Different Love Story

Different Love Story
Gugup



"Ehem.." Suara deheman seseorang menghentikan aktivitas mereka.


Seketika Ruhy dan Aditya menoleh ke sumber suara.


"Eh, Bu Hanin. Bu Hanin ngapain disini?" Tanya Aditya


"Eh, Bu Hanin. Bu Hanin ngapain disini?" Tiru Bu Hanin dengan suara yang dibuat-buat.


"Sudah yang mainnya?" Tanya Bu Hanin dengan tegas.


"Kita nggak main kok, Bu. Kita hanya bercanda doang. Masa iya belajar terus." Ucap Aditya dengan cengengesan sedangkan Ruhy hanya diam.


"Iya, istirahat boleh. Tapi ingat, ini itu di Perpustakaan, masa kalian tertawa kencang sekali." Ucap Bu Hanin dengan tegas.


"Maaf, Bu. Tapi kalau diluar Perpustakaan boleh kan?" Ledek Aditya


"Aditya." Teriak Bu Hanin yang menahan amarah.


"Oya, Bu. Bu Hanin kan tadi bilang kalau lagi berdua harus hati-hati kan." Ucap Aditya.


"Iya,."


"Iya kan, takutnya ada yang ketiga."


"Iya,."


"Nah itu, Bu Hanin tau. Kan saya sama Ruhy lagi berdua, Bu. Jadi yang ketiga?"


"Setan."


"Bukan saya iya, Bu yang bilang." Ucap Aditya dengan cengengesan sedangkan Ruhy hanya tertunduk menahan tawa.


"Adityaaa.." Teriak Bu Hanin


"Jangan teriak-teriak, Bu. Ini di Perpustakaan." Ucap Aditya dan Bu Hanin pun pergi meninggalkan mereka.


"Hahaha.." Tawa Aditya setengah melihat Bu Hanin pergi.


"Ih, Kakak jahat banget sama Bu Hanin." Ucap Ruhy


"Maaf maaf, salah sendiri tadi dikelas mu Bu Hanin ledek Kakak. Kan Kakak jadi malu."


"Tapi nggak gitu juga, Kak."


"Iya maaf. Nanti Kakak kasih Bu Hanin hadiah deh sebagai permintaan maaf."


"Nah, boleh juga itu."


**********


Hari demi hari berlalu, inilah hari yang ditunggu Aditya dan Ruhy.


Tepat dihari ini, Ruhy dan Aditya mengikuti Olimpiade yang diselenggarakan setiap tahun disekolahnya yang diikuti berbagai sekolah di Kota ini.


Terlihat Ruhy dan Aditya duduk berdampingan di Aula. Ruhy yang dari tadi gugup, dia selalu menggenggam tangan Aditya dengan erat. Aditya pun membalas genggaman Ruhy untuk meredakan kegugupannya.


10 menit lagi, Olimpiade akan dimulai. Mereka memasuki ruangan masing-masing. Karena setiap kelas berbeda ruangan.


Ruhy pun semakin gugup setelah ditinggal Aditya, tapi dia meredam kegugupannya itu dengan tekad yang sudah dia buat sendiri yaitu "Ingin melihat Mama dan Papa nya bangga akan pencapaiannya."


Olimpiade dimulai, Ruhy pun mengerjakan soal dengan tenang dan lancar. Entah kenapa, jika Ruhy sudah fokus dipelajaran, semuanya terlihat baik-baik saja seperti Ruhy yang tak pernah memiliki masalah.


Tidk terasa waktu mengerjakan pun selesai, Ruhy pun menghampiri Aditya di Kantin. Karena sebelum Olimpiade dimulai, mereka janjian akan bertemu dikantin jika sudah selesai.


Terlihat Aditya sudah duduk di kantin dan sudah memesan makanan.


"Huft. Kak." Ucap Ruhy yang membuang nafas lega.


"Gimana? Lancar?" Tanya Aditya dengan mengelus rambut Ruhy.


"Lancar, Kak."


"Bagus kalau gitu."


"Kakak gimana?"


"Lancar jaya." Ucap Aditya dengan sok-sokan.


"Hahaha, iya percaya deh."


"Haha okelah. Sudah makan yuk, Kakak sudah pesanin Bakso sama Drink Chocolate."


"Iya, Makasih Kak."


Mereka pun makan bersama.


"Oya, Kak. Soal Bu Hanin gimana?" Tanya Ruhy


"Aman, tenang aja. Kakak sudah kasih hadiah dompet kesukaan Bu Hanin. Jadi, Bu Hanin nggak marah lagi sama Kakak."


"Emang Kakak tau, dompet yang disuka Bu Hanin?"


