
Yang katanya Sehun ingin mengajakku berkencan itu memang benar. Sehun bahkan berjalan beberapa kilometer jauhnya sambil terus menggendong dan menempatkanku untuk duduk disalah satu bangku taman. Kemudian menyuruh aku menunggu sebentar agar seorang Oh Sehun bisa datang dengan dua buah plester ditangannya lalu dipakaikan untukku?
"Kakimu terluka. Bagaimana bisa kau tak mengatakan apapun kepadaku?" Ujar Sehun yang terselip nada kesal didalamnya. Pasti pria itu marah karena aku tak mengatakan hal apapun tentang ini. Sebenarnya ini hanya lecet biasa, tak terlalu sakit dan aku pun masih bisa menahannya sampai kami pulang. Padahal tadi aku berpikir untuk mengobati kakiku dirumah saja karena ada beberapa obat untuk luka didalam kotak obat yang disediakan olehku. Yah. Aku memang selalu berjaga-jaga mengenai hal ini.
"Sehun. Setelah ini bisakah kita mampir sebentar untuk membeli mie?" Ujarku yang langsung diberi tatapan heran dari Sehun.
"Tidak jauh kok tempatnya. Aku akan menunjukkannya kepadamu." Ujarku kemudian. Harap-harap cemas aku menunggu jawaban Sehun selanjutnya. Kumohon, setujulah.
"Hmm, boleh." Aku mengucapkan rasa syukur saat mendengar hal tersebut. Membuat diriku tanpa sadar langsung berusaha untuk berdiri dan meringis kemudian. Ah, masih terasa sakit ternyata pergelangan kakiku.
"Kakimu masih sakit, aku ak-"
"Tidak-tidak. Aku sudah bisa berjalan kok. Lihatlah. Jadi, tak usah menggendongku lagi ya. Kau tau? Aku merasa malu tadi." Ujarku diakhir kalimat yang merasa malu. Oh, ayolah bahkan beberapa orang yang sempat melihat kami masih saja penasaran. Tatapan mereka seakan tak pernah terlepas untuk memperhatikan 'objek' yang menarik perhatian mereka.
"Kau yakin?"
"Iya. Ayo! Nanti warung mienya keburu tutup!" Aku langsung menggenggam tangan Sehun dan menunjukkan jika diriku baik-baik saja. Dan setelah mendengar helaan nafas panjang Sehun aku pun tersenyum kearahnya. Lalu kami pun berjalan perlahan untuk membeli mie tersebut.
••🌷🌷••
Prang!
Wanita renta itu nampak terkejut saat wanita yang beberapa lebih muda tiga darinya itu dengan kasar melempar satu piring yang hampir saja mengenai wajahnya.
"Lihatlah! Karena pekerjaanmu tak becus aku jadi harus melemparkan piring itu untuk menahan rasa kesalku untuk tidak menamparmu." Ujarnya terdengar kejam. Wanita itu adalah atasannya. Ia bisa berbuat apa jika atasan dimanapun berada pasti selalu benar. Sangat menyebalkan mengingat prinsip yang berlaku dimasyarakat ini.
"Jangan kemari lagi. Aku tak tahan untuk memperkerjakanmu lebih lanjut." Ujar atasannya lagi dengan tangan menopang didada. Para karyawan disana bergumam, ada yang berdo'a agar mereka tak kena marah dan beberapa semoga mereka tak sesial wanita tua itu.
"Tapi saya sangat butuh uang saya harus menemui anak saya di Shanghai, saya har-"
"Haha... Kau gila? Cepat pergi dari sini sebelum aku melaporkanmu ke polisi!" Ujar wanita itu lagi.
"Tapi say-"
"Cepat pergi kubilang!" Ujarnya sangat ketus. Hal tersebut membuat wanita itu menahan nafas panjang dan rasa sedihnya. Bagaimana ini? Uangnya tak akan mampu untuk mencukupi dirinya untuk terbang jauh keluar negeri. Ia harus menemui anaknya itu tapi kenapa keadaannya jadi sangat sulit seperti ini?
Dengan rasa sedih dan berat hati wanita itu perlahan bergegas pergi dari sana. Para temannya yang sedang menyaksikan hal tersebut hanya diam, melihat. Tak berani untuk membantu. Mereka juga sangat membutuhkan pekerjaan ini. Jika mereka terlibat maka mereka juga bisa diusirkan?
Tepat setelah sepuluh menit berlalu, saat itulah Jiyoung dan Sehun memasuki toko mie tersebut.
Jiyoung sempat mengitari arah pandangannya kesegala arah untuk menemui ibunya tapi lagi-lagi kenyataan pahit harus ia terima. Ibunya itu ternyata sudah tak bekerja disitu lagi dan salah satu pegawai yang ia tanyain diam-diam mengatakan jika ibunya itu baru saja meninggalkan toko beberapa menit yang lalu.
'Tidak. Ini sangat tidak adil. Kenapa sulit sekali untuk menemui keluargaku sendiri?'
"Kenapa kau menangis?" Itulah pertanyaan Sehun kepadaku saat melihat wajahku berurai air mata. Kamipun, lebih tepatnya aku yang meminta tak jadi makan disana memutuskan untuk berjalan kembali untuk pulang. Dan disinilah kami berada. Berdiri tepat disalah satu jejeran toko yang sudah tutup sejak senja mulai menampakan diri.
"Sehun. Jika aku mengatakan aku ingin menemui keluargaku, apa kau menginjinkannya?" Aku tau. Bahkan sangat tau jika sisi yang sangat kubenci dari Sehun belumlah hilang.
"Tidak."
"Baiklah." Aku mencoba kuat kembali. Aku langsung mengusap air mataku yang sempat jatuh lalu berusaha tegar untuk menatap kedua matanya dengan senyum getir.
"Kenapa kau selalu menanyakan hal yang sudah kau tau jawaban?" Ujar Sehun yang sepertinya tak pernah peduli dengan rasa rinduku kepada keluargaku sendiri.
"Aku hanya mencoba memastikan." Balasku lirih.
"Aku pun berusaha tak memikirkan keluargaku karena hanya kau yang boleh aku pikirkan." Ck. Pemikiran macam apa itu? Jadi, aku ini harus senang atau apa setelah mendengar jawabannya itu?
"Kau dan aku berbeda Sehun. Keluargamu, maksudku kakakmu pasti tak terlalu mencarimu tapi tidak denganku. Aku sangat yakin jika kakak serta eomma pasti sedang mencariku lalu bisakah kau berbaik hati unt-"
"Ayo kita pulang. Aku rasa kau lelah." Sehun langsung menarik lenganku. Aku menahan amarahku. Aku tak bisa berbuat banyak akan hal ini. Aku benci ini. Aku tak bisa menyelesaikan kalimatku.
"Kumohon Jiyoung. Berhentilah mengatakan hal itu. Bukankah kau sudah berjanji akan bersamaku?" Ujarnya yang kini terdengar lirih, sangat berbeda dari nada dinginnya tadi. Aku menahan emosiku. Lagi dan lagi. Benar. Sehun belumlah pulih sepenuhnya. Aku haruslah bersabar untuk mengorbankan perasaan dan hidupku lagi.
"Iya, Sehun."
.
.
.
to be continue