Different Love Story

Different Love Story
Syok



Seminggu sudah Ruhy dirawat di Rumah Sakit, dan dia sudah diperbolehkan pulang.


Juno dan Aditya senantiasa menenmani Ruhy, walaupun Aditya menjaga Ruhy jika dia sudah selesai kuliah. Aditya selalu pulang ke Ruhy untuk tinggal di rumah Ruhy.


Sedangkan orang tua Ruhy, jangan ditanya. Mereka berdua tidak pernah merawat Ruhy kalau dia sakit, jangankan merawat, menjenguk Ruhy di Rumah Sakit pun tidak. Karena mereka sedang mengembangkan bisnis mereka di luar negeri. Jadi, orang tua Ruhy tinggal di Ausy untuk mengembangkan bisnisnya.


Dirumahnya, Ruhy ditemani oleh Bi Nina dan Pak Gito kalau Juno pergi ke sekolah dan Aditya pergi kuliah. Ruhy sudah menganggap mereka seperti orang tua kedua baginya.


Seperti siang ini, Ruhy duduk di ruang keluarga sendirian karena Juno masih disekolah dan Bi Nina sedang beres-beres didapur.


"Huh, bosan juga nonton tv sendirian nggak ada temen ngobrol." Gerutu Ruhy.


"Hm, sebaiknya gue keluar aja deh cari udara segar." Lanjutnya.


"Bi, Ruhy mau pergi keluar sebentar." Teriak Ruhy


"Mau kemana, Non?" Tanya Bi Nina yang tiba-tiba berlari mendatangi Ruhy


"Mau cari udara segar."


"Mau Bibi temani?" Tanya Bi Nina


"Nggak usah, Bi. Ruhy bisa sendiri."


"Iya, Non. Hati-hati, cepat pulang iya, Non."


"Iya, Bi."


Ruhy menyusuri jalan komplek perumahannya. Ruhy pun melihat penjual Siomay disana. Saat Ruhy akan menyebrang jalan untuk membeli siomay, tiba-tiba..


Tiiinnnn..... Suara bel mobil yang terdengar nyaring.


"Aaaaa.." Ucap Ruhy yang kaget ada sebuah mobil yang berhenti tepat disampingnya. Alangkah bersyukurnya mobil itu tidak menabrak Ruhy. Ruhy pun berjongkok memegangi kedua telinganya dengan ketakutan.


"Eh lo nggak apa-apa?" Tanya seseorang pria yang keluar dari mobil yang telah hampir menabrak Ruhy.


"Gue nggak apa-apa." Ucap Ruhy yang terbata-bata dan melangkah pergi meninggalkan pria itu.


"Eh tunggu." Teriak pria itu tapi tidak direspon oleh Ruhy yang terus berjalan.


"Ruhy, iya Ruhy. Itu kayaknya benar Ruhy. Jadi dia tinggal disekitaran sini. Kalau gitu gue lebih mudah mantau dia." Batin Bagas


Bagas adalah orang yang tadi hampir menabrak Ruhy. Bagas juga pernah bertemu dengan Ruhy saat Ruhy liburan sendiri di Bali. Bagas pun mencari tau informasi tentang Ruhy, karna dia sangat penasaran dengan sikap Ruhy padanya. Padahal banyak wanita mengejar-ngejar Bagas tapi Ruhy malah acuh tak acuh padanya.


**********


Disisi lain Ruhy pulang kerumahnya dengan sedikit gemetar.


Dia langsung berlari menuju kamarnya agar Bi Nina tidak curiga dengan tingkahnya.


Ruhy terus gemetar, entah apa yang membuatnya seperti ini. Dia memutuskan untuk berendam di kamar mandi.


30 menit sudah di kamar mandi, tiba-tiba ada ketukan pintu kamar mandi yang membuatnya tersadar.


Tok..Tok..Tok..


"Ruhy, kamu didalam?" Tanya Aditya


"Iya, sebentar. Ruhy ganti baju dulu." Ucap Ruhy


10 menit kemudian Ruhy keluar dari kamar mandi.


"Eh, Kak. Ngapain Kakak disini?" Tanya Ruhy yang sebisa mungkin bersikap tenang.


"Kamu kenapa kok kayak ketakutan gitu." Ucap Aditya yang heran melihat tingkah laku Ruhy.


Seketika Ruhy memeluk Aditya dengan air mata yang telah menetes, yang sedari tadi Aditya duduk di sofa kamar Ruhy.


"Eh kok malah nangis sih. Ada apa? Hm?" Tanya Aditya dengan mengelus rambut Ruhy.


