
.
.
.
Jiyoung memejamkan matanya dalam, kemudian matanya terbuka dan melirik pemandangan diluar jendela. Pepohonan yang banyak daunnya mulai tertunduk karena derasnya hujan diluar. Sepertinya musim hujan sudah tiba lebih cepat dari biasanya.
"Apa pemandangan diluar sana lebih bagus dibanding aku?" Sehun meraih earphone yang digunakan gadis itu, sedikit merasa kesal karena merasa diabaikan.
Jiyoung menatapnya dengan wajah setenang mungkin. Sehun selalu saja merusak ketenangannya. Padahal tadi ia masih merasa tenang tanpa memikirkan masalah apapun selama mendengarkan musik yang sejak tadi didengar di ipod milik pria itu. Yah. Ia sempat meminta Sehun meminjamkan ipod miliknya.
"Aku tak menginjinkanmu meminjamnya lagi jika kau mengabaikanku seperti itu." Sehun mendengus sebal lalu tangan kekar Sehun yang sejak tadi melingkari pinggangnya dilepas begitu saja. Lalu sekarang pria itu lebih memilih melihat sisi sebelah kiri jendela mobilnya dan bersedekap.
'Apa dia sedang merajuk?' Tanya Jiyoung dalam hati.
"Ma-maaf, aku tak akan mengulanginya." Ujar Jiyoung yang sebenarnya bingung harus menjawab seperti apalagi. Kenapa sikap pria itu selalu berubah-ubah?
"Kau selalu mengabaikanku dan rasanya itu sangat menyakiti hatiku." Oh ayolah, apa hanya karena masalah sepele seperti itu, kini Sehun berubah menjadi kekanak-kanakan? Bukankah yang benar jika Sehun yang telah mengabaikan jeritan hatinya selama ini?
Jiyoung menghela nafasnya dalam. Lalu tangannya meraih tangan pria itu yang sedang bersedekap.
"Aku hanya terlarut dalam alunan musik dan pemandangan yang sudah lama tak kulihat dan rasakan. Jadi, maaf. Sungguh aku tak pernah berniat mengabaikanmu tadi." Ujar Jiyoung kepada Sehun, sambil menatap lekat kearah pria itu.
Sehun memejamkan matanya beberapa detik lalu menghembuskan nafasnya kasar. Kemudian tangannya meraih tangan Jiyoung yang telah memegang salah satu lengannya.
"Bagus. Kau menyadari kesalahanmu." Sehun langsung meraih tubuh gadis itu kembali dan memeluknya dengan erat dan mencium pucuk kepala Jiyoung beberapa kali.
"Hari ini hujan begitu deras dan aku jadi ingat dengan pertemuan kita pertama kali." Tiba-tiba Sehun berujar sambil tetap memeluk Jiyoung dalam dekapannya. Entah kenapa rasanya hari ini dekapan Sehun terasa lebih hangat. Jiyoung sedikit merasa nyaman.
"Maaf dan terima kasih." Sehun melanjutkan perkataannya. Tapi Jiyoung tak mengerti dengan ujaran Sehun barusan. Ia kira Sehun akan membahas lagi soal pertemuan mereka. Lalu kenapa kata maaf dan terima kasih yang Sehun ucapkan selanjutnya? Oh, ayolah ia ini bukan cenayang yang selalu mengerti isi pemikiran manusia. Terlebih isi kepala Oh Sehun, si pria yang telah memenjarakan dirinya dalam sangkar emas selama ini. Pria itu begitu rumit, tak terkendali, menyeramkan juga menenangkan disaat bersamaan.
"Silahkan tuan." Ujar pegawai Sehun. Akhirnya mereka sampai didepan kantor Sehun. Gedung yang menjulang tinggi juga megah. Tunggu kenapa gedung ini memiliki nama Oh Corporation? Bukankah gedung dengan logo phoenix itu adalah salah satu gedung termahal dan terkenal di Seoul? Wow! Jadi pria gila ini pemiliknya? Atau bagaimana?
"Ini hanyalah titipan milik keluargaku. Kakakku yang mengelolanya dan aku hanya sebagai manajer diperusahaan ini." Ujar Sehun menjelaskan, sebelum Jiyoung bertanya lebih lanjut. Pria itu sudah menjawab semua isi pertanyaan Jiyoung saat melihat tatapan tak percaya yang Jiyoung tunjukkan, dengan mulut yang menganga.
"Ayo, pelan-pelan saja berjalannya." Sehun menuntun Jiyoung. Pria itu memegang payung dan melingkarkan tangannya dipinggang ramping Jiyoung, takut jika gadis itu kebasahan meski payung hitam yang ia pegang saat ini sebenarnya lumayan besar untuk dua orang. Satu pengawal dan supirnya mulai mengikuti mereka dibelakang dalam jarak dua meter. Takut menganggu privasi tuan mereka.
Setelah sampai pintu utama untuk memasuki kantornya, Sehun segera menyerahkan payungnya kepegawai lain yang berjaga didepan pintu. Kemudian Sehun menyuruh Jiyoung untuk segera ikut melangkah kembali.
