
.
.
.
Perumahan Elite Gangnam.
Woo Yeon terperangah saat dirinya sudah melangkahkan kaki dirumah ini, matanya masih saja menatap kagum akan desain eksterior dan interior rumah tersebut.
Wah. Sebenarnya siapa sosok pria yang tengah memenjarakan Jiyoung? Setelah membaca hampir semua isi catatan itu dan tak sengaja menemukan alamat dimana Jiyoung berada saat ini, ia dengan berani menyamar sebagai jasa kebersihan halaman dirumah yang sangat luas ini.
"Tuan Yi?" Yeon menoleh saat nama samarannya dipanggil. Membuat ia menatap kesalah satu pengawal yang bertugas dengan ekspresi biasa.
"Apa halaman depan sudah dibersihkan semua?" Yeon menunjuk mesin pemotong rumput.
"Yah. Berkat bantuan mesin pemotong rumput dirumah ini yang sangat canggih. Maaf, sepertinya saya akan istirahat sebentar sebelum membereskan halaman belakang." Pengawal yang diketahui bernama Leetuk itu, menganggukkan kepalanya mengerti. Pasti pekerja itu masih merasa lelah. Yah. Mengingat betapa luasnya halaman rumah ini. Ah, jika begini Leetuk jadi tak berminat jika mempunyai rumah super besar seperti ini. Yah. Jika sangat kaya seperti Tuan Sehun, mungkin menggaji beberapa pekerja tambahan hanya untuk mengurus rumah tak masalah tapi baginya biaya lain-lain tersebut pasti akan sangat menguras isi sakunya.
"Yah. Kau dan yang lainnya bisa beristirahat dulu. Oh iya, jika ingin minum kalian bisa ambil didapur khusus pelayan." Setelah mengucapkan hal tersebut, lantas pria itu melangkahkan kakinya kembali untuk mengitari sekeliling rumah untuk tetap menjaga keamanan rumah ini.
"Yi, aku dan yang lain akan langsung kedapur untuk mengambil cemilan dan minuman. Kau mau ikut?" Ajak beberapa orang yang mengenakan baju sama seperti dirinya. Ternyata mereka menghampirinya. Mendengar hal tersebut Yeon pun mendudukkan dirinya direrumputan.
"Tidak, kalian saja dulu. Aku akan disini sebentar." Yeon mengusap keringat diwajahnya dengan handuk.
"Haha... Sepertinya kau sangat lelah. Yah. Memang mencari uang itu sangat sulit bukan? Beruntunglah kau bisa ikut kerja part time disini karena pemilik rumah ini menggaji para pekerja dengan harga tinggi. Ah, aku jadi iri dengan para pekerja tetap disini. Pasti mereka di gaji lebih besar dari kita." Ucap orang tersebut kepada Yeon dan diangguki oleh pria itu, tanda setuju.
"Setelah selesai istirahat sebaiknya kau cepat menyusul kami, ok? Karena kita masih harus menyelesaikan yang lainnya."
"Tentu." Yeon menyahut dan mulai merebahkan tubuhnya diatas rerumputan. Ah, memang benar jika rumah ini sangat luas. Omong-omong hampir ia seharian disini tapi kenapa tak pernah mendengar ataupun melihat gadis itu?
Setelah menyadari hal tersebut, Yeon beranjak dari posisi tidurnya dan menatap sekitar. Sepi. Untunglah, dengan begitu ia bisa berkeliling rumah ini sebelum waktu istirahatnya habis.
Dengan berjalan sangat santai ia mulai memasuki rumah mewah ini dan berusaha menemukan keberadaan Jiyoung. Ia yakin, setidaknya gadis itu ada didalam kamarnya? Maka, hal pertama yang harus ia lakukan adalah menemukan kamar gadis itu.
••🌷🌷••
Mata Jiyoung masih saja terpejam, pria yang sedari tadi menunggunya sejak kemarin seperti tak kenal lelah untuk menjaganya.
"Jiyoung..." Lirih Sehun saat menatap wajah Jiyoung yang masih saja terlihat pucat. Ia memegang tangan gadis itu, meraih lalu mengecupinya dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa kau selalu membuatku khawatir hmm?" Ujar Sehun yang merasa khawatir akan keadaan gadis itu.
"Tuan Sehun, maaf. Nona Nara ingin berbicara dengan anda didepan." Sehun yang sejak beberapa jam lalu masih betah pada posisi duduknya disamping kasur, langsung mengumpat kasar saat ketenangannya bersama Jiyoung merasa terusik.
"Apa dia tak tau jika aku masih menunggu Jiyoung tersadar?" Desis Sehun, yang sepertinya enggan untuk beranjak dari sana.
"Katanya, ini masalah tentang investasi perusahaan dan ini sangatlah penting." Ujar sang sekretaris memberikan pengertian agar Sehun sebaiknya menemui kakaknya itu sebentar saja.
"Baiklah. Dan sebaiknya kau urus kepulangan Jiyoung besok karena dia lebih baik jika dirawat dirumah saja. Kau tau? Aku merasa akan kehilangan Jiyoung jika terus berada dirumah sakit ini." Sehun nampak melirik sekilas dokter itu lagi dan tentu saja dokter tersebut hanya terdiam dan tak memberikan reaksi apapun saat mendengar kalimat pria itu.
"Kau boleh memeriksanya, tapi sekretaris Kris akan tetap disini." Setelah mengucapkan itu, Sehun pun akhirnya benar-benar pergi.
