Different Love Story

Different Love Story
Dunia Milik Berdua



"Ehem...


"Serasa dunia milik berdua, gue jadi nyamuk nih." Ledek Juno


"Apaan sih Jun, nggak lucu tau." Ucap Ruhy yang blushing.


"Itu kenapa wajah Kakak memerah kayak kepiting rebus? Kebanyakan pakai blush.. blush.." Ucap Juno dengan memikirkan sesuatu.


"Blush on." Ucap Ruhy.


"Nah itu, Kakak tau."


"Iya nggak lah. Kakak nggak terlalu suka pakai make up tebal."


"Sudah-sudah jangan bahas make up, Ruhy kamu harus makan. Biar Kakak yang suapin." Ucap Aditya dengan tegas.


Akhirnya Ruhy pun menuruti kemauan Aditya.


"Nah, anak pintar." Ucap Aditya


"Kayaknya gue jadi yang ketiga deh disini, tapi kan yang ketiga itu setan. Berarti gue? Ah mending gue pergi kekamar aja." Batin Juno


"Kak, Dit, Juno pergi kekamar dulu. Juno mau belajar." Pamit Juno


"Oke."


"Owh iya, Kak. Nanti kita belajar diruang tengah aja iya." Ucap Ruhy


"Boleh. "


"Iya, sudah. Kakak tunggu diruang tengah, Ruhy mau ambil buku-bukunya dulu."


"Mau Kakak bantu?"


"Nggak usah Kak, Ruhy bisa sendiri kok." Ucap Ruhy yang pergi kekamarnya.


"Oke."


Diruang tengah mereka pun belajar bersama sampai lupa waktu. Ruhy yang selalu fokus dengan pelajarannya, tidak sadar kalau Aditya sesekali mencuri pandang darinya.


Jam menunjukkan pukul 22:00,


"Ruhy, sudah jam 10 nih. Kayaknya Kakak harus pulang." Ucap Aditya


"Benarkah? Ruhy kok nggak nyadar iya Kak."


"Kamu sih, terlalu serius belajarnya."


"Hehehe, maaf Kak. Oya, mending Kakak nginep aja. Sudah malam soalnya, nanti Kakak kenapa-napa lagi dijalan."


"Ciee, khawatir nih."


"Iya, khawatir lah Kak."


"Iya, sudah. Kakak nginep disini, besok pagi biar Asisten Kakak yang nganter seragam Kakak kesini."


"Oke, Kak. Kakak bisa tidur di kamar tamu. Kamarnya selalu bersih kok Kak, Kakak nggak usah khawatir."


"Kalau Kakak tidur sama kamu, boleh?"


Deg..


"Apaan sih, Kak. Iya nggak boleh lah." Ucap Ruhy dengan terbata-bata.


"Haha, Kakak bercanda kok."


"Iya, sudah. Ruhy masuk ke kamar dulu."


"Iya, selamat tidur."


"Selamat tidur juga, Kak."


Ruhy pun pergi menuju kamarnya. Sesampainya dikamar, dia mengambil ponselnya yang dari tadi dia tinggal dikamar. Ruhy pun kaget, setelah mendapat 150 chat dan 50 call dari Ian. Namun, Ruhy hanya membaca chat dari Ian yang menurutnya kurang penting, karena hanya berisi gombalan-gombalan recehnya tanpa berpikir untuk membalasnya.


**********


Keesokan harinya, Ruhy, Aditya dan Juno sarapan bersama. Sesekali candaan Juno dan Aditya di meja makan menambah rasa kebersamaan seperti keluarga bahagia. Namun, mereka bertiga sama saja. Kurang kasih sayang dari orang tua. Tapi, Aditya masih beruntung, Mamanya selalu dirumah saat dia pulang sekolah, dan bisa meluangkan waktu untuk sarapan dan makan malam bersama Aditya. Sedangkan, Juno dan Ruhy??


Mereka pun berangkat bersama menggunakan mobil Aditya.


Sesampainya di sekolah, mobil Aditya memasuki area parkir. Semua mata disana tertuju pada mereka bertiga.


Bayangkan The Mostwanted Girl dan 2 The Mostwanted Boys, satu mobil dan jalan beriringan dari area parkir. Biasanya kan hanya Juno dan Ruhy, tapi sekarang ditambah Aditya.


"Kak, nanti belajar bersamanya jam pelajaran ke berapa, Kak?" Tanya Ruhy.


"Nanti Kakak panggil aja." Ucap Aditya


"Eh, nggak usah Kak. Nanti biar Ruhy aja yang langsung ketemu sama Kakak dimana gitu."


"Nggak apa-apa kok. Nanti Kakak panggik di kelas. Bye." Ucap Aditya yang melangkah pergi meninggalkan Juno dan Ruhy.


"Kak, eh Kak Aditya." Teriak Ruhy


"Sudahlah, Kak. Nanti juga Adit bakal panggil Kakak." Ucap Juno


"Juno tau, pasti nanti Kakak risih iya diledekin satu kelas."


"Nah itu kamu tau."


"Iya tau lah." Ucap Juno


Pelajaran Bu Hanin pun dimulai dikelas Ruhy.


"Permisi, Bu.." Ucap Aditya yang sudah berdiri di depan kelas.


"Eh, Aditya. Pasti mau jemput Princessmu iya." Ledek Bu Hanin dengan tersenyum.


"Eh, apaan sih Bu. Tapi bener sih." Ucap Aditya yang cengengesan.


"Cieee...Ciee..." Sorak satu kelas kecuali Ian dan Juno yang fokus memperhatikan gerak-gerik Ian.


"Sudah-sudah, kasihan itu kakak kelas kalian sudah pengin ketemu sama Princessnya." Ledek Bu Hanin


Memang Bu Hanin adalah guru yang bisa diajak bercanda kalau di kelas, tapi juga akan serius pada waktunya. Sekali Bu Hanin marah, sangat menakutkan. Dan Bu Hanin termasuk guru killer tapi baik.


"Ruhy, silahkan. Kamu sudah dijemput itu." Ucap Bu Hanin dengan tersenyum meledek.


"Bu Hanin ngapain sih, ledek aja terus." Batin Ruhy


"Saya, permisi Bu." Ucap Ruhy yang beranjak meninggalkan kelas.


"Iya, hati-hati." Ucap Bu Hanin


"Loh, Bu. Kok hati-hati sih?" Tanya Aditya


"Iya, hati-hati takutnya ada yang ketiga." Ledek Bu Hanin


"Setan dong, Bu." Sahut Ahmad


"Hahahaha..." Tawa satu kelas


"Hehehe, Iya Bu. Kalau gitu saya sama Ruhy mau belajar di Perpustakaan dulu." Pamit Aditya


"Iya, silahkan."


Ruhy dan Aditya pun berjalan menuju Perpustakaan. Mereka berjalan diselingi dengan gombalan Aditya yang membuat Ruhy bisa tertawa.


Sesampainya di Perpustakaan, mereka belajar bersama. Mereka sangat serius belajar, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sampai 1 jam mereka terdiam, tapi sesekali Aditya melirik pada Ruhy namun Ruhy tidak sadar akan tatapan Aditya.


"Ruhy." Ucap Aditya memecah keheningan.


"Iya, ada apa Kak?" Tanya Ruhy yang masih fokus dengan materinya.


"Lihat Kakak dong."


"Bentar, Kak. Lagi seru ini materinya."


"Bentar aja." Rengek Aditya


"Iya, ada apa Kak?" Tanya Ruhy dengan menatap mata Aditya


Deg..


"Apa ini?" Batin Ruhy


Dengan cepat, Ruhy menunduk sembari berpura-pura membaca.


"Kenapa?" Tanya Aditya yang heran melihat tingkah Ruhy


"Eh, nggak apa-apa Kak." Ucap Ruhy dengan terbata-bata.


"Duh gemes banget kalau lagi kayak gitu." Batin Aditya.


"Oya, tadi Kakak kenapa panggil Ruhy?" Tanya Ruhy yang masih berpura-pura membaca.


"Eemm, nggak apa-apa. Kamu kelihatannya serius banget, suasananya juga hening kayak kuburan."


"Kakak takut?" Ledek Ruhy dengan cengengesan dan kembali menatap Aditya.


"Manisnya." Batin Aditya


"Iya nggaklah, masa Kakak takut." Ucap Aditya.


"Eh, Kak. Itu ada sesuatu disana." Goda Ruhy, sambil menunjuk kesudut ruangan Perpustakaan.


Dengan cepat, Aditya pun berlari memeluk Ruhy dengan ketakutan.


"Hahahahaha.. katanya nggak takut. Dibohongin gitu aja, Kakak takutnya setengah mati." Ledek Ruhy.


"Jadi, kamu berani iya sama Kakak." Ucap Aditya yang melepas pelukannya dan beraksi menggelitiki pinggang Ruhy..


"Maaf, Kak. Ampuun.." Rintih Ruhy yang tertawa digelitiki oleh Aditya.


"Nggak ada kata ampun iya. Salah sendiri kamu berani sama Kakak." Ucap Aditya yang masih menggelitiki Ruhy


"Hahaha... ampun Kak. Ampun, maafkan Ruhy." Ucap Ruhy dengan terbata-bata karena dia merasa geli digelitiki oleh Aditya.


"Ehem.." Suara deheman seseorang menghentikan aktivitas mereka.