
Hari demi hari dilewati Ruhy dengan bahagia. Karena Fitri tidak lagi mengganggunya dan Aditya.
Hari ini Aditya sengaja tidak menjemput Ruhy ke kampus, karena dia akan memberi kejutan di hari ini.
Sekarang Juno dan Ruhy tengah duduk menikmati sarapan mereka.
"Jun, Kakak bareng sama kamu iya." Ucap Ruhy dengan sedikit memelas.
"Lah si Adit kemana? Biasanya juga nggak bolehin Juno berangkat ke kampus sama Kakak. Pasti dia yang jemput Kakak." Ucap Juno dengan memakan roti selai sebagai sarapannya.
"Nggak tau tuh, Kak Aditya katanya nggak bisa jemput Kakak."
"Nggak usah cemberut gitu, pagi-pagi sudah cemberut aja."
"Jadi boleh nggak kalau Kakak ikut sama kamu?"
"Boleh bangetlah, Kak. Juno malah seneng bisa berangkat sama Kakak."
"Terus Tania?"
"Jam kampus kita beda, jadi nanti aku suruh supir kita buat jemput dia." Ucap Juno setelah meminum segelas susu.
"Owh gitu, iya sudah ayo berangkat." Ucap Ruhy yang beranjak dari tempat duduknya dan berjalan lebih dulu.
"Ngajak berangkat malah aku ditinggal, gimana sih Kakak ini." Gumam Juno dengan menyusul Ruhy yang berjalan duluan.
Sesampainya digarasi mobil rumah mereka, mereka malah berdebat soal mobil yang akan dibawa ke kampus.
"Juno pakai mobil yang merah aja, Kakak lagi pengin naik mobil warna merah. Sudah lama nggak dipakai, kasihan tau di garasi mulu." Rengek Ruhy dengan menunjuk-nunjuk mobil merah Ferrari miliknya.
"Nggak Kak, Juno juga sudah lama nggak pakai Lamborghininya Juno. Juno juga pengin naik itu." Ucap Juno yang nggak mau kalah dengan Ruhy.
"Keren aja gitu pakai mobil warna abu-abu" Lanjut Juno.
"Sekali aja Jun, kan ini pertama kali kita ke kampus bareng. Masa iya kamu nggak mau nurutin permintaan Kakak." Rengek Ruhy seperti anak kecil yang meminta Es Cream pada Mamanya.
"Kakak kan lebih dewasa, masa iya nggak mau nurutin permintaan adiknya." Rengek Juno yang tidak mau kalah dengan Ruhy.
"Ya sudah kalau nggak mau pakai mobil itu (menunjuk mobil Ferrari merah miliknya) Kakak mau berangkat sendiri aja." Ucap Ruhy dengan cemberut dan melangkah pergi menuju mobil miliknya itu.
"Iya iya, Juno mengalah deh. Kita pakai mobil warna merah." Ucap Juno dengan mengejar Ruhy
"Nah gitu dong, baru adik yang baik." Ucap Ruhy dengan tersenyum dan menepuk pundak Juno.
"Iya, kalau sudah diturutin aja langsung bahagia." Gumam Juno yang melihat Ruhy memasuki mobil Ferrari warna merah miliknya.
"Nggak usah ngedumel, Kakak dengar yang kamu omongin. Cepet masuk, ayo berangkat nanti telat." Teriak Ruhy dari dalam mobil.
Juno pun dengan malas memasuki mobil dan duduk dikursi pengemudi. Juno pun melajukan mobil dengan kecepatan standar.
Sesampainya dikampus. Tania tiba-tiba datang berlari menghampiri Ruhy yang baru saja turun dari mobil.
"Loh Sayang, bukannya kelas kamu nanti siang iya?" Tanya Juno yang heran melihat Tania datang dengan berlari.
"Itu nggak penting, yang terpenting sekarang adalah Kak Aditya." Ucap Tania yang panik setelah mencoba menangkan dirinya dari berlari.
"Kak Aditya?" Pekik Ruhy yang seketika panik mendengar kata Aditya terlontar dari mulut Tania.
Tibalah Tania yang menyeret Ruhy di lapangan belakang kampus dengan beribu-ribu pertanyaan yang terus dilontarkan Ruhy untuk Tania. Namun, tak pernah ada jawaban yang terucap dari mulut Tania.
