
.
.
.
Jiyoung menatap punggung ibunya yang kini sedang terbaring diruang tengah. Sepertinya ibunya terlihat sangat lelah, pasti seharian ini dia bekerja sangat keras. Lalu dirinya ini bisa membantu apa? Ia saja belum bekerja lagi.
"Eomma..." Ujar Jiyoung lembut, berusaha membangunkan ibunya yang kini sedang tertidur sambil terduduk.
"Eomma... Ayo, pindah kekamar." Jiyoung membantu ibunya berdiri, disaat wanita itu sedikit membuka matanya.
Gadis itu memapah tubuh ibunya dengan perlahan dan penuh kasih sayang. Setelah ibunya terbaring diranjang, Jiyoung menyelimutinya agar tak merasa kedinginan.
Sesaat ia mengusap pipinya yang terasa basah, lalu tangannya beralih untuk mengambil selembar kertas yang seharian ini ia dapatkan.
Matanya terpejam, lalu ia mengepalkan tangannya kuat. Yah. Ini sudah keputusannya, jika Lay selama ini selalu menjaga dan membuat dirinya juga ibunya tak pernah merasa kekurangan, maka inilah saatnya ia membantu kakaknya itu.
Rumah sakit Seoul. Jiyoung membacanya lagi. Ia harus pergi kesana dan bertemu dengan seorang dokter.
••🌷🌷••
Gadis itu menghela nafasnya berat. Ia masih terdiam kaku didepan ruang sang dokter yang ia dapatkan dari selembaran tersebut.
"Nona, anda bisa langsung masuk untuk pemeriksaan." Jiyoung menganggukkan kepalanya. Tanganya bergetar, ia masih sedikit trauma dengan bau khas rumah sakit. Sungguh sedikit menyiksanya dengan ingatan itu.
"Silahkan, saya akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu." Jiyoung menelan ludahnya kasar, lalu dokter itu melakukan pemeriksaan kondisi kesehatannya dan mengambil sedikit darahnya untuk diperiksa.
"Saya akan mengabari anda hasilnya. Butuh waktu setengah jam. Anda tunggulah diluar. Suster akan memanggil anda kembali." Jiyoung menganggukkan kepalanya lagi. Lalu merapihkan gulungan lengan bajunya karena tadi darahnya diambil dengan jarum suntik.
"Nona, apa anda sangat yakin dengan keputusan ini? Maksud saya jika nona cocok dengan yang dicari untuk pendonor. Apakah anda benar-benar bersedia mengorbankan satu ginjal anda?" Tanya dokter itu memastikan. Jiyoung masih terlalu muda menurutnya dan gadis itu terlihat tak memiliki ikatan darah ataupun memgenal sang pasien, lalu atas dasar apa gadis itu mengobarkan ginjalnya untuk dijual begitu saja? Terlebih meski harga yang didapat lumayan. Yah. Jiyoung akan mendapatkan bayaran untuk ginjal yang diberikan.
"Sa-saya yakin." Bohong. Sebenarnya Jiyoung sungguh takut. Ia tak bisa membayangkan hidup dengan satu ginjal saja. Bagaimana jika nantinya ginjalnya yang hanya satu itu bermasalah? Apa ia harus mati lebih dulu meninggalkan ibu dan kakaknya?
Dulu, mungkin ia tak akan berpikir untuk hidup tapi setelah semua yang ia lalui kini ia sangat ingin hidup. Terlebih, bersama dengan ibu dan kakak tercintanya. Ia hanya ingin hidup bahagia bersama mereka. Hanya itu saja.
"Baiklah, anda bisa menunggu diluar untuk hasilnya." Ujar dokter itu lagi menanggapi ucapan Jiyoung barusan.
Gadis itu *** tangannya, gugup. Yah. Ia sangat gugup dengan hasil yang akan keluar nantinya. Sanggupkan ia berkorban untuk diambil salah satu organ tubuhnya?
