
.
.
.
Ucapan Sehun yang berkata ia harus kembali bekerja memang benar, buktinya saja sudah hampir setiap hari pria itu bekerja dan meninggalkan dirinya disini. Sungguh hal ini jauh lebih membuatnya merasa bosan. Tentu saja bukan karena tak adanya Sehun dirumah tapi karena dirumah ini jadi semakin sepi saja.
Para pelayan akan datang saat membersihkan rumah dan mereka akan pulang setelah semua pekerjaan mereka selesai. Hanya koki dan beberapa penjaga yang terus berada dirumah ini. Sepertinya, Sehun sudah memberikan mereka tempat tinggal. Entah, itu berada dimana dan pastinya ia tak peduli tentang hal itu.
Jiyoung masih saja berjalan memutari area taman. Banyak sekali bunga mawar yang bermekaran. Semuanya begitu cantik dan indah. Ternyata taman ini dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Ia tak pernah tau jika Sehun menyuruh para pelayan untuk terus menjaga taman ini.
Perlahan ia mulai berjongkok, matanya lurus kedepan dan mencoba untuk memetik salah satu mawar yang berwarna merah pekat. Jiyoung memejamkan matanya begitu erat. Harum. Ini sangat harum. Bisakah ia mencium harum bunga ini ditempat lain?
'***Jiyoung, lihatlah! Aku membelikanmu mawar. Kau suka bukan?'
'Minho oppa, jadi ini yang membuatmu lama?'
'Ah, maaf. Aku tak tau jika di toko bunga itu aku harus mengantri begitu lama.'
'Ck! Kau ini.'
'Haha mian. Ambillah ini.'
'Terima kasih.'
'Jiyoung, aku suka melihatmu tersenyum. Kau selalu tersenyum dan itu membuatmu semakin cantik.'
'Dasar gombal.'
'Ani. Memang benar kau cantik.'
'Oppa... Jangan bercanda...'
'Aisshh, aku serius. Jadi. Kuharap kau jangan tersenyum kesembarang orang ok?'
'Kau ini.'
'Itu benar. Lihatlah! Saat melihatmu seperti ini saja sudah membuatku jatuh hati kepadamu lagi.'
'Aishh. Berhentilah menggodaku.'
'Aww! Sakit! Jangan cubit lenganku lagi.'
'Haha. Biar saja***.'
Dan yang Minho lakukan adalah mengejar Jiyoung yang telah berlari sambil menggenggam bunga itu. Kenangan yang tak pernah Jiyoung lupakan. Saat dimana hari itu juga, seorang Minho memberikan hadiah yang tak pernah ia sangka.
Pria itu berlutut dan memberikan kotak cincin. Jiyoung menutup mulutnya tak percaya. Akhir penantiannya bersama Minho tak sia-sia. Pria itu bersungguh-sungguh. Minho adalah orang yang sangat baik. Bahkan, terkadang ia sempat merasa rendah diri dengan Minho disampingnya. Baginya, Minho terlalu sempurna untuknya. Lalu bagaimana keadaanya pria itu saat ini? Sudah lama mereka tak bertemu dan Jiyoung sangat merindukannya.
Tanpa terasa ia mengusap pipinya yang terasa basah. Sejak kejadian yang menimpanya. Jiyoung tanpa sadar selalu saja menangis dalam diam. Wajah gadis itu terlihat tak berekspresi dan Jiyoung tak pernah menunjukkan senyum cantiknya lagi. Baginya, hidupnya saat ini terasa sangat kosong.
"Aww..." Desisnya merasakan sakit. Ah. Ia lupa jika sejak tadi ia sedang mengenggam setangkai mawar dengan erat. Kini duri mawar itu menusuk tangannya. Darah mulai menetes perlahan dan itu membuat Jiyoung meringis sekali lagi.
"Jiyoung!" Teriak seseorang. Jiyoung memejamkan matanya. Ia sudah tebak siapa pemilik suara itu. Yah. Siapa lagi kalau bukan Sehun?
Sehun yang tadinya ingin memberikan kejutan kepada Jiyoung dengan membelikan beberapa pakaian dan sepatu untuk gadisnya tersenyum senang saat masuk kedalam rumah tapi langkahnya langsung berbelok menuju kearah taman saat melihat pintu belakang rumah terbuka dan melihat siluet Jiyoung dari jauh. Tanpa berlama-lama Sehun langsung menghampiri gadisnya.
