
.
.
.
Dedaunan kini telah merubah warnanya untuk yang kedua kalinya. Jiyoung masih saja setia menatap keluar jendela. Tangannya menopang disisi balkon rumah megah itu. Beberapa kali ia memejamkan matanya sejenak untuk merasakan udara yang sangat sejuk tersebut.
Pundaknya tiba-tiba terasa tertutupi sesuatu, sontak ia menoleh dan terkejut saat Sehun sudah ada disampingnya.
"Kau tidak merasa kedinginan?" Tanya pria itu begitu lembut. Percayalah perubahan sikap Sehun selalu saja berubah-ubah. Jika seperti ini rasanya pria itu terlihat begitu normal.
"Tidak." Satu kata yang Jiyoung ucapkan, lalu matanya kembali menatap kedepan. Sehun semakin mengeratkan selimut yang ia sampirkan ditubuh Jiyoung karena gadis itu seakan enggan menerima selimut tersebut.
"Ap-apa yang kau lakukan?" Tanya Jiyoung begitu gugup saat tangan Sehun mulai merengkuh dirinya kedalam pelukan bersamaan dengan selimut yang diberikan oleh pria itu tadi.
"Tentu saja mencoba menghangatkanmu." Yang benar saja? Sehun bukan membuatnya hangat tapi malah membuatnya menggigil tanpa sebab.
"Kau terlihat cantik Jiyoung." Sehun mengusap lembut rambut Jiyoung lalu setelahnya tangannya memegang dagu gadis itu dan mencuri kecupan singkat pada bibir Jiyoung. Tentu saja hal tersebut membuat gadis itu membulatkan matanya. Memang ini bukan yang pertama kalinya Sehun selalu menyentuhnya sesuka hati tapi entah kenapa setiap perlakuan Sehun kepadanya selalu membuat dirinya terkejut dan takut.
"Ka-kau..." Ujarnya tergagap. Bodoh. Kenapa selalu saja tak pernah lancar berbicara dengan pria itu? Jiyoung merutuk dirinya setiap kali Sehun menyentuhnya seperti ini.
"Hmm, ada yang ingin kau katakan?" Pelukan pria itu semakin kuat saja dan kini tangan Sehun sudah beralih kepinggangnya. Memeluknya dengan begitu posesif dan dagu pria itu kini ditaruh tepat dilehernya. Astaga, kenapa pria itu selalu membuat ia seperti terkena serangan jantung?
"Se-sehun..." Ujar Jiyoung sambil mencoba melepaskan rengkuhan pria itu tapi yang ada Sehun semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau tau? Aku selalu merasa merindukanmu setiap saat." Ujar Sehun dalam dekapannya. Jiyoung memejamkan matanya. Ingin sekali ia mencoba menjauhkan Sehun dari tubuhnya tapi itu hanya angannya saja.
"Ku-kumohon ja-jangan memelukku seperti ini." Jiyoung tentu saja risih dengan perlakuan Sehun. Bisakah kalian membayangkan jika orang yang memperkosanya dengan lancang terus menyentuh dirinya tanpa rasa bersalah sedikitpun dan ditambah ia seperti tak memiliki dosa. Ini membuat Jiyoung semakin muak.
"Kenapa?" Sontak Sehun menjauhkan tubuhnya. Ia dengan cepat membalik tubuh Jiyoung agar menatap matanya. Ia sangat tak suka jika Jiyoung merasa risih dengan sikapnya. Seharusnya Jiyoung merasa bahagia dan senang karena kini hanya mereka berdua dan gadis itu selamanya akan menjadi milik seorang Oh Sehun.
"Ak-aku tak-" Tiba-tiba Sehun memeluk dirinya lagi. Pria itu bahkan mengelus punggungnya.
"Kumohon jangan merasa takut padaku. Aku hanya terlalu mencintaimu." Cinta? Dalam dekapan Sehun alis Jiyoung berkerut sambil memikirkan kalimat cinta yang Sehun ungkapkan. Apa benar pria ini mencintainya?
