Dear You

Dear You
Perjanjian (1)




.


.


.


Lutut Jiyoung melemas, ia memundurkan kakinya dan duduk dikasurnya dengan pelan. Ini semua karena efek cerita yang Leetuk sampaikan beberapa saat lalu.


"*Nona Nara memang selalu menyewa seseorang untuk mengawasi kegiatan tuan muda."


"Saya sungguh tidak tau kenapa ia melakukan itu."


"Saya benar-benar tak berniat jahat kepada anda dan tuan Sehun. Saya hanya mengawasi kegiatan kalian dan melaporkannya kepada nona."


"Percayalah. Saya mohon jangan adukan saya dengan tuan muda."


"Sa-saya terpaksa melakukan ini karena nona Nara mengancam keluarga saya."


"Saya tau nona Jiyoung juga terpaksa berada disini."


"Jadi maaf jika saya melakukan semua ini. Saya sungguh tak bisa menolak pekerjaan ini. Anda pasti tau rasanya, jika semua yang telah saya lakukan ini karena keluarga saya."


"Maaf nona."


Jiyoung mengusap wajahnya kasar. Ia jadi semakin penasaran akan rencana gadis itu terhadapnya dan Sehun.


'**Kenapa dia melakukan semua itu?'


'Terlebih mengawasi Sehun selama ini?'


'Jika Sehun 'sakit' bukankah seharusnya sejak dulu, pria itu segera diobati oleh ahlinya?'


Kepalanya jadi berdeyut saat memikirkan hal ini. Tiba-tiba ia jadi teringat dengan selembar kertas yang sempat diberikan Jung Sok oppa saat itu.


Sebenarnya, sejak keluar dari rumah sakit ia ingin sekali membacanya tapi entah kenapa Sehun selalu saja berada didekatnya dan sekaranglah saatnya ia bisa membaca isi surat tersebut.


Jiyoung beranjak dari duduknya lalu mulai membuka lemari pakaiannya. Mencari-cari baju yang sempat ia pakai dirumah sakit saat itu untuk menemukan kertas yang ia sembunyikan.


Saat kertas itu sudah ditangannya, ia dengan cepat memasuki kamar mandi, mengunci pintu dan menyalakan air shower. Berjaga-jaga jika Sehun pulang lebih cepat dan akan mencurigainya jika mengunci pintu kamar.


---------------------


Jiyoung. Maaf jika aku hanya bisa menulis surat ini. Oppa sangat bersyukur bisa bertemu denganmu lagi.


Keputusanmu untuk ikut dengan Sehun sangat membuatku marah, kecewa dan kesal. Aku tau jika keluarga itu hanya memperalatmu.


Perlu kau tau, jika beberapa hari belakangan ini aku semakin mencurigai Nara, aku pikir jika dialah semua dalang dibalik kejadian yang menimpamu hingga sekarang dan si pria bajingan itu aku rasa dia juga ikut terlibat. Tapi, kau pasti tak mempercayaiku jika aku tak ada bukti bukan? Aku sangat mengenal adik tercintaku ini.


Karena itu aku mencoba untuk mengumpulkan bukti dan pergi menemui Nara untuk mendapatkan pengakuannya.


Sekali lagi maaf, jika aku hanya menjadi beban dan kakak yang tak bisa menjaga adiknya dengan baik.


Karena aku, kau harus mengorbankan segalanya dan itu semua adalah kesalahanku.


Jika semuanya sudah usai, mari kita hidup bahagia bersama. Aku, kau dan eomma. Mari kita melupakan semuanya dan memulai hidup baru, sekali lagi.


Aku dan eomma akan membantu dirimu kembali menjadi Jiyoung yang dulu. Yah. Karena kami selalu menyayangimu.


Lalu aku menitipkanmu kepada Jung Sok. Aku yakin jika dia bisa menjadi kakak yang baik bagimu. Anggaplah dia sebagai penggantiku.


Dan jika sesuatu terjadi kepadaku, kau harus selalu ingat jika semua itu bukanlah salahmu.


Kau harus tau jika aku akan selalu menyayangimu, adikku.


-------------------


Air mata Jiyoung menetes begitu saja saat membaca isi surat itu. Kenapa Lay menulis ini? Apa ini artinya kakaknya mengucapkan salam perpisahan? Tidak. Ini tidak mungkin!


Duk! Duk! Duk!


"Jiyoung?! Apa kau didalam?!" Mata gadis itu langsung membulat saat mendengar suara Sehun. Kapan pria itu pulang?!


