
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu, akhirnya Ruhy sampai di Villa keluarganya di Bali.
Ruhy memilih untuk membereskan pakaiannya dan mandi. Setelah itu, dia tertidur pulas.
Keesokan harinya, Ruhy bangun dan melakukan ritual paginya. Setelah itu, dia memilih untuk menikmati suasana villa dengan berbaring disamping kolam layaknya di Pantai.
Disisi lain, Juno yang khawatir dengan Kakaknya memilih untuk pergi berdiam diri di Perpustakaan selagi menunggu seseorang.
"Woy, Jun. Ruhy dimana?" Tanya Aditya yang baru datang ke Perpustakaan.
"Kakak ada di Bali." Ucap Juno
"Apa?" Teriak Aditya yang kaget.
"Ruhy ngapain di Bali?" Tanya Aditya
"Mungkin Kakak lagi pengin sendiri buat nenangin pikirannya."
"Ruhy sebenernya kenapa, Jun?"
"Gue juga nggak tau, gue sedih banget lihat sikap Kakak gue yang cuek ke gue." Ucap Juno yang ketus untuk menutupi kesedihannya.
"Gue juga sedih lihat Ruhy kayak gitu. Gimana kalau kita buat rencana."
"Rencana apa?"
"Kita harus cari tahu penyebab perubahan sikap Ruhy."
"Feeling gue, pasti nggak jauh-jauh masalahnya tentang Ian."
Deg...
"Kok Ian?" Tanya Aditya dengan heran.
"Maaf, gue nggak pernah cerita. Gue kira lo sudah tau. Kayaknya dulu Kakak gue suka sama Ian si playboy itu, sebelum dia kenal sama lo."
"Owh gitu. Iya sudahlah, masa lalu juga. Tapi kalau perubahan sikap Ruhy ini ada hubungannya sama dia. Habis dia ditangan gue." Ucap Aditya dengan serius.
"Gue dukung lo."
Akhirnya penerimaan rapot. Ruhy masih berada diperingkat pertama disusul Juno dan kemudian Tania.
**********
Ruhy yang masih menikmati suasan Villa nya pun beranjak pergi ke dapur.
"Bi, Bibi pulang aja. Biar saya masak sendiri, Bibi kesini kalau pagi aja buat bersih-bersih, soal masak biar saya sendiri." Ucap Ruhy pada ART yang selama ini mengurus villa.
"Baik, Non." Ucap Asisten Villa itu dan melangkah pergi meninggalkan Ruhy.
"Okay, mari kita masak." Gumam Ruhy.
Akhirnya Ruhy memasak makanan untuk dirinya sendiri. 30 menit berlalu akhirnya masakan Ruhy pun sudah jadi, dan dia menyantap makanannya dengan lahap, tapi sesekali dia memainkan ponselnya. Tiba-tiba Ruhy dikejutkan dengan foto yang dikirim seseorang entah siapa tidak dikenal Ruhy, yang membuat amarahnya semakin memuncak yaitu foto Ian yang sedang berpelukan dengan kekasihnya. Seketika itu, Ruhy mematikan ponselnya dan Ruhy menghancur seluruh benda didekatnya, dan dia beranjak pergi kekamarnya dengan amarah.
Didalam kamar, Ruhy teriak-teriak tidak jelas. Ruhy pun melempar semua barang yang ada dikamarnya, seperti vas bunga, bantal, guling bahkan kosmetik nya yang dia tata rapi dimeja rias.
"Gue harus bisa melupakan Ian, si playboy buaya itu. Gue harus bisa." Gumam Ruhy dalam amarahnya.
Hari pun berganti, alangkah terkejutnya Asisten villanya itu melihat kekacauan di dapur, ruang keluarga dan kamar Ruhy.
"Non, bangun." Ucap ART membangunkan Ruhy
"Ada apa, Bi?" Tanya Ruhy yang masih terpejam
"Bibi yang harusnya tanya sama Non, Non ada apa ini?"
"Nggak ada apa-apa, Bi. Tugas Bibi beresin semuanya." Ucap Ruhy dan bergegas pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai melakukan ritualnya, Ruhy memilih pergi keluar untuk mencari makan dan berwisata ke Pantai.
Setelah makan, Ruhy pergi ke Pantai untuk menenangkan pikirannya.
"Wah indahnya." Ucap Ruhy yang melihat Pemandangan Pantai.
Ruhy tampak begitu cantik, dan menarik sebagian orang untuk memandangnya.
