Different Love Story

Different Love Story
Aditya dan Ruhy 2



Setelah pergi dari Mall. Mereka memutuskan untuk makan siang disebuah restoran.


"Permisi, ini menu yang ada direstoran ini." Ucap Pelayan sambil menyodorkan menu makanan.


"Ruhy mau makan apa?" Tanya Aditya


"Nasi goreng sama sate kulit Ayam, minumnya Chocolate Milkshake dan dessertnya puding sama Es Cream Cokelat."


"Suka banget kayaknya sama Cokelat."


"Iya, Kak. Ruhy suka banget sama cokelat."


"Masnya pesan apa?" Tanya pelayan


"Saya Nasi goreng aja, minumnya Cappucino dan dessertnya samain aja deh."


"Oke baiklah. Tunggu pesanannya iya." Ucap Pelayan dan pergi menjauh


Beberapa lama pesanan datang. Mereka melahap makan siang mereka hingga tak tersisa. Setelah dari restoran, mereka memutuskan untuk pergi ke taman.


"Kamu mau Es Cream?" Tanya Aditya


"Boleh Kak?" Tanya Ruhy yang kegirangan seperti anak kecil


"Cute banget sih, pengin aku bawa pulang deh ini anak" Batin Aditya.


"Boleh dong."


"Kalau gitu, Ruhy mau Es Cream Cokelat Vanilla."


"Oke, tunggu disini. Kakak beli dulu." Ucap Aditya yang melangkah pergi setelah mendapat anggukan dari Ruhy.


Setelah beberapa lama menunggu.


"Nih Es Creamnya." Ucap Aditya dengan menyodorkan Es Cream pada Ruhy.


"Wah, Makasih Kak."


"Iya, cepat dimakan nanti meleleh."


"Iya iya, Kak."


Ruhy pun melahap Es Cream nya dengan tenang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Setelah ini kita mau kemana, Kak?" Tanya Ruhy


"Ada deh, ke suatu tempat."


"Ih Kakak, main rahasia-rahasiaan sama Ruhy." Ucap Ruhy dengan cemberut seperti anak kecil.


"Duh ini anak, gemas banget. Kalau nggak anak orang pasti sudah aku gendong bawa pulang." Batin Aditya.


"Iya sudah, ayo kita pergi. Sudah mau jam 4 nih."


"Iya, ayo Kak." Sahut Ruhy yang masih kesal dengan Aditya.


Aditya pun melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang. Setelah 45 menit, sampailah mereka disuatu tempat.


"Wah, indah banget..." Ucap Ruhy yang seketika tersenyum lebar


"Kamu suka?" Tanya Aditya


"Suka banget, Kak. Disini sejuk banget, suara airnya sangat indah hingga membuat telingaku terpana mendengarnya, bisa refreshing ini."


"Kok, Kakak tau disekitar sini ada Pantai?" Lanjut Ruhy


"Emang kamu nggak tau?"


"Enggak Kak, soalnya Ruhy jarang banget buat jalan-jalan kecuali ke Mall."


"Makanya sekali-kali keliling kota."


"Iya, Kak."


"Ayo ikut Kakak." Ucap Aditya sembari memegang tangan Ruhy dan melangkahkan kaki.


"Kemana, Kak?" Tanya Ruhy namun tidak direspon oleh Aditya.


Setelah beberapa lama, mereka pun sampai diatas batu besar yang ada di Pantai tersebut.


"Lihat, sunset menunggu kita." Ucap Aditya dengan menunjuk matahari yang akan tenggelam, sedangkan Ruhy masih melihatnya dengan kagum. Tidak pernah Ruhy melihat sunset seindah itu selama ini.


"Ruhy.."


"Eh, Iya Kak. Maaf Ruhy nggak fokus. Soalnya ini indah banget."


"Ruhy, Kakak ingin selalu bersama Ruhy. Dalam suka maupun duka, Kakak ingin selalu bersama Ruhy." Ucap Aditya


"Kakak, nggak memaksa Ruhy buat cinta sama Kakak. Tapi, Ruhy perlu tau bahwa Kakak sangat sayang dan cinta sama Ruhy." Lanjut Aditya sembari menatap manik indah mata Ruhy.


Deg..


"Apa yang dikatakan Kak Aditya?" Batin Ruhy


"Maaf, Kak.." Ucap Ruhy dengan menarik kedua tangannya yang dipegang Aditya.


