
"Ikut gue." Ucap Ian dengan menarik tangan Ruhy keluar dari kelas.
"Cieeee cieeee " itulah sorak-sorak yang bergema dikelas.
"Lepasin gue, gue bisa jalan sendiri. Kasar banget sih jadi orang." Ucap Ruhy sembari menarik tangannya.
"Maaf, gue nggak bermaksud menyakiti lo."
"Oke, lo mau bilang apa?"
"Gue pengn kita lebih dari sekedar teman."
Deg..
"Gue sayang sama lo, Ruhy. Gue nyaman sama lo." Lanjut Ian
"Dari tatapan matanya hanya ada kebohongan." Batin Ruhy.
"Ruhy, gue mohon beri gue kesempatan buat buktiin sama lo kalau gue pantes sama lo. Gue bener-bener sayang sama lo. Lo mau nggak jadi pacar gue?" Ucap Ian dengan serius.
"Mata dan mulutnya tidak bersahabat."Batin Ruhy
"Maaf Ian, gue nggak pernah kepikiran buat pacaran. Gue mau fokus sekolah. Maaf." Ucap Ruhy kemudian pergi meninggalkan Ian dengan air yang telah menetes dipipinya tanpa permisi.
"Gue memang sayang sama lo Ian, tapi banyak persepsi dan bahwa dari diri lo sendiri yang buat gue nggak percaya sama lo." Batin Ruhy.
Sesampainya dikelas.
"Lo kenapa?" Tanya Disa yang melihat mata Ruhy yang memerah.
"Gue nggak apa-apa." Jawab Ruhy
"Nggak usah bohong Ruhy, pasti lo ada masalah cerita dong ke kita-kita." Ucap Ahmad
"Gue nggak apa-apa kok, kalian tenang aja." Ucap Ruhy yang sesekali melirik kearah Juno dengan muka yang menahan amarah.
Bel masuk pun berbunyi..
"Ruhy, ini ada tugas mencatat. Lo tulis didepan."Ucap Ahmad dan memberikan buku pada Ruhy
"Owh, oke."
Dengan tatapan yang kosong, Ruhy pun menulis didepan. Kelas yang terbilang ramai karena gurunya tidak ada. Dan Ian And The Genk mungkin sudah standby diluar kelas. Tanpa sadar Ruhy menulis dengan emosi yang membuat tulisannya semakin cepat.
"Woy, Ruhy. Lo nulis apa dikejar setan sih? Nulisnya cepat banget. Pegal nih tangan gue." Cerocos Ahmad
"Iya Ruhy, pelan-pelan sedikit kenapa." Ucap Bella.
Tania yang tadi diam, dia melangkahkan kaki menghampiri Ruhy.
"Kalau lo ada masalah, cerita sama gue jangan dipendam sendiri. Lebih baik lo duduk aja, biar gue yang nulis." Bisik Tania.
"Makasih, Tan." Ucap Ruhy dengan memberikan buku yang dia pegang.
Tidak terasa bel pulang pun berbunyi. Ruhy dan Juno seperti biasa, sudah ada Pak Gito sang supir pribadi mereka sudah menunggu. Diperjalanan tampak keheningan melanda. Tiba-tiba, ponsel Ruhy berdering.
Ruhy \= "Hallo."
Nika \= "Hallo Ruhy, ini gue Nika."
Ruhy \= "Tau kok gue. Ada apa lo telfon, tumben."
Nika \= "Owh jadi lo nggak mau gue telfon?"
Ruhy \= "Iya nggak lah, gue ngambek sama lo. Sudah beberapa minggu nggak ada kabar."
Nika \= "Maaf, gue sibuk. Oya gue sekarang ada di Kota lo nih."
Ruhy \= "Benarkah?"
Jawab Ruhy dengan suara lantang penuh gembira membuat Juno dan Pak Gito kaget seketika. Tapi terlihat Juno malah tersenyum bahagia.
Nika \= "Iya benar lah. Kita ketemu yuk di Cafe Violet jam 7 iya. Kangen banget gue sama lo nih.
Ruhy \= "Okay, nanti gue kesana jam 7. Bye Nika Si Embem ku sayang."
Nika \= "Jijik gue dengarnya."
Ruhy \= "Hahahaha.. panggilan kesayangan gue buat lo."
Nika \= "Terserah lo, yang penting lo happy. Bye."
Seketika kebingungan Ruhy menghilang setelah berbicara dengan Nika, memang benar Nika adalah sahabat Ruhy yang sangat tau karakter Ruhy dan selalu menghibur Ruhy dikala sedih.