Jiyoung pun menganggukkan kepalanya, setelah berjalan ditengah hall yang sangat besar di kantor tersebut, seketika pandangan Jiyoung tertunduk. Bisik-bisik ia mendengar para pegawai Sehun yang berlalu-lalang mulai melihat bos mereka dengan terkejut serta heran. Pasalnya mereka tak pernah melihat pemuda tampan itu membawa seorang wanita.
Jiyoung semakin tak ingin menunjukkan wajahnya. Ia bahkan mendengar para pegawai Sehun mulai sedikit merendahkannya. Andai Sehun tau, ia yakin Sehun akan langsung memecatnya detik itu juga!
"Silahkan ke ruang rapat tuan Sehun, para dewan direksi sudah menunggu kedatangan anda." Ujar sekretarisnya. Sehun menganggukkan kepalanya lalu melirik Jiyoung. Alisnya terangkat melihat Jiyoung yang ternyata menundukkan kepalanya sejak tadi.
"Ada apa?"
"Ah, tidak. Aku tidak apa-apa." Ujar Jiyoung cepat.
Sehun masih merasa bingung lalu setelahnya mencoba fokus kembali, ia masih setia mengenggem tangan Jiyoung dan melepaskan pelukannya dipinggang gadis itu. Jiyoung menghela nafasnya lega. Ini lebih baik daripada Sehun yang terus saja memeluknya disepanjang jalan tadi. Pantas saja pegawai Sehun membicarakannya. Ini semua karena kelakuan bosnya itu!
"Ak-aku akan menunggumu diluar." Sesaat pergerakan tangan Sehun terhenti ketika hendak meriah knop pintu ruang rapat saat mendengar ucapan Jiyoung barusan.
"Tidak. Kau harus selalu disisiku." Ujar Sehun cepat dan tak perlu Jiyoung bantah lagi. Kini pria itu meraihnya masuk dan duduk ditengah para petinggi dengan raut wajah dinginnya tanpa peduli dengan semua tatapan heran yang dilemparkan kepada mereka.
"Silahkan mulai rapatnya." Ujar Sehun tanpa memperdulikan wajah heran dan gugup dari masing-masing karyawannya. Tentu saja mereka tak ada yang berani bicara tentang masalah pribadi manajernya itu. Mereka masih sayang jabatan dan gaji yang didapat dari perusahaan ini.
**10 menit.....
20 menit.....
30 menit.....
45 menit**.....
Gerakan Jiyoung semakin gelisah. Ia tak mengerti dengan semua perbincangan yang telah mereka bahas sejak awal terlebih dengan tangan Sehun yang tak tinggal diam selalu meraba pahanya yang sedikit terekspos. Sial! Ia tak nyaman dan ingin sekali keluar dari sini.
Gelagat Jiyoung yang sejak tadi merasa resah, membuat Sehun meliriknya.
"Ada apa?" Sehun bertanya dengan raut sedikit khawatir. Bukannya membuat Jiyoung merasa tenang, pergerakan tangan Sehun yang sejak tadi mengelus pahanya semakin kurang ajar saja! Andai mereka yang diruang ini dapat melihat pelecehan yang Sehun lakukan kepadanya! Lihatlah bagaimana bisa pria itu berujar sangat tenang saat dengan santainya terus menyentuh titik sensitifnya? Brengsek!
Ia rasa Sehun sudah merencanakan hal ini dengan membuat dirinya duduk bersebelahan dengannya.
"Aku ingin ketoilet." Ujar Jiyoung dan berdiri cepat. Tentu saja hal itu langsung membuat semua mata yang sejak tadi fokus dengan power point yang sedang disampaikan kini melihatnya bersamaan.
"Aku ikut." Hell. Mana ada sejarahnya seorang bos tiba-tiba keluar dari ruang rapat karena ingin mengantar seseorang ketoilet?
"Aku bisa sendiri." Ujar Jiyoung sedikit merendahkan nadanya. Takut didengar oleh karyawan lainnya. Meski, hal itu tak berguna. Karena suara Jiyoung yang katanya sudah dibuat kecil itu, masih saja terdengar didalam ruangan ini.
"Tidak ada bantahan."
"Aku tak akan lama."
"Tidak. Aku ikut."
"Sehun." Geram Jiyoung menahan diri. Tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya.
"Kau tak bisa meninggalkan rapat penting ini. Kau suruh saja pengawalmu untuk mengawasiku." Saran Jiyoung sebelum Sehun melakukan hal yang tak terduga.
Pria itu tampak berpikir dan semua mata mulai berpikiran sama dengan Jiyoung. Oh, ayolah. Jika pria itu pergi begitu saja, bagaimana dengan kelangsungan proyek sebesar 10 juta dollar ini? Ini proyek yang sangat penting dan besar. Atasannya itu seharusnya tak boleh seperti itu bukan?
"Baiklah. Hanya 10 menit. Jika lebih dari itu aku akan menyusulmu." Ujarnya ditengah instruksi. Dengan cepat Jiyoung mulai meninggalkan ruang itu dengan perasaan sesak.
