
.
23 December_Minho birthday! Me, Minho, Kristal and Seonho ^^ hope we always together and semoga tahun depan Minho bisa mentraktir kami di pulau Jeju ya! ^^
.
.
.
Jiyoung terus menatap foto itu, seakan memorinya dengan teman-temannya baru ia rasakan kemarin.
Itu adalah ulang tahun Minho, foto yang sudah ia simpan sejak beberapa tahun silam. Jiyoung mengulas senyumnya disaat mengingat tingkah mereka saat itu. Sangat menyenangkan rasanya. Mereka bahkan memakai kostum untuk merayakannya.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu terbuka, menampilkan sosok pria yang ia sayangi tengah membawakannya sepiring buah segar.
"Jiyoung, ini oppa bawakan buah. Makanlah. Oh, iya. Eomma menyuruh kau kebawah setelah menghabiskan makananmu." Jiyoung menerima piring tersebut dan mengangguk. Lay mengelus rambut Jiyoung dengan penuh kasih sayang.
"Oppa harus bekerja hari ini. Kau jagalah eomma dengan baik ya."Pria itu tersenyum dan setelah mengucapkan hal tersebut ia pun meninggalkan Jiyoung kembali dalam kesendiriannya.
Setelah meletakkan piring yang Lay berikan tadi, Jiyoung berdiri dari duduknya dari atas kasur dan mulai melangkahkan kakinya menuju jendela.
Musim gugur.
Hari berlalu sangat cepat, tak terasa sudah tiga bulan ia sudah kembali bersama keluarganya. Kenangan buruk dan semua yang telah ia lalui selama ini mulai perlahan Jiyoung lupakan. Meski, bayang-bayang pria itu selalu muncul dalam tidurnya. Bukan mimpi buruk yang seperti dulu, disaat pria itu membuat dirinya ketakutan dan merasa ingin membunuh dirinya setiap saat meski hanya dalam mimpi.
Sekarang mimpinya masih sama buruknya tapi sosok pria itu tidaklah menyeramkan namun terlihat menyedihkan? Entah, kenapa Jiyoung masih sangat ingat dengan wajah sendu dan memohon Sehun waktu itu. Rasanya, hatinya ikut merasakan sakit.
"Semuanya telah kembali, hidup serta keluargaku tapi kenapa kau selalu menjadi mimpi burukku? Apa salahku sebenarnya?" Jiyoung bermonolog, tangannya mengusap jendela yang kini menampilkan dedaunan yang berguguran. Matanya terpejam beberapa detik. Lalu kembali terbuka. Entah, apa yang tengah Jiyoung pikirkan.
Tanpa berlama-lama, ia pun mulai beranjak menuju kelantai bawah tanpa menyentuh buah yang tadi Lay tawarkan.
••🌷🌷••
"Jiyoung, kau sudah selesai makan?" Jiyoung mengulas senyumnya, tanpa berkata ia langsung memeluk tubuh ibunya yang sedang memasak beberapa makanan. Nyonya Park mengulas senyumnya dan mengusap punggung anaknya itu dengan lembut.
"Aku pikir ini semua hanya mimpi." Lagi-lagi Jiyoung selalu berkata seperti itu, membuat ibunya memejamkan matamya sejenak lalu melepaskan pelukannya.
"Tidak, sayang. Ini semua nyata. Eomma dan Lay akan selalu menjagamu mulai sekarang." Nyonya Park tersenyum lembut dan sedikit mengusap pipi Jiyoung. Membuat gadis itu kembali memeluknya. Ah, badan eomma memang sangatlah hangat. Rasanya sangat nyaman berada dipelukan ibunya.
"Oh iya, hari ini Minho akan datang. Mungkin, sebentar lagi ia akan sampai." Sontak Jiyoung melepaskan pelukannya.
"Kenapa ia masih kesini?" Tanya Jiyoung yang merasa tak suka akan perkataan ibunya.
"Sayang, kau tidak bisa terus menerus menghindarinya kau-"
"Aku dan Minho sudah tak ada hubungan apa-apa lagi. Seharusnya pria itu sadar. Kenapa dia selalu membuatku merasa kesal?" Jiyoung berkata dengan nada kesal. Membuat ibunya ingin membalas perkataan Jiyoung barusan tapi...
