
"Ruhy.." Panggil seseorang, dengan refleks Ruhy pun menoleh ke belakang.
"Owh, ada apa Nadin? Katanya tadi gue dipanggil Bu Hanin deh." Ucap Ruhy dengan berpura-pura polos.
"To the point aja. Sekarang pahlawan lo sudah lulus. Jadi gue bisa leluasa buat lo sengsara." Ucap Nadin dengan penuh penekanan.
"Owh ada teman munafik ternyata." Ucap Ruhy dengan tersenyum sinis.
"Gue nggak rela, lo bisa bahagia bersama Kak Aditya. Karena gue suka sama dia." Bentak Nadin
"Kalau Kak Aditya nggak suka sama lo, apa yang akan lo lakuin." Ucap Ruhy dengan datar.
"Gue akan lakuin apa pun agar Kak Aditya jadi milik gue, salah satu langkah terkecilnya adalah habisin lo." Bentak Nadin.
"Owh gitu. Lo mau bunuh gue? Pikir-pikir lagi deh, sebelum nantinya lo menyesal." Ucap Ruhy yang masih tenang.
"Gue nggak akan mundur." Ucap Nadin
"Woi kalian sini." Teriak Nadin dan datanglah 4 laki-laki memakai pakaian seperti berandal, 2 orang itu Ruhy lihat mereka di Restonya bersama Nadin, tapi 2 orang lagi adalah anak buah mereka berdua.
"Owh gini cara lo?" Tanya Ruhy.
"Kalau lo punya nyali, lo habisin gue dengan tangan lo sendiri." Bentak Ruhy
"Buat apa gue mengotori tangan gue hanya untuk habisin lo. Mending gue suruh orang-orang gue." Ucap Nadin dengan sinis.
"Tunggu apalagi, serang dia." Bentak Nadin.
Disisi lain Juno dan Tania masih bersembunyi.
"Gue harus tolongin Kakak." Ucap Juno
"Lo mau Kakak lo marah sama lo, karna lo nggak turutin kemauannya. Lebih baik kita diam aja disini, merekam semuanya." Ucap Tania dan membuat Juno terdiam menurut.
"Serang dia." Teriak Nadin
Para orang suruhan Nadin pun menyerang Ruhy satu persatu. Mereka nggak kenal dia perempuan atau bukan, karna mereka sudah dibayar jadi harus melakukan pekerjaannya.
Ruhy dengan lihay nya berkelahi dengan 4 orang suruhan Nadin. Dikejauhan Juno dan Tania sangat kagum dan heran dengan cara Ruhy berkelahi. Sedangkan Nadin, sedikit bergetar melihat orang-orang suruhannya sudah tumbang ditangan Ruhy.
"Kalian pergi apa gue habisi disini." Bentak Ruhy pada 4 orang suruhan Nadin. Dan membuat 4 orang suruhan Nadin berlari memanjat pagar belakang sekolah untuk kabur.
"Hay, Nadin. Gimana pertunjukkan yang lo lihat." Ucap Ruhy yang mendekati Nadin yang terdiam walaupun Ruhy sudah babak belur dan terlihat darah mengalir di kening dan disudut bibirnya.
"Lo jangan mendekat." Ucap Nadin yang sudah gemetar.
"Owh gitu, baiklah gue nggak dekati lo. Lo mau kabur atau gue habisin disini?" Ucap Ruhy dengan senyum yang mengerikan dan memainkan pisau yang dia dapat dari salah satu orang suruhan Nadin.
Seketika itu, Nadin langsung berlari terbirit-birit entah kemana karena Nadin sudah ketakutan luar biasa dengan aksi Ruhy yang dia lihat tadi.
Tiba-tiba..
BRUK...
Ruhy pingsan karena dia kelelahan dan kehabisan darah..
"Kakak." Teriak Juno yang berlari dengan Tania dari tempat persembunyian mereka menuju tempat Ruhy pingsan.
Juno langsung membawa Ruhy ke Rumah Sakit, sedangkan Tania memperlihatkan video kejadian dibelakang sekolah pada guru-guru disana. Guru-guru pun marah dan tidak habis pikir dengan perilaku Nadin.
Setelah semuanya terbongkar, Tania menuju ke Rumah Sakit. Diperjalanan Tania menelfon Aditya bahwa Ruhy berada di Rumah Sakit dan Tania pun menceritakan semuanya kepada Aditya dari awal mereka tau di RNT Resto sampai Ruhy dibawa ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, Tania melihat Juno yang menangis dibangku ruang tunggu.
