
Malam harinya mereka semua pergi ke Menara Eiffel termasuk orang tua Ruhy pun ikut.
Tak butuh waktu yang lama untuk sampai ke Menara Eiffel.
"Wah, bagus banget menaranya." Ucap Tania dengan menatap Menara Eiffel tanpa terasa dia pun meneteskan air mata. Dengan cepat Juno menghapus air mata Tania.
"Kamu kenapa, Sayang. Kok malah nangis?" Tanya Juno dengan lembut.
"Sayang?" Tanya Tania yang kaget mendengar perkataan Juno dan seketika itu dia langsung menatap mata Juno.
"Iya, kan kita sudah pacaran. Dan ditempat ini akan menjadi saksi cinta kita." Ucap Juno
"Iya, I Love You." Ucap Tania
"I Love You Too." Ucap Juno dengan tersenyum lebar.
"Ehem.. Serasa dunia milik berdua nih." Ledek Ruhy
"Iya, nih. Yang lain ngontrak." Ledek Mamanya
"Ish, Mama kayak nggak pernah muda aja." Gerutu Juno
"Sip, Papa dukung kamu Jun." Ucap Papanya sambil mengacungkan jempolnya.
"Owh iya, Adit kenapa Kak?" Tanya Juno yang tidak melihat tanda-tanda Aditya bersama mereka.
"Tumben kamu tanya soal Kak Aditya." Ucap Ruhy
"Iya, kasihan gitu. Kakak nggak ada pasangan sendiri disini." Ledek Juno
"Siapa bilang." Ucap Aditya yang tiba-tiba datang.
"Ya ampun lo kayak jin tau nggak tiba-tiba muncul kalau diomongin." Ucap Juno
"Iya makanya jangan ngomongin gue." Ucap Aditya dengan datar.
Aditya pun berubah menjadi serius menatap Ruhy.
"Ada apa?" Tanya Ruhy yang heran dengan perubahan sikap Aditya.
"Ruhy, katanya kamu nggak mau pacaran kan?" Tanya Aditya dengan memegang kedua tangan Ruhy.
"Iya, memangnya kenapa Kak?" Tanya Ruhy.
Aditya pun berjongkok didepan Ruhy dan masih memegang kedua tangan Ruhy.
"Kak, bangun deh. Malu dilihatin orang." Ucap Ruhy
Kemudian Aditya melepas genggamannya dan mengambil sesuatu disaku kirinya. Terlihat sebuah kotak kecil yang dia ambil.
Aditya pun membuka kotak itu, dan terlihat cincin berlian didalamnya. Semua yang disana kaget melihatnya, sedangkan Ruhy entah kenapa dia meneteskan air mata.
"Ruhy, Sayang. Aku ingin melamarmu disini. Ditempat ini dan didepan kedua orang tuamu." Ucap Aditya
"Aku ingin memilikimu, Ruhy. Mungkin bagimu ini terlalu cepat, tapi aku ingin kamu sudah terikat denganku. Dan aku akan menunggu kamu sampai kamu siap untuk menikah denganku." Lanjut Aditya
"Ruhy, maukah kamu menerima lamaranku?" Tanya Aditya
Ruhy pun menangis terharu bahagia, dia bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Ruhy pun menatap kedua orang tuanya dan mendapat anggukan dari mereka.
Tidak lupa Ruhy juga menatap Juno dan mendapat senyum serta anggukan darinya.
"Ruhy.." Rintih Aditya
"Iya, aku mau." Ucap Ruhy
Seketika itu, Aditya langsung menyematkan cincin berliannya kepada jari Ruhy, terlihat sangat cocok dijari manisnya.
Aditya pun berdiri memeluk Ruhy yang sedari tadi menagis terharu melihat perbuatan Ruhy.
"Terimakasih, Ruhy. Kakak janji akan selalu mebuatmu bahagia jika Kakak bersamamu." Ucap Aditya
"Ruhy percaya itu." Ucap Ruhy dengan mempererat pelukannya.
Orang tua Ruhy pun terharu melihat Aditya dan anaknya. Mereka bahagia, melihat Ruhy bahagia.
"Sayang, semoga Aditya bisa mengganti kesedihan Ruhy dengan kebahagiaan." Bisik Mama Ruhy pada suaminya itu.
"Iya, Sayang. Aku juga berharap begitu. Semoga Aditya bisa menggantikan kasih sayang kita yang selama ini tidak kita berikan pada Ruhy dengan kasih sayangnya." Bisik Papa Ruhy pada istrinya.