"Jiyoung, kau tak apa-apa?" Suara Sehun terdengar sangat khawatir. Dengan panik Jiyoung segera melipat kertas tersebut dan membuangnya ke kloset lalu menekan tombol aliran air untuk menghisap kertas itu.


Dengan mencoba menormalkan nafasnya akibat panik tadi, Jiyoung mencoba menjawab Sehun.


"Iya aku tak apa-apa! Aku sedang mandi Sehun!" Ada nada lega diluar sana. Mendengar hal tersebut membuat Jiyoung lega juga.


"Syukurlah. Aku khawatir kau mungkin menghilang atau kau terluka didalam sana."


"Aku tak apa-apa. Jadi, bisakah kau menungggu diluar? Karena aku perlu mengganti baju." Sehun terkekeh saat mendengarnya. Jiyoung masih saja malu jika memperlihatkan tubuh menggodanya itu kepadanya. Padahal ia sudah melihat tubuh Jiyoung beberapa kali tanpa busana.


"Baiklah. Aku akan mengganti baju dan menunggumu dibawah." Sahut Sehun kemudian.


"Iya, aku akan menyusulmu." Ujar Jiyoung lagi yang membuat Sehun meninggalkan kamar itu dengan perasaan senang.


"Astaga. Untung saja aku membacanya disini. Seharusnya aku sadar jika Sehun selalu mengejutkanku." Jiyoung segera membuka bajunya dan dengan cepat mandi. Agar tak dicurigai Sehun tentu saja ia harus melakukan hal ini. Padahal ia tak ingin mandi tadi, tapi gara-gara kepulangan Sehun mau tak mau ia harus mandi lagi.


Setelah berpakaian dan menyisir rambutnya, gadis itu langsung menghampiri pria itu yang kini terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Mandimu lama juga ya." Ujar Sehun tanpa menoleh kepadanya. Jiyoung tersenyum menanggapinya. Ia memilih duduk disebelah pria itu dan memperhatikan wajah Sehun.


'Apa Sehun benar-benar ikut serta dalam rencana Nara?'


"Kau pasti lupa dengan janjimu untuk memasak untukku bukan?" Tanya Sehun yang terdengar kecewa. Jiyoung menepuk dahinya pelan. Astaga. Gara-gara Leetuk ia melupakan janjinya itu.


"Maaf aku lupa. Tunggulah sebentar aku akan membuatnya untukmu." Sebelum Jiyoung mulai berdiri, Sehun meraih tangannya dan menyuruh gadis itu duduk kembali.


"Aku sudah menyuruh ahjumma untuk memasak, jadi sebaiknya kita memakan masakannya."


"Maaf Sehun, aku sungguh lupa tadi." Jiyoung merasa bersalah karena melanggar janjinya. Sehun menghela nafasnya yang terasa berat. Ia kecewa, tentu saja. Tapi lagi-lagi saat melihat wajah Jiyoung terlihat sedih ia tak tega untuk memarahi gadis itu.


"Tidak apa-apa. Lain kali kau bisa memasak untukku." Sehun tersenyum, membuat Jiyoung yang tengah menatapnya jadi terdiam. Melihat wajah Sehun yang seperti ini entah kenapa membuatnya terpana.


Cup.


"Makanannya sudah datang, sayang." Wajah Jiyoung memerah saat Sehun dengan cepat mencium bibirnya dan memberitahukan jika makanannya sudah tersaji. Seketika ia merutuki sikap bodohnya tadi.


"Setelah kau menghabiskan makananmu, kau bisa kembali memandangi wajahku lagi." Ucap Sehun lagi yang dengan cepat membuat Jiyoung malu.


"Sehun!" Ujar Jiyoung yang merasa malu. Melihat hal itu membuat Sehun tertawa bahkan gadis itu memukul lengannya dengan kuat. Membuatnya sedikit nyeri.


"Aku tak akan meminta maaf!" Ujar Jiyoung yang masih kesal dengan sikap Sehun tadi.


"Yah. Kau tidak perlu meminta maaf hehe. Memang aku yang salah tadi. Maaf." Jiyoung terdiam. Baru kali ini, ia mendengar Sehun berucap tulus. Tangan Sehun yang saat ini membelai rambutnya membuat debaran jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Ada apa dengannya? Apa ini semua karena sikap manis Sehun?


"Ak-aku ingin makan." Jiyoung menyikirkan tangan Sehun dikepalanya dan mulai memakan makanannya dengan lahap. Yah. Sejak tadi dia memang belum makan.


"Besok aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu." Ujar Sehun kemudian. Jiyoung menoleh dengan raut wajah bingung. Memangnya apa yang ingin Sehun tunjukan?


.


.


.