Dear You

Dear You
Namaku




.


.


.


Tubuh gadis itu berkeringat dingin,  ia menggumamkan nama seseorang yang tak terdengar jelas. Suaranya begitu kecil dan terdengar lemah.


Sang pria yang menyadari hal itu hanya bisa menatapnya dalam diam. Lalu salah satu tangannya memegang pergelangan tangannya dengan ragu. Takut, sang gadis akan terbangun.


"Kenapa kau terlihat gelisah?" Gumam pria itu dengan raut wajah yang khawatir lalu ia mengecup telapak tangan gadisnya dengan lembut.


"Jangan khawatir. Aku akan selalu disisimu sayang." Ucapnya pelan lalu tersenyum dan mulai menaiki ranjang untuk tidur bersama sang gadis. Ia meraih tubuh kecil itu kedalam pelukannya. Sepertinya, gadis itu akan sadar keesokan harinya. Terbukti dari gumamannya yang tak terdengar lagi.


••🌷🌷••


Jiyoung merasa tubuhnya seperti dijepit, gerakannya seperti dihalangi sesuatu. Lalu terdengarnya dengkuran halus, membuat matanya langsung terbuka dengan lebar. Astaga! Ia baru ingat dengan kejadian malam itu.


Ia melirik sepasang tangan kekar yang tengah mendekapnya dengan sangat erat. Pria gila itu masih terlihat sangat pulas. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dan ketakutannya muncul kembali.


Ia berusaha sepelan mungkin menyingkirkan tangan kokoh tersebut. Sambil memejamkan mata, ia juga berdo'a semoga Tuhan masih mengijinkannya pergi dari pria itu.


"Kau mau kemana?" Seketika jantung Jiyoung seperti berhenti berdetak. Dekapan tangan yang sudah berhasil ia singkirkan, kini malah semakin kencang. Dengan mengumpulkan semua rasa keberaniannya ia pun mulai menatap mata pria itu yang terlihat tajam saat memandanginya. Mungkin, pria itu merasa kesal saat dirinya berusaha menghindar tadi.


"Ak-aku.. Aku haus." Sial! Kenapa malah kalimat itu yang harus ia keluarkan?


Tiba-tiba raut wajah pria itu melembut, pelan ia mengusap rambutnya dan tersenyum. Lalu Jiyoung bernafas lega saat rengkuhan yang terasa mematikan itu terlepas.


"Minumlah." Tawar pria itu saat sudah memegang segelas air putih. Jiyoung yang masih terkejut dengan situasi ini terlihat masih belum tersadar. Sampai pria itu menggenggam pundaknya dengan lembut dan menatap mata indah milik Jiyoung.


Jiyoung yang ditatap seperti itu langsung merebut gelas tersebut dan meminumnya dengan cepat.


"Pelan-pelan." Ujar pria itu merasa khawatir. Benar saja, Jiyoung tersendak saat meminum air tersebut. Dengan cepat pria itu mengambil tisu untuk membersihkan sisa air disekitar mulut Jiyoung. Tapi hal itu langsung ditepis oleh Jiyoung. Tidak. Ia tak butuh bantuan pria gila itu.


"Jika sudah, segeralah kebawah untuk sarapan. Ingat. Aku menunggumu." Kepalan tangan pria itu semakin kuat karena tindakan Jiyoung barusan tapi amarahnya yang meluap itu ia tahan sebisa mungkin. Ia tak ingin gadisnya merasa takut dengannya lagi.


Jiyoung yang merasa pria itu tengah menahan amarahnya. Hanya bisa menggenggam selimut kasur yang tengah ia duduki dengan kuat. Genggamannya semakin kuat dan mulutnya terkatup menahan rasa sesak didadanya. Ia hanya ingin pulang dari sini.


Matanya menelusuri kamar yang telah ia singgahi. Kamar ini bernuansa lebih hidup daripada sebelumnya. Luas kamar ini juga hampir sama dengan yang sebelumnya, sama-sama besar.


Ada berbagai macam arsitektur kuno menghiasi dinding dan juga sudut kamar. Lalu dari arah sini juga terdengar deburan ombak yang cukup kuat. Matanya sedikit membulat saat menyadari hal ini.


Dengan ragu, ia mulai beranjak dari kasur menuju balkon kamarnya. Hamparan pemandangan yang terlihat dari rumah mewah berlantai dua tersebut membuat dirinya sangat terkejut.