"Permisi.." Ucap seseorang berbadan tinggi, putih dan tampan. Membuatnya menjadi bahan teriakan cewek-cewek di Pantai, tiba-tiba menghampiri Ruhy dan duduk disampingnya.
"Iya." Ucap Ruhy
"Bolehkah saya kenalan anda. Nama saya Bagas Puta Juna anda bisa panggil saya Bagas. Dan siapa nama anda?"
"Namanya mengingatkan ku pada Juno,." Batin Ruhy.
"Saya Ruhy." Ucap Ruhy dan berdiri pergi meninggalkan Bagas.
"Ruhy, nama indah. Eh, tapi kan aku belum minta nomer ponsel nya, Aish. Tapi aku akan cari tau soal dia. Dia sangat menarik." Batin Bagas.
**********
Sudah 2 minggu Ruhy berada di Bali, dan hari ini dengan berat hati, dia harus kembali ke Kota kelahirannya.
Sesampainya di Bandara, dia sudah ditunggu oleh Juno bersama orang tuanya.
"Tumben, Mama sama Papa ada waktu buat aku sama Juno." Batin Ruhy
Seketika, Juno pun memeluk Ruhy. Melihat adegan itu membuat orang tua mereka bahagia.
"Kak, Juno kangen tau sama Kakak." Ucap Juno dengan melepas pelukannya.
"Hm iya."
"Sayang. Kamu baik-baik aja kan?" Ucap Mamanya dan memeluk Ruhy.
"Iya, Ma." Ucap Ruhy sambil melepas pelukannya.
"Sayang, apa benar kamu menghancurkan barang-barang yang ada di villa?" Tanya Papanya dengan lembut.
"Maaf, Pa." Ucap Ruhy dengan menunduk
"Kamu kenapa, Sayang? Kalau ada masalah cerita sama Mama, Papa dan Juno." Ucap Mama
"Ruhy nggak apa-apa. Ruhy hanya pengin menenangkan pikiran Ruhy aja." Ucap Ruhy dengan berjalan menuju mobil mereka.
Sesampainya dirumah, Ruhy pun bergegas pergi kekamarnya untuk membersihkan badannya. Karena kelelahan, akhirnya Ruhy pun tertidur.
Keesokan paginya, Ruhy mengaktifkan ponselnya yang selama dia di Bali, dia matikan ponselnya. Alangkah terkejutnya dia menerima 50 pesan setiap hari dari Aditya, jadi jika dihitung selama 2 minggu menjadi 700 pesan dari Aditya. Ruhy hanya membaca secara detail pesan dari Aditya tanpa berniat untuk membalasnya.
Setelah itu Ruhy bergegas melakukan ritual paginya dan pergi ke Mall sendirian dengan mobilnya tanpa pamit ke Juno.
Di Mall, Ruhy membeli peralatan sekolah untuknya dan Juno. Dia juga membeli beberapa pakaian dan 2 pasang sepatu untuknya dan Juno.
"Duh lapar banget, dari pagi belum makan. Dan ini sudah jam 2 siang, lebih baik aku cari makan dulu deh sebelum pulang." Gumam Ruhy.
Ruhy melangkah kaki menuju Restoran yang ada didalam Mall. Ruhy pun memesan lumayan banyak makanan untuk dirinya, dia pun melahap makanannya tanpa sisa. Saat Ruhy ingin bergegas pergi dari Mall, tiba-tiba tangan Ruhy ditarik oleh seseorang.
"Ruhy," Ucap seseorang yang seketika memeluk Ruhy yaitu Aditya.
"Ruhy, Kakak kangen banget sama kamu." Ucap Aditya
"Ruhy, jangan bersikap kayak gini sama Kakak. Kakak sedih lihat Ruhy kayak gini." Lanjut Aditya.
"Maaf, Kak." Ucap Ruhy yang melepas pelukannya dan beranjak pergi meninggalkan Aditya.
"RUHY." Teriak Aditya yang memanggil Ruhy yang sudah berjalan menjauh.
"Ruhy, Kakak akan melakukan apapun agar kamu bisa kayak dulu lagi." Batin Aditya.
"Maaf Kak. Ruhy nggak pantes bersama Kakak." Batin Ruhy.
Sesampainya didalam mobil, tangisan Ruhy pecah seketika melihat ketulusan cinta dimata Aditya. Ruhy merasa bersalah dengan sikapnya, tapi pikirannya masih saja penuh dengan amarah pada Ian.
"Oke, aku harus move on. Aku harus membalas dendam atas rasa sakitku ini." Gumam Ruhy dengan menghapus air matanya dengan kasar.