
"Awww.." Rintih Ruhy saat tiba-tiba ada yang menarik tangannya yang tak lain adalah Ian.
"Ada apa sih?" Tanya Ruhy dengan menarik tangannya.
"Segitu sayangnya sama adik lo?" Teriak Ian
"Iya lah. Kok lo harus sewot sih." Ucap Ruhy dengan ketusnya.
"Lo sama Juno cuma adik kakak, bukan sepasang kekasih. Nggak seharusnya lo berbuat kayak gitu." Teriak Ian dengan emosi.
"Emang kenapa? dia kan adik gue. Kok lo yang sewot." Teriak Ruhy dengan amarah
"Nggak gitu juga kan."
"Kenapa, hah? Apa hak lo melarang gue?"
"Gue sayang sama lo, Ruhy." Ucap Ian dengan nada yang sedikit merendah.
"Gue lebih sayang sama adik gue. Dan lo sama gue hanya teman, hanya teman." Ucap Ruhy dengan penuh penekanan.
"Apa yang gue lakukan selama ini masih lo anggap teman?" Ucap Ian yang kembali emosi.
"Iya, cuma teman. Dan lo sudah punya pacar kan."
"Kok, dia tau kalau gue punya pacar." Batin Ian.
"Jangan bicara omong kosong, lo." Ucap Ian
"Sudahlah, gue nggak mau berurusan lagi sama lo lagi." Ucap Ruhy yang beranjak pergi namun tangannya ditahan oleh Ian.
"Apa lagi?" Tanya Ruhy.
"Lo nggak boleh pergi dari sini." Ucap Ian penuh penekanan.
"Lepasin nggak, apa hak lo?"
"Lo tanya apa hak gue?" Ucap Ian yang mendekatkan wajahnya kepada Ruhy. Semakin dekat, dekat dan..
Bruk..
"Aw.." Rintih Ian yang duduk tersungkur.
"Jangan sekali-kali, lo ganggu Ruhy lagi. Sekali lagi gue lihat lo kasar sama Ruhy. Habis lo." Ucap Aditya yang menolong Ruhy. Sedangkan dari tadi Ruhy berlindung dibelakang tubuh Aditya.
"Lo tunggu pembalasan dari gue." Batin Ian
Ian pun beranjak pergi.
"Ruhy, ayo aku antar pulang." Ucap Aditya dengan lembut pada Ruhy.
"Nggak, Kak. Ruhy..." Ucap Ruhy yang belum selesai namun sudah pingsan dan ditangkap Aditya.
"Ruhy, Ruhy, bangun.." Ucap Aditya dengan gelisah, seketika Aditya menggendong Ruhy ke UKS.
Selama perjalanan menuju UKS semua mata tertuju pada mereka. Sesampainya UKS..
"Ruhy, bangun Kakak mohon Ruhy.." Ucap Aditya yang tak sadar air mata telah turun.
Tiba-tiba..
"Dit, Kakak gue kenapa?" Tanya Juno yang baru datang bersama Tania.
"Iya, Ruhy kenapa Kak?" Tanya Tania
Setelah itu Aditya menceritakan semua yang terjadi pada Juno dan Tania.
"Berani-beraninya dia kasar sama Kakak gue." Ucap Juno penuh amarah.
"Sabar Jun."
"Gue nggak bisa sabar, Tan. Kakak gue sampai pingsan gara-gara playboy itu."
"Baru kali ini lihat Juno sampai semarah ini." Batin Tania.
"Sabar Jun, tahan amarah lo." Ucap Aditya.
"Tapi kan, Dit.."
"Nanti kita susun rencana aja, buat dia menyesal sudah buat Ruhy kayak gini." Ucap Aditya dengan serius dan mendapat anggukan dari Juno.
"Takut juga gue, mereka serius banget sama nahan amarah. Nanti kalau amarahnya meledak, mungkin sekolah ini akan hancur." Batin Tania yang sedari tadi diam mendengarkan.
Setelah Ruhy sadar, Juno pun membawanya pulang ke rumah.
**********
Keesokan harinya. Ruhy sudah siap dengan menggunakan seragam Volly nya.
"Loh Kakak kok pakai baju itu sih?" Tanya Juno
"Hari ini kan pertandingan Volly."
"Memang Kakak sudah sehat?"
"Memang Kakak sakit iya? Kok nggak ada rasa sakit iya."
"Emang Kakakku nggak pernah mau kalau aku khawatir."Batin Juno
"Iya sudah deh, Kakakku yang keras kepala. Kakak ikut pertandingan Volly, tapi kalau Kakak capek, Kakak harus istirahat iya. Nanti ada pemain cadangannya kok." Ucap Juno sambil mengelus rambut Ruhy.
"Oke, ayo berangkat."
"Ruhy, kok lo mau ikut tanding sih?" Tanya Tania.
"Gue nggak pa-pa kok. Lo tenang aja."
