
.
.
.
Suara tetes air dari selang infus dan suara pendeteksi detak jantung masih berfungsi dengan baik, setidaknya mereka bisa bernafas lega meski hanya sedikit karena nyatanya gadis itu masih enggan untuk membuka kedua matanya.
Park Lay. Kakak satu-satunya yang Jiyoung miliki menatap sendu kearah adik tercintanya tersebut. Ia sedikit mengusap lembut helaian rambut Jiyoung, berharap sentuhan tangannya dapat membuat Jiyoung tersadar.
Meski kata dokter Jiyoung sudah melewati masa kritis, tapi percayalah ia masih saja khawatir dengan keadaan Jiyoung saat ini.
Ia tersenyum miris saat matanya melihat sang ibu tercinta yang masih menunggu Jiyoung, wanita itu tetap menggenggam tangan lemah Jiyoung dengan erat.
"Eomma..." Ujar Lay pelan. Ibunya sedikit terusik saat mendengar suara kecil yang didengarnya.
"Eomma..." Sekali lagi Lay menyentuh bahu ibunya dan sedikit mengguncangnya dengan pelan. Sang ibu masih melihat wajah anak laki-lakinya tersebut dengan setengah sadar.
"Oh, Lay?" Ibunya sedikit terkejut saat melihat dirinya.
"Eomma, sebaiknya pulang saja. Biar aku saja yang merawat Jiyoung ya?" Ujar Lay dan membantu ibunya untuk berdiri.
"Tapi, eomma masih sangat mengkhawatirkan keadaan Jiyoung." Ujarnya masih khawatir.
"Eomma, tak perlu cemas biar aku saja yang menjaganya."
"Tapi..." Ujar wanita itu terhenti saat matanya melihat wajah putrinya lagi.
"Lagipula, bukankah tak nyaman untuk tidur disini? Aku khawatir nanti eomma sakit juga." Ujar pria itu lembut sambil memberi pengertian untuk ibunya.
Wanita itu kembali ragu tapi akhirnya pria itu membuatnya mengangguk, baiklah. Sepertinya Lay bisa menjaga Jiyoung lebih baik dibanding dirinya.
"Baiklah, jagalah Jiyoung dengan baik ya." Lay mengangguk dan kembali membantu sang ibu keluar kamar dan mengantarkannya sampai naik taxi yang telah ia pesan sebelumnya. Ia harus memastikan sang ibu pulang dengan selamat baru ia bisa merasa sedikit tenang.
Pria itu melambaikan tangannya kearah sang ibu yang sudah mulai menjauh dari pandangannya. Kemudia ia berbalik dan menatap bangunan rumah sakit tersebut. Sungguh megah. Semoga dengan Jiyoung yang dirawat rumah sakit ini, adiknya itu bisa segera sembuh.
Setelah itu kakinya melangkah kedalam, keruangan Jiyoung kembali. Tidak ada yang berubah Jiyoung ternyata masih tertidur. Lay hanya bisa tersenyum simpul. Ia duduk lalu dengan perlahan meraih satu tangan Jiyoung dan mengecupnya dengan lembut.
'Oppa, merindukanmu Jiyoung. Mari kita jalan bersama lagi ketempat favorite saat kita kecil bersama dengan eomma.'
••🌷🌷••
Sinar lampu sedikit mengusik tidurnya, bias cahaya itu bahkan mengenai matanya. Gadis itu sedikit menggeram, rasanya haus sekali.
Matanya mulai terbuka, memperjelas arah pandangannya. Bau obat langsung tercium olehnya. Apa ini rumah sakit?
Jiyoung menoleh dan sedikit terkejut saat melihat seorang pria sedang tertidur disofa dan ternyata itu adalah oppanya. Ia sedikit tersenyum saat melihat Lay yang masih tertidur dengan pulasnya.
