Different Love Story

Different Love Story
Extra Part 1



5 tahun sudah Ruhy dan Aditya membangun keluarga mereka.


"Mama, Tyara mau makan bakso." Ucap anak perempuan yang berumur 3 tahun kepada Mamanya yang tidak lain adalah Ruhy.


"Nanti biar Mama buatkan bakso untuk kamu, Sayang. Kalau kita beli kan nggak tau itu sehat apa nggak." Ucap Ruhy dengan lembut.


"Baiklah, Ma." Ucap Tyara dengan gemasnya.


Mereka berdua berada didalam mobil yang dikemudi oleh supir.


Ruhy membawa Tyara menuju ke Taman.


"Sayang, kamu mau Es Cream?" Tanya Ruhy saat melihat penjual Es Cream di Taman.


"Tyara boleh makan Es Cream dari penjual itu, Ma?" Tanya Tyara sambil menunjuk kearah penjual Es Cream.


"Boleh, Sayang."


"Asik, kalau gitu Tyara mau Es Cream rasa coklat sama vanila." Ucap Tyara dengan kegirangan.


"Baiklah, ayo kita beli."


"Ayo."


Ruhy membawa Tyara ke penjual Es Cream. Sesampainya di tempat penjual Es Cream, Ruhy dikagetkan dengan kehadiran Tito.


"Ruhy." Panggil Tito, sahabat Ian.


"Eh, Tito. Sudah lama nggak ketemu, gimana keadaan lo?" Tanya Ruhy.


"Gue baik kok, tapi Ian nggak baik-baik aja."


"Maaf, gue nggak nanya tentang keadaannya Ian." Ucap Ruhy yang tadinya tersenyum berubah menjadi datar.


"Tolong dia, Hy. Dia butuh lo sekarang."


"Butuh gue? Lo nggak salah? Setelah bertahun-tahun gue pendam rasa sakit yang pernah dia torehkan dihati gue, sekarang lo datang tiba-tiba dan bilang kalau Ian butuh gue? Otak lo dimana?" Ucap Ruhy yang sudah tidak bisa lagi bersikap tenang.


"Maaf. Tapi gue mohon, ikut gue sekarang." Ucap Tito dengan memelas.


"Gue nggak bisa."


"Gue mohon, Hy. Sekarang dia ada di.." Ucap Tito yang terpotong.


"Gue nggak peduli dia mau ada dimana. Yang jelas gue bukan siapa-siapanya dia, dan jangan pernah minta ke gue buat ketemu sama cowok brengsek itu lagi." Ucap Ruhy dengan meluapkan kemarahannya.


"Ruhy, dengar dulu penjelasan gue." Ucap Tito yang memohon pada Ruhy, namun tidak dihiraukan sama sekali oleh Ruhy.


"Ruhy, gue tau lo pasti benci banget sama Ian. Tapi, sekarang dia benar-benar butuh lo, Hy. Dia hanya ingin minta maaf sama lo. Kalau lo lihat kondisinya sekarang, pasti lo mau ikut gue buat ketemu sama Ian." Batin Tito.


Ruhy menggendong Tyara dan pergi dari tempat itu.


"Sayang, maafkan Mama. Karena Mama, kamu jadi dengar hal yang nggak perlu kamu dengar dan kita nggak jadi beli Es Cream." Ucap Ruhy yang lembut dengan memegang pipi anaknya.


"Nggak apa-apa, Ma. Tapi Tyara sedikit takut lihat Mama marah-marahi Om tadi. Soalnya ini pertama kalinya, Tyara lihat Mama marah-marah." Ucap Tyara.


"Iya, maafin Mama Sayang. Mending kita pulang aja, nanti di jalan Mama beliin Es Cream di Supermarket."


"Iya nggak apa-apa, Ma. Ayo kita pulang."


"Ayo."


Ruhy menggendong anaknya menuju mobil.


Sesampainya di rumah, Ruhy terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang.


Seorang wanita sudah duduk di ruang tamu rumahnya dengan satu kaki yang dia taruh diatas meja.


"Sayang, kamu ke kamar dulu iya." Ucap Ruhy dengan lembut sambil mengelus rambut Tyara.


"Iya, Ma." Ucap Tyara dengan melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


"Gue mau lo buat jauhin Aditya, dia itu nggak pantes sama lo." Ucap Sarah, anak dari Pak Gunawan. Pak Gunawan adalah salah satu pengusaha kaya yang bekerja sama dengan Perusahaannya Aditya.