"Jawablah jika kau mencintaiku juga dan kau akan tinggal disini bersamaku selamanya." Gila! Yang benar saja? Bahkan dalam hidupnya saja Jiyoung tak pernah bermimpi bertemu dan berakhir bersama Sehun.
"Jiyoung katakanlah!" Ujar Sehun memaksa. Ia bahkan kini mencengkram pundak Jiyoung dengan begitu kuat. Membuat sang gadis meringis kesakitan. Sial. Lupakan kata yang tadi sempat menyebut pria itu terlihat normal. Karena nyatanya kegilaan Sehun dan sikap pemaksanya kembali lagi.
"Ak-aku.. Kumohon lepas.. Sakit.." Bukannya menjawab pertanyaan Sehun barusan, gadis itu malah mengaduh kesakitan. Tubuhnya rasanya seperti akan remuk. Sehun terlalu kasar.
Drrtt... drttt...
Jiyoung bernafas lega saat pria itu tiba-tiba melepaskan cengkramannya dan memilih mengambil ponsel yang berada disaku celananya.
"Maaf, aku harus menjawab telpon dulu. Kau tunggulah disini dan jangan pergi kemanapun, ok?" Ujar Sehun dan mencium pipi Jiyoung dengan begitu lembut. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya saat Sehun menciumnya tadi. Sungguh ia tak ingin melihat wajah pria itu dan peringatan Sehun barusan membuat dirinya muak. Hei! Bagaimana mungkin juga cara ia melarikan diri dari penjara yang telah Sehun buat?
Sepeninggal Sehun, Jiyoung sedikit meringis saat menyadari pundaknya masih saja merasakan sakit.
"Aku sungguh ingin keluar dari sini." Tanpa sadar Jiyoung meneteskan air matanya. Sungguh ia hidup tapi jiwanya terasa mati. Rasanya ia ingin bunuh diri tapi jika ia lakukan ia pasti akan sangat bersalah kepada keluarganya. Ia tak menginginkan eomma dan oppanya merasa khawatir dan menangis histeris saat mengetahui dirinya tak bernyawa.
Sehun terlalu gila. Memang pria itu memberikan segala yang ia inginkan. Ia tak menyangka jika Sehun pria yang sangat kaya raya. Padahal, saat bertemu dengan Sehun dulu pria itu begitu memprihatinkan. Pakaian Sehun juga tak bisa dikatakan layak. Penampilan pria itu sungguh berbeda dari pada sebelumnya.
Kini, pria itu lebih banyak tersenyum. Tapi, bukan senyuman yang membuat Jiyoung merasa luluh karena jatuh hati pada pria itu. Yang ada malah ia merasa selalu muak melihat sikap Sehun terlebih pria utu seakan tak pernah mau mendengarkan segala yang inginkan. Seakan Jiyoung haruslah menurutinya segala keinginan Sehun. Seperti tadi misalnya, Sehun itu tak suka Jiyoung membantahnya.
"Jiyoung.. Maaf menunggumu terlalu lama." Jiyoung lagi-lagi tersentak saat Sehun sudah kembali kekamarnya. Astaga! Ini bahkan baru sepuluh menit sejak Sehun meninggalkannya tapi pria itu malah menunjukkan raut wajah bersalah kepadanya. Padahal, dalam hati Jiyoung berdo'a semoga Sehun tak pernah kembali lagi jika perlu.
Jiyoung tak menjawab. Tentu saja ia malas menjawab perkataan Sehun barusan.
