Different Love Story

Different Love Story
Puncak Amarah Ruhy



Malam yang ditunggu Ruhy, Aditya pun sudah standby menjemput dan mengantar Ruhy ke tempat yang telah direncanakan.


Dalam perjalanan, Ruhy hanya melihat keluar jendela untuk meredam amarahnya, namun nihil tidak bisa juga. Sedangkan Aditya yang sedang menyetir pun sesekali melirik kearah Ruhy yang melamun.


"Semoga dengan ini, senyumanmu akan kembali Ruhyku." Batin Aditya.


Sesampainya ditempat persembunyian, terdapat seorang pria yang lemah lesu diikat dengan tali disebuah kursi.


"Hay.." Ucap Ruhy yang senyuman sinis.


"Maaf, Ruhy. Tolong lepasin gue." Rintih pria itu yang tak lain adalah Ian.


"Ini belum sebanding dengan rasa sakit yang gue derita karna lo." Bentak Ruhy


"Maaf, Ruhy. Gue nggak bermaksud."


"Apa lo bilang? Nggak bermaksud?" Ucap Ruhy dengan tersenyum penuh arti, sedangkan Aditya sedang duduk menyaksikan Ruhy yang melampiaskan kemarahannya.


"Lepasin gue." Bentak Ian


"Jangan berani bentak-bentak, Ruhy." Bentak Aditya yang sedari tadi diam.


"Kak, Ruhy mohon. Kakak duduk manis aja dan lihat apa yang akan terjadi. Apapun nanti yang akan terjadi, dan entah siapa yang akan tumbang, Kakak jangan menolong Ruhy sampai Ruhy memanggil nama Kakak." Ucap Ruhy dengan lembut.


"Tapi..." Ucap Aditya yang diputus oleh Ruhy.


"Ruhy mohon, Kak. Jangan ada tapi-tapi an." Mohon Ruhy.


"Hm, baiklah." Ucap Aditya yang kembali duduk.


"Sudah dramanya?" Ucap Ian dengan penuh amarah dan tersenyum sinis.


"Belum, gue belum selesai memainkan peran." Ucap Ruhy dengan penuh amarah.


"Ian, lo sudah menyakiti gue. Bukan hanya psikis tapi fisik juga." Ucap Ruhy dengan lembut tapi terdengar sangat menyeramkan dan sambil mengelus pipi Ian.


"Gue sudah minta maaf sama lo." Bentak Ian.


"Itu belum cukup, Ian." Bentak Ruhy


"Mari kita mulai memainkan peran gue yang sesungguhnya." Ucap Ruhy dengan lembut tapi mengerikan.


Ruhy pun mendekati Ian.


5 kali Ruhy menampar Ian dan sudah membuat sudut bibir Ian mengeluarkan banyak darah.


"Tadi hanya awal permainan peran gue. Sekarang kita mainkan permainan intinya." Ucap Ruhy


Tapi tiba-tiba, tali yang mengikat Ian terlepas seketika. Aditya yang ingin menghampiri mereka, tapi dia mengingat perkataan Ruhy jadi dia urungkan niatnya untuk membantu Ruhy.


"Iya, mari kita mainkan permainan intinya." Ucap Ian namun Ruhy hanya tersenyum sinis.


Ian yang sudah menahan amarahnya sedari tadi, dia luapkan saat berkelahi dengan Ruhy. Dia tidak berpikir bahwa Ruhy adalah seorang perempuan, yang dia pikirkan hanyalah harga dirinya yang telah diinjak-injak oleh seorang perempuan.


Tanpa senjata apapun mereka berkelahi dengan ganas, Ruhy tidak tinggal diam walaupun wajahnya sudah babak belur. Sedangkan Ian? Wajahnya telah memerah bersimba darah dibibir dan keningnya yang Ruhy benturkan di dinding.


Dan akhirnya Ian pingsan karena Ruhy memukulnya menggunakan kursi. Ruhy pun merintih tak berdaya, namun dia masih punya kekuatan untuk berjalan menghampiri Aditya yang sedari menangis melihat Ruhy.


"Kak Aditya." Ucap Ruhy dengan lembut.


"Ruhy, Kakak nggak tega dan rasanya sakit sekali lihat Ruhy diperlakukan kayak gitu oleh Ian. Kenapa Ruhy tadi melarang Kakak." Ucap Aditya sambil mengusap air matanya.


"Ruhy nggak apa-apa, Kak. Dan Ruhy nggak suka sama laki-laki cengeng, jadi berhentilah menangis."


"Iya, baiklah. Kakak nggak akan menangis lagi. Kalau gitu, ato Kakak antar ke Rumah Sakit."


