
Malam pun tiba, Ruhy menghampiri kamar Juno dengan membawa barang-barang yang dia beli untuknya.
Tok..Tok..Tok..
"Masuk." Ucap Juno dari dalam kamar.
Ceklek..
"Nih, Kakak beliin kamu peralatan sekolah sama baju dan sepatu." Ucap Ruhy dengan ketus dan meletakkan barang-barang itu di meja sofa kamar Juno
"Makasih, Kak." Ucap Juno yang memeluk Ruhy, dan Ruhy pun hanya tersenyum tipis.
"Kakak, pergi dulu." Ucap Ruhy yang melepas pelukan dan melangkah pergi namun tangannya ditarik oleh Juno, dan Juno pun kembali memeluk Ruhy.
"Kakak tau, Juno, Adit dan Tania sangat rindu dengan sikap Kakak yang dulu. Kakak yang ceria, murah senyum dan selalu membuat orang-orang disekeliling Kakak bahagia." Ucap Juno yang masih memeluk Ruhy.
"Kak, Juno sama Adit sudah tau semuanya." Lanjut Juno yang melepas pelukannya.
Deg..
"Juno mohon Kak, jangan gara-gara si Playboy itu merusak Kakakku yang dulu, aku nggak suka dengan Kakak yang sekarang, Kakak yang nggak pernah ngobrol sama Juno, cuek dan bahkan Kakak menganggap seperti Juno ini bukan adik Kakak melainkan orang asing." Ucap Juno yang menatap Ruhy dengan berkaca-kaca.
Flashback On
Suatu hari Juno dan Aditya bersama anak buah Aditya melakukan rencana nya selagi Ruhy masih di Bali.
5 hari berlalu, mereka sudah mendapat banyak bukti soal Ian yang membuat Ruhy menjadi seperti itu.
Mereka tidak tinggal diam, malam setelahnya Juno dan Aditya mengerebek tempat nongkrong Ian bersama teman-temannya dan disitulah perkelahian terjadi.
Walaupun banyak teman, Ian tetap kalah melawan Aditya dan Juno yang sangat marah padanya.
"Jangan berani lo sentuh Ruhy dan bikin dia sakit hati. Jika lo masih sayang nyawa lo." Teriak Aditya dengan penuh amarah yang berjalan pergi dengan Juno. Sedangkan Ian, masih tersungkur dilantai bersama teman-temannya itu.
Flashback Off
Setelah mendengar ucapan Juno, Ruhy pun berlari menuju kamarnya dan tak menghiraukan teriakan Juno yang memanggil namanya.
Dikamar, Ruhy hanya menangis dalam diam menyesali sikapnya pada adeknya.
"Hanya karena pria playboy itu, aku jadi kayak gini. Maafkan aku Juno, aku tak pantas jadi Kakakmu." Ucap Ruhy dengan menangis.
**********
Awal masuk sekolah sebagai kelas XI IPS 1. Ruhy dan Juno seperti biasa diantar supir pergi ke sekolah. Sikap Ruhy yang masih tak banyak bicara membuat Juno hampir kehilangan akal untuk membuat Kakaknya itu bersikap kayak dulu lagi. Sedangkan Tania, hanya bisa diam melihat dinginnya sahabatnya itu.
"Pagi anak-anak." Sapa Bu Hanin yang memasuki kelas.
"Eh, Bu Hanin pasti wali kelas kita iya." Ucap Ahmad dengan tersenyum
"Iya, benar." Ucap Bu Hanin
"Yey, seru nih kalau wali kelasnya Bu Hanin." Ucap Disa dengan kegirangan.
"Sudah-sudah, Bu Hanin nggak mau lama-lama. Hari ini kita akan adakan pemilihan ketua kelas yang baru." Ucap Bu Hanin
"Juno, Bu.." Sahut Ahmad
"Diam lo." Ucap Juno dengan ketus.
"Okay, Juno kandidat pertama. Ayo siapa lagi?" Tanya Bu Hanin.
"Ahmad, Bu." Ucap Elisa
"Woy jangan Ahmad, nanti kelas kita jadi apa?" Ucap Bella
"Hahaha jadi pasar. Sadar diri kok gue." Ucap Ahmad dengan tertawa.
"Sudah-sudah." Lerai Bu Hanin
"Ruhy, gimana kalau kamu yang jadi kandidat selanjutnya?" Tawar Bu Hanin
"Maaf, Bu. Saya nggak minat." Ucap Ruhy
"Nggak apa-apa."