"Dan aku sungguh minta maaf. Sepertinya mulai hari ini aku akan kembali bekerja." Sehun mendekati Jiyoung lagi dan langsung menarik tubuh gadis itu. Mengelus rambutnya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. Kemudian ia menatap Jiyoung cukup lama dan mulai menyingkirkan rambut Jiyoung kesamping. Bibir Jiyoung yang sedikit terbuka langsung ia ***** begitu saja. Oh, demi apapun ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari bibir yang Jiyoung miliki. Tangannyapun merengkuh Jiyoung dengan erat. Sebenarnya gadis itu sudah memberontak tapi Sehun saja yang tak menghiraukan penolakan Jiyoung.
Cukup lama ia mencium Jiyoung tanpa adanya balasan dari gadis itu. Baginya itu tak penting. Yang terpenting adalah ia bisa dengan sesuka hati menyentuh tubuh Jiyoung. Karena baginya apa yang ada pada diri gadis itu adalah miliknya. Tubuh maupun raga gadis itu adalah milik Sehun seutuhnya.
"Kau begitu manis dan aku sangat menyukainya." Ujar sehun terkekeh saat melihat wajah Jiyoung yang memerah karena ciumannya tadi. Melihat Jiyoung yang seperti itu tentu saja membuatnya ingin berbuat lebih terhadap gadis itu.
"Aku sungguh ingin merasakanmu lagi tapi sepertinya kita harus menikah dulu bukan?" Sontak mata Jiyoung melebar saat mendengarnya. Perkataan gila apa lagi yang coba Sehun katakan?
"Ap-apa maksudmu?" Ujar Jiyoung tak percaya. Ia harap jika hari ini ia tuli mendadak. Sungguh, ia tak ingin mendengar hal ini dari mulut Sehun. Yah. Lelaki brengsek itu tak pantas mengucapkan hal menjijikan sekaligus sakral seperti itu.
"Kau sungguh menggemaskan." Sehun tersenyum saat mendengar pertanyaan Jiyoung, sangat berbanding terbalik dengan reaksi Jiyoung barusan. Bahkan pria itu sedikit mencubit hidung Jiyoung dengan gemas.
"Tubuhmu. Aku menginginkannya lagi. Bukankah kau juga begitu?" Kembali Jiyoung bergetar. Kakinya tanpa sadar mundur kebelakang. Sehun seperti menarik dirinya untuk kembali mengenang kenangan buruk itu. Hal yang sempat membuat seorang Jiyoung memutuskan bunuh diri. Bagaimana bisa Sehun mengucapkan hal itu tanpa rasa bersalah? Ah. Benar juga. Sehun itu memang bajingan!
"Kau tenang saja. Selama kita belum menikah. Aku akan mencoba untuk tak menidurimu. Aku hanya akan mencium dan memelukmu sayang." Tubuh Jiyoung meremang. Tangan pria itu mengelus pundaknya. Lalu meraih tangannya dan mengecupnya beberapa kali.
"Sudah saatnya aku pergi dan kau tenang saja aku akan mengadakan pesta pernikahan terindah untuk kita nanti." Sekali lagi Sehun mencium tangannya layaknya kekasih yang sedang melamar pujaan hatinya. Baginya, Sehun adalah iblis yang tak memiliki hati nurani. Tak bisakah Sehun melihat jika Jiyoung merasa tersiksa dengan semua perlakuan Sehun terhadap dirinya?
Tubuh Jiyoung merosot seiring bunyi pintu yang ditutup. Percuma saja ia berlari keluar dari rumah ini. Pria itu sudah menempatkan dirinya diarea yang tak tersentuh orang lain. Wajar saja jika Sehun tak mengunci pintunya. Karena pria itu sudah tau jika Jiyoung mulai saat ini tak akan pernah bisa pergi kemanapun.
Gadis itu terduduk dan memeluk lututnya kemudian yang bisa ia lakukan adalah menangis dalam diam. Ia tak tau harus berbuat apa mulai sekarang. Hidupnya sudah hancur dan dikendalikan oleh pria itu. Ia hanya ingin kembali pulang. Ia sangat merindukan keluarganya. Ia harap jika mimpi yang sangat buruk ini akan segera berakhir.
TBC