"Mereka serasi banget iya, Jun." Bisik Tania
"Iya, semoga Kakak selalu bahagia bersama Adit." Bisik Juno
"Aku percaya bahwa Kak Aditya akan selalu membuat Ruhy bahagia."
"Semoga saja begitu."
"Kok, Jun sih. Sayang dong." Rengek Juno membuat suasana haru menjadi hilang.
"Ya ampun, manjanya adikku." Ucap Ruhy
"Biarin, Kak. Manja sama pacar sendiri nggak apa-apa kan." Ucap Juno
"Boleh manja-manja an tapi ingat iya kalian belum sah. Jadi kalian harus tau batasan kalian." Ucap Mama Ruhy
"Iya, Ma kita tau kok." Ucap Ruhy dan Juno bebarengan.
"Kalau khilaf sih nggak apa-apa." Goda Papa Ruhy
"Apaan sih, Pa. Malah ngajarin yang nggak bener." Ucap Mama Ruhy dengan sebal.
"Bercanda kok, Ma." Ucap Papa Ruhy
"Kalian harus jaga kepercayaan kami iya." Lanjutnya
"Iya, Pa. Kita pasti jaga itu. Kita juga sudah dewasa." Ucap Ruhy
"Iya, Om. Om sama Tante tenang aja. Kita nggak bakal macem-macem kok." Ucap Aditya
"Kok Om sama Tante sih. Panggilnya Papa sama Mama dong." Ucap Mama Ruhy
"Apaan sih, Ma." Ucap Ruhy yang malu.
"Iya, panggil Papa sama Mama aja." Ucap Papa Ruhy.
"Iya, baiklah, Pa, Ma." Ucap Aditya
"Nah, gitu kan enak dengarnya." Ucap Papa Ruhy
"Oya, untuk Tania juga boleh kok, panggil Om sama Tante itu Papa sama Mama." Ucap Mama Ruhy
"Iya, pastilah. Tania pasti panggil Papa sama Mama." Ucap Juno
"Mama bicara sama Tania, bukan sama kamu." Gerutu Mama nya.
"Iya sama aja dong, Ma." Ucap Juno
"Iya, bedalah." Ucap Mamanya
"Sudah-sudah, Yang. Baiklah Ma, Pa." Ucap Tania.
"Duh, senang banget dengarnya." Ucap Mama Ruhy sambil tersenyum.
"Kalian habiskan malam ini disini iya. Have fun." Ucap Papa Ruhy
"Baik, Pa." Ucap Ruhy, Aditya, Juno dan Tania bebarengan.
Mereka pun menghabiskan waktu yang romantis di Menara Eiffel.
**********
Seminggu sudah mereka menghabiskan waktu di Paris.
Namun dihari ketiga, orang tua Ruhy dan Juno memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena ada pekerjaan yang harus mereka urus disana.
Jadi mereka berempat menghabiskan waktu di Paris bersama. Mereka mengunjungi tempat-tempat yang ada di Paris seperti Museum Louvre, Notre Dame de Paris, Arc de triomphe de I'Ètoile dan masih banyak lagi tempat wisata yang mereka kunjungi di Paris.
Tidak lupa mereka juga membeli oleh-oleh di Paris untuk teman-temannya disekolah.
Dan ini saatnya mereka membereskan pakaian mereka untuk kembali ke Kota tercinta mereka.
"Duh, rasanya berat banget mau ninggalin Paris." Ucap Tania
"Kalau berat iya cari bantuan biar ringan." Ledek Ruhy
"Ih, Ruhy." Ucap Tania dengan cemberut.
"Haha, sorry Tan. Suatu hari nanti lo ajak Juno jalan-jalan kesini berdua gitu." Goda Ruhy
"Ih, apaan sih Hy." Ucap Tania yang dibuat malu.
"Sudah yuk, Kak Aditya sama Juno sudah nunggu didepan." Ucap Ruhy
"Iya, sudah ayo." Ucap Tania
Mereka semua menggunakan pesawat pribadi keluarga Ruhy untuk mereka pulang.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Kota mereka.
Disana, mereka sudah dijemput oleh supir pribadi Aditya. Aditya pun mengantar Tania terlebib dahulu kemudian mengantar Juno dan Ruhy. Setelah itu dia pulang kerumahnya untuk istirahat.
"Terimakasih, Tuhan. Kau kirimkan Ruhy didalam hidupku. Aku sangat bahagia, semoga kita bisa selalu bersama sampai maut nanti." Batin Aditya.