"Oke kalau gitu, ada kandidat lain?" Tanya Bu Hanin dan tidak mendapat jawaban apapun dari siswa yang ada dikelas.
"Okay, kalau gitu. Ketua Kelas kita yang baru adalah Juno Regiano, ada yang keberatan?" Tanya Bu Hanin
"Saya keberatan." Ucap Juno
"Loh kok malah kamu yang keberatan? Teman-teman sekelas kamu sudah percaya sama kamu jadi Ketua Kelas. Ayolah Juno, Bu Hanin dan temen-temen kamu udah percaya sepenuhnya ke kamu" Ucap Bu Hanin
"Huh.. baiklah, Bu." Ucap Juno dengan terpaksa.
"Nah gitu dong. Kalau gitu nanti kamu yang pilih siswa sebagai struktur organisasi kelas sesuai keahliannya." Ucap Bu Hanin
"Baik, Bu." Ucap Juno
"Kalau begitu, saya keluar dulu. Hari ini free, jadi kalian bebas mau ngapain aja tapi dengan catatan TETAP DIAREA SEKOLAH. Paham?"
"Paham, Bu." Ucap seluruh siswa dikelas dan Bu Hanin pun meninggalkan kelas.
Seketika kelas menjadi ricuh, Ruhy hanya duduk sambil membaca novelnya, sedangkan Ian and The Genk udah pergi keluar kelas.
"Hay, semua." Sapa seorang pria yang tiba-tiba datang ke kelas Ruhy.
"Kayaknya ada yang lagi kangen nih." Ledek Ahmad
"Iya, kangen banget." Ucap pria itu. Dia pun menghampiri meja Ruhy dan berjongkok dihadapannya sambil ingin membisikkan sesuatu ditelinga Ruhy.
"Woy ini masih disekolah, jangan cium-cium anak orang apalagi ada saudara nih." Ucap Ahmad sambil menunjuk Juno.
"Iya nih, nggak kenal tempat." Ucap Bella
"Gue nggak mau cium Ruhy, tapi ada sesuatu yang mau gue kasih tau ke Ruhy." Ucap pria itu.
"Ngomong dong dari tadi." Ucap Ahmad
"Lo nya aja yang nggak pernah berpikir positif." Ledek pria itu.
Pria itu pun membisikkan sesuatu ke telinga Ruhy, seketika Ruhy berdiri.
"Benarkah, Kak?" Tanya Ruhy dengan berbinar-binar.
"Apa yang dia bicarakan sama Kakak gue, kok wajahnya jadi ceria gitu." Batin Juno
"Iya, nanti malam." Ucap pria itu yang tak lain adalah Aditya.
"Oke, nanti Ruhy kesana."
"Kamu boleh melakukan apa aja, dengan catatan kamu harus ada disamping Kakak."
"Okay, baiklah." Ucap Ruhy yang seketika memeluk Aditya dan membuat seisi kelas melongo melihat kejadian itu.
"Esnya Ruhy sudah mencair kah?" Gumam Ahmad
"Diam lo." Ucap Juno yang masih bingung dengan sikap Kakaknya itu. Sedangkan Tania hanya tersenyum melihat Ruhy yang kembali bahagia.
"Apa pun akan aku lakukan untuk buat kamu ceria seperti dulu, Hy." Batin Aditya.
"Kalau gitu nanti malam Kakak jemput, okay. Kakak mau kembali ke kelas dulu. Bye." Ucap Aditya yang sudah melepas pelukan Ruhy dan mendapat anggukan dari Ruhy pun melangkah pergi.
Flashback On
Malam itu, Ruhy yang menangis mendengar perkataan adeknya, tiba-tiba ponsel Ruhy berdering dan itu panggilan dari Aditya.
Ruhy mengangkatkannya dan menjawab perkataan Aditya dengan tersedu-sedu, mendengar semua itu sakit rasanya dihati Aditya mendengar tangisan Ruhy. Ruhy yang masih tidak ingin menceritakan apapun soal dirinya itu, hanya Aditya sudah tau semuanya dan Aditya berusaha untuk bersikap tenang.
Akhirnya dengan bujukkan Aditya, Ruhy menceritakan separuh ceritanya. Dan juga Ruhy meminta agar Aditya membantunya untuk melampiaskan segala kekesalan dan amarahnya.
Dengan senang hati Aditya membantu Ruhy, karena dia ingin melihat senyuman manis dari Ruhy yang selama ini hilang. Akhirnya Aditya pun membuat rencana dengan Ruhy.
Flashback Off