Ia berusaha untuk duduk dan menyenderkan tubuhnya diranjang. Lay yang mendengar suara tersebut langsung membuka matanya. Memang pendengaran pria itu sungguh tajam. Ia bahkan langsung terusik saat mendengar suara tangan Jiyoung yang seperti ingin mengambil gelas disamping tempat tidur.
"Kenapa tak meminta tolong kepadaku?" Jiyoung kaget saat tangan lain membantunya lalu segera menyerahkan gelas itu kearahnya. Ternyata Lay sudah ada didepannya saat ini. Sepertinya ia tak menyadari kehadiran Lay tadi.
"Terima kasih." Ujar Jiyoung.
"Terima kasih juga karena telah sadar." Lay langsung memeluk Jiyoung dengan erat. Sontak gadis itu membalas pelukan Lay dengan erat.
"Aku merindukanmu oppa." Ujar Jiyoung. Lay hanya mengelus punggung Jiyoung dengan pelan.
"Habiskanlah minumannya ok?" Lay tersenyum saat sudah melepaskannya. Dengan cepat Jiyoung kembali menatap gelas yang masih berada ditangannya. Lalu dengan cepat menghabiskan minumannnya.
"Pelan-pelan, nanti kau tersedak." Lay menggeleng tak percaya saat melihat tingkah Jiyoung barusan. Gadis itu hanya tersenyum lalu berkata maaf.
"Haha kau ini." Ujar Lay gemas saat melihat Jiyoung seperti masih merasa haus. Dengan cepat pria itu mengisi gelas Jiyoung lagi.
"Terima kasih oppa." Ujarnya saat menerima gelasnya kembali.
"Kurasa suster akan mengantar makananmu jam 6 nanti." Ujar Lay saat melihat jam masih menunjukkan pukul 5 sore. Gadis itu hanya mengangguk.
"Apa kau ingin aku membeli sesuatu?" Jiyoung menggeleng, lantas ia menarik tangan Lay dengan erat.
"Kenapa?"
"Tidak oppa, aku hanya ingin kau tetap disini. Temanilah aku. Aku takut jika sendiri disini." Ujar gadis itu yang kembali memasang raut wajah ketakutan, seperti tengah merasakan sesuatu yang buruk akan kembali kepadanya.
"Tenanglah, tentu aku akan selalu menemanimu." Jiyoung bernafas lega. Lay mengelus rambut Jiyoung lagi dengan penuh kasih sayang. Teryata adiknya itu sudah tumbuh besar dan cantik tapi wajah yang dulu bersinar dan tertawa ceria kini telah pudar. Saat mengingat itu membuat Lay merasa bersalah karena tak bisa menjaga Jiyoung dengan baik. Seandainya dulu ia mencegah Jiyoung untuk pergi ke Seoul pasti semua ini tak akan pernah terjadi.
"Jiyoung, sebenarnya kenapa kau mengkonsumsi obat tidur dengan dosis yang banyak? Apa kau mencoba..untuk...bu-bunuh diri lagi?" Ujar Lay yang terdengar ragu diakhir pertanyaannya. Gadis itu menggeleng.
"Tidak oppa."
"Lalu?"
"Ak-aku hanya tak bisa tidur saja."
"Ma-maaf. Aku tak bermaksud membentakmu. Aku hanya sangat mengkhawatirkan dirimu." Jiyoung tau jika kakaknya itu merasa kesal dengan ulahnya tapi percayalah ia melakukannya bukan untuk bunuh diri. Ia hanya merasa ingin tertidur dengan nyenyak.
Pernah saat itu ia meminum satu obat tapi tak berhasil, malah ia masih mengalami mimpi buruk tersebut. Lalu pikirnya ia bisa saja tertidur tanpa mengingat mimpi buruk itu lagi. Makanya tanpa pikir panjang ia memutuskan untuk menelan obat tidur lebih banyak lagi agar ia langsung jatuh tertidur.
Memang ia langsung tertidur tapi hal itu juga hampir merenggut nyawanya. Jiyoung hanya tak berpikir jernih saat itu dan entah kenapa ia tak merasa menyesal sama sekali dengan tindakannya.
