Dear You

Dear You
Jujur atau Bohong (1)




.


.


.


"Kau sudah gila?" Sehun tentu saja menyunggingkan senyumnya miring. Lalu tertawa setelahnya. Rasanya sangat aneh dan perkataan Jiyoung barusan sangatlah tak realistis.


"Kenapa? Apa perkataanku barusan sangat mustahil?" Balas Jiyoung kepada Sehun. Mata pria itu langsung kembali menatap Jiyoung. Tak ada rasa takut, mata itu memancarkan rasa keseriusan disana. Sehun bisa melihat hal itu sekarang.


"Aku sudah menahan diriku untuk tak memaksamu menikah denganku, hal itu kulakukan agar kau akan selalu disisiku. Tapi, sekarang? Kau seperti memancingku untuk memilikimu lebih banyak." Ujar Sehun yang mulai membuka dua kancing baju atasnya lalu mulai berjalan kearah sofa terdekat disana dan mulai merebahkan diri dengan Jiyoung yang masih setia melihat kearahnya.


"Kalau begitu milikilah aku lebih banyak Sehun. Bukankah itu yang kau mau?" Sekali lagi, pria itu tertawa. Membuat Jiyoung mengepalkan tangannya keras. Merasa jika Sehun tak menghargai ucapannya barusan.


"Dan setelahnya membuang diriku lagi, begitu?" Sehun tertawa miris. Membuat hati pria itu merasakan sakit berkali-kali. Tak taukah Jiyoung jika dia sangat mencintai gadis itu? Bisakah Jiyoung sedikit membuka hati untuknya?


"Tidak. Aku tak sejahat itu Sehun." Sangkal Jiyoung cepat.


"Jika kau tak percaya, aku bisa membuktikannya. Tapi aku mempunyai syarat untuk itu." Sehun langsung menoleh dan memandang Jiyoung dengan raut terkejut saat gadis itu mengucapkan hal tersebut.


Perkataan yang sama sekali tak pernah ia pikirkan, seumur hidupnya. Ucapan Jiyoung, si gadis yang pemberani itu sungguh diluar dugaan. Dimana Jiyoung mengajaknya untuk menikah dan menyuruhnya meninggalkan rumah megahnya untuk hidup berdua dengan Jiyoung diluar sana.


••🌷🌷••


"Kenapa kau terlihat murung? Apa karena uang jajanmu yang kupotong?" Tanya Minhyun yang mendapati adiknya sedang terduduk disudut kafenya. Mengingatkan ia dengan seorang gadis yang selalu saja duduk ditempat itu. Jika dilihat tempat duduk itu selalu saja membuat para pengunjung terlihat murung, apa tempat duduk itu memberikan efek yang buruk bagi kafenya? Apa ia harus membuang tempat duduk itu?


"Jangan membuang salah satu lokasi tempat duduk disini, hyung. Kau harus tau jika disini sangat nyaman. Kau bisa melihat matahari tenggelam dengan jelasnya dari sini atau merenungkan sesuatu disini. Ini adalah tempat yang sangat nyaman." Yeon berkata seperti itu saat mengetahui isi pikiran kakaknya. Tentu saja Minyun sedikit terkejut dengan kemampuan nalar adiknya. Bagaimana bisa Yeon mengetahui isi pikirannya? Apa adiknya itu telah berubah jadi cenayang?


"Aku bukan cenayang. Itu semua karena karena hyung sempat bergumam tadi." Minhyun memejamkan matanya sebentar lalu mengumpat setelahnya. Ck. Bodoh. Kenapa ia tak menyadari hal itu?


"Aku hanya kecewa saat gadis itu berkata sedikit kasar dan langsung menolaku." Ujar Yeon yang terdengar membingungkan bagi Minhyun.


"Jadi, kau sedang dekat dengan seorang gadis? Hmm, dan kau sedang menawarkan dirimu kepadanya tapi dia berkata berkasar saat menolakmu begitu?" Ujar Minhyun memastikan. Yeon pun mengangguk. Mihyun terkekeh saat melihatnya. Astaga, apa semua muka lesu Yeon itu karena masalah percintaannya yang tak terbalas?


"Jadi, bagaimana hyung? Apa aku harus  pura-pura tak mengenalnya? Tapi hatiku selalu saja berkata jika dia harus mengetahui kebenaran yang terjadi. Aku tulus melakukan semua ini untuk membantunya tapi kenapa dia bersikap seperti itu kepadaku?" Ujar Yeon yang kini mulai terlihat sedih. Minhyung mengusap dagunya sambil berpikir.


"Hmm, kurasa kau hanya kurang berusaha. Jika kau menunjukan lebih jika kau melakukan semua itu dengan tulus mungkin dia akan melihatmu dan menerimamu?" Ujar Minhyun mencoba memberikan saran.


Wajah Yeon langsung terlihat ceria, membuat Minhyun bernafas lega. Syukurlah. Ia dari dulu memang tak suka jika Yeon merasa sedih ataupun terluka, ia harus selalu memastikan jika adiknya itu bahagia dan sehat selalu.


Ia sangat tau jika Yeon ingin mendekati seseorang dengan sungguh-sungguh pasti orang itu sangatlah berarti baginya Tapi, siapa orang itu?


"Yeon, sebenarnya siapa yang kau maksud? Apa aku mengenal gadis itu?" Tanya Minhyun kemudian. Tapi Yeon sudah lebih dulu menyeruput tehnya yang sudah tak terlalu panas dan menghabiskannya dengan tergesa.


"Nanti, aku pasti akan menceritakannya kepadamu, hyung. Pokoknya terima kasih atas nasihatmu." Yeon pun dengan cepat meninggalkan dirinya. Membuat Minhyun menghela nafasnya. Ah, dasar anak itu...


Ngomong-ngomong ia yang saat ini masih terduduk dibangku yang bersebrangan dengan Yeon jadi ingin mencoba berpindah tempat duduk. Dimana tempat duduk yang sering diduduki oleh gadis itu dan Yeon tadi. Apa benar suasananya akan berbeda?


"Jadi, karena ini dia selalu memilih duduk disini?" Gumamnya terkagum saat melihat dengan jelasnya matahari tenggelam dengan indahnya. Serta ia yakin jika sudah malam pasti tempat duduk disudut ini juga lebih menampilkan pemandangan bintang yang lebih bagus. Serta ia bisa merasakan suasana yang lebih tenang dari sini.


.


.


.


to be continue