
"Eh.."
"Loh Kak Aditya." Ucap Ruhy.
"Ruhy, Juno. Kok kalian disini?" Tanya Aditya
"Papa yang undang mereka buat makan malam." Sahut Papa Aditya (Pak Charles)
"Owh gitu."
"Jadi kalian sudah saling kenal?" Tanya Papa Aditya
"Sudah, Pa. Aku kakak kelasnya Ruhy sama Juno." Ucap Aditya
"Baguslah kalau sudah saling kenal." Ucap Papa Aditya dengan senyum yang mengembang lebar.
Makan malam yang hangat dengan canda tawa kedua keluarga pun sangat menyenangkan. Tidak terasa malam pun semakin larut.
"Charles, kami pamit pulang dulu. Soalnya sudah larut." Ucap Papa Ruhy.
"Iya, Jeng. Kami pamit." Sahut Mama Ruhy.
"Iya, kapan-kapan main lagi kesini iya." Balas Papa Aditya dan anggukan serta senyuman dari istrinya.
"Ruhy, sering-sering kesini sama Juno. Tante pasti senang kalau kalian main kesini." Ucap Mama Aditya dan Aditya hanya tersenyum mendengarnya.
"Iya, tante." Ucap Ruhy dengan tersenyum.
"Manisnya senyumanmu, Ruhy." Batin Aditya.
**********
Hari minggu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi yang cerah menembus jendela kamar Ruhy dengan sinar terangnya. Namun, belum ada tanda-tanda seorang gadis itu bangun dari tidur panjangnya.
Tok..Tok..Tok..
"Non Ruhy, bangun Non. Sarapan dulu, Mama sama Papa Non udah nunggu dibawah. Non Ruhy.." Teriak Bibi Nina tetapi tidak mendapat sahutan apapun dari balik pintu kamar Ruhy.
"Bi.. Ruhy udah bangun belum?" Teriak Mama Ruhy dari meja makan
"Belum, Nyonya.." Jawab Bi Nina dengan teriakan.
Mama Ruhy pun mendatangi kamar Ruhy dengan membawa kunci cadangan.
"Biar saya aja Bi yang bangunin Ruhy. Bibi kedapur aja." Ucap Mama Ruhy dan mendapat anggukan dari Bi Nina.
Ceklek..
"Ya ampun ini anak gadis sudah siang bolong belum bangun juga. Kerjain aja kali iya." Gumam Mama Ruhy yang cengengesan.
"Wah, Bener Pak? Ada Novel terbaru yang baru rilis? Harganya pun diskon, benarkah Pak?" Ucap Mama Ruhy yang pura-pura menelfon seseorang dengan suara yang lantang yang dibuat-buat dan kegirangan.
Benar saja, mata Ruhy yang tadinya terpejam seketika terbuka lebar.
"Benarkah, Ma?" Tanya Ruhy yang sangat antusias dan terduduk diatas ranjang.
"Hahahahaha.." Mama Ruhy seketika tertawa dengan kerasnya.
"Kok Mama malah ketawa?" Tanya Ruhy dengan keheranan.
"Haha, Mama bercanda Sayang."
"Jadi, soal novel tadi cuma bohongan, Ma?"
"Habisnya kamu, susah banget dibangunin."
"Yah, Mama tega banget sih sama Ruhy." Ucap Ruhy yang seketika lemas dan ingin kembali tidur diranjangnya.
"Eeiittss, jangan tidur lagi. Sekarang cepat kamu mandi, Mama tunggu dibawah. SEKARANG." Ucap Mama Ruhy dengan penuh tekanan.
"Iya, Ma." Ruhy pergi ke kamar mandi dengan malasnya.
Setelah melakukan ritual paginya, Ruhy berjalan menuju meja makan.
"Lama banget sih, Kak." Gerutu Juno
"Maaf, soalnya Kakak tadi mimpi indah. Makanya males bangun kalau nggak gara-gara Mama iya, Kakak belum bangun"
"Owh, jadi salah Mama nih?" Tanya Mama Ruhy
"Enggak kok, Ma. Ini salah Ruhy." Jawab Ruhy dengan tertunduk lemas. Seketika semua yang ada dimeja makan tertawa melihat tingkah Ruhy.
Mereka pun sarapan bersama, tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi.
Ting..Tong..Ting..Tong
"Biar Ruhy aja yang buka." Ucap Ruhy sambil melangkah pergi menuju pintu.
Ceklek..
"Eh, Kak Aditya ngapain kesini?" Tanya Ruhy
"Kakak mau ajak kamu jalan-jalan. Kamu ada waktu nggak?"