Disaat suasana kembali hening, mereka mendengar ketukan pintu. Ternyata itu adalah suster yang mengantarkan makanan untuk Jiyoung. Lay langsung meraihnya dan membantu Jiyoung untuk memakan makanannya.
Setelah selesai makan, Lay memberikan Jiyoung obat agar gadis itu cepat sembuh. Lalu beberapa menit kemudian Lay menyuruh Jiyoung untuk kembali berbaring agar gadis itu bisa beristirahat lagi.
Pria itu masih melihat wajah Jiyoung yang terlihat damai lalu tersenyum setelahnya. Ia sedikit terkejut saat getaran ponselnya berbunyi keras. Membuat ia harus meninggalkan adiknya itu untuk menjawab panggilan dari rekan bisnisnya untuk sementara waktu.
••🌷🌷••
Masih dalam keadaan setengah sadar,
Jiyoung merasakan sapuan tangan yang terasa lembut dikening dan pipinya. Hal itu membuat Jiyoung merasa tenang. Ia jadi merasa enggan untuk membuka matanya.
Ternyata kakaknya itu masih setia menunggu dirinya.
Perlahan ia bisa merasakan Lay mendekat kearahnya. Ia jadi sedikit tersentak saat merasa Lay tengah memeluk dirinya saat ini. Tapi kenapa rasanya berbeda? Setaunya tubuh Lay tidak sedingin ini. Apa karena cuaca diluar yang sudah memasuki musim salju?
Lalu aroma Lay terasa berbeda. Ini aroma mint. Aroma tubuh yang mengingatkan ia dengan seseorang!
Sontak Jiyoung membuka kedua matanya. Tubuhnya langsung menegang saat mengetahui jika seseorang yang ia kira adalah kakaknya itu ternyata orang lain.
"Oh, kau sudah sadar?" Pria itu sedikit kaget tapi tersenyum senang saat tau gadisnya sudah membuka mata indahnya. Tanpa ragu pria itu menatap Jiyoung lama. Lalu sekilas mencium bibir pucat Jiyoung dan memeluknya kembali.
"Bukankah sudah kubilang. Aku akan mengunjungimu di Seoul?" Tanyanya yang sedikit merasa kecewa. Perubahan sikap pria itu sungguh berbeda. Ia tau jika pria itu sepertinya mengalami gangguan jiwa. Dia gila!
"Kau tau? Aku bahkan sangat merindukanmu karena terlalu lama bagiku untuk menemuimu lagi. Jika begini seharusnya aku tak pernah melepaskanmu bukan?" Pria itu tersenyum lembut dan terdengar sangat khawatir tapi percayalah yang Jiyoung rasakan saat ini adalah pria itu sedang marah dan merasa kesal padanya.
Nada suaranya juga lebih terdengar seperti ancaman.
Jiyoung yang terlalu terkejut dengan situasi saat ini hanya bisa menangis dalam diam, tubuhnya seperti mati rasa. Ia mengutuk Lay yang telah meninggalkannya sendiri disini.
"Ke-kenapa kau kembali? Aku bahkan telah menurutimu untuk tidak bertemu Minho oppa lagi." Ujar Jiyoung. Ia bisa melihat pria itu sedikit menahan amarahnya saat ia menyebut nama 'Minho' lagi.
"Apa kau merasa kecewa dengan kedatanganku?" Pria itu mengelus rambut Jiyoung dengan lembut dan memeluknya lagi. Tentu saja Jiyoung bersikeras menyingkirkan tangan itu. Rasanya menjijikan saat pria gila itu menyentuh dirinya seperti ini. Ia yang merasa sangat kesal hanya bisa menangis.
"Kenapa kau menangis? Oh! Apa kau senang melihatku lagi?!" Tanya pria itu sedikit kecewa lalu sedetik kemudian berubah menjadi antusias. Ingin sekali Jiyoung mendorong, memukul atau bahkan berteriak agar semua orang tau jika dirinya berada dalam bahaya. Pria psikopat itu ternyata kembali.
