Different Love Story

Different Love Story
Hari yang Dinanti



"Ya ampun, Juno." Ucap Ruhy yang melihat darah keluar dari sudut bibir Juno.


"Kamu kenapa? kok bisa kayak gini?" Tanya Ruhy


"Juno nggak apa-apa kok, Kak. Juno hanya menjalankan kewajiban Juno."


"Kewajiban? kewajiban apa, kok sampai kayak gini?"


"Cepat atau lambat, Kakak juga akan tau."


"Iya sudah, nggak usah dibahas. Ayo kita pulang nanti Kakak obati lukamu. Biar Kakak aja yang nyetir."


"Baik Kak."


"Juno kenapa sih, kok kayak ada yang disembuyiin. Aku harus cari informasi." Batin Ruhy.


Sesampainya dirumah, Ruhy membawa Juno kekamarnya dan Ruhy pun mengobati luka Juno dengan telaten tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sesudah itu, Ruhy menyuapi Juno dengan hati-hati. Setelah beres, Ruhy meninggalkan Juno dikamarnya, karena Ruhy harus menyelesaikan tugas sekolahnya dan tugas sekolah Juno yang belum selesai. Karena Ruhy nggak tega kalau Juno harus menyelesaikan tugasnya dalam keadaannya yang seperti itu.


Setelah selesai mengerjakan tugas, Ruhy membuka ponselnya yang dimode hening olehnya, sejak dari tadi bersama Nika. Alangkah terkejutnya Ruhy mendapat....


20 Calling..


50 Chat..


Dari Ian.


25 Calling..


100 Chat..


Dari Aditya.


Ruhy hanya membaca isi chat dari mereka berdua tanpa membalas. Ian yang mengirim gombalan-gombalan recehnya sedangkan Aditya yang khawatir dengan Ruhy, karena tidak membaca chat maupun mengangkat telponnya.


**********


Beberapa minggu pun berlalu dengan cepat. Ruhy yang selalu melakukan tugasnya dengan baik, dan sudah membuka Restonya bersama Nika dan Triano. Sedangkan hubungan Ruhy dengan Ian terbilang cukup dekat seperti sepasang kekasih, namun Ruhy masih menganggapnya sebagai teman.


Hubungan Ruhy dengan Aditya pun juga sama, terbilang sangat dekat karena kedua belah keluarga mereka yang saling dekat dalam hubungan kerja maupun sebagai sahabat.


Sedangkan dengan Juno, Ruhy sudah tau tentang Juno yang mendapat luka dibibirnya. Karena dia berkelahi dengan salah seorang siswa disekolahnya, dengan alasan ada orang yang telah membayarnya untuk menghabisi Juno. Namun, sampai sekarang belum diketahui siapa dalangnya.


Keakraban dengan siswa yang lain dikelas juga terbilang sangat dekat. Mereka biasa bercanda, tawa bahkan tidak menyimpan rahasia mereka.


"Ruhy.." Panggil Bella


"Ada apa?"


"3 hari lagi kan UTS nih gimana kalau kita pergi bareng gitu ke Cafe."


"Bukannya harus belajar lebih giat iya, kok malah mau bersenang-senang sih."


"Sekali aja Ruhy, sudah lama kita nggak ke Cafe." Ucap Tania


"Oke deh. Nanti pulang sekolah kita ke Cafe."


"Gye ikut ke Cafe dong, semua." Ucap Ahmad


"Nggak boleh, hanya kita berempat yang pergi. Lo nggak boleh ikut." Ucap Ruhy dengan tegas


"Yah, lo tega banget sama gue sih." Ucap Ahmad dengan cemberut.


"Tuh, bibir kalau cemberut gue potong loh." Sahut Nadin.


"Dasar cewek nggak ada akhlak." Ucap Ahmad


"Biarin, suka-suka gue." Ucap Nadin yang mendapat gelak tawa dari semua teman-temannya.


Sepulang sekolah mereka pergi ke Cafe berempat dengan supirnya Ruhy, sedangkan Juno sudah pulang bersama temannya.


"Lo mau pesen apa?" Tanya Bella


"Gue Es Cream Cokelat aja deh." Ucap Ruhy


"Gue mau Boba Milk Tea." Ucap Tania


"Gue samain aja sama Tania." Ucap Nadin


"Okay, kalau cemilannya samain aja iya. Biar cepet, kalau gitu gue pesen dulu." Ucap Bella dan beranjak dari tempat duduknya setelah mendapat anggukan dari teman-temannya.