"Silahkan. Dokter bisa memeriksa nona Jiyoung." Ujar Kris yang terdengar formal. Nada bicaranya terkesan kaku, Jung Sok yang mendengar hal itu mendengus karena merasa jengkel saat mendengarnya.
"Tentu." Jung Sok menghela nafasnya. Sebelum kembali melangkahkan kakinya mendekati Jiyoung. Ia mulai memeriksa keadaan gadis itu, mulai dari denyut nadi dan suhu panas pada tubuh Jiyoung ternyata sudah turun. Syukurlah. Ia rasa jika Jiyoung sebentar lagi akan siuman.
"Maaf, saya masih harus memeriksa kembali beberapa luka lebam pada tubuh pasien. Jadi, bolehkah anda menunggu sebentar diluar? Karena sepertinya tubuh nona ini tidak bisa diperlihatkan oleh orang lain." Jung Sok membetulkan kacamatanya saat mengatakan hal tersebut. Membuat Kris langsung menggeleng.
"Tidak bisa. Saya harus tetap disini untuk tetap memastikan kondisi nona." Ujar Kris yang sangat kerasa kepala. Sial. Jung Sok mengumpat dalam hati. Dasar robot! Pasti dia seseorang yang sangat tunduk kepada ucapan atasannya itu!
"Anda bisa memeriksanya, saya akan berbalik badan dan berdiri menjauh dari anda." Kris kemudian mengalihkan pandangannya dan mulai berjalan hingga sebatas pintu. Bermaksud menjaga jarak diantara mereka tapi masih tetap berada diruangan tersebut. Melihat hal itu, membuat Jung Sok menghembuskan nafasnya karena merasa rencananya gagal. Lalu tanpa berlama-lama ia mulai melakukan pemeriksaan kepada gadis itu.
"Op-oppa..." Jung Sok sedikit kaget karena ia tak menyangka jika gadis itu akan terbangun lebih cepat dari dugaannya.
"Ssstt... Jangan berbicara lagi. Kita masih diawasi." Jung Sok membisikan hal itu kepada Jiyoung yang diangguki olehnya tanda mengerti.
"Aku tak akan menanyaimu lebih banyak. Jangan sampai sakit seperti ini lagi dan jagalah kesehatanmu. Kau sungguh membuatku khawatir." Jung Sok berkata lagi sepelan mungkin. Jiyoung tiba-tiba memegangi kepalanya. Ternyata efek dari bangun tidur masih membuatnya merasa pusing.
"Cepatlah sembuh karena ada hal yang perlu kau tau dan aku akan berusaha untuk membantumu kembali kerumah." Pria itu kembali berujar dan memegang tangan Jiyoung yang masih saja terpasang selang infus. Bermaksud memberikan sesuatu. Gadis itu mengangguk mengerti. Dengan cepat ia mulai memasukan kertas dari Jung Sok kedalam saku celana pasiennya, sangat takut jika orang suruhan Sehun mengetahui hal ini dan bisa dipastikan Jung Sok akan terkena imbasnya. Ia tak ingin hal itu terjadi.
"Pasien sudah dalam kondisi stabil, tapi luka lebam dibeberapa tubuhnya masih menjadi penyebab ia harus tetap dirawat dirumah sakit ini beberapa hari lagi." Jung Sok sengaja mengeraskan suaranya agar pria yang tengah menjaga ruangan ini mendengarnya dan benar saja pria itu langsung menghampirinya.
"Baiklah. Terima kasih atas perawatan anda terhadap nona kami dan sekarang anda bisa keluar." Ujar Kris yang tentu saja masih terdengar dingin. Jung Sok sempat melirik kearah Jiyoung sebentar, seolah mengatakan 'aku pastikan akan menepati janjiku.'
"Kalau begitu saya permisi." Kris membungkuk sebagai salam perpisahan. Setelah memastikan dokter tersebut keluar dari ruangan, ia segera menghubungi tuan besarnya.
"Tuan, nona sudah sadar." Lapor Kris kepada Sehun, yang dibalas antusias olehnya. Setelah melaporkan hal tersebut Kris menundukkan kepala sebagai salam hormatnya kepada gadis itu.
"Saya Kris. Sekretaris baru tuan Sehun. Sebentar lagi tuan Sehun akan kemari."
Kris kembali menegakkan tubuhnya setelah mengatakan hal tersebut. Membuat Jiyoung yang mendengar hal tersebut menghembuskan nafasnya lelah.
"Ambilkan aku minum." Kris mengangguk, lalu dengan segera memberikan segelas air putih kepada nona mudanya itu.
"Aku ingin buah potong. Cepat ambilkan sekarang." Ujar Jiyoung lagi setelah menghambiskan air minumnya. Kris mengangguk lagi lalu mulai meraih ponselnya.
"Aku ingin kau yang menyiapkannya. Jangan suruh orang lain." Saat menyadari jika Kris, bukanlah pria bodoh. Ia dengan cepat mengatakan hal tersebut.
"Maaf, tapi nona tidak bisa saya tinggal sampai tuan Sehun berada disini." Jiyoung berdecak dan mengumpat, merutuki jika sekretaris baru Sehun benar-benar seperti robot. Ck! Menyebalkan!
"Saya akan pergi setelah memastikan tuan Sehun datang." Sial, peka juga pria itu jika maksud dari perkataannya tadi memang ingin mengusirnya secara terang-terangan.
.
.