
Malam ini, Ruhy kabur dari rumah lewat jendela kamarnya untuk pergi balapan. Sedangkan Juno dia memilih untuk belajar karena sebentar lagi akan diadakan UKK.
Ruhy membawa Moge Ninja ZX10-R milik adeknya dengan cara menuntunnya dari garasi rumahnya. Dia pun melajukan motornya menuju area balapan, tampak disana sudah ada Triano yang selalu setia menemani Ruhy balapan.
"Ruhyku, jangan ikut balapan lagi iya. Gue mohon, berkali-kali gue melarang lo balapan karena gue khawatir sama lo." Ucap Triano yang nampak serius dan sedih.
"Dan berapa kali gue nggak nurut permintaan lo." Ucap Ruhy dengan ketus.
"Ruhy, gue mohon jangan ikut balapan lagi." Mohon Triano
"Sebenernya hati gue juga nggak rela kalau gue kayak gini, tapi pikiran gue yang penuh amarah dan butuh pelampiasan yang lebih mendominasi gue untuk berbuat kayak gini." Batin Ruhy.
Ini adalah balapan ke-10 Ruhy, dan dia sudah memenangkan 7 balapan. Setiap balapan hadiahnya berupa uang tunai senilai 50 juta, dan kamu tanya kemana uangnya saat Ruhy memenangkan lomba?
Jika Ruhy memenangkan lomba 50% dari uang lombanya diserahkan di Panti Asuhan, baikkan? Ruhy melakukan semua itu, dengan anggapan bisa menutup semua perilaku dan kesalahannya pada orang-orang disekitanya.
Ruhy pun mengikuti balapan, sedangkan Triano selalu panik dan khawatir melihat Ruhy balapan. Dan akhirnya Ruhy memenangkan balapan. Uang 50 juta pun berada digenggamannya.
Pukul 22:00 setelah mendapat uang, Ruhy bergegas pulang ke rumahnya.
**********
Disekolah, Ruhy nampak cuek dan menatap kosong setelah pelajaran berakhir. Teman-teman Ruhy memilih untuk pergi ke kantin, sedangkan Ruhy memilih untuk dikelas sendirian.
"Ruhy.." Rintih seseorang yang Ruhy kenal yaitu Ian.
"Ruhy, gue minta maaf sama lo. Gue bener-bener menyesal, Ruhy." Ucap Ian pada Ruhy.
"Hm."
"Lo jangan cuek kayak gini dong, Hy."
"Hm."
"Ruhy, gue mohon maafin gue."
"Nggak perlu ada yang dimaafin." Ucap Ruhy yang beranjak dari tempat duduknya, tapi dengan cepat Ian pun memegang tangan Ruhy.
"Jangan pegang tangan gue." Ucap Ruhy dengan ketus dan menarik tanganya serta pergi meninggalkan Ian yang masih terdiam.
Sepulang sekolah, Ruhy bergegas menyelinap pergi dari Juno dan supirnya dengan cara menerobos pagar belakang sekolah. Dia pun pergi ke Panti Asuhan.
"Assalammualaikum." Salam Ruhy
"Wa'alaikumussalam. Eh nak Ruhy, mari masuk." Ucap penjaga panti itu.
"Langsung saja, Bu. Ini saya ada sedikit rezeki buat panti ini. Mohon diterima."
"Terimakasih banyak, nak. Kamu selalu kasih uang buat panti ini, memang kami selalu kekurang uang, dan bahkan akhir-akhir ini minim sekali donatur. Namun, setelah ada nak Ruhy panti ini kembali seperti dulu lagi. Semoga rezeki mu lancar iya, nak."
"Amin, kalau gitu saya pamit dulu."
"Nggak mau main sama anak-anak dulu?"
"Nggak, Bu. Saya masih ada kerjaan. Saya pamit, Wassalammualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Ruhy pun bergegas pergi ke RNT Resto dengan naik taksi.
"RUHY." Teriak Triano
"Hm."
"Jangan cuek gitu dong."
"Gue mau mandi dulu, diruangan gue."
"Gue temenin gimana?" Goda Triano
"Berani lo?" Ucap Ruhy dengan memberi tatapan tajam kearah Triano dan Ruhy pun pergi ke ruangannya.
Ruhy pergi ruangannya, ruangannya didesain seperti kamar walaupun tidak terlalu luas. Dia sering mandi, belajar dan tidur diruangannya itu. Tak heran jika, ada baju-bajunya dan beberapa buku disana.