"Astaga! Apa ini resort mewah?" Gumam Jiyoung tak percaya. Saat melihat pemandangan yang tersaji didepan matanya. Lihatlah. Bagaimana ia tak terkejut saat menyadari jika rumah megah ini berdiri diatas bukit dan menyajikan dengan begitu tepat hamparan laut dan lokasi pantai yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


Gila! Ini semua sangat gila!


Kemana pria itu membawanya sekarang?


Jika seperti ini, pupus sudah harapannya untuk pulang. Daerah ini seperti tak tersentuh oleh orang lain. Semuanya bisa ia lihat dari lantai dua ini. Dimana, hanya rumah megah ini saja yang berdiri dan tak ada tanda-tanda kehidupan warga sekitar sini. Seperti, daerah ini hanya milik seseorang.


"Jiyoung." Namanya dipanggil dengan nada yang terdengar begitu berat. Nafas pria itu bahkan terdengar. Ia langsung membalikkan badannya dan menemukan raut wajah pria itu begitu dingin. Bodoh. Ia lupa telah menghabiskan waktu begitu lama disini.


"Bukankah aku sudah menyuruhmu kebawah?" Tanyanya dengan nada kesal. Jiyoung tanpa sadar memundurkan langkahnya saat pria itu semakin mendekatinya. Ia bisa melihat seringaian pria itu. Matanya langsung memejam saat merasa pria itu terus saja melangkah maju dan tak peduli dengan ketakutannya saat ini. Jiyoung mengumpat dalam hati. Ia yakin pria itu pasti sadar jika dirinya tengah ketakutan.


"Jiyoung..." Ujar pria itu lagi. Ia benci saat namanya dipanggil oleh pria tersebut.


"Ka-kau.." Ujar Jiyoung kelu. Mulutnya terasa sulit untuk berbicara jika sudah berhadapan dengan pria ini. Rasanya ia selalu merasa ketakutan setiap saat. Apalagi, jika tubuhnya disentuh seperti ini. Walaupun hanya sebuah pelukan.



"Kau laparkan? Ayo kebawah." Rengkuhan pria itu semakin erat. Jiyoung ingin protes tapi pria itu sudah menariknya untuk segera kebawah. Mau tak mau badannya yang lemah mengikuti langkah itu dengan pelan. Benar. Ia sudah tak punya tenaga untuk melawan.


••🌷🌷••


"Makanlah yang banyak. Kau tau? Tubuhmu semakin kurus dari terakhir kali aku melihatmu." Pria itu menaruh beberapa macam makanan kepiringnya. Bahkan piringnya kini terlihat penuh. Astaga! Bagaimana bisa ia menghabiskan ini semua?


Sehun tertawa kecil saat melihat ekspresi terkejut Jiyoung karena piringnya kini begitu penuh dengan makanan. Lalu memandang wajah Jiyoung yang merasa kesal membuatnya begitu senang. Percayalah. Wajah Jiyoung yang terlihat kesal membuat gadis itu semakin cantik saja dan ia selalu merasa jatuh hati kepadanya. Tidak. Ia memang selalu jatuh hati kepada gadis itu setiap hari dan mulai saat ini ia dan Jiyoung akan selalu bersama selamanya.


Ia yakin jika Jiyoung tak akan pernah pergi meninggalkannya. Karena ia yakin jika tempat ini tak mudah untuk ditinggalkan. Tempat ini adalah miliknya. Tak ada yang tau. Lalu tak mungkin ada warga sekitar yang tinggal daerah ini karena memang semua tempat ini adalah miliknya. Tempat khusus yang ia sediakan hanya untuk Jiyoungnya.


"Aku tak yakin bisa memakan semuanya. Aku memang lapar tapi tak mungkin aku memakan semua ini." Ujar Jiyoung tiba-tiba. Membuat Sehun mengeryitkan alisnya saat mendengar komentar Jiyoung. Seulas senyum ia tunjukkan dan perlahan tangannya mengusap lembut rambut Jiyoung. Memang, Sehun sengaja menyuruh Jiyoung duduk bersebelahan dengannya. Karena ia selalu ingin didekat Jiyoungnya.


Suapan tangan Jiyoung terhenti karena kelakuan pria itu. Bukan takut tapi karena tindakan pria itu yang ia rasa begitu tulus.


"Habiskanlah sebisamu. Jika sudah, sebaiknya kau beristirahat lagi. Aku yakin kau masih belum pulih." Ujarnya lalu mulai beranjak dari duduknya. Jiyoung terus menatap kepergiannya. Mencari tau kemana dia pergi. Tubuhnya tersentak saat tiba-tiba pria itu berbalik dan berkata..


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Namaku Oh Sehun dan panggillah namaku mulai sekarang."


TBC