"Per-pergi..." Suara Jiyoung tercekat, hanya kalimat itu yang bisa ia keluarkan saat ini.
"Kau ingin pergi?" Tanya pria itu balik dengan tetap memasang wajah tanpa dosanya. Ia sangat muak melihat itu semua. Menjijikan!
"Tidak. Ku-kumohon pergilah hikss... Pergi... Kumohon..." Akhirnya Jiyoung menangis, sepertinya gadis itu merasa terguncang kembali.
"Tentu sayang, kita akan keluar dari sini segera." Jiyoung menangis dengan keras, ia menggeleng tapi sepertinya dia hanya menganggap penolakan Jiyoung adalah persetujuan.
Lagi. Jiyoung merasa terancam karena pria itu sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Ia yang menyadari hal itu pun langsung berusaha untuk bangun dari tidurnya tapi dia segera menahan pundaknya. Membuat dirinya kembali berbaring diatas ranjang.
"Ssttt... Tenanglah." Ujarnya menenangkan. Jiyoung terus saja berusaha menberontak.
"Ti-tidak... Hikss...." Tolak Jiyoung.
"Kalau begitu mari kita pergi sekarang." Ujarnya bahagia setelah mendengar penolakan gadisnya. Jiyoung berusaha berteriak tapi pria itu hanya terkekeh. Tanpa Jiyoung sadari ternyata dia telah menyuntikkan sesuatu ke selang infusnya.
Suaranya seperti hilang. Matanya terasa berat kembali. Ia tak tau apa yang telah pria itu perbuat sebelumnya.
"To-tolong...." Ujar Jiyoung melemah seiring ia mencoba untuk berteriak. Saat matanya perlahan menutup, ia sadar jika pria itu tengah menyunggingkan senyum tipis kepadanya.
'Mine, always be mine.'
••🌷🌷••
Ternyata pembicaraannya ditelpon lumayan menguras waktunya. Ia melirik jam arloginya. Jarum jam sudah menujukkan pukul 11 malam. Ini sudah sejam ia meninggalkan adiknya itu. Ia harus kembali ke kamar Jiyoung.
Meski ia yakin jika Jiyoung masih tertidur pulas tapi ia merasa sangat khawatir. Sebenarnya kenapa ia bisa merasa secemas ini?
Dengan cepat ia melangkahkan kakinya agar cepat sampai. Dengan langkah tergesa ia bahkan hampir menabrak seorang dokter yang tengah membawa seorang pasien rumah sakit ini dengan kursi roda.
Sepertinya pasien itu sudah mulai sembuh dan akan dipindahkan ke ruangan lain. Itu artinya kemungkinan pasien tersebut besok sudah boleh pulang. Entah kenapa Lay merasa bersyukur, mungkin ia menginginkan Jiyoung bisa cepat pulang kerumah juga.
"Hampir saja aku menabraknya." Ujar Lay yang hampir bersenggolan dengan bahu dokter yang memiliki postur tubuh tinggi itu.
Sehun yang melihat Lay dilorong rumah sakit, sedikit menundukkan wajahnya. Untunglah, ia memakai masker dan Jiyoungnya telah ia rapihkan sedemikian rupa agar Lay tak mengenalinya.
Dan nyatanya penyamaran mereka berhasil. Sungguh bodoh. Bagaimana mungkin pria bodoh itu tak mengenali adiknya sendiri? Padahal ia hanya memakaikan Jiyoung syal untuk menutupi rambutnya, kacamata bulat serta masker.
"Untung dia bodoh, jika tidak. Haruskah aku meleyapkan penganggu itu sayang?" Tanyanya sambil menatap tubuh tak sadarkan diri milik Jiyoung yang masih setia bersender dikursi roda. Sehun tersenyum senang dan dengan langkah ringan mulai meninggalkan rumah sakit tersebut dengan senyum bahagia yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
TBC