"Oh iya eomma. Aku harus membeli beberapa bahan masakan untuk malam nanti." Sebelum mendengar ucapan ibunya lagi Jiyoung sudah beranjak dari posisinya. Itu semua hanya alasan. Jiyoung tau jika perkataannya tadi mengenai membeli bahan masakan adalah kebohongan besar karena nyatanya bahan-bahan untuk nanti malam sudah terisi penuh didalam kulkas.
"Aku pergi dulu eomma." Jiyoung segera memakai sendal rumahnya dan meninggalkan ibunya dengan tatapan sendu.
"Jika itu keputusanmu, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, nak." Doa nyonya Park setelah melihat kepergian Jiyoung.
••🌷🌷••
Jiyoung menghembuskan nafasnya kasar. Ia memainkan kakinya naik turun. Pikirannya berkecamuk saat ini. Dering telpon yang selalu bunyi beberapa kali membuat dirinya semakin resah.
"Aisshh.. Dasar keras kepala. Aku bahkan sudah mengganti nomorku beberapa kali tapi anehnya dia selalu tau nomor baruku." Jiyoung menatap nomor seseorang yang tak ia simpan dalam kontak ponselnya, tanpa disimpan pun ia sudah hafal siapa orang yang tengah mengganggunya saat ini.
Dengan kesal Jiyoung mencopot kartu ponselnya dan membuangnya kesembarang arah.
"Kau hebat Jiyoung. Ini sudah yang ke 20 kalinya kau membuang kartu ponselmu." Ujarnya yang terdengar memprihatinkan.
Guk! Guk! Guk!
"Eh?" Jiyoung menoleh saat seekor anjing putih yang sangat lucu tiba-tiba menghampirinya dan menjilati kakinya beberapa kali.
"Kau?" Tanya Jiyoung yang terlihat bingung dengan tingkah anjing kecil ini.
"Dimana pemilikmu anjing manis?" Jiyoung meraih anjing itu kedalam pelukannya. Merasa gemas karena tak tahan akan aksi anjing itu yang terus menerus menggonggong dan mengelus kakinya beberapa kali.
"Apa kau punya tanda pengenal?" Jiyoung sibuk mencari tanda pengenal dari anjing tersebut. Ia meraih inisial kalung yang dikenakan anjing ini. Sesekali Jiyoung tergelak saat anjing itu susah sekali untuk menunjukkan kalungnya karena terus menerus menjilati pipinya.
"Hei, diamlah manis. Aku jadi susah untuk melihat kalungmu." Bukannya berhenti, anjing itu malah semakin gencar menggosokkan tubuhnya ke Jiyoung dan melanjutkan acara menjilati pipi gadis itu.
"Aisshh..." Jiyoung yang sedikit merasa kesal akhirnya memegang tubuh anjing itu dengan sedikit kuat lalu sedikit mengangkatnya. Kembali anjing itu menggonggong, menjulurkan lidahnya dan mengibaskan ekornya dengan sangat menggemaskan. Saat anjing itu sedikit diam, Jiyoung pun mengulurkan salah satu tangannya untuk meraih liontin yang terpasang...
** Vivi_OS **
"Jadi namamu Vivi? Lalu OS itu apa nama pemilikmu? Atau nama panjangmu?" Tanya Jiyoung yang tak mengerti. Tentu saja pertanyaannya tadi tak mendapat jawaban karena kini anjing itu kembali menggonggong, Jiyoung tertawa dibuatnya. Menggemaskan! Bolehkah ia memeliharanya?
"Vivi!" Teriak seseorang. Membuat anjing putih kecil itu langsung melompat dari genggemannya. Lalu dengan lucunya anjing itu menghampiri seseorang yang tadi meneriaki namanya. Pintar sekali.
"Vivi! Astaga! Kukira kau menghilang!" Jiyoung menatap gadis cantik didepannya dengan lekat. Cantik sekali. Dari cara berpakaiannya gadis itu terlihat seperti model dan berkelas atau seorang artis? Ah, pokoknya Jiyoung jadi merasa terpesona beberapa detik disaat gadis itu terus mengelus anjing yang ia tau bernama Vivi tersebut dengan penuh kasih sayang.
"Apa kau yang telah menemukan Vivi?" Gadis itu menatap lekat kearahnya.
"Ah, sebenarnya tidak juga. Tadi anjing itu sendiri yang datang menghampiriku." Ujar Jiyoung menjelaskan. Gadis didepannya ini, sedikit tertawa.
