
"Senang?" Tanya Aditya seperti orang tidak tau apa-apa. Kemudian, Ruhy menyenggol lengan Aditya yang ada didekatnya, seketika Aditya pun paham.
"Owh, soal dom.." Ucap Aditya
"Sssttt diam." Ucap Bu Hanin yang menyela omongan Aditya yang belum selesai.
"Tau malu juga, ternyata." Batin Aditya
"Ini soal Olimpiade kemarin." Lanjut Bu Hanin
"Jadi, gimana hasilnya, Bu?" Tanya Ruhy yang angkat bicara dengan ragu setelah sedari tadi diam mendengarkan celoteh Bu Hanin dan Aditya.
"Kamu nggak usah ragu gitu." Ucap Bu Hanin
"Jadi hasilnya gimana, Bu. Saya kepo nih." Ucap Aditya yang dibuat-buat seperti adegan sinetron.
"Alay lo, Dit." Ucap Juno yang sedari tadi diam.
"Selamat buat kalian." Ucap Bu Hanin
"Selamat? Jadi kita?" Ucap Aditya dengan kegirangan.
"Eeiitss, jangan girang dulu." Ucap Bu Hanin
"Yah, Bu katanya tadi selamat, jangan PHP dong, Bu." Rengek Aditya
"Lucu juga kalau Kak Aditya kayak gini." Batin Ruhy
"Yang PHP siapa? Emang kamu suka sama Ibu,? kok kamu berasa di PHP in Ibu." Ucap Bu Hanin dengan PD-nya.
"Ingat umur, Bu. Dihati saya cuma ada My Princess seorang." Ucap Aditya sembari merangkul Ruhy.
Deg..
"Enak aja, Bu Hanin baru berumur 28 tahun iya." Ucap Bu Hanin
"Iya, Bu. Saya tau kok. Jadi gimana soal Olimpiadenya, jangan buat saya sama My Princess penasaran." Ucap Aditya.
"Iya,. Selamat buat Ruhy, kamu menjadi juara pertama Olimpiade Ekonomi." Ucap Bu Hanin
"Benarkah, Bu?" Tanya Ruhy yang tidak percaya.
"Iya, selamat." Ucap Bu Hanin sambil bersalaman dengan Ruhy.
"Sudah dong, Bu salamannya." Ucap Aditya
"Ya ampun, sama guru sendiri aja cemburu, sesama perempuan lagi." Ucap Bu Hanin
"Iya, tapi kan Ibu guru Killer." Batin Aditya.
"Terus saya gimana, Bu?" Tanya Aditya
"Buang dilaut." Ucap Bu Hanin
"Yah, Bu Hanin jahat banget sama saya."
"Hahaha.. tenang kamu juara kedua kok." Ucap Bu Hanin
"Benarkah, Bu?" Ucap Aditya yang tak percaya
"Iya, selamat." Ucap Bu Hanin sambil menyodorkan tangannya, namun tidak direspon oleh Aditya. Aditya malah seketika memeluk Ruhy dengan erat.
"Dasar anak muda." Batin Bu Hanin
"Salamannya sama saya saja, Bu. Kasihan dianggurin." Ucap Tania yang membalas salaman Bu Hanin, secepat mungkin Bu Hanin menarik tangannya dan memasang wajah datar.
"Nggak usah, saya permisi." Ucap Bu Hanin yang pergi meninggalkan mereka berempat.
"Sudah dong, Dit. Lepasin Kakak gue nanti sesak nafas." Ledek Juno
"Eh, maaf maaf. Habisnya gue senang banget, Jun." Ucap Aditya dengan melepas pelukannya.
"Senang sih boleh, Dit. Tapi kasihan Kakak gue."
"Iya, maaf."
"Maaf, iya." Lanjut Aditya dengan mengelus rambut Ruhy.
"Nggak apa-apa, Kak. Namanya refleks dicampur bahagia iya gitu." Ucap Ruhy.
"Makasih."
"Ehem.. Kayaknya harus ada acara makan-makan nih." Ucap Tania
"Boleh itu." Setuju Juno
"Kalau gitu, nanti malam kita berempat ke RNT Resto okay." Ucap Aditya.
Deg..
"Gimana kalau mereka lihat Triano." Batin Ruhy.
"Boleh juga, itu kan Resto baru yang banyak diminati." Ucap Tania
"Iya sudah, jam 7 nanti biar gue jemput kalian semua." Ucap Aditya
"Yey, ada supir gratis nih." Ucap Tania
"Enak aja, supir. Masa Kak Aditya dibilang supir." Ucap Ruhy dengan ketus.
