayak gini." Ucap Aditya yang meneteskan air mata dengan memegang tangan Ruhy.
Sebenarnya Aditya sudah tau ceritanya dari Juno tadi malam.
"Ruhy jangan buat Kakak sedih." Lanjutnya dengan mencium tangan Ruhy.
"Eh, Kak." Ucap Ruhy yang merasa ada orang yang mencium tangannya dan terbangun seketika, dia pun duduk dengan dibantu Aditya.
"Ruhy, kamu jangan kayak gini lagi iya. Jangan buat Kakak sedih." Ucap Aditya yang menatap Ruhy dengan berkaca-kaca.
"Maaf, Kak." Ucap Ruhy yang seketika mendapat pelukan hangat dari Aditya.
"Aku selalu nyaman jika didekat Kakak." Batin Ruhy.
5 menit sudah mereka berpelukan, setelah itu Aditya pun menyuapi sarapan untuk Ruhy dan membantu Ruhy ke kamar mandi untuk cuci muka, karna Ruhy masih di infus.
30 menit mereka berbincang-bincang, tiba-tiba Juno dan Triano terbangun mendengar Ruhy tertawa.
"Eh, Dit. Udah lama?" Tanya Juno yang menghampiri Aditya yang sedang duduk bersama Ruhy diatas ranjang Rumah Sakit.
"Dia siapa, kok dia akrab banget sama Ruhy sampai segitunya." Batin Triano.
"Udah dari pagi, gue disini." Ucap Aditya dengan sedikit melirik kearah Triano.
"Oya, Ruhy lupa. Kak kenalin ini Triano sahabat Ruhy, dan Triano ini Kak Aditya." Ucap Ruhy.
"Oh, syukur deh kalau cuma sahabat." Batin Aditya.
"Aditya." Ucap Aditya yang mengulurkan tangannya pada Triano
"Triano." Ucap Triano yang membalas tangan Aditya.