Different Love Story

Different Love Story
Extra Part End



Keesokan paginya, Ruhy membuka matanya dengan perlahan. Dia baru sadar kalau sekarang dia tidak di kamar rumahnya, dengan kaget dia bangun dari sebuah sofa yang dia tiduri.


"Gue dimana ini?" Tanya Ruhy kepada diri sendiri.


Setelah itu, ada seseorang yang membuka pintu.


Ceklek..


"Lo sudah bangun?" Tanya orang itu yang tidak lain adalah Tito.


"LO KENAPA BAWA GUE KESINI?" Bentak Ruhy.


"Ssttt, diam jangan teriak-teriak. Ini di Rumah Sakit." Ucap Tito.


Memang benar, Tito dengan Rio menyusun rencana untuk menculik Ruhy karena permintaan Ian.


#Flashback On


Di Rumah Sakit, ruang rawat Ian.


"Tito, Rio, gue mohon bawa Ruhy kesini. Gue sudah terlalu banyak dosa ke dia. Gue merasa bersalah sama dia dan gue mau minta maaf dari dia secara langsung. Mungkin itu akan menjadi permintaan terakhir gue." Ucap Ian yang terbaring lemas diatas ranjang Rumah Sakit dengan infus ditangannya dan selang yang membantu dia bernapas.


"Gue sudah pernah ajak dia kesini, tapi dia malah membentak gue." Ucap Tito.


"Gue juga pernah mencoba membujuk suaminya Ruhy dan Ruhy di Kantor mereka. Tapi, gue malah diusir sama Ruhy." Ucap Rio.


"Gue mohon sama kalian, gue nggak tau gue bakal bertahan sampai kapan. Sebelum gue mati, gue hanya pengin ketemu sama Ruhy dan meminta maaf sama dia. Gue mohon." Ucap Ian.


Karena tidak tega, akhirnya Rio dan Tito mengabulkan permintaan Ian.


Rio dan Tito keluar dari ruang rawat Ian.


"Oke, sekarang kita harus apa?" Tanya Tito.


"Mau nggak mau, kita harus culik dia. Karena kita sudah berusaha mengajak dia secara baik-baik, tapi selalu ditolak oleh Ruhy." Ucap Rio.


"Lo nggak pikir? Pasti dirumah mereka banyak penjagaannya. Secara mereka itu orang terkaya disini." Ucap Tito.


"Lo nggak usah khawatir, semua itu urusan gue. Kita hanya perlu beraksi aja buat menculik Ruhy nanti malam." Ucap Rio.


"Oke, gue serahkan semuanya sama lo." Ucap Tito.


#Flashback Off


"Oke, dengan berat hati gue mau ketemu sama dia. Sekarang, dia ada dimana?" Tanya Ruhy.


Tito berjalan membuka sebuah tirai yang ada di ruangan itu. Terlihat Ian yang terbaring lemas dengan infus yang terpasang ditangannya dan selang yang membantu pernapasannya serta ada alat-alat yang lainnya.


"Ruhy.." Rintih Ian. Sedangkan Ruhy masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Perlahan Ruhy mendekati Ian yang terbaring lemas.


"Ruhy, gue mohon maafin kesalahan gue di masa lalu. Gue merasa bersalah banget karena menyia-nyiakan rasa cinta lo yang tulus ke gue." Ucap Ian dengan lemas.


"Sudah gue maafin, lo nggak perlu menyesali semuanya." Ucap Ruhy yang kembali bersikap dingin dan ketus.


"Ruhy, gue boleh minta satu permintaan sama lo? Sebelum gue mati." Ucap Ian.


"Lo jangan pasrah dengan kematian, lo harus berjuang melawannya. Karena takdir tidak ada yang tau, walaupun Dokter telah memprediksi kematian lo, lo harus percaya bahwa semuanya sudah ada yang mengatur dan percayalah dengan keajaiban." Ucap Ruhy dengan sikap datarnya, namun bisa membuat Ian tersenyum mendengarnya.


"Gue nggak tau, kapan Tuhan akan memanggil gue. Tapi, gue mohon penuhi satu permintaan gue." Ucap Ian.


"Apa?"


"Gue pengin merasakan pelukan lo, Hy."


"Maaf, mungkin gue nggak bisa melakukan itu. Karena sekarang gue sudah punya suami yang sangat mencintai gue dan sebaliknya." Ucap Ruhy.


Ceklek..