"Oke, tapi kalau lo capek nanti istirahat iya."
"Iya, Taniaku sayang.."
Kelas X IPS 1 diwakilkan oleh Juno, Ruhy, Tania, Ian, Ahmad dan Heru. Mereka akan melawan kelas X IPS 2.
Pertandingan pun dimulai, Ruhy yang memasang wajah datarnya pada Ian, dia sejenak melupakan yang telah terjadi kemarin.
Ruhy bermain dengan cekatan, dan membuat para mata siswa laki-laki pun melihat tanpa berkedip. Banyak poin yang telah dicetak oleh Ruhy, sedangkan Juno hanya tersenyum melihat aksi Ruhy. Pemain lawan yang terdiri dari semua siswa laki-laki pun heran dan terpana dengan aksi Ruhy.
Disisi lain, terlihat seseorang yang tersenyum melihat aksi Ruhy, namun terkadang dia risih juga mendengar sorakan para lelaki yang mendukung Ruhy.
Dan yah, tim Ruhy pun memenangkan pertandingan Volly. Mereka semua berjabat tangan, tiba-tiba..
Bruk..
"Kakak.." Teriak Juno yang melihat Ruhy pingsan tiba-tiba.
"Ruhy.." Teriak Tania sedangkan Ian malah berlari pergi setelah melihat Ruhy pingsan.
Seketika Aditya yang sedari tadi memperhatikan Ruhy pun berlari ke tengah lapangan.
"Biar gue aja yang bawa Ruhy ke UKS, kalian ganti baju dulu." Ucap Aditya yang beranjak pergi menggendong Ruhy
"Makasih, Dit." Ucap Juno
"Kak, Juno bakal senang kalau Kakak bisa sama Aditya yang tulus sayang sama Kakak." Batin Juno.
Sesampainya di UKS, Aditya menelfon Dokter Keluarganya untuk datang ke sekolah.
"Gimana keadaannya Ruhy, Dok?" Tanya Aditya
"Dia hanya stress sama kecapekan aja. Nanti saya kasih resep obatnya." Ucap Dokter.
"Baik, Makasih Dok."
"Kalau gitu, saya permisi."
"Iya."
"Gimana keadaannya Kakak, Dit?" Tanya Juno yang baru datang bersama Tania.
"Ruhy stress dan kecapekan." Ucap Aditya.
"Ya ampun Kakak." Ucap Juno yang terduduk lemas. Sedangkan Tania hanya menangis dalam diam melihat sahabatnya.
Juno pun membawa Ruhy pulang bersama Tania. Sedangkan Aditya harus mengurus kegiatan Class Meeting.
"Tan, makasih iya."
"Iya, santai aja. Ruhy kan sahabat gue."
"Kalau lo mau nginep nggak apa-apa kok, nanti tidur sama Kakak gue."
"Nggak bisa, soalnya gue harus bantu Ibu gue."
"Iya sudah, sekali lagi makasih. Nanti biar gue suruh Pak Gito nganterin lo."
"Iya."
**********
Keesokan harinya, Ruhy tampak tak sehat. Namun, dia tetap memaksakan untuk masuk sekolah dan bersikap seperti biasa didepan Juno. Juno yang tau sikap keras kepala Kakaknya pun tidak berani membantah keputusannya.
Sesampainya disekolah, Tania menanyakan keadaan Ruhy. Dan seperti biasa, Ruhy menjawab tidak apa-apa, padahal tubuhnya terasa sakit dan pegal. Sedangkan Bella dan Nadin, hanya menjadi pendengar setia.
"Woy, gawat ini." Ucap Ahmad yang baru datang ke kelas dengan berlari dan panik.
"Ada apa sih?" Tanya Tania.
"Itu Si Elisa nggak masuk, katanya dia sakit." Ucap Ahmad dengan ngos-ngosan.
"Lah terus?" Ucap Tania
"Lo lupa apa pura-pura lupa sih. Kan hari ini lomba menyanyi." Ucap Ahmad.
"Owh iya, gue lupa. Gimana dong?" Ucap Tania sambil menepuk jidatnya.
"Kita harus cari penggantinya lah." Ucap Bella.
"Iya, nggak mau gue. Nanti kelas kita didenda lagi, karena nggak ikut lomba." Sahut Nadin.
"Iya, tapi siapa?" Tanya Ahmad dengan panik.
Seketika semua mata dikelas tertuju pada Ruhy.
"Kenapa pada ngelihatin gue kayak gitu?" Tanya Ruhy
"Ruhy, kita tau dari kesekian banyak siswa dikelas. Suara lo yang paling bagus. Lo ikut lomba menyanyi iya, gantiin Elisa." Ucap Ahmad dengan lembut pada Ruhy.
"Eemmm, gimana iya?"
"Ayolah Ruhy..." Bujuk Tania
"Emmm.. Eh..."