Tidak-tidak. Ia yakin ia bisa. Hanya saja mungkin nominal yang diberikan nanti tak akan menutupi semua hutang Lay, lalu setelah ini ia harus mencari pekerjaan apa lagi?
Jiyoung yang merasa tak tenang mulai mencoba membeli sekaleng minuman. Ia tiba-tiba merasa haus. Lagipula ia butuh udara segar. Maka, ia sedikit mencuri waktu untuk berjalan-jalan diarea rumah sakit sebelum kembali keruang tunggu tadi.
"Kau bisa makan, aku akan bergantian menjaga tuan muda Sehun." Pria berbadan besar yang tengah berdiri kokoh menjaga salah satu pintu rumah sakit itu menganggukkan kepalanya. Membuat Jiyoung memperhatikan mereka saat pria itu menyebut nama 'Sehun.'
"Aisshh. Sial. Aku harus ke toilet sebentar." Tiba-tiba pria yang tadi baru saja datang memegangi perutnya dan bergegas pergi. Sepertinya ke toilet?
Jiyoung sebenarnya tak peduli itu tapi mata dan telinganya menyaksikan hal itu dengan jelas. Kakinya melangkah melewati ruangan yang tadi ia sempat lihat. Sebenarnya ruangan apa itu? Tidak. Sebenarnya siapa orang penting didalam ruangan itu?
Jiyoung yang penasaran mulai mengintip dibalik jendela. Ia penasaran sepenting apakah pasien tersebut sampai dijaga begitu ketat. Tidak. Ia tak bisa melihatnya. Maka, ia nekat untuk melihat pasien itu dibalik pintu yang ternyata tak terkunci. Memastikan jika Sehun yang disebut tadi adalah sama dengan yang Jiyoung pikirkan.
Mata Jiyoung membulat sempurna saat melihat wajah pucat Sehun yang terbaring lemah diatas ranjang. Bersama dengan seorang wanita yang terlihat menangisi keadaan pria itu.
Jiyoung menggelengkan kepalanya. Tidak. Ini pasti khayalannya saja. Tidak mungkin Sehun disini. Pria itu seharusnya ada di penjara.
Ia tersentak, saat ingat dengan berita dikoran beberapa hari lalu yang sempat ia baca. Benar. Sehun telah dilarikan ke rumah sakit. Jadi, orang itu adalah Sehun?
Ia memundurkan langkahnya sangat mengetahui fakta itu. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Kakinya bergetar. Ia harus segera pergi dari sini!
"Apa yang anda lakukan disini?" Jiyoung merasakan punggungnya menabrak sesuatu. Dan matanya langsung menatap tubuh tinggi pria berbadan besar yang sempat ia lihat tadi.
"Ma-maaf, sa-saya rasa saya salah masuk ruangan." Jiyoung menundukkan kepalanya dan bermaksud pergi. Tapi, tangannya ditahan lalu tubuhnya ternyata ditarik paksa untuk memasuki ruangan itu.
Brukk...
Tubuhnya jatuh begitu saja, seiring tarikan ditangannya terlepas. Kini, ia berada dikamar dimana seorang Oh Sehun berada. Ini buruk!
"Nona, orang ini seperti mematai-matai tuan muda." Adu pengawal itu. Jiyoung menggelengkan kepalanya. Tidak. Itu tidak benar. Ia hanya penasaran saja tadi.
"Tidak-tidak itu tidak benar. Saya hanya tersesat dan mengira kamar ini milik teman saya." Ujar Jiyoung membela diri. Gadis yang tadi disebut 'nona' oleh pengawal itu menyunggingkan senyumnya miring.
"Kau bisa pergi dari sini." Pengawal itu mengganggukkan kepalanya. Jiyoung yang terjatuh dilantai mencoba untuk berdiri. Wanita yang tadi berbicara itu ternyata tak membalikan badannya. Membuat Jiyoung menghela nafasnya dengan gugup.