"Ciee.. yang nggak rela kalau Kakak tersayangnya dipanggil supir." Ledek Tania
"Tambah cinta aku sama kamu, kalau kamu bisa buat aku selalu ingin terbang mendengar perkataanmu, Ruhy." Batin Aditya.
**********
Di RNT Resto Aditya, Ruhy, Juno dan Tania sedang berkumpul diruangan VIP. Mereka memesannya, karena ingin menghabiskan waktu berempat tanpa ada kebisingan yang mengganggu.
"Ruhy, kamu mau makan apa?" Tanya Aditya.
"Eemm.. Steak sama Drink Chocolate yang Ori." Ucap Ruhy
"Tumben, Kakak pesen makanannya sedikit. Biasanya juga banyak banget." Ucap Juno
"Lagi nggak mood makan." Ucap Ruhy
"Kenapa nggak mood?" Tanya Aditya yang heran
"Jam baca novelnya kurang, itu." Jawab Tania dengan sedikit meledek kearah Ruhy.
"Betul juga sih, tapi yang mendominasi nggak itu." Ucap Ruhy dengan cengengesan.
"Apa dong, cerita?" Ucap Aditya
"Nggak mungkin aku cerita soal Ian pada Kak Aditya." Batin Ruhy.
"Nggak apa-apa kok, Kak." Ucap Ruhy
"Pasti Kakak kepikiran soal Ian." Batin Juno
"Iya sudah, kalau nggak mau cerita. Kakak nggak maksa kok." Ucap Aditya dengan tersenyum
"Sebenarnya Kakak lebih suka, kalau kamu terbuka sama Kakak." Batin Aditya.
"Eemm.. kayaknya gue mau kebelakang dulu, sekalian mau pesan makanan buat kalian. Okay." Ucap Tania yang tau akan situasi dan mendapat anggukan dari mereka bertiga.
Setelah beberapa lama menunggu, makanan mereka pun datang. Dan mereka menyantap makanan mereka dengan diselingi canda tawa dari mereka, tapi tampak jelas kalau Ruhy sedang memikirkan sesuatu walaupun dia tertawa bahagia.
*Flashback On
Sepulang sekolah, Ruhy izin pada Juno untuk pergi ke toilet. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar perkataan seseorang yang Ruhy kenal dari dalam ruang kelas.
"Ruhy, mau lo bawa kemana?" Tanya seseorang.
"Gue nggak benar-benar sayang sama dia. Gue hanya mainin dia aja. Nanti kalau gue bisa pacaran sama The Mostwanted Girl disekolah ini kan, nanti gue jadi populer." Ucap seseorang yang Ruhy kenal yaitu tidak lain adalah Ian.
"Licik juga lo. Kasihan itu perempuan hatinya rapuh." Ucap seseorang yang bersama Ian
"Gue nggak peduli." Ucap Ian dengan sinis meninggalkan temannya yang masih terheran melihat tingkahnya.
Setelah mendengar semua itu, air mata Ruhy pun menetes tanpa permisi. Dia pun dengan cepat meninggalkan tempat itu, sakit rasannya. Tanpa sadar, Ian melihat Ruhy yang pergi menjauh dengan berlari dari tempat itu.
"Apa, Ruhy mendengar semuanya?" Batin Ian
"Aaargghh, nggak mungkin. Kalau Ruhy sampai tau, gagal semua rencana gue." Ucap Ian dengan frustasi setelah melihat kepergian Ruhy.
Ruhy pun segera memasuki mobilnya tanpa membalas pertanyaan Juno yang melihatnya seperti selesai menangis.
Sampai rumah, tangisannya tidak dapat dibendung. Tapi Ruhy mencoba bersikap tegar dihadapan Adiknya yaitu Juno.
*Flashback Off
Setelah selesai makan malam, mereka semua diantar Aditya pulang kerimahnya masing-masing. Ruhy pun sedikit lega, karena mereka tidak bertemu dengan Triano di Resto.
Tapi hati Ruhi, masih sangat sakit untuk mengingat semua yang terjadi. Tangisannya tidak bisa ditahan saat dia sampai dikamarnya. Semalaman Ruhy menangis tanpa henti, pikirannya campur aduk antara bahagia karena kemenangannya dan Ian yang telah membuatnya sakit hati. Tapi hatinya sudah terlanjur merasakan sakit yang Ian torehkan dihati Ruhy. Sehingga dia tak sadar dan kelelahan hingga tertidur pulas larut malam.