Ia sedikit mengeryitkan alis sambil menuju ketempat Jiyoung karena gadis itu seperti terdiam sambil memikirkan sesuatu.
Setelah berjalan cukup dekat, ia sangat terkejut jika tangan Jiyoung mengeluarkan darah. Tanpa peduli ia melempar beberapa kantong belanjaan yang ia bawa sejak tadi dan berlari menghampiri gadisnya.
"Kau tak apa-apa?" Sehun langsung melihat duri mawar yang berada ditangan Jiyoung. Matanya melirik mawar yang telah jatuh ditanah karena Jiyoung telah melepasnya lalu pandangannya kembali beralih ketangan Jiyoung lagi.
"A-aku tak apa." Ujar Jiyoung dan segera menepis tangan Sehun yang sedang menggenggamnya. Tentu saja hal itu membuat Sehun geram dan tanpa persetujuan gadis itu, Sehun kembali meraih tangan Jiyoung.
"Kau terluka!" Sehun dengan cepat memegang lengan gadis itu dan tanpa persetujuan dari Jiyoung ia membawanya kedalam rengkuhan lengan kekarnya, memeluk pinggang gadis itu dan menggendongnya. Tentu saja Jiyoung memekik tak terima.
"Cepat panggilkan dokter!" Serunya menggema kepenjuru ruangan saat sudah berada didalam rumah. Tentu saja, para pelayan langsung mengarahkan pandangannya ke sang tuan besar.
"Ini hanya luka kecil, kau tak perlu memanggil dokter." Geram Jiyoung dalam dekapan pria itu. Cukup. Sehun selalu saja berlebihan!
"Tidak, kau harus segera diobati. Kau tidak lihat tanganmu masih mengeluarkan darah?" Pria itu menatapnya tajam. Ia sebenarnya tak suka dibantah. Terlebih hal itu dari Jiyoung.
"Kalau begitu apa maumu?" Sehun memejamkan matanya saat melihat kejujuran Jiyoung. Entah, apa yang membuat gadis itu membenci hal semacam itu.
"Kau saja yang mengobati luka ini, mudahkan?" Sehun menyeringai kecil. Inikah Jiyoungnya? Kenapa jadi sedikit berubah? Padahal gadis itu jarang berbicara akhir-akhir ini. Sepertinya gadisnya merasa kesal dan lagi-lagi ia tak tau alasannya.
"Baik." Ucap Sehun akhirnya. Lalu dengan cepat ia menyuruh para pelayan tidak usah memanggil dokter pribadinya dan menggantinya dengan membawa kotak P3K yang memang selalu ia miliki.
Sambil tersenyum Sehun mulai melangkahkan kakinya lagi sambil membisikan kata yang membuat Jiyoung langsung mengigil.
"Kau tau? Sikapmu sepertinya berubah. Kau jadi sedikit lebih berani. Sebenarnya aku tak suka ini tapi karena hari ini aku merasa senang. Jadi, kumaafkan kali ini." Jiyoung mengerjapkan matanya beberapa kali dan meneguk salivanya yang terasa sulit. Jiyoung rasa ia tak salah dengan ucapannya barusan. Memang benar bukan jika tindakan Sehun tadi sungguh berlebihan? Lalu ia hanya mengatakan hal yang sesungguhnya tadi.
••🌷🌷••
"Lihatlah, sebenarnya apa yang kau pikirkan sampai bisa terluka, hmm?" Ujar Sehun yang masih begitu teliti mengobatinya. Wajah pria itu terlihat khawatir. Gadis itu kini masih terduduk ditepi ranjang dengan posisi Sehun yang duduk berhadapan dengannya. Perlahan pria itu mencabut duri yang masih menancap ditelapak tangan gadis ini. Jiyoung meringis karena sakit.
"Ck. Dasar." Hanya kata itu yang Sehun ucapkan saat menyadari lumayan banyak duri yang menancap disana. Hei! Apa gadis itu berusaha melukai dirinya agar dia bisa keluar dari sini? Selamat! Hal itu tak mungkin terjadi. Meski, nantinya Jiyoung melakukan percobaan melukai diri yang lebih besar dari ini. Karena sampai kapapun ia tak akan pernah melepaskan Jiyoung. Gadis itu harus tau.
