
.
.
.
"Brengsek! Park Jiyoung sialan!" Nara melempar beberapa benda mahal yang menghiasi meja kerja super mewahnya itu setelah menerima telpon dari seseorang. Kwak Dong yang baru saja memasuki ruangan bahkan tersentak kaget saat menyadari nona mudanya telah membuat suasana ruangan ini jadi semakin kelam.
"Nona... Ada apa?" Tanya Kwak Dong berhati-hati. Pria itu melangkah mendekat dan terus melihat wajah Nara yang terlihat kesal. Wanita itu terlihat memijit kepalanya beberapa kali setelah sepertinya puas melempar barang-barang mewah tak berharganya itu.
"Kwak Dong. Kau tau? Si sialan Jiyoung itu sedang bermain licik. Dia membawa Sehun!" Ujar Nara yang semakin menjadi. Sangat terlihat wanita itu marah besar. Pria itu tambah terkejut saat mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.
"Wanita itu memalsukan dokumen kepindahannya, dia dan Sehun tiba-tiba menghilang dari rumah yang sudah sengaja kutentukan untuk mereka tinggal." Jelas Nara kembali. Ini masalah besar. Jika gadis itu pergi dari sana bersama tuan Sehun maka nona Nara tak bisa mengawasi mereka lagi bukan? Tunggu, seharusnya nonanya itu mengetahui hal ini lebih cepat tapi kenapa setelah satu bulan berlalu nonanya itu baru mengetahui hal ini?
"Bukankah anda menyuruh pria bernama Leetuk itu untuk mengawasi setiap pergerakan mereka?" Tanya Kwak Dong yang kini berdiri persis dihadapan wanita itu. Nara menghelas nafas panjang lalu merebahkan dirinya kembali kekursi empuknya.
"Hah, seharusnya aku yang menyuruhmu berada disana, bukannya si pengkhianat itu! Kau tau? Dia ternyata membantu mereka! Sialan!" Marahnya lagi. Dan terdengarlah Nara menggebrak mejanya dengan keras. Pria itu bahkan kembali memasang wajah datarnya. Berusaha tak terkejut lagi. Karena ia tau setelah ini pasti ada beberapa hal yang semakin membuatnya terkejut.
"Tapi saya hanya ingin menjadi pelayan dan tangan kanan bagi anda. Maka itu saya harus selalu bersama dengan anda." Ujar pria itu berusaha sopan. Yah. Memang Nara sebelumnya pernah memintanya mengawasi adiknya itu tapi Kwang Dong dengan tegas menolak perintah itu karena dia hidup selama ini hanya untuk berada disisi gadis itu. Lebih tepatnya, untuk selalu menjaga Nara.
Suara berdecak karena kesal kembali terdengar dari mulut Nara. Yah. Ia sangat tau jika pria itu menolak perintahnya, maka ia pun tak akan bisa meminta hal tersebut.
"Karena itu, bantulah aku untuk menyelesaikan proyek ini dalam dua minggu. Aku tak ingin sebulan lebih berada disini." Dan pria itu pun menganggukan kepalanya. Saat ini mereka memang sangat jauh dari Seoul. Nara harus menyelesaikan proyek pembangun hotel barunya di Rusia. Mega proyek yang bernilai milyaran dolar. Pekerjaan yang sangat menguntungkan baginya dan pekerjaan sialan ini juga yang tak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Nara mengepalkan tangannya. Memikirkan hal itu membuat dirinya kesal. Ia ingin cepat menemukan Sehun tapi hal itu akan sulit jika bukan Kwak Dong yang menangani hal ini. Maka, ia harus segera pulang ke Korea untuk mencari keberadaan Sehun secepatnya.
Sehun tak boleh menghilang terlalu lama karena ia sangat membutuhkannya. Yah. Adik yang sangat berarti baginya.
••🌷🌷••
Lee Jong Suk terus saja berjalan mondar-mandir, ia bahkan sempat mengabaikan pesan dari kekasihnya itu. Untuk hari ini ia sudah tak peduli jika kekasihnya itu kembali mengomelinya. Hanya satu yang sangat mengganggunya hingga saat ini, Park Lay. Keberadaan temannya itu sangatlah membuatnya bingung.
Ia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dengan sahabatnya itu. Ia yakin ia bisa menemukan jawaban itu jika bisa menemui Jiyoung. Tapi masalahnya bagaimana ia bisa menemukan gadis itu? Jika keberadaan Jiyoung bahkan sama susahnya untuk ditemukan. Ah, ia bisa gila jika bersangkutan dengan kakak beradik itu!
"Sialan!" Lee Jung Suk pun mengusap wajahnya kasar dan menundukan diri disalah satu kursi empuknya sambil memikirkan rencana yang harus ia susun kembali.
••🌷🌷••
"Aku merindukanmu, eomma." Kini Jiyoung terduduk dikasur dengan kakinya yang dilipat. Ia bahkan menaruh dagunya diatas lututnya. Lalu menolehkan kepalanya kekiri, persis menghadap ke jendela.
Tirai kamarnya sedikit terbuka. Membuat angin yang cukup kencang dari luar masuk perlahan kedalam ruangan itu. Dari celah itu juga ia bisa melihat pantulan sinar rembulan yang menambah sedikit sinarnya untuk menerangi kamar ini.
Sehun yang sedang berdiri diambang pintu jadi terdiam beberapa detik. Ia tau jika Jiyoung selama ini merindukan rumah dan sangat ingin bertemu keluarganya. Tapi, ia sungguh tak bisa membiarkan hal itu terjadi. Jiyoung miliknya. Hanya miliknya. Bahkan keluarganya pun tak berhak untuk memiliki Jiyoung-nya.
"Apa kau susah tidur? Ayo. Aku akan menemanimu. Aku akan selalu disisimu, Jiyoung." Dan Sehun pun langsung masuk begitu saja kekamar, bersikap seolah hal yang ia lihat tadi tak pernah terjadi. Pria itu menarik tubuh Jiyoung dengan lembut, memberikan pelukan dengan penuh kehangatan.
Jiyoung. Gadis itu lagi-lagi hanya terdiam. Ia tak tau harus berbuat apa sekarang. Dan perlahan otaknya pun memutuskan untuk menuruti Sehun yang kini dengan penuh kasih sayang membantunya terlelap. Sehun memeluknya dengan pelukan hangat. Dada bidang Sehun dan debaran jantung pria itu sangat terasa.
Seharusnya ia menolak hal ini, tapi lagi-lagi ia perlahan terjatuh kedalam perlakuan manis Sehun kepadanya, hingga matanya pun ikut memberat kemudian tertidur setelahnya.
Sehun tentu melihatnya. Saat merasa Jiyoung sudah terlelap sepenuhnya, pria itu pun membisikan sesuatu...
"Kau hanya perlu aku, Jiyoung. Jadi jangan mencoba untuk memikirkan hal lain."
.
.
.
To be continue