"Kakak, akan membuat kamu cinta sama Kakak. Beri Kakak waktu untuk membuktikan semua itu. Tapi, setelah ini anggaplah Kakak seperti Kak Aditya yang kamu kenal seperti tadi." Ucap Aditya yang mendapat anggukan dari Ruhy.


"Terimakasih, Ruhy." Ucap Aditya dengan menarik Ruhy dalam pelukannya.


Setelah puas melihat keindahan senja, mereka pun pulang.


**********


Pagi yang cerah membangunkan seorang gadis yang sedang tertidur pulas. Dia pun bangun dan melakukan ritual paginya seperti biasa. Setelah selesai, dia pun melangkahkan kaki menuju meja makan.


"Papa sama Mama sudah berangkat?" Tanya Ruhy.


"Sudah Kak, tadi Juno kesini aja Mama sama Papa sudah nggak ada." Jawab Juno


"Iya sudah yuk berangkat, sarapan dimobil aja. Hari ini kan upacara, nanti telat dihukum Pak Ketos lagi."


"Biar sekali-kali, Kak. Kita kan nggak pernah dihukum." Ucap Juno sambil tersenyum


"Kamu iya, kalau mau telat dan dihukum nggak usah ajak Kakak. Kamu telat sendiri sana."


"Iya ampun, Kak. Gitu aja ngambek. Iya sudah ayo berangkat."


"Nah gitu dong. Pagi-pagi sudah bikin orang emosi aja."


Mereka pun berangkat ke sekolah diantar Supir.


Sesampainya disekolah, ternyata upacara akan dimulai 5 menit lagi dan seluruh siswa telah bersiap dilapangan. Dengan langkah berlari, Ruhy pun menuju ke kelasnya untuk meletakkan tas nya, sedangkan Juno hanya mengikuti Ruhy dadi belakang.


Brak..


"Aduh, sakit banget.." Ucap Ruhy yang tersungkur dengan memegangi keningnya karena dia tidak sengaja menabrak punggung seseorang didepannya.


"Kakak, nggak apa-apa?" Tanya Juno yang membantu Kakaknya berdiri. Sedangkan orang yang Ruhy tabrak hanya pergi tanpa menoleh dan bertanya.


"Nggak, Kakak nggak apa-apa kok."


"Orang itu main kabur aja, belum pernah diterkam sama Singa apa?. Awas aja kalau ketemu. Eh, tapi kan gue nggak tau dia siapa. Masa bodo lah." Batin Ruhy.


"Ayo Jun, cepat. Upacaranya mau dimulai." Ucap Ruhy yang masih dibantu berjalan oleh Juno.


"Kita ke UKS aja deh, Kak. Kaki Kakak kayaknya keseleo deh."


"Nggak deh, Kakak mau ikut upacara aja."


Tiba-tiba seseorang dengan sigap menggendong Ruhy, Juno yang kaget hanya terdiam dan menatap kepergian seseorang yang membawa Kakaknya.


"Loh kok, gue disini. Tadi kenapa dia bawa Kakak gue?" Ucap Juno seperti orang hilang ingatan.


Disisi lain, Ruhy yang kaget pun hanya terdiam digendong seseorang yang dikenalnya. Sampai di UKS, dia langsung melepas sepatu Ruhy untuk mengobati kaki Ruhy. Sedangkan Ruhy masih diam seribu kata.


"Tahan iya, ini akan sedikit sakit." Ucap orang itu dan mendapat anggukan dari Ruhy.


"Awww.. sakit Kak." Suara Ruhy seketika menggema di UKS.


"Sudah sembuh kok. Gimana sudah mendingan kan?"


"Eh iya, sudah Kak. Makasih iya Kak Aditya."


"Sama-sama. Kamu istirahat aja, biar Kakak yang temenin kamu."


"Eh, Kakak nggak ikut Upacara?"


"Ketua sama Wakil Ketua Osis tugasnya itu nyari anak-anak yang bolos upacara kalau hari Senin. Jadi, kita nggak pernah ikut upacara."


"Iya sudah Kakak nyari siswa yang bolos aja. Ruhy disini sendiri nggak apa-apa kok Kak."


"Kamu lebih penting, Ruhy." Ucap Aditya dengan memegang tangan Ruhy


"Kakak nggak akan tega, kalau Kakak ninggalin kamu sendirian." Lanjut Aditya dan mengelus puncak rambut Ruhy.


Sedangkan Ruhy hanya tersenyum dengan tertunduk karena malu. Padahal dihati Ruhy, itu keinginannya bersama Ian. Tapi entah kenapa, Ruhy nyaman berada didekat Aditya yang sangat perhatian padanya.