"Terima kasih." Ujar Jiyoung berucap sangat pelan tapi Sehun masih mendengarnya. Suara lembut itu sungguh menenangkan jiwanya. Pria itu berdehem sebagai balasan. Jiyoung masih memperhatikan keseriusan Sehun saat hendak membalut lukanya. Pria itu terlihat berbeda. Tidak-tidak. Pasti ini hanya tipu muslihat Sehun yang lainnya.
Jiyoung menyakini dalam hati. Pria didepannya ini tidak normal. Gila. Bajingan. Brengsek. Kepribadian Sehun sungguh tak bisa ia tebak. Sebenarnya apa yang diinginkan pria itu?
Jika Sehun mengatakan menginginkan dirinya. Itu sungguh luar biasa gila! Mereka saja baru saling kenal. Dengan mudahnya pria itu berkata mencintainya setelah menghancurkan kehidupannya. Ini bukan cinta tapi obsesi! Pria itu harus diobati.
"Makanlah, pelayan akan membawa makananmu sebentar lagi." Benar saja terdengar suara pintu diketuk dan suara lantang Sehun bersaut membuat pelayan itu menundukkan kepalanya sebelum melangkah masuk kemudian membawa nampan yang berisi makanan.
"Habiskanlah makananmu. Aku ingin mandi dulu. Kuharap makananmu sudah habis setelah aku kembali kesini." Itu ancaman, pria itu tak pernah bermain-main dengan ucapannya. Dengan cepat Jiyoung menurutinya. Membuat Sehun yang masih diambang pintu tersenyum tipis. Bagus, jadilah gadis penurut seperti dulu.
"Nona, ini barang dari tuan." Pelayan yang tadi membawakannya makanan kini kembali dengan membawa beberapa kantong plastik yang lumayan banyak. Jiyoung menatapnya dengan alis berkerut.
"Apa ini?" Tanyanya. Jiyoung menatapnya tak suka. Ia tak menyukai ini. Pasti, pria itu menghamburkan uangnya lagi untuk membeli barang yang berguna. Apa Sehun tak sadar jika lemari pakaian, koleksi separu dan tasnya sudah sangat penuh. Percuma saja Sehun membelikannya barang-barang mewah seperti ini tapi tak bisa ia gunakan dengan semestinya. Bukan karena baju dan yang lainnya tak bisa ia pakai. Jika semua barang-barang itu hanya bisa ia dipakai didalam rumah untuk apa harus membeli sangat mahal dan begitu indah?
Seharusnya baju pesta atau baju yang terlihat indah lainnya digunakan keacara yang cocok untuk digunakan. Bukannya hanya jadi pajangan saja. Lagipula, ia yakin jika Sehun tak akan pernah membawanya keluar dari rumah ini.
"Ma-maaf sa-saya tak tau juga apa isinya." Jiyoung memutar bola matanya malas, bukan itu yang ia maksud terhadap pertanyaannya barusan. Ini membuatnya semakin kesal. Dengan cepat ia menyuruh pelayan itu keluar. Ia tak peduli dengan para pekerja disini. Baginya, mereka sama saja dengan Sehun. Meski ia mencoba berlutut ataupun memohon tak ada seorangpun dari mereka yang berbelas kasih membantunya keluar dari sini. Semuanya pengecut. Sama dengannya. Ah. Sial!
"Sepertinya kau terlihat tak senang dengan hadiah yang kubawa." Tak lagi kaget dengan kedatangan Sehun yang tiba-tiba membuat Jiyoung berani menatap mata pria itu dengan jelas. Ada nada tak suka didalamnya. Pasti Sehun menyadari ketidaksukaannya barusan.
"Tentu saja, apa kau tidak lihat tak ada lagi tempat untuk menyimpan semua itu?" Tunjuk Jiyoung kearah beberapa lemari dengan raut wajah kesal. Biar saja Sehun marah padanya ia tak peduli lagi. Pria itu harus tau jika untuk selanjutnya Sehun tak perlu memberikannya barang-barang seperti ini lagi. Tapi yang ia dapat malah suara tawa pria itu. Gila!
"Ah. Jadi ini yang membuatmu kesal? Baiklah. Besok aku akan menambah lemari baru atau jika perlu aku akan membuatkanmu ruangan khusus untuk menyimpan semua barang-barangmu. Bagaimana, kau senang?" Jiyoung berdecak. Ini namanya Sehun menambahkan kekesalannya.