"Apa hak lo nyuruh-nyuruh gue?" Tanya Ruhy dengan sikap yang masih datar.


"Jangan sombong, lo. Kalau lo nggak mau Perusahaannya Aditya bangkrut, lo harus jauhin dia." Ucap Sarah dengan penuh penekanan yang bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki untuk pergi dari rumah Ruhy.


"Gue cinta sama Aditya bukan karena harta, jadi gue nggak akan ninggalin dia hanya karena ancaman murahan lo." Ucap Ruhy yang bisa membuat langkah Sarah terhenti didepan pintu.


"Berarti lo egois. Lo nggak mau kan, ngelihat orang-orang yang lo sayang jadi menderita gara-gara keegoisan lo?" Ucap Sarah yang terus memojokkan Ruhy.


"Kalau lo mau bicara sama orang, lihat dulu tandingan lo. Lo itu nggak selevel sama gue maupun Aditya. Gue bisa buat Perusahaan Papa lo bangkrut dalam semalam."


"Itu nggak akan terjadi, karena Papa gue adalah pengusaha terkaya keempat di negara ini. Nggak mungkin akan terjadi."


"Berarti lo belum kenal sepenuhnya dengan gue. Lo hanya terobsesi dengan Aditya hingga lo menutup mata buat mencari tau siapa gue." Ucap Ruhy dengan senyumam sinis dan kedua tangannya yang dia lipatkan dibawah dadanya.


"Gue nggak peduli lo itu siapa, yang jelas gue hanya ingin mengetahui semuanya tentang Aditya. Dan lo adalah bakteri kecil yang harus gue singkirkan dari kehidupannya Aditya." Ucap Sarah sambil menunjuk-nunjuk wajah Ruhy.


"Gue nggak suka ditunjuk-tunjuk sama orang, apalagi sama lo dengan tangan kotor lo itu." Ucao Ruhy dengan menyingkirkan jari Sarah dari depan wajahnya.


"Jangan sok suci." Ucap Sarah.


"Kalau lo masih sayang sama nyawa lo, mendingan lo pergi sekarang. Kalau nggak, gue akan singkirin lo seperti gue singkirin nyamuk di tangan gue." Ucap Ruhy yang terkesan mengerikan dan dapat membuat Sarah pergi meninggalkan rumahnya.


"Kenapa hari ini, gue ketemu sama orang-orang yang nggak penting sih. Hah, pusing bamget kepala gue." Gerutu Ruhy sambil memasuki rumahnya.


Jam 7 malam, Aditya baru sampai di rumah.


"Sayang." Ucap Aditya yang disambut pelukan dadi Ruhy.


"Sayang, tadi ada Sarah kesini." Ucap Ruhy dengan manjanya.


"Dia buat ulah lagi?" Tanya Aditya.


"Iya, sedikit. Tapi aku bisa menangani nyamuk kecil itu."


"Bagus kalau gitu, jangan dengar apapun kata-kata yang keluar dari mulut dia iya, Sayang." Ucap Aditya sambil mencium puncak kepala Ruhy. Sedangkan Ruhy hanya mengangguk.


"Sayang, aku mau mandi. Jadi lepasin pelukannnya, kamu nggak bau kalau peluk-peluk aku?" Tanya Aditya.


"Nggak, aku lagi pengin peluk kamu kayak gini."


"Nantu dilanjut, aku mau mandi dulu." Ucap Aditya dan Ruhy pun melepas pelukannya.


"Iya sudah, aku siapin air buat kamu mandi."


"Iya, makasih Sayang."


"Itu sudah tugas aku."


Setelah mandi dan makan malam, Aditya dan Ruhy kini tidur diatas ranjang.


"Sayang." Ucap Ruhy.


"Ada apa?" Tanya Aditya.


"Kamu masih ingat sama Tito?" Tanya Ruhy dengan ragu.


"Masih, kenapa?"


"Tadi, saat aku sama Tyara di Taman, kita nggak sengaja ketemu. Terus dia bilang kalau Ian sedang membutuhkanku saat ini."


"Setelah bertahun-tahun dia menghilang, langsung tiba-tiba sahabatnya datang ke kamu langsung berkata seperti itu. Apa dia nggak punya otak?"


"Aku juga berpikir begitu, sampai amarahku nggak bisa aku tahan." Ucap Ruhy.


"Sayang,..