"Brengsek. Ia masih saja menyentuhku sesuka hatinya." Jiyoung membasuh wajahnya beberapa kali. Ia hanya tak nyaman berada didekat Sehun. Sangat tidak nyaman!
Padahal ia sudah berencana, jika kemungkinan terbesar untuk kabur diperusahaan Sehun peluangnya jauh lebih besar, ketimbang dirumah besar Sehun. Yang ia tau tak mungkin ia bisa kabur begiru saja karena rumah itu sangatlah jauh dan tersembunyi.
Ini kesempatannya. Ia kini memandang dirinya dicerimin. Melihat pantulan wanita yang ternyata lebih tirus dan tak tak pernah menunjukkan senyum cerahnya. Yah. Wanita itu adalah dirinya.
Pintu toilet terbuka. Menampilkan kedua wanita berseragam mulai menempati sisi sebelah wastafel yang kosong. Mereka tinggi dan cantik. Jiyoung akui itu. Jiyoung terus memperhatikan mereka dari kaca tanpa menolehnya.
"Apa kau tak lihat wanita yang dibawa oleh tuan Sehun tadi?"
"Ah, kurasa ia biasa saja."
Mereka mulai mengeluarkan isi kosmetiknya bermaksud mempertebal dan memperbaiki make up.
"Haha aneh ya? Lagipula sepertinya kau jauh lebih cantik dibanding dia."
"Haha kau ini."
"Dari cara berpakaiannya, sepertinya wanita itu bukan dari kalamgan atas."
"Benar dan apa kau tak lihat wajahnya? Bagaimana bisa wanita itu terlihat sangat kusut disaat berjalan bersama tuan Sehun yang elegan?"
"Kalau aku sih pasti akan terus meluruskan pandanganku dan berjalan dengan percaya diri jika bersama tuan Sehun."
"Kau benar. Wanita itu juga lebih banyak tertunduk. Sial. Kita bahkan sempat melihat wajahnya. Ah, bikin kesal saja."
"Haha."
"Oh iya. Aku heran bukankah tuan Sehun sudah lama tak mengurusi kantor? Lalu kenapa ia kembali bekerja?"
"Entahlah, kurasa memang seharusnya penerus keluarga mulai menekuni bidangnya."
"Kau benar. Aku bersyukur sejak dipegang tuan Sehun, kantor ini semakin maju saja." Mereka terus memperbaiki diri dan terus berbicang tanpa sadar jika salah satu bahan perbincangan mereka tepat disampingnya sejak tadi.
"Permisi." Sontak mereka menoleh dengan tatapan sinis. Mereka tak kenal dengan perempuan yang tak terlihat bukan pegawai kantor ini.
"Ya?" Tanya salah satunya. Kini mereka melihat Jiyoung bersamaan.
"Pinjami aku ponsel kalian." Ujar Jiyoung langsung. Tentu saja hal itu membuat merea mengerutkan alisnya. Hei. Apa perempuan ini gila? Kenal saja tidak.
"Perkenalkan aku wanita yang tadi sempat menjadi obrolan kalian." Jiyoung mengulurkan tangannya bermaksud memperkenalkan dirinya. Alat make up yang tengah mereka genggam terjatuh karena terkejut. Wanita itu adalah orang yang mereka bicarakan! Bagaimana ini? Apakah mereka akan dipecat dan ditendang dari perusahaan? Jiyoung tersenyum sinis saat melihat reaksi yang diberikan.
"Ma-maaf.. Ka-kami... Tak bermaksud membicarakan anda." Mereka menundukkan kepalanya.
"Aku maafkan dan cepatlah berikan aku ponsel kalian. Aku sungguh tak punya banyak waktu!" Ujar Jiyoung berbicara lagi. Sial! Ia rasa sebentar lagi Sehun akan menghampirinya.
"I-ini pa-pakailah." Salah satunya langsung memberikan Jiyoung ponsel. Lalu gadis itu menuju salah satu bilik toilet dan mengetikkan nomor seseorang yang sudah ia hafal. Ia tak mungkin meminta kedua wanita itu menolongnya untuk pergi dari sini.
Pertama. Itu tidak mungkin, karena melibatkan keselamatan kedua wanita itu.
Kedua. Dengan penjaga diluar sana hal itu sangat sulit.
Ketiga. Sangat mustahil melarikan diri disaat Sehun yang ia yakin, kini sedang cemas menunggu dirinya kembali keruang rapat.
Nada ponselnya tersambung. Membuat Jiyoung harap-harap cemas.
Gadis itu mengigit jarinya tanda gugup. Tidak ada banyak waktu yang tersisa. Lalu ia juga tak ingin kedua wanita itu mendapat masalah karena ulahnya. Mereka tak salah dan ia tak ingin menyakiti siapapun karena amukan dari Sehun. Cepatlah angkat.
"Hallo?"
Sambungan telponnya pun dijawab dan air mata Jiyoung menetes tanda bersyukur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Op-oppa, tolong aku."
TBC