"Tidak. Aku tak menginginkannya." Seketika raut wajah pria itu berubah.
"Lalu apa yang kau inginkan?" Pria itu langsung membawa tubuh Jiyoung kedalam dekapannya saat sudah duduk bersama diranjang. Mempersempit jarak diantara mereka. Membuat nafas Jiyoung memendek. Terasa sulit berada didekat pria itu.
"Aku tak membutuhkan yang lain karena semuanya sudah kau berikan." Sehun bergumam lalu dengan lancang membawa tubuh Jiyoung untuk berada dipangkuannya. Tentu saja, gadis itu memekik.
"Berhentilah berteriak. Kau selalu saja terkejut." Hei! Bagaimana bisa ia tak berteriak dan kaget saat tanpa diduga Sehun selalu melakukan hal-hal aneh seperti ini. Dan terlebih tubuh mereka kini semakin menempel saja dengan lengan kokoh Sehun yang sudah memeluknya dengan begitu erat.
"Kau begitu harum. Aku sangat menyukainya. Aroma ini juga yang selalu kurindukan. Bahkan, aromamu seakan tak pernah luntur. Aku selalu merasakan wangimu yang masih saja membekas pada jaketmu." Jaket? Apa yang dimaksud pria itu? Tiba-tiba otaknya mulai berpikir. Ah benar, waktu itu dimana hujan yang begitu deras ia dengan suka rela memberikan Sehun jasnya. Apa semua ini berawal dari hari itu? Jika iya. Ia sangat menyesal pergi ke halte bus saat itu dan berharap tak pernah kesana lagi seumur hidupnya.
"Aromamu selalu membuatku begitu gila karena merindukanmu. Hal itu juga yang membuatku selalu mengamatimu diam-diam." Jiyoung meneguk salivanya. Apa Sehun penguntit?
"Kau begitu mesra bersama dengan si bajingan itu. Aku sangat kesal dan marah. Seharusnya bajingan itu tau. Milik siapa kau sebenarnya." Tangan Sehun kini mulai merambat ketengkuknya dan langsung melumat bibir Jiyoung yang sangat begitu menggoda sejak tadi. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya erat. Percuma saja jika melawan.
"Sial! Bibirmu memang begitu sialan menggoda!" Umpat Sehun setelah melumat bibir gadisnya dengan sedikit brutal. Dengan perlahan ia merebahkan tubuh Jiyoung diranjang. Membuat Jiyoung yang menyadari hal itu langsung berusaha berdiri.
"Sttt... Tenanglah. Aku tak akan melewati batas." Tubuh Jiyoung meremang. Sentuhan Sehun pada tubuhnya membuatnya takut. Perlahan pria itu mulai **** tubuh Jiyoung dan memenjarakan tangan gadis itu dikepala.
"Aku hanya ingin sedikit bersenang-senang denganmu, sayang. Bukankah kau merindukanku?" Jiyoung menggeleng. Bahkan gadis itu mulai memberontak saat Sehun mulai mengelus pahanya yang terekspos dengan lancang. Bajingan! Seharusnya ia tak memakai rok selama dirumah ini.
"Kau begitu manis." Ucap Sehun sensual dan terus menaikan tangan kanannya keatas. Membuat Jiyoung berteriak tak terima dengan pelecehan yang Sehun lakukan padanya.
Wajah gadis itu semakin memerah. Setiap bagian titik sensitif pada tubuhnya terus dimainkan oleh si brengsek Sehun. Bahkan pakaiannya sekarang sudah tak layak pakai, saat Sehun merobeknya begitu saja. Bajingan!
"Brengsek..." Desis Jiyoung tak terima, membuat kilatan amarah di wajah Sehun. Mulut manis gadis itu tak pantas berkata seperti itu.
Jiyoung berteriak dan menolak saat Sehun melakukan tindakan tak pantas. Tidak. Ini sama saja Sehun memperlakukannya sebagai jalang. Semua penolakannya tak berarti, yang ada Sehun terus memaksakan kehendaknya. Membuat Jiyoung melemah dan akhirnya pasrah dengan semua yang Sehun lakukan kepadanya.
Jika seperti ini hanya ada satu cara agar ia bisa pergi dari Sehun. Yaitu kematian dirinya. Ia harus mati kali ini.
TBC