"Kemarin nggak sengaja lihat Bu Hanin di Mall, dia lagi pilih-pilih dompet gitu. Saat dia lihat dompet yang buat senang dia kayaknya mau beli, tapi setelah melihat harga dompetnya jadi nggak jadi beli."


"Kakak, kemarin ke Mall ngapain? Dan harga dompetnya emang berapa, Kak?"


"Aww.. sakit Kak. Jawab aja, Ruhy kepo tau." Ucap Ruhy dengan cemberut.


"Iya, Kakak jawab. Tapi jangan cemberut gitu dong."


"Iya,."


"Kakak ke Mall itu mengantar Mama Kakak mau beli Tas incarannya. Dan soal harga dompet lumayan sih harganya, 1 jutaan." Ucap Aditya dengan melahap Bakso nya.


"1 juta?" Kaget Ruhy


"Dompet apaan itu, harganya kok 1 juta?" Lanjut Ruhy.


"Nggak tau sih. Kamu mau?" Tanya Aditya


"Iya, nggaklah Kak. Menghamburkan uang tau nggak. Dompet kan sama aja, nantinya juga ditaruh didalam tas dan nggak bakal kelihatan."


"Hemat dan bijak dalam mengatur keuangan. Makin kagum dan cinta aja sama kamu, Hy Ruhy." Batin Aditya.


"Iya, juga sih."


**********


Hari ini adalah hari sekolah seperti biasa, tapi hari ini akan menjadi hari yang mendebarkan bagi Ruhy dan Aditya yaitu pengumuman pemenang Olimpiade.


Saat ini jam istirahat. Aditya, Ruhy, Juno, dan Tania sedang berada dikantin.


"Kak, gimana pengumumannya?" Tanya Juno


"Belum tau," Ucap Ruhy dengan lesu


"Tenang aja, pasti usaha nggak akan mengkhianati hasil kok." Ucap Tania


"Iya, gue tau itu. Tapi.."


"Sudahlah, Ruhy. Kamu tenang aja, apapun hasilnya." Ucap Aditya dengan mengelus rambut Ruhy dan mendapat senyuman dari Ruhy


"Juno senang Kak, ada malaikat pelindung untuk Kakak selain Juno. Semoga Kakak nggak akan larut dalam kesedihan." Batin Juno


"Ehem, sudah dong yang romantisan-romantisannya, jiwa jombloku meronta-ronta nih." Ledek Tania.


"Hahaha.. gue juga jomblo kali." Ucap Ruhy.


"Kode itu Dit." Ledek Juno.


"Siplah." Ucap Aditya dengan mengacungkan jempolnya.


"Apaan sih kalian ini." Ucap Ruhy dan mendapat tawa dari mereka bertiga.


"RUHY.. ADITYA..." Teriak seseorang yang berada di depan pintu masuk kantin, dan seketika semua mata tertuju padanya kecuali sang pemilik nama, malah menunduk dan saling menatap tanpa berniat untuk melihat siapa yang memanggil mereka.


"Aduh, kayaknya Kakak tau siapa yang manggil." Bisik Aditya.


"Iya, Kak. Ruhy juga kayaknya tau." Balas Ruhy


"Kamu tenang okay." Ucap Aditya dan mendapat anggukan dari Ruhy.


"Kalian ngapain sih, dipanggil tuh." Ucap Juno


"BU, DISINI NIH RUHY SAMA KAK ADITYA." Teriak Tania sambil melambaikan tangannya.


"Ngapain sih Si Tania, malah teriak manggil orangnya. Habis mungkin obatnya." Batin Ruhy.


Guru yang dari tadi melihat-lihat seisi kantin pun berjalan menuju sumber suara yang memberitahunya keberadaan Ruhy dan Aditya.


Guru itu tepat berdiri dibelakang Ruhy dan Aditya yang tengah menunduk.


"Ruhy.. Aditya." Ucap Guru itu dengan nada yang lembut tapi membuat orang ngeri mendengar ucapannya.


1 detik..


2 detik..


3 detik..


5 detik..


"RUHY, ADITYA." Teriak guru itu dan membuat seisi kantin menoleh kearahnya.


"Eh, Bu Hanin ada apa, Bu?" Tanya Aditya dengan gugup.


"Eh, Bu Hanin ada apa, Bu?" Tiru Bu Hanin


"Kalian nggak dengar apa pura-pura nggak dengar? Ibu sudah panggil kalian, tapi nggak kalian jawab."


"Maaf, Bu. Habisnya ngeri kalau liat Ibu marah." Ucap Aditya


"Huh, okay sabar sabar. Untung kamu sudah buat Ibu senang." Ucap Bu Hanin


"Iyalah senang, dapat dompet mahal, gratis pula." Batin Ruhy.


"Senang?.."