"Ma-maaf, saya akan pergi dari sini." Ujar Jiyoung bermaksud meninggalkan ruangan itu tapi....
"Tunggulah sebentar, Jiyoung." Ujar suara itu.
Deg!
"Ba-bagaimana anda tau nama saya?" Ujar Jiyoung menatap curiga kepada wanita itu.
"Karena kita pernah bertemu sebelumnya." Sontak wanita itu menoleh dan mulai menghampiri Jiyoung yang masih saja terdiam kaku dibelakang pintu keluar. Jiyoung membulatkan matanya. Dia adalah gadis yang ia temui ditaman!
"Ka-kau." Ujar Jiyoung terbata. Sulit rasanya mengetahui hal ini. Terlebih ternyata gadis itu ternyata mempunyai hubungan dengan Sehun. Siapa dia sebenarnya?
"Aku Oh Nara, kakak Sehun." Jiyoung tambah terkejut dengan fakta lain yang telah diungkapkan gadis itu.
"Ak-aku, ka-kau bagaimana bisa?" Ujat Jiyoung yang sepertinya bingung ingin berkata apa.
"Biar kubuat lebih jelas dan membuatmu sadar akan sesuatu."
Plakk...
Tamparan itu sangat cepat, membuat Jiyoung tak bisa menghindarinya. Gadis itu tersenyum miring saat melihat pipi Jiyoung memerah akibat tamparannya barusan. Ck! Dia pantas mendapatkannya!
"Yak! Apa yang kau lakukan?" Ujar Jiyoung yang tak terima. Tentu saja, ia merasa tak punya kesalahan terhadap gadis itu tapi Nara dengan kejamnya menamparnya begitu saja!
"Membuatmu sadar, jika kau pantas mendapatkan tamparan karena sikapmu kepada Sehun selama ini." Ujar gadis itu berkata sinis, tanpa ada nada penyelasan didalam ucapannya.
"Aku? Kau bilang aku pantas mendapatkannya?" Jiyoung maju menghampiri gadis itu. Wajahnya memerah karena kesal dengan ucapan Nara barusan. Jiyoung dengan cepat membalas tamparannya.
"Lihat! Apa yang sudah adik tercintamu lakukan kepadaku!" Jiyoung membuka kaosnya sebatas dada, memperlihatkan semua tanda kepemilikan yang Sehun buat kepadanya. Meski, sudah lama tanda itu dibuat tapi bekasnya seakan tak pernah hilang.
"Dan lihatlah ini!" Jiyoung menunjukkan kedua lengannya. Disana masih terlihat ada bekas lilitan dan sepertinya sangat susah dihilangkan karena bekas itu cukup dalam.
"Dia gila! Adikmu itu gila! Seharusnya kau sadar dengan semua kesalahan yang adikmu perbuat kepadaku!" Teriak Jiyoung, gadis itu mati-matian menahan tangisannya didepan Nara, kakak Sehun.
"Dia hanya mencoba mempertahankanmu dan aku yakin semua tanda itu karena kau selalu menyulut emosinya." Ujar Nara yang terdengar tak masuk akal bagi Jiyoung.
"Ck! Benar kau adalah saudaranya. Aku akui itu. Kalian sama-sama tak tau diri." Ujar Jiyoung yang meremehkan Nara. Gadis itu mengepalkan tangannya mendengar ucapan Jiyoung, ia ingin menampar wajah Jiyoung lagi. Tapi...
"Nona! Apa yang kau lakukan kepada Jiyoung-ku?" Sebuah tangan menahannya. Membuat tubuhnya mundur beberapa langkah. Sehun ternyata dengan cepat menahan tamparan Nara.
Menyadari hal tersebut tentu saja Jiyoung tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya benar-benar kaku sekarang. Sehun. Benarkah pria yang kini memeluknya dari belakang adalah Sehun?