"Jun, lo yang sabar iya. Ruhy pasti baik-baik aja." Ucap Tania dengan mengelus punggung Juno
"Makasih, Tan. Lo selalu ada buag gue, disaat gue senang maupun susah." Ucap Juno yang tiba-tiba memeluk Tania.
"Iya, Jun." Ucap Tania yang membalas pelukan Juno.
"Dok gimana keadaan Kakak saya?" Tanya Juno
"Dia hanya kelelahan dan kehilangan lumayan banyak darah. Tapi kami sudah menanganinya. Kekebalan tubuhnya sangat bagus jadi dia bisa mengatasi keadaannya agar tidak kritis." Ucap Dokter.
"Makasih, Dok. Apa boleh, kami masuk??." Tanya Juno
"Boleh, tapi jangan mengganggu istirahat pasien." Ucap Dokter
"Baik, terimakasih Dok." Ucap Tania
"Sama-sama. Kalau gitu saya permisi." Ucap Dokter melangkah pergi setelah mendapat anggukan dari Juno dan Tania.
Juno dan Tania pun memasuki ruang rawat Ruhy. Tangis Juno dan Tania pun pecah melihat Ruhy terbaring lemas diatas ranjang Rumah Sakit.
Ceklek..
Aditya yang baru datang langsung menghampiri ranjang Ruhy tanpa menghiraukan Juno dan Tania yang sedari tadi berdiri disamping ranjang Ruhy. Tangis Aditya pun pecah disana.
"Ruhy, kenapa kamu buat Kakak frustasi dan menangis kayak gini. Kakak nggak tega lihat kamu seperti ini, Ruhy." Ucap Aditya yang menangis dengan mencium tangan Ruhy.
"Pelan-pelan, Dit. Jangan ganggu Kakak, dia lagi istirahat." Ucap Juno dengan menghapus air matanya.
"Tapi gue nggak tega lihat Ruhy terbaring lemas kayak gini." Ucap Aditya dengan menatap Juno
"Iya, gue tau Dit." Ucap Juno
"Lo harus sabar, Kak. Ruhy nggak suka lihat orang yang dia sayang menangis." Ucap Tania yang menghibur Aditya
"Iya, gue nggak akan nangis. Gue harus bisa." Ucap Aditya dengan menghapus air matanya.
"Gue akan balas dendam, karena dia sudah buat Ruhy kayak gini." Ucap Aditya yang penuh penekanan.
"Nggak usah, Kak. Pihak sekolah udah ambil tindakan kok." Ucap Tania
"Tapi gue dukung Adit, gue nggak akan rela sebelum dia juga merasakan apa yang Kakak gue rasakan." Ucap Juno yang menahan amarah.
"Ja..ngan ba..las den..dam." Ucap Ruhy yang terbata-bata karena dia baru sadar.
"Kak."
"Ruhy, kamu sudah sadar?" Tanya Aditya
"Aku panggil Dokter iya." Ucap Tania.
"Jangan. Gue baik-baik aja kok. Nggak usah panggil Dokter" Ucap Ruhy yang masih lemas dan membuat Tania menurutinya.
"Berjanjilah kalian, kalian nggak akan balas dendam sama Nadin." Lanjut Ruhy
"Kenapa Kakak terlalu baik sih." Ucap Juno
"Kakak nggak mau ada dendam diantara kita. Dendam itu nggak baik. Ruhy mohon berjanjilah kalian untuk tidak balas dendam. Kita lupain semua yang terjadi." Ucap Ruhy.
"Baiklah, demi Ruhy. Kakak berjanji nggak akan balas dendam sama Nadin." Ucap Aditya
"Juno juga janji, Kak." Ucap Juno dengan terpaksa.
"Sini dong, Ruhy mau peluk." Rengek Ruhy. Sedangkan Aditya dan Juno hanya terheran melihat tingkah Ruhy dan menurutinya. Tania hanya tersenyum bahagia melihat mereka bertiga berpelukan.
"Sini, Tan. Gue juga mau peluk lo." Ucap Ruhy yang sudah melepas pelukannya dari Aditya dan Juno. Tania pun dengan segera memeluk Ruhy.
"Makasih iya, Tan. Lo sudah jadi sahabat gue." Ucap Ruhy
"Iya, Hy. Gue senang banget bisa jadi sahabat lo." Ucap Tania dengan melepas pelukannya.
Ceklek...