"Heemm, iya udah. Ruhy ada waktu kok. Masuk dulu Kak, ikut sarapan? soalnya Mama sama Papa juga masih sarapan."
"Iya, sudah. Mari masuk Kak."
Aditya pun mengikuti Ruhy menuju ke meja makan. Sesampainya dimeja makan, Ruhy bergegas pergi kekamarnya untuk siap-siap.
"Eh, Aditya. Tumben main kesini, ada apa?" Tanya Papa Ruhy
"Saya mau izin,Om. Mau ajak Ruhy jalan."
"Iya, boleh." Ucap Papa Ruhy dengan senyum yang mengembang.
"Nak Aditya sudah sarapan belum? ikut sarapan iya." Tanya Mama Ruhy
"Aditya sudah sarapan kok, Tante."
"Adit, gue boleh ikut nggak? bosen nih dirumah." Tanya Juno dengan memelas
"Kan gue mau jalan-jalan berdua sama Ruhy, masa Juno ikut sih, kan nggak asik." Batin Aditya.
"Enak aja, nggak boleh." Ucap Ruhy yang tiba-tiba datang
"Yah Kakak, gitu jahat sama adiknya." Gerutu Juno
"Juno, masa iya kamu mau jadi obat nyamuk sih." Ledek Mamanya.
"Dengerin itu. Ayo Kak kita berangkat." Ajak Ruhy pada Aditya.
"Om, Tante, Juno. Kita pamit dulu." Ucap Aditya
"Hati-hati."
Aditya dan Ruhy meninggalkan meja makan, dan berjalan menuju mobil. Diperjalanan hanya ada keheningan yang melanda. Ruhy yang sedari tadi memainkan ponselnya membuat Aditya tidak nyaman.
"Ruhy, kamu kok main ponsel terus sih." Gerutu Aditya dengan memecah keheningan.
"Eh, maaf Kak. Ini ada urusan penting sama sahabat Ruhy."
"Owh, gitu. Sekarang kita mau kemana?"
"Ke Mall aja gimana, Kak? Soalnya ada novel terbaru hari ini."
"Kamu suka novel?"
"Suka pakai banget, Kak." Jawab Ruhy dengan kegirangan
"Iya, sudah ayo kita ke Mall."
"Yeeyyy..."
"Duh gemes banget kalau lihat Ruhy seceria ini." Batin Aditya.
Setelah beberapa menit, mereka pun sampai di sebuah Mall. Mereka berjalan dengan bergandengan seperti sepasang kekasih yang sedang memadu cinta. Mereka berjalan mengelilingi Mall dan sampailah di toko buku yang ada di dalam Mall.
"Wah ini nih, novel nya." Ucap Ruhy yang kegirangan setelah menemukan novel yang dia cari.
"Suka novel yang Romance iya?" Tanya Aditya
"Iya, Kak. Tapi nggak Romance aja sih. Komedi, Action, Horror dan semua novel pokoknya, Ruhy suka." Jawab Ruhy dengan kegirangan. Seketika Aditya mencubit pipi Ruhy.
"Aw.. Kak sakit.."
"Maaf maaf, abisnya kamu ngegemesin sih." Mendengar ucapan Aditya membuat pipi Ruhy memerah.
"Apaan sih, Kak. Eemm Ruhy mau cari novel yang lain iya."
"Iya sudah ayo Kakak temenin."
Setelah membeli 5 Novel, akhirnya Ruhy dan Aditya memilih pakaian untuk mereka.
"Kak, kayaknya bagus deh kalau dipakai Kakak" Ucap Ruhy sambil menyodorkan jaket yang dipegangnya.
"Kalau kamu bilang bagus, Kakak langsung beli deh."
"Dicoba dulu, Kak."
"Nggak usah, kalau Ruhy yang pilih langsung Kakak beli."
"Iya deh, terserah Kakak."
"Aku sudah selesai nih Kak, pilih baju sama sepatunya." Lanjut Ruhy
"Iya, sudah. Ayo kekasir nanti Kakak yang..."
"Untuk yang ini Kakak jangan bayarin, Kakak sudah beliin Ruhy novel. Untuk baju sama sepatu Ruhy biar Ruhy sendiri yang bayar, sekalian sama jaket Kakak tadi."
"Eh nggak usah, biar Kakak yang bayar semuanya."
"Kalau Kakak yang bayar, Ruhy nggak mau lagi jalan sama Kakak." Ancam Ruhy
"Iya sudah, Kakak nggak bayarin. Tapi kalau jaket ini, biar Kakak sendiri yang bayar."
"Oke, ayo Kak."