"Ruhy nggak mau ke rumah sakit, Kak. Tapi Ruhy nggak mungkin bisa pulang kalau keadaan Ruhy kayak gini."


"Kalau gitu ikut ke Apart Kakak aja."


"Nggak merepotkan, Kak?"


"Kalau untuk Ruhy nggak bakal repot kok, nanti Kakak panggil dokter keluarga Kakak buat memeriksa keadaan kamu."


"Makasih, Kak. Oya, itu bocah gimana?." Tanya Ruhy dengan sempoyongan.


"Kakak bakal suruh anak buah Kakak, buat nganterin dia kerumahnya."


"Oh, oke."


**********


"Dok, gimana keadaan Ruhy?" Tanya Aditya.


"Dia baik-baik aja, luka-lukanya juga nggak terlalu serius. Tadi saya kasih obat biar dia bisa istirahat. Dan ini resep obat buat Ruhy. Kalau gitu saya permisi." Ucap Dokter setelah memberi resep obatnya pada Aditya.


"Makasih, Dok."


"Sama-sama." Ucap Dokter yang melangkah pergi.


"Ruhy, Kakak sedih lihat keadaan Ruhy kayak gini." Ucap Aditya dengan memegang tangan Ruhy


"Tapi kalau setelah ini bisa membuat Ruhy tersenyum kembali, Kakak akan sangat bahagia." Lanjut Aditya


"Kakak sayang sama Ruhy, dan Kakak berjanji akan menjaga dan merawat Ruhy sampai sembuh." Ucap Aditya dengan mengelus pipi Ruhy.


"Jangan buat Kakak frustasi lagi, Ruhy." Ucap Aditya dengan mencium kening Ruhy dan Aditya pun beranjak untuk membersihkan badannya.


Setelah selesai mandi, Aditya pun tidur di sofa kamar dekat Ruhy. Dia tidak mau meninggalkan Ruhy lama-lama. Akhirnya kantuk pun datang pada Aditya yang sedari tadi menatap wajah Ruhy dari sofa.


**********


Mentari menyapa Ruhy dipagi hari.


"Eeemm.." Ucap Ruhy yang baru bangun.


"Sudah bangun?" Ucap Aditya yang sudah selesai mandi dan sedang berdiri disisi ranjang Ruhy.


"Eemm iya, sudah Kak." Ucap Ruhy yang sedikit serak.


"Kamu istirahat aja, Kakak sudah izinin kamu sama Kakak ke Pak Kepala sekolah kok."


"Hm, Makasih Kak." Ucap Ruhy yang ingin beranjak dari ranjang.


"Eh mau kemana?"


"Mau mandi lah, Kak."


"Mau Kakak bantu?" Goda Aditya


"Eh, nggak Kak. Awas aja kalau Kakak berani sama Ruhy." Ancam Ruhy.


"Ampun, Ruhy." Ucap Aditya dengan dibuat-buat dan membuat Ruhy tersenyum tipis.


30 menit lamanya, Ruhy pun belum ada tanda-tanda keluar dari kamar mandi.


"Ruhy kok lama iya mandinya." Batin Aditya.


30 detik.


"Oya, Ruhy nggak punya ganti. Mending aku cari baju Mama aja deh." Gumam Aditya.


Memang terkadang Mama dan Papa Aditya tinggal di Apartnya karena jaraknya lebih dekat dengan salah satu perusahaan milik Papanya itu.


Sedangkan didalam kamar mandi, Ruhy panik karena dia lupa untuk membawa baju ganti dari rumahnya. Dan dia juga nggak kepikiran akan terjadi hal seperti itu tadi malam. Ruhy pun mondar-mandir nggak jelas didalam kamar madi dengan menggunakan handuk saja.


"Haduh gimana nih, nggak mungkinkan aku keluar cuma pakai handuk doang." Gumam Ruhy


"Aarrgghhh, gimana nih." Lanjutnya dengan nada yang frustasi.


Tok...Tok...Tok


"Ruhy, buka pintunya."Teriak Aditya dari depan pintu kamar mandi.


"Ada apa, Kak." Teriak Ruhy dari dalam.


"Ini, Kakak tadi ingat kalau kamu nggak bawa baju ganti, jadi Kakak tadi pilih baju Mama Kakak yang ada disini buat kamu." Teriak Aditya.


Ceklek.. Pintu kamar mandi terbuka sedikit.


Ruhy pun mengambil pakaian itu dengan satu tangan.


"Makasih, Kak." Ucap Ruhy yang kemudian menutup kasar pintu kamar mandi.


Aditya hanya terdiam melihat Ruhy dan sangat gemas akan tingkahnya.


"Gemas banget, pengen rasanya aku bawa pulang ke rumah dan aku nggak akan biarin dia keluar." Batin Aditya.