"Haha.. Maaf, tidak biasanya Vivi seperti itu dengan seseorang yang baru ia kenal. Sebenarnya Vivi hanya dekat dengan keluarga kami saja. Hmm, tapi sepertinya ia menyukaimu. Ah, pokoknya terima kasih karena telah menemukan Vivi dan tak membiarkannya kabur." Gadis itu menundukkan kepalanya sambil memeluk Vivi.
Jiyoung menganguk. Lalu setelahnya gadis itu berlalu. Membuat Jiyoung terus menatapnya.
"Wajah gadis itu terasa mirip seseorang." Pikir Jiyoung setelah memperhatikan wajah gadis tadi. Kembali Jiyoung menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikirannya saat ini. Ah, apa yang sedang ia pikirkan?
Ia kembali melirik jam tangannya. Tenyata, sudah lima jam ia disini. Sepertinya pria itu sudah pergi dari rumahnya.
Setelah memutuskan untuk pulang, Jiyoung pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan taman.
Angin musim gugur kembali berhembus dengan kencangnya. Membuat dirinya merapatkan jaketnya dengan erat. Lalu kakinya kembali melangkah, selama berjalan kaki ia terus memperhatikan segala hal ditaman ini. Dari tawa riang anak-anak, keluarga dan semua orang yang berkumpul untuk menikmati kebersamaan mereka ditaman ini.
"Hei, sepertinya aku melihat anak pemilik Phoniex berkunjung ketaman ini tadi."
"Hah? Benarkah? Itu tak mungkin."
"Aishh.. Serius. Aku tadi melihatnya sedikit berlarian mencari sesuatu."
"Apa itu benar?"
"Tentu saja!"
"Wahh.. Itu luar biasa untuk orang sekelas dia berada ditaman umum seperti ini, kau tau?"
"Tentu saja lalu..."
Tanpa berniat mendengarkan obrolan dua orang yang didepannya saat ini, Jiyoung pun membelokkan langkahnya ke tempat penjual es krim dipinggir jalan.
"Sudah lama aku tak membeli es krim itu." Gumam Jiyoung. Sebenarnya banyak pedagang lain yang berjualan disana. Mulai dari makanan, minuman, penjual koran, majalah, kaset, mainan, boneka dan masih banyak lagi.
Tapi langkah Jiyoung hanya tertuju kepada penjual es krim tersebut.
"Ahjussi, tolong es krim coklatnya satu." Ujar Jiyoung memesan. Ahjussi itu mengangguk dan membuatkan pesanannya. Sambil menunggu, Jiyoung memperhatikan sekitarnya. Suasana tempat ini ternyata masih sama, tak ada yang berubah.
"Ayo, silahkan dibeli koran dan majalahnya. Hari ini ada berita yang menghebohkan! Pemilik Oh Corporation yang ditangkap beberapa bulan lalu kini tengah sekarat karena mencoba bunuh diri. Ayo, kalian harus membeli hot news hari ini. Aku jamin tak akan menyesal." Jiyoung membulatkan matanya setelah mendengar ucapan pedagang itu. Dengan cepat Jiyoung merampas koran tersebut.
"Oh, apa nona tertarik? Anda bisa membelinya dengan harga murah. Saya pastikan anda tak akan menyesal dan-" Jiyoung langsung memberikan beberapa lembar uangnya dan pergi begitu saja.
"Nona?" Tanya ahjussi penjual es krim yang tadi Jiyoung pesan. Ia merasa bingung. Kemana perginya gadis tadi?
Jiyoung terus memperhatikan deretan tulisan yang ia baca saat ini.
Headlines news!
***Adik CEO Oh Corporation ditemukan hampir merenggang nyawa disel tahanannya. Polisi dan semuanya sangat terkejut saat ini. Sebenarnya apa yang membuat tersangka melakukan hal tersebut? Tapi untunglah para polisi membawanya segera ke rumah sakit dan berita saat ini tersangka sudah ditangani oleh dokter.
Belum ada berita pasti mengenai kondisinya tapi yang sudah diketahui tersangka dirawat di rumah sakit S untuk perawatan. Polisi serta pengawal yang dikirim perusahaan tersangka sangat menjaga tempat itu***.
Jiyoung *** korannya hingga kusut. Ia terdiam. Matanya terpenjam beberapa saat lalu Jiyoung melanjutkan langkahnya lagi. Setelah matanya melihat tempat sampah, Jiyoung langsung membuang koran tersebut begitu saja.
TBC