**********
Aditya
"Ruhy, semangat iya hari ini hari pertama UKK. Kakak akan selalu dukung kamu. Dan Kakak akan selalu menantimu, ILY😘.
Itulah isi pesan pagi-pagi dari Aditya untuk Ruhy. Namun, Ruhy hanya membacanya dan tidak berniat untuk membalasnya.
"Ruhy." Teriak Tania
"Hm."
"Gimana kalau kita kayak dulu lagi, kita taruhan."
"Nggak."
"Ayolah Ruhy, iya gue tau pasti lo yang menang tapi kan buat seru-seruan aja." Rengek Tania
"Nggak." Ucap Ruhy yang memasuki ruangan dan meninggalkan Tania yang masih terdiam.
"Lo kenapa sih, Hy. Gue sedih tau lihat lo kayak gini." Batin Tania.
Hari demi hari berlalu dengan cepat. UKK Ruhy pun selesai, tinggal menunggu hasil.
Aditya yang selalu mengirim pesan dukungan pada Ruhy setiap hari tanpa henti, tapi tidak mendapat balasan apapun dari Ruhy.
Sedangkan Juno, setiap malam dia selalu menggedor-gedor pintu kamar Ruhy dan memanggil namanya karena Ruhy selalu pulang malam, tapi tidak mendapat sahutan apapun dari dalam. Juno pun frustasi dengan sikap Kakaknya yang acuh tak acuh padanya. Dia sangat rindu dengan Ruhy yang manja padanya.
Ian gimana? Jangan tanya dia. Dia malah semakin menjauh dari Ruhy, entah apa yang merasukinya. Bukannya berusaha minta maaf malah menjauh.
Pukul 20:00 tampak Juno sedang duduk diruang keluarga sambil menonton tv. Tiba-tiba..
"Pesanin Kakak tiket ke Bali." Ucap Ruhy dengan ketus.
"Akhirnya, Kakak mau bicara sama Juno." Ucap Juno yang berbinar-binar menatap Kakaknya.
"Maafin Kakak Juno." Batin Ruhy
"Pesanin tiket, nggak pakai lama." Ucap Ruhy dengan ketus.
"Kakak ngapain mau ke Bali?"
"Liburan."
"Sama Juno?"
"Sendiri."
"Yah, Kak. Masa Juno nggak diajak." Rengek Juno
"Aku sangat rindu suasana kayak gini bersama Juno." Batin Ruhy.
"Kalau nggak mau mesanin iya sudah. Kakak pesan sendiri aja." Ucap Ruhy dengan ketus.
"Iya, Kak. Oya mending Kakak pakai pesawat pribadi keluarga kita aja."
"Nggak usah. Kakak pengin naik pesawat biasa aja. Pesanin sekarang, kalau bisa lusa Kakak sudah bisa berangkat." Ucap Ruhy dengan beranjak pergi ke kamarnya.
"Kakak kenapa sih. Juno sedih lihat Kakak kayak gini." Batin Juno.
Mau tidak mau, Juno pun memesan tiket untuk Kakaknya menggunakan uang bulanan mereka berdua dari orang tuanya.
**********
Hari yang ditunggu tiba, akhirnya Ruhy akan pergi villa keluarganya yang ada di Bali.
"Kakak pergi." Ucap Ruhy pada Juno
"Kak, besok kita harus ambil rapot loh, Kak."
"Yang ambil kan Mama atau nggak Papa." Ucap Ruhy dengan ketus.
"Juno nggak yakin mereka bisa." Ucap Juno dengan lesu.
"Bi Nina kan ada, dia bisa ambilnya rapot."
"Iya, hati-hati Kak. Juno akan selalu mendukung disetiap langkah Kakak." Ucap Juno dengan memeluk Ruhy
"Maafin Kakak Juno. Maaf." Batin Ruhy
Seketika Ruhy pun melepas pelukannya dan bergegas memasuki taksi yang sudah sudah dia pesan. Dia tidak mau, jika Juno melihatnya meneteskan air mata.
Ruhy pun meneteskan air mata tanpa henti dengan melihat jauh keluar jendela taksi.
"Maafin Kakak, Juno. Kakak memang bukan Kakak yang baik buat kamu. Aku nggak pantes kamu panggil Kakak. Maaf Juno, Maaf." Batin Ruhy.