Different Love Story

Different Love Story
You're Mine and I'm Yours



Ceklek...


Masuklah Ahmad, Disa, Bella, Elisa, Bu Hanin dan Pak Feri.


Mereka pun langsung menghampiri Ruhy dengan khawatir.


"Ruhy lo nggak apa-apa? Mana yang sakit? Ya ampun muka lo jadi babak belur kayak gini." Ucap Ahmad dengan alay tanpa sengaja dia menyentuh wajah Ruhy dan mendapat balasan memekik dari Aditya.


"Berani lo pegang Ruhy." Ucap Aditya dengan menatap tajam Ahmad yang udah tertunduk takut.


"Hahaha.. lo tadi hebohnya nggak kira-kira, sekarang aja ditatapan Kak Adit nyalinya menciut." Ledek Elisa


"Iya, nih. Dasar alay lo." Ucap Disa


"Sudah-sudah ini Rumah Sakit, jangan pada ribut." Ucap Pak Feri dengan tegas dan membuat semua terdiam.


"Ruhy, maaf atas kelalaian keamanan disekolahan kami. Kami juga minta maaf karena tidak tau perbuatan Nadin hingga buat kamu kayak gini." Ucap Bu Hanin dengan lembut memegang tangan Ruhy.


"Nggak apa-apa, Bu, Pak. Yang penting Ruhy baik-baik aja." Ucap Ruhy.


"Kami sudah mengeluarkan Nadin dari sekolahan, sebagai akibat perbuatannya. Dan sekarang dia diproses dalam pengadilan atas perbuatannya." Ucap Pak Feri


"Apa? Nadin ditangkap polisi, Pak." Ucap Ruhy yang kaget.


"Iya, karena itu termasuk tindakan kriminal." Ucap Pak Feri.


"Kak, jangan berpikir untuk memcabut tuntutan Nadin." Ancam Juno


"Tapi, Jun. Ini bisa diselesaikan dengan baik-baikkan." Ucap Ruhy dengan menatap penuh harap ke Juno.


"Ruhy, tolong dengerin Kakak iya. Kakak mohon, biar dia kapok dengan perbuatannya." Ucap Aditya dengan lembut.


"Hm baiklah, Kak." Ucap Ruhy


"Kalau sudah Kak Adit yang ngomong, keras kepala Ruhy jadi lunak." Ucap Disa


"Benar itu, Kak Adit memang obat kelunakannya Ruhy." Ucap Elisa dan membuat yang diruangan itu tertawa.


"Apaan sih, kalian." Ucap Ruhy dengan malu.


10 menit berlalu mereka berbincang-bincang nggak jelas untuk menghibur Ruhy. Pak Feri dan Bu Hanin pun seperti kembali ke masa muda mereka, mereka berdua ikut bercanda gurau bersama.


"Ruhy, kami pamit dulu iya. Kamu cepat sembuh." Ucap Bu Hanin


"Iya, Hy. Gue, Disa sama Elisa juga pamit dulu." Ucap Ahmad


"Makasih iya semua, sudah dateng jenguk Ruhy." Ucap Ruhy dan mereka pun melangkah meninggalkan ruangan Ruhy setelah berpamitan.


"Ruhy, gue pamit juga iya. Besok gue jenguk lo kesini. Soalnya gue bantu ibu gue." Ucap Tania


"Iya, Tan. Makasih sudah selalu menemani gue." Ucap Ruhy


"Sama-sama, kita kan sahabat." Ucap Tania sambil memeluk Ruhy.


"Iya," Ucap Ruhy dengan melepas pelukannya.


"Jun, kamu anterin Tania iya." Pinta Ruhy


"Eh nggak usah, gue pakai ojek aja." Ucap Tania


"Nggak ada penolakan. Jun anterin Tania sampai didepan pintu masuk rumahnya." Ucap Ruhy


"Baik, Kak." Ucap Juno


"Gue titip Kakak gue iya, Dit." Ucap Juno


"Sip." Ucap Aditya sambil mengacungkan jempolnya.


Juno dan Tania pun melangkah pergi meninggalkan ruangan Ruhy. Sekarang hanya ada Aditya yang menemani Ruhy.


"Ruhy.. Kakak boleh duduk disamping Ruhy nggak?" Rengek Aditya


"Kakakkan dari tadi sudah duduk disamping Ruhy." Ucap Ruhy


"Bukan, maksud Kakak disamping Ruhy duduk. Masa nggak tau sih." Ucap Aditya dengan cemberut


"Gemas juga lihat Kak Aditya kayak gini." Batin Ruhy


"Hahaha, Kakak masih aja kayak anak kecil." Ucap Ruhy dengan tertawa.