"Kak Aditya kenapa, Tan? Kenapa kamu bawa aku kesini? Dimana Kak Aditya?" Berkali-kali Ruhy mengulang pertanyaan itu dengan panik dan khawatir dengan keadaan Aditya. Tak terasa air yang telah Ruhy bendung, terlepas begitu saja tanpa permisi.
"Loh kok malah menangis?" Tanya Tania yang merasa bersalah akan perbuatannya itu.
"Hikss.. Hikss.." Tangis Ruhy pecah dan tertunduk lemas tanpa mengetahui bahwa Tania sudah tidak ada disampingnya sekarang.
"Ruhy.." Lirih seseorang yang memegang pundak Ruhy. Dan Ruhy sangat hafal dengan suara itu.
Seketika Ruhy bangkit dari duduknya dan..
"Kak Aditya." Ucap Ruhy yang langsung memeluk erat Aditya dengan air mata yang terus menetes.
"Kok kamu menangis sih, Sayang?" Tanya Aditya yang mengelus puncak kepala Ruhy.
"Kakak kenapa? kok tadi Tania histeris tau Kak." Ucap Ruhy yang melepas pelukannya dan menatap Aditya dengan air mata yang terus berlinang.
"Sudah iya jangan nangis, malu dilihatin banyak orang." Ucap Aditya dengan menghapus air mata Ruhy. Seketika itu, Ruhy tersadar bahwa banyak orang yang datang mengelilinginya dan Aditya.
Ruhy pun kembali memeluk Aditya untuk menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Kakak sih nggak apa-apa kalau dipeluk kamu terus, tapi jangan erat-erat dong nanti Kakak kehabisan nafas." Ledek Aditya
"Malu tau Kak, kenapa Kakak nggak kasih tau Ruhy kalau ada banyak orang disini." Ucap Ruhy yang masih setia menyembunyikan wajahnya dibidang dada Aditya.
"SUDAH DONG MESRA-MESRAANNYA, JADI NGGAK?" Teriak Tania dari barisan para penonton yang melihat Ruhy dan Aditya.
Aditya pun melepas pelukannya dan mengangkat dagu Ruhy agar Ruhy menatapnya.
"Ini semua Kakak lakukan buat kamu." Ucap Aditya yang menatap Ruhy dengan serius.
"Tapi nggak lucu tau, Kak." Gerutu Ruhy
Tiba-tiba Aditya berjongkok didepan Ruhy dengan mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya. Kotak itu berisi kalung berlian yang sangat indah dan pasti mahal harganya.
"Kakak ngapain?" Tanya Ruhy dengan heran melihat tingkah Aditya.
"Ruhy Sayang, kamu memang sudah menerima lamaranku di Paris. Namun disini, aku hanya ingin kepastian darimu soal pernikahan kita. Aku ingin membahagiakanmu, menjagamu, dan bersamamu sampai maut nanti. Maukah kamu menjadi istriku dan menikah denganku 2 bulan lagi?" Tanya Aditya
"2 bulan? apakah itu tidak terlalu cepat?" Tanya balik Ruhy.
"SUDAH KAK, TERIMA AJA. JUNO DUKUNG." Teriak Juno yang berdiri disamping Tania.
"Apa kamu nggak mau?" Tanya Aditya yang masih setia berjongkok dengan memegang kalung dan menatap Ruhy dengan berkaca-kaca.
Ruhy menatap mata Aditya dengan dalam, seketika itu Ruhy memeluk Aditya yang berjongkok.
"Tanpa kamu tanya, aku akan selalu siap kapanpun untuk menjadi pendamping hidupmu Kak Aditya." Ucap Ruhy.
"Benarkah? Makasih Sayang." Ucap Aditya dengan gembira dan melepas pelukan Ruhy. Aditya pun berdiri dan memasang kalung dileher Ruhy. Teriakan histeris para penggemar Aditya dan Ruhy pecah disitu.
Aditya langsung mecium kening Ruhy dan kembali memeluk calon istrinya itu sambil terus mengucapkan kata terimakasih.
Semua yang melihat pun histeris, tepuk tangan juga menggema mengitari kebahagiaan Ruhy dan Aditya.