'*Bagaimana bisa?'
'Bukankah tadi Sehun tak sadarkan diri?'
'Atau hanya ia yang mengira Sehun sedang koma?'
'Ah, benar. Bodoh. Seharusnya ia tau jika Sehun hanya sedang tertidur tadi*.'
"Lepas." Jiyoung menyentak lengan Sehun. Membuat pria itu menatapnya heran.
"Kalian benar-benar gila." Ujar Jiyoung lagi, menatap kedua orang didepannya lalu setelahnya ia mencoba untuk pergi dari tapi Sehun dengan cepat menahannya. Tidak. Ia tak ingin kehilangan Jiyoung-nya lagi.
"Lepaskan. Brengsek!" Sentak Jiyoung kasar. Tentu saja Sehun menggelengkan kepalanya. Mendengar adiknya dikatai dengan perkataan kasar membuat Nara merasa marah. Ia dengan cepat menghampiri Jiyoung lagi.
"Kurang ajar." Ujarnya tajam kepada gadis itu, ia ingin menjambak rambut Jiyoung saat ini.
"Nona! Keluarlah sekarang! Jangan sakiti Jiyoung!" Teriak Sehun saat melihat kakaknya itu bermaksud menyakiti kekasihnya. Asal kalian tau, Nara jauh lebih berbahaya dibanding Sehun.
"Jangan halangi aku." Desis Nara yang mencoba meraih Jiyoung didalam dekapan Sehun.
"Nona!" Kini suara Sehun terdengar lebih keras dari sebelumnya, membuat Nara mengepalkan tangannya keras lalu gadis itu menghela nafasnya kasar setelah melihat wajah Sehun. Dengan langkah kesal ia meninggalkan ruangan itu dengan terpaksa
"Kau tak apa-apa?" Ujar Sehun yang tampak khawatir dengan Jiyoung saat ini. Gadis itu hanya terdiam tak banyak berbicara seperti tadi.
"Jiyoung?" Tanya Sehun lagi lalu bermaksud melihat wajah gadis itu yang terlihat kosong.
"Jiyoung ap-" Tangannya ditepis dengan kasar. Jiyoung menggelengkan kepalanya dan bergumam beberapa kali. Berkata, jika ini pasti mimpi.
"Tidak sayang. Ini semua nyata. Kau ada disini untuk menjemputku bukan?" Mata Jiyoung yang terlihat kosong mulai menatap Sehun.
"Aku selama ini menunggumu." Ujar Sehun yang terdengar lebih bersemangat dari sebelumnya. Ia tersenyum kepada gadis itu.
"Tapi sepertinya kau tak pernah mengiginkanku kembali." Ujar Sehun diselingi tawa sinisnya. Hal itu membuat kesadaran Jiyoung kembali.
Benar. Sehun gila. Dia berbahaya!
"Jiyoung, aku sangat merindukanmu." Sehun memeluknya tanpa persetujuan. Tentu saja Jiyoung berusaha melepaskan pelukan Sehun.
Berhasil! Sehun mundur kebelakang. Merasa ini kesempatannya, Jiyoung mencoba melarikan diri dari sana.
Sehun yang merasa cemas dan tak menginginkan Jiyoung untuk pergi, segera meraih pisau buah diatas meja lalu tanpa terduga ia langsung mengiris lengannya.
"Arghhh!!" Sehun menggerang, darah terus saja keluar dari lengannya. Jiyoung yang mendengar teriakan kesakitan Sehun refleks menoleh dan mendapati pemandangan tak terduga.
"Sehun!" Teriak Jiyoung kaget dengan tingkah Sehun yang sudah diluar batas.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan?!" Umpat Jiyoung melihat wajah Sehun yang terlihat lebih pucat dari sebelumnya.