"Aku kayak gini biar kamu selalu tertawa, Hy. Karena aku bahagia lihat kamu bisa tertawa." Batin Aditya.


"Ih. Boleh nggak?" Tanya Aditya yang masih cemberut.


"Nggak boleh." Ucap Ruhy dengan memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.


"Yah, kok nggak boleh sih." Ucap Aditya yang tambah cemberut.


"Jadi kalau tersenyum, Kakak boleh duduk disamping Ruhy?" Ucap Aditya dengan tersenyum berbinar-binar.


"Boleh dong, boleh banget malah." Ucap Ruhy yang seketika Aditya duduk disampingnya dan Ruhy pun menyenderkan kepalanya dibidang dada Aditya.


"Hm nyaman." Ucap Ruhy yang merasakan detak jantung Aditya dan bau parfum maskulinnya.


"Kak, kok jantung Kakak berdetak nggak karuhan gini." Ucap Ruhy yang memegang dada Aditya.


"Gara-gara kamu sih." Ucap Aditya


"Kok gara-gara aku?" Tanya Ruhy yang menatap Aditya


"Iya, kalau Kakak dekat kamu, jantung Kakak jadi olahraga terus nggak henti-hentinya berdetak cepat." Ucap Aditya dengan cengengesan.


"Ih, Kakak gombal banget." Ucap Ruhy yang kembali memyenderkan kepalanya dibidang dada Aditya.


"Owh iya, Kak. Gimana kuliah, Kakak?" Tanya Ruhy


"Lancar."


"Kakak punya temen disana?"


"Iya, punyalah. Masa iya nggak punya."


"Hm cewek apa cowok?"


"Kok Ruhy tanya kayak gini, apa dia cemburu kalau aku punya temen cewek?" Batin Aditya.


"Jawab, Kak." Rengek Ruhy


"Kakak hanya punya temen cowok, Kakak nggak minat punya temen cewek." Ucap Aditya yang membuat Ruhy tersenyum lebar.


"Benarkah? Tapi kan Kakak tampan. Masa iya nggak ada cewek yang mau temenan sama Kakak."


"Kakak aja yang nggak mau, soalnya Kakak jaga hati buat My Princess."


"Apaan sih, Kak. Gombal banget deh."


"Ih benar nggak gombal kok. Tapi ada sesuatu yang harus kamu tau."


"Apa, Kak?" Tanya Ruhy yang penasaran seketika iya mengangkat kepalanya dan menatap Ruhy.


"Ada satu cewek yang selalu mengejar-ngejar Kakak. Dia selalu bawain Kakak coklat, sarapan bahkan bunga dan surat buat Kakak. Bahkan dia pernah menyatakan cinta ke Kakak tapi hati Kakak sudah buat Ruhy seorang jadi Kakak tolak. Kakak juga risih sih diperlakuon kayak gitu." Ucap Aditya


"Owh gitu." Ucap Ruhy yang seketika memeluk Aditya.


"Kenapa nih, kok tiba-tiba meluk Kakak?"


"Nggak apa-apa, Kak. Ruhy nggak siap kalau harus kehilangan Kakak."


"Aku lebih nggak siap kalau harus jauh dari kamu, Hy." Batin Aditya.


"Kakak memang nggak bisa janji untuk itu." Ucap Aditya


"Kenapa?" Tanya Ruhy yang melepas pelukannya dan tak sadar dia telah meneteskan air mata.


"Karena Kakak nggak akan abadi di dunia. Semua orang didunia ini akan mati, Hy." Ucap Aditya yang menatap Ruhy dengan sangat dalam.


"Jangan bahas kematian." Ucap Ruhy yang kembali memeluk Aditya.


"Kakak tau, Ruhy sudah cinta dan sayang sama Kakak." Lanjut Ruhy


Deg..


"Ternyata cintaku nggak bertepuk sebelah tangan." Batin Aditya.


"Kakak lebih lebih cinta dan sayang sama Ruhy." Ucap Aditya.


"Udah jangan nangis lagi." Ucap Aditya yang melepas pelukannya dan menghapus air mata Ruhy. Sedangkan Ruhy hanya mengangguk.


"Jadi kita pacaran?" Tanya Aditya


"Ruhy nggak mau pacaran, Kak."


"Langsung nikah aja?" Goda Aditya


"Ih nggak gitu juga. Nanti kalau Ruhy udah gapai mimpi Ruhy baru Ruhy nikah."


"Kakak akan selalu menjadi nomer satu yang selalu dukung Ruhy."


"Makasih, Kak. Kita kayak gini aja saling menyayangi dan memiliki satu sama lain." Ucap Ruhy dengan memeluk Aditya.


"Iya, kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu." Ucap Aditya yang tersenyum lebar dan mendapat anggukan dari Ruhy.