Sesampainya dirumah Ruhy bergegas melakukan ritualnya, dan mengerjakan tugas-tugas nya setelah dia selesai. Jam menunjukkan pukul 18:30, Ruhy pun melangkahkan kaki menuju mobil. Tidak disangka, Juno sudah standby didalam mobil.
"Loh, kamu ngapain Jun?" Tanya Ruhy yang keheranan.
"Juno mau nganterin Kakak lah."
"Kan ada Pak Gito. Kakak bisa minta dia buat nganterin Kakak."
"Nggak usah biar Juno yang anter Kakak. Dan nggak ada penolakan."
"Iya sudah deh, tapi kamu jangan ikut masuk ke Cafe."
"Juno nggak ada niat buat masuk ke Cafe, niat Juno cuma anter sama nunggu Kakak sampai Kakak pulang."
"Oke, ayo berangkat."
"Masuk mobil dulu, Kak. Baru kita berangkat."
"Owh iya." Ucap Ruhy dengan cengengesan
Mereka pun berangkat. Sesampainya di Cafe...
"Nika. Ya ampun kayak nya agak langsingan iya lo." Ucap Ruhy sambil memeluk Nika.
"Iya iya lah. Gue diet sehat sih. Tapi malam ini mari kita puas-puaskan buat makan." Ucap Nika dengan kegirangan
"Owh, banyak banget yang lo pesan. Kuat lo?" Ucap Ruhy yang baru saja melihat makanan yang telah dihidangkan diatas meja mereka.
"Iya kuat lah. Itu gue pesanin makanan, minuman sama dessert favorit lo."
"Masih inget aja lo."
"Iya masih lah. Mari kita makan."
Mereka pun makan dengan lahap, Ruhy yang sedari tadi memperhatikan Nika pun tersenyum bahagia.
"Memang hanya lo yang bisa menghibur gue, Nik. Makasih lo sudah mau jadi sahabat gue."Batin Ruhy
Setelah makan, Ruhy pun menceritakan semua rencananya bersama Triano. Dan Ruhy meminta Nika untuk ikut serta didalamnya. Agar tempat itu menjadi bukti nyata persahabatan mereka bertiga. Nika pun menyetujui semua rangkaian aturannya. Namun, Nika hanya bisa ke Kota ini sebulan sekali untuk mengecek semuanya. Dan Nika meminta untuk dihubungkan secara online dari tempat itu.
Ruhy dan Nika merancang pembukaan Resto itu. Mereka berdua sepakat acara pembukaan Resto tidak diadakan secara meriah, cukup Nika, Ruhy, dan Triano yang melakukan acara pembukaan. Dan juga Ruhy berpesan untuk tidak dipublishkan tentang pemilik Resto, karena Ruhy takut akan ketahuan oleh orang tuanya. Nika pun menyetujui nya.
"Owh iya, kok cuma kita yang memutuskan semua ini sih. Triano gimana?" Tanya Nika
"Dia itu gampang. Dia kan selalu turutin permintaan gue."
"Iya, saking cin.... Upss" Ucap Nika yang langsung menutup mulutnya.
"Saking cin apa?" Tanya Ruhy
"Saking cintanya Triano ke lo Hy Ruhy, tapi lo nggak sadar. Kasihan Triano yang sudah nunggu lo."Batin Nika
"Sa..king bucinnya dia ke lo gitu." Ucap Nika dengan terbata-bata.
"Owh, gitu. Pulang yuk sudah malem nih. Owh iya, lo tinggal dimana?"
"Gue tinggal di apart nya Om gue."
"Om lo?"
"Iya Om Rey yang sekarang tinggal di London itu loh."
"Owh Si Om Cuek."
"Cuek-cuek tapi ganteng masih muda lagi. Andai aja dia bukan Om gue, pasti gue..."
"Woy, sadar itu Om lo."
"Iya, iya. Iya sudah yuk pulang. Gue anter pulang nggak?" Tanya Nika.
"Nggak usah gue sudah ditunggu Juno didepan. Lo hati-hati iya. Bye." Ucap Ruhy yang mencium pipi kanan Nika sekilas dan beranjak pergi.
Ruhy pun berjalan mendekati mobilnya yang telah terparkir disudut kanan Cafe. Ruhy pun memasuki mobil, alangkah kagetnya Ruhy melihat Juno.
"Ya ampun, Juno..."