"Kak, tadi Ruhy kan cari udara segar didepan komplek, saat Ruhy mau nyeberang beli siomay, tiba-tiba ada mobil yang mau nabrak Ruhy." Ucap Ruhy yang melepas pelukannya dan menatap Aditya.


"Apa? Tapi kamu nggak apa-apa kan?" Ucap Aditya dengan sangat khawatir pada Ruhy.


"Kakak tenang aja, Ruhy nggak apa-apa kok. Ruhy cuma syok aja." Ucap Ruhy yang kembali memeluk Aditya.


"Syukur deh kalau kamu nggak apa-apa. Lain kali kalau mau jalan-jalan, tunggu Kakak atau Juno pulang dulu biar ada temannya."


"Iya, Kak. Ruhy hanya bosan aja dirumah terus." Ucap Ruhy dengan melepas pelukannya dan cemberut.


"Tuh, bibir mau dicium apa kok manyun gitu." Goda Aditya


"Ih Kakak apaan sih." Ucap Ruhy dengan tersipu malu.


"Bercanda Ruhyku sayang."


"Ayo berangkat."


"Yey. Ayo." Ucap Ruhy dengan girang.


"Kakak senang kalau kamu juga senang, Hy." Batin Aditya.


30 menit perjalanan mereka pun sampai di Mall.


Ruhy pun langsung menarik tangan Aditya menuju tempat novel-novel di Mall itu.


"Pelan-pelan Sayang jangan lari-lari." Ucap Aditya


"Ruhy pengin cepat dapat novel terbarunya." Ucap Ruhy yabg dibuat seperti anak kecil.


"Iya, tapi pelan-pelan aja."


"Iya iya, Kak." Ucap Ruhy yang pasrah menuruti perkataan Aditya.


Sesampainya di tempat itu, Ruhy langsung mencari novel terbaru yang dia incar. Setelah 30 menit mencari, dia menemukan 5 buku novelnya.


"Sudah dapat semua, novelnya?" Tanya Aditya


"Sudah, Kak."


"Iya sudah, ayo ke kasir."


"Tapi Ruhy sendiri yang mau bayar."


"Nggak boleh, masa iya kamu bayar sendiri."


"Nggak ada penolakan, Kak. Ruhy pengin bayar sendiri, okay." Ancam Ruhy


"Iya, deh. Tapi dengan satu syarat."


"Apa, Kak?"


"Nanti setelah ini kita beli baju buat kamu sama makan malam berdua, tapi Kakak yang bayar."


"Hm, okelah." Ucap Ruhy dengan lesu.


"Hahaha gemas banget lihatnya." Batin Aditya.


Setelah membayar novel-novelnya, Ruhy diajak Aditya untuk memilih baju.


"Kak, baju Ruhy masih banyak dirumah yang belum Ruhy pakai." Gerutu Ruhy


"Nggak boleh ada penolakan."


"Iya, deh. Tapi satu aja bajunya."


"Minimal 5 baju."


"Apa? itu terlalu banyak, Kak." Gerutu Ruhy sedangkan Aditya malah serius memilih baju untuk Ruhy.


"Sudah pokoknya nggak boleh ada penolakan."


"Iya sudah, terserah Kakak." Ucap Ruhy dengan pasrah.


Ruhy pun melihat-lihat baju yang ada disana. Dia terpesona melihat sweater couple warna abu-abu dengan gambar yang lucu.


"Eh, Kak itu bagus banget sweaternya." Ucap Ruhy dengan menunjuk sweater couple yang dipasang dipatung.


"Kamu mau?" Tanya Aditya


"Iya, bagus banget kalau aku sama Kakak yang pakai."


"Mbak, bungkus sweater itu." Ucap Aditya kepada pelayan yang sedang membawa beberapa potong baju Ruhy yang dipilih oleh Aditya tadi.


"Baik." Ucap pelayan itu.


"Kak, sudah yuk. Aku juga sudah lapar nih."


"Iya, sudah ayo kita makan malam di Restoran dekat sini." Ucap Aditya.


"Oke, ayo."


"Sebentar Kakak bayar dulu baju-bajunya."


"Oke, Kak."


Setelah selesai membayarnya. Aditya dan Ruhy pun makan malam di APC Resto. Mereka memesan ruangan VIP di Restoran itu. Disana Ruhy sangat ceria bersenda gurau dengan Aditya. Ruhy dan Aditya juga bertukar cerita soal sekolah maupun kuliah Aditya.


Mereka berdua tidak menyimpan satu rahasia pun. Mereka berdua selalu terbuka dengan apa yang mereka alami.