Tiba-tiba, seseorang memasuki ruangan rawat Ian yang tidak lain adalah Aditya.


"Sayang, kamu nggak apa-apa?" Tanya Aditya dengan melepas pelukan Ruhy dan mendapat anggukan darinya.


"Lo kalau mau bawa Ruhy kesini, nggak gitu caranya." Ucap Aditya kepada Tito yang terdiam.


"Itu semua bukan salah Tito, gue yang minta dia buat melakukan semua itu." Ucap Ian.


"Lo kenapa?" Tanya Aditya yang melihat kondisi Ian. Seketika, amarah Aditya yang dia bendung seakan sirna setelah melihat Ian.


"Lo nggak perlu tau gue kenapa. Maaf, gue hanya pengin ketemu dan minta maaf sama istri lo." Ucap Ian.


"Oh, sudah kan? Kalau gitu kita pergi dulu." Ucap Aditya yang kembali dengan sikap datarnya dan melangkah pergi dengan memeluk bahu Ruhy.


"Tunggu." Ucap Ian yang mampu menghentikan langkah Aditya dan Ruhy.


Aditya dan Ruhy membalikkan badannya.


"Apa?" Tanya Aditya.


"Gue mohon, izinkan gue peluk istri lo untuk yang terakhir kalinya." Ucap Ian.


"Maaf gue nggak bisa penuhi permintaan lo. Dia ini milik gue." Ucap Aditya.


"Gue mohon, gue..." Ucap Ian yang belum selesai karena tiba-tiba dia seperti kehabisan napas.


"Ian.." Ucap Tito.


"DOKTER, DOKTER, DOKTER.." Teriak Tito


Datanglah seorang Dokter yang biasa menangani Ian.


Dokter menutup tirai untuk membatasi pandangan mereka dari Ian. Dokter berusaha semaksimal mungkin untuk menangani Ian.


Setelah beberapa saat, Tirai terbuka.


"Gimana keadaannya, Dok?" Tanya Tito


"Kami sudah berusaha dengan maksimal, namun Tihan berkehendak lain. Saudara Ian telah meninggal dunia." Ucap Dokter Nio.


Ruhy yang mendengarnya, tiba-tiba air mata jatuh di pipinya. Dengan sigap, Aditya memeluk Ruhy untuk memberikan ketenangan.


Sedangkan Tito, menghampiri jasad Ian yang terbujur kaku diatas ranjang dengan air mata yang menetes.


"Kenapa lo ninggalin gue, Ian. Lo itu sahabat satu-satunya gue sekarang. Tapi, lo malah ninggalin gue." Ucap Tito dengan menyembunyikan wajahnya disamping wajah Ian yang sudah mulai memucat.


"Sayang, aku ikhlas kalau kamu memenuhi permintaan Ian untuk memeluk kamu." Ucap Aditya dan langsung mendapat tatapan dari Ruhy.


"Aku nggak mau, aku nggak mau menyakiti perasanmu." Ucap Ruhy yang kembali memeluk Aditya.


"Kalau itu uang kamu inginkan, aku nggak akan memaksa." Ucap Aditya yang semakin mempererat pelukannya pada Ruhy.


**********


Setelah menghadiri pemakamannya Ian, Ruhy dan Aditya memutuskan untuk pulang dan beristirahat.


Ruhy memang sudah tidak ada rasa dengan Ian, tapi rasa sedihnya tidak bisa dia bendung. Karena Ian pernah menjadi penghuni dihatinya.


Aditya yang peka dengan perasaan Ruhy, selalu memberi Ruhy pelukan hangatnya dan dukungan untuk Ruhy.


"Sayang, aku mau ketemu sama Tyara." Ucap Ruhy yang berasa dipelukan Aditya diatas ranjang kamar mereka.


"Besok aja iya. Biar Tyara dirumah Mama dulu." Ucap Aditya dengan mengelus rambut Ruhy untuk memberi ketenangan.


"Baiklah." Ucap Ruhy dengan menyembunyikan wajahnya dipelukan Aditya.


"Aku tau dengan apa yang kamu rasakan, Sayang. Aku akan selalu membuatmu tenang dan bahagia jika bersamaku. Walaupun rasa cintamu telah hilang ke Ian, tapi memang dia pernah menjadi penghuni hatimu sebelum aku. Jadi, apapun yang kamu rasakan sekarang, aku akan ikhlas dan menjadi penyemangat serta memberikanmu pelukanku untukmu." Batin Aditya.