Setelah beberapa lama menunggu, pesanan mereka pun sampai. Mereka menyantap cemilan mereka dengan curhatan-curhatan dan candaan yang keluar dari mulut mereka. Tiba-tiba ponsel Ruhy berbunyi..


Ruhy \= "Hallo, ada apa?"


Ian \= "Lo dimana? kok nggak ada dirumah sih?"


Ruhy \= "Gue di Cafe bareng temen-temen. Emangnya ada apa?"


Ian \= "*Kangen tau."


Deg*..


Ruhy \= "Baru nggak ketemu sebentar aja sudah kangen." Ucap Ruhy dengan berbisik, karena dia nggak mau teman-temannya tau.


Ian \= "Kok suara lo kayak bisik-bisik gitu, kenapa?"


Ruhy \= "Nggak apa-apa kok, kalau nggak ada yang penting gue tutup telfonnya iya.


Ian \= "Ini tuh penting Ruhy Sayangku."


Seketika Ruhy mematikan telfonnya.


"Bukan siapa-siapa. Nggak penting juga, ayo lanjut cerita lagi dong." Jawab Ruhy


"Iya ayo." Ucap Bella dengan kegirangan.


Mereka pun bercerita panjang lebar, tak terasa hari sudah akan malam. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


**********


3 hari pun berlalu UTS pertama pun dimulai. Sebelum memasuki ruangan, Ruhy membuka ponselnya dan mendapatkan..


Ian


"Semangat iya UTS nya, Ruhy Sayangku."


Dan Aditya


"Ruhy, semangat UTSnya. Kakak akan selalu dukung kamu."


Ruhy hanya membaca chat dari mereka dan memasukkan ponsel nya kedalam tas. Ruhy tak sadar jika senyum telah mengembang di wajahnya.


"Ruhy, lo kenapa? kok senyum-senyum gitu?" Tanya Tania yang heran.


"Eh gue nggak pa-pa kok."


"Ayo kita taruhan, siapa yang cepat selesai ngerjain UTSnya dia yang menang, dan yang kalah harus traktir yang menang. Gimana?"


"Lo jangan menyesal iya, Tan. Kalau sudah kasih tantangan kayak gitu ke gue. Okay, gue terima."


Mereka pun memasuki ruangan UTS. UTS pun dimulai dengan tenang.


10 menit kemudian..


"Pak, ini.." Ucap Ruhy sambil memberikan lembar jawabnya pada Pak Feri yang mengawasi UTS diruangan itu.


"Apa ini?" Tanya Pak Feri


"Ini lembar jawaban saya, Pak."


"Sudah selesai? Kan baru 10 menit."


"Sudah, Pak."


"Sudah di check?"


"Sudah, Pak."


"Sudah yakin sama jawabannya?"


"Sudah, Pak."


"Bener?"


"Iya, Pak."


"Pak Feri nanya mulu, nggak ada henti-hentinya kayak gue ini tersangka dah." Batin Ruhy.


"Kalau nggak percaya, Bapak bisa periksa. Tapi saya keluar dulu." Ucap Ruhy yang meninggalkan ruangan dan mendapat tatapan yang tidak dapat diartikan dari Pak Feri dan teman-teman sekelasnya.


Ruhy pun memutuskan untuk pergi ke kantin, kantin yang terbilang sangat sepi karena mereka semua masih UTS.


10 menit menunggu, Tania pun menghampiri Ruhy.


"Cepatt banget lo ngerjainnya."


"Iya dong, Ruhy gitu loh."


"Sombong amat, Amat aja nggak sombong." Ucap Tania dengan tertawa.


"Oke gue kalah, lo mau pesan apa?" Tanya Tania


"Gue mau pesan mie ayam bakso, es jeruk, sama es cream cokelat."


"Banyak banget."


"Itu sih sedikit, Taniaku sayang."


"Iya, sudah gye pesan makanannya."


Setelah beberapa lama menunggu.


"Ini, pesanannya."


"Makasih, Tania." Ucap Ruhy dengan tersenyum


"Iya,."


Mereka pun melahap makanan mereka diselingi canda tawa mereka berdua. Mereka masih punya banyak waktu untuk bercerita, karena waktu selesai UTS pertama yang masih 1 jam.


"Ruhy, lo masih dekat sama Ian?" Tanya Tania dengan penasaran.


"Iya, tapi sebagai teman kok."


"Tapi kok dia cuek gitu sih kalau dikelas, bahkan sama lo."


"Iya dikelas cuek, coba aja kalau lewat chat ataupun telfon, dia itu kayak anak kecil." Ucap Ruhy yang tertawa.


Tiba-tiba..


"Ruhy.."