"Dokter! Dokter! Oh, seseorang segeralah kemari!" Entah, apa yang ada dibenak Jiyoung saat ini. Seharusnya gadis itu pergi saja dan membuat Sehun mati kehabisan darah tapi Jiyoung melakukan sebaliknya.
Gadis itu merasa sangat cemas, ia beberapa kali berteriak lalu tangannya memencet tombol panggilan untuk dokter yang terletak disamping kasur.
Mencoba untuk mencari cara lain, ia bermaksud memanggil para penjaga Sehun tadi. Bodoh. Kenapa juga ruangan ini harus kedap suara? Membuat Jiyoung harus keluar dari ruangan ini dan Sehun jugakan yang repot jika otaknya yang tak waras itu melakukan hal gila seperti sekarang ini.
Sehun menahan nafasnya, ia menggeleng dan menarik Jiyoung kedalam dekapannya.
"Aku tak ingin kau pergi." Jiyoung mengusap wajahnya kasar.
"Sehun..." Oh, ayolah. Adakah seseorang disini yang bisa memberitau Sehun jika pria itu harus segera ditangani oleh dokter? Lihatlah darah yang mengalir dari lengan Sehun semakin banyak. Jiyoung yang melihatnya saja merasa pening.
"Sehun, sadarlah! Aku harus memanggil dokter!" Teriak Jiyoung lagi. Tapi, pria itu tak menanggapinya.
Brakk..
"Sehun!" Nara kembali, dan hal itu membuat Jiyoung menghela nafasnya karena merasa bersyukur.
"Kau! Apa yang kau lakukan kepadanya?!" Geram Nara lagi, sepertinya pertengkaran mereka akan berlanjut.
"Nona!" Bela Sehun lagi, Nara menyuruh pengawalnya untuk membawa beberapa dokter segera mungkin. Tak butuh waktu lama, Sehun segera mendapatkan pertolongan tapi tangan pria itu enggan melepaskan genggamannya kepada Jiyoung.
"Tuan, kami perlu memeriksa luka anda." Ujar dokter itu, memberitahu Sehun agar melepaskan tangan Jiyoung.
"Sehun... Lepaskan." Pinta Jiyoung.
"Tidak!" Ujar pria itu keras kepala.
Semua yang ada disana merasa bingung dengan sikap Sehun. Adakah cara lain agar Sehun mendengarkan ucapan mereka?
"Berjanjilah kau tak akan pergi lagi." Semua mata menatap penuh mohon kearah Jiyoung, terkecuali Nara. Gadis itu memalingkan wajahnya merasa kesal melihat wajah Jiyoung.
"Nona.. Kami mohon. Tuan harus segera diberi obat untuk mengobati lukanya." Ujar dokter lainnya. Jiyoung menahan nafasnya berat.
"Baik. Aku tak akan pergi darimu." Ujar Jiyoung terpaksa. Ah, biar saja memangnya Sehun tau jika ia berbohong? Lagipula hari ini ia harus balik untuk memeriksa kondisi mengenai pendonoran ginjalnya. Jika, nanti ia mendapatlan uang dan melakukan operasi, ia berjanji tak akan menginjakkan kaki serta melihat wajah Sehun lagi.
"Kau sudah berjanji dan tak boleh kau langgar." Kini nada suara Sehun terdengar tajam. Pria itu melepaskan genggamannya. Membuat Jiyoung memegang tangannya yang memerah. Sakit. Ia sudah menahan rasa sakit dilengannya akibat sikap gila Sehun tadi.
"Kalian bisa menunggu diluar." Ujar dokter itu dan mulai menangani Sehun.
Jiyoung yang merasa tak punya urusan lagi segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Tunggu!" Suara itu memanggilnya lagi. Jiyoung tak pernah tau jika kedatangannya disini membuatnya terjebak dalam permainan yang ia putuskan. Membuat dirinya kembali kedalam lingkar hidup seorang Oh Sehun dan Oh Nara.
TBC