
"Ian...
"Oh lo masih berani nunjukkin muka lo didepan Ruhy, hah?" Bentak Aditya
"Masih belum kapok juga, lo?" Lanjutnya. Sedangkan Ian hanya tersenyum sinis.
"Sudah biarin, Kak. Dia nggak penting, nggak usah diladenin." Ucap Ruhy menenangkan Aditya
"Aku nggak bisa lihat kamu nantinya disakiti dia lagi, Sayang." Rintih Aditya menatap Ruhy
"Itu nggak akan terjadi, Kak. Kakak kan selalu bersama denganku. Mending kita pergi aja, daripada ngurusin orang yang nggak jelas." Ucap Ruhy sambil melirik tajam kearah Ian
"Gue lepasin lo kali ini." Ucap Aditya dengan penuh penekanan dan menggandeng tangan Ruhy untuk meninggalkan tempat itu. Juno dan Tania yang sedari tadi naik pitam pun mereka urungkan untuk balas dendam pada Ian. Akhirnya Juno dan Tania mengikuti Aditya dan Ruhy pergi dari tempat itu.
"Gue nggak akan biarin kalian bahagia. Setelah apa yang lo pernah lakuin ke gue. Kita lihat nanti." Batin Ian.
Sesampainya di rumah Ruhy dan Juno.
"Sayang, kamu nginap aja disini iya. Aku takut kamu kenapa-napa." Ucap Juno
"Iya sudah, aku nginap disini. Tapi dikamar tamu aja, kayaknya Ruhy butuh sendiri kalau nggak iya butuh Kak Aditya." Ucap Tania
"Iya sudah sekarang kamu istirahat iya, biar Kak Aditya yang jaga Kakak." Ucap Juno
"Iya." Ucap Tania yang langsung pergi ke kamar tamu.
Dikamar Ruhy, Ruhy hanya terduduk lemas diranjang dengan tatapan kosong. Terdapat banyak rasa kebencian, kekecewaan, amarah, dan rasa sakit yang menjadi saru dipikirannya.
"Ruhy.." Rintih Aditya
"Eh iya, Kak." Ucap Ruhy dengan kaget
"Kamu nggak usah mikirin dia lagi iya, Kakak sedih tau lihat Ruhy Sayangnya Kakak kayak gini." Rengek Aditya seketika mendapat pelukan dari Ruhy.
"Nggak Kak, Ruhy nggak akan mikirin hal yang nggak penting. Hidup Ruhy sekarang jauh lebih bahagia setelah ada Kakak disamping Ruhy." Ucap Ruhy
"Kakak senang bisa buat kamu bahagia." Ucap Aditya dengan mempererat pelukannya.
"Kak, sebenernya Ruhy nyaman dipeluk Kakak tapi jangan erat-erat, Ruhy nggak bisa napas." Rengek Ruhy
"Eh, maaf." Ucap Aditya yang melepas pelukannya.
"Habis Kakak terlalu sayang sama kamu. Jadi Kakak nggak tau kamu pergi dari samping Kakak." Lanjutnya.
"Itu nggak akan terjadi, Kak." Ucap Ruhy dengan menatap mata Aditya
"Iya sudah, kamu tidur iya. Kamu pasti capek." Ucap Aditya
"Kakak tidur dimana?" Tanya Ruhy
"Tidur di sofa juga nggak apa-apa. Asalkan Kakak selalu dekat sama Ruhy." Ucap Aditya dengan mencolek hidung Ruhy.
"Ih, Kakak. Hm Kak, Kakak tidur disamping Ruhy aja. Kalau Kakak nanti tidur di sofa, pasti badan Kakak jadi pegal-pegal." Ucap Ruhy
"Boleh nih?" Tanya Aditya
"Bolehlah, kita juga sudah tau batasan-batasan kita." Ucap Ruhy dan seketika Aditya naik keatas ranjang untuk tidur bersama Ruhy.
Aditya pun tidur dengan memeluk Ruhy.
**********
Keesokan harinya, Aditya pamit pulang karena harus ada urusan kantor Papanya yang harus dia kerjakan.
Sedangkan Tania diantar pulang oleh Juno.
Ruhy pun dirumah bersama Mamanya yang entah ada apa pulang kerumah walau hanya sebentar.
Diruang keluarga, Ruhy tampak menonton tv.
"Sayang, Mama mau ngomong." Ucap Mama Ruhy
"Ngomong aja, Ma." Ucap Ruhy yang masih fokus menonton.
"Ini soal Aditya."
"Sabar, Sayang."
Flashback On
Dikantor milik Pak Charles.
"Herman, kamu kan sahabat saya dari dulu. Saya mau kasih kamu salah satu perusahaan milik saya." Ucap Pak Charles.
"Nggak usah, Pak. Saya sudah senang kok dengan jabatan saya sekarang." Ucap Papa Ruhy
"Nggak boleh ada penolakan. Dan iya minggu depan kamu ajak keluargamu makan malam dirumah saya." Ucap Pak Charles
"Baik, nanti saya ajak mereka. Ada apa kamu ajak keluarga saya makan malam?" Tanya Papa Ruhy
"Saya sebenernya mau jodohin Aditya sama anak kamu Ruhy. Setelah saya mendengar cerita tentang dia dari kamu. Dan kita juga udah sahabatan dari lama, saya hanya ingin kita menjadi besan. Oya, untuk yang masalah perusahaan tadi, nggak ada hubungannya sama sekali dengan ini." Ucap Pak Charles
"Sebenarnya saya juga penginnya seperti itu. Tapi kita tanya dulu sama anak-anak kita." Ucap Papa Ruhy
"Iya, ide yang bagus. Tapi jangan sampai kamu kasih tau pada Ruhy soal ini. Biar nanti Ruhy sama Aditya menjalaninya sendiri dulu" Ucap Pak Charles
"Itu ide yang sangat bagus. Moga aja kita bisa menjadi besan."Ucap Papa Ruhy
"Aku harap juga begitu." Ucap Pak Charles.
Flashback Off
"Jadi selama ini, Ruhy mau dijodohin sama Kak Aditya?" Tanya Ruhy yang kaget
"Iya, Sayang. Tapi mereka sepakat untuk merahasiakan ini dari kamu dan Aditya. Agar kalian bisa saling mencintai dengan sendirinya." Ucap Mama Ruhy
"Ya ampun, Ma. Kenapa nggak dari dulu aja sih Mama sama Papa ngomongnya. Pasti Ruhy senang banget." Ucap Ruhy dengan tersenyum
"Benarkah, Sayang?" Tanya Mamanya dengan tersenyum dan mendapat anggukan dari Ruhy.
"Tapi kan sekarang kalian sudah lamaran juga kan." Ledek Mama Ruhy
"Iya sih, Ma." Ucap Ruhy dengan cengengesan
"Oya, Ma. Apa Kak Aditya tau soal hal ini?" Tanyanya
"Dia baru tau 2 hari sebelum kita ke Paris." Ucap Mama Ruhy
"Benarkah?" Tanya Ruhy tidak percaya
"Iya, makanya dia sudah mantap dan yakin dengan tekadnya untuk melamar kamu disana, Sayang."
"Owh gitu."
"Mama bahagia, Sayang. Lihat kamu bisa menemukan seseorang yang sangat menyayangi kamu seperti Aditya."
"Ruhy juga bahagia, Ma. Sangat bahagia." Ucap Ruhy sambil memeluk Mamanya
"Mama berharap, kasih sayangnya Aditya bisa menggantikan kasih sayang Mama sama Papa yang kamu inginkan selama ini." Ucap Mama Ruhy sambil meneteskan air mata.
"Iya, Ma. Ruhy juga berharap seperti itu. Tapi, kasih sayang Mama sama Papa nggak akan tergantikan oleh siapapun." Ucap Ruhy
"Makasih, Sayang. Mama sangat beruntung punya anak seperti kamu. Mama sangat bangga sama kamu, Sayang." Ucap Mama Ruhy sambil menghapus air matanya.
"Ruhy juga beruntung punya orang tua seperti Mama sama Papa." Ucap Ruhy dengan melepas pelukannya.
"Terimakasih, Sayang. Dan maafkan Mama sama Papa iya, kami hanya memetingkan pekerjaan dibandingkan kamu sama Juno."
"Ruhy mengerti kok, Ma. Semua itu juga kan buat Ruhy sama Juno." Ucap Ruhy sambil menghapus air mata yang ada dipipi Mamanya
"Iya, Sayang." Ucap Mama Ruhy yang kembali memeluknya.
"Mama sayang banget sama kamu dan Juno." Lanjutnya.
"Ruhy juga sayang banget sama Mama dan Juno pasti juga begitu." Ucap Ruhy yang meneteskan air mata dipelukan Mamanya.
Tiba